
Hari Sabtu, hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Dani, dia teman satu kelas Kaila yang juga teman Fifi. Nama lengkapnya Cahya Wardani, biasa dipanggil Dani oleh teman-temannya. Hari ini Dani mengajak Kaila dan Fifi hang-out, sejenak melepas penat dari tugas sekolah. Fifi dan Kaila yang telah bersiap untuk pergi, kini tengah duduk sembari memperhatikan temannya berdandan.
"Dan, lo pake toner aja lama banget." Ucap Fifi, dia memang orang nya tidak sabaran, apalagi mengenai pemakaian pada wajah. Dia juga tidak suka berlebihan, Ia hanya memakai sabun cuci muka saja sudah cukup.
"Bentar." Jawab Dani kesal.
Menunggu Dani selama lebih dari lima belas menit, cukup memberikan rasa penat pada Kaila dan Fifi. Hingga sebuah pesan terdengar notifikasinya dari handphone Kaila, pesan dari salah satu teman kelasnya, namanya Bagas.
...BAGAS...
Kai, besok hari Senin pas
jam istirahat lo bisa ke ruang OSIS?
Ia terdiam berpikir sebenarnya ada apa Bagas, anggota OSIS itu memintanya untuk pergi ke ruang OSIS. Kalau ada masalah, mana mungkin dia masuk keruang OSIS, pasti ke ruang BK lah.
"Kenapa Kai?" Tanya Fifi bingung, setelah melihat ekspresi Kaila yang seketika berubah begitu saja.
"Engga papa Fi."
Perlahan Kaila mengetikkan jari jemari pada ponselnya.
^^^Ngapain Gas? ^^^
Udah lo dateng aja,
ga ada masalah kok.
Pikirannya berputar, berkali-kali bertanya pada diri sendiri apa yang akan dilakukan anak-anak OSIS besok Senin.
Selesai Dani bersiap, mereka segera berangkat ke sebuah bioskop yang tak jauh dari rumah Dani. Ada terget film yang sudah direncanakan sejak minggu lalu.
Film itu berdurasi satu setengah jam, wajar saja bila suasana bioskop membuat mereka lapar. Tak berpikir panjang, mereka bertiga berjalan mendekati cafe yang berjarak dua ratus meter dari bioskop.
"Andai aja Jason kaya cowok yang ada di film itu." Gerutu Dani pada Kaila dan Fifi. Jason adalah pacarnya, mereka berpacaran sejak kelas sembilan SMP.
"Mana ada Dan cowok kaya dia." Sambar Fifi. Dia tidak suka karena Dani berpacaran dengan Jason yang non islam. Tentu saja membuat hubungan Dani dan Jason selalu memiliki masalah mengenai agama masing-masing. Tak jarang dirinya menangis terang-terangan dihadapan Fifi dan Kaila.
Cafe itu benar-benar ramai dipadati pengunjung, tidak heran karena makanan yang disajikan termasuk tempatnya asthetic. Sebagian orang hanya mengunjungi cafe itu untuk mencari spot foto yang bagus. Bukan hanya itu, cafe ini memiliki WIFi gratis.
Makanan yang mereka pesan kini telah menghiasi meja makan. Tampak sangat sedap, hingga mereka tak sabar untuk melahapnya. Namun kegiatan itu dihentikan dengan histerisnya Fifi tiba-tiba. Kaila yang tak sabar ingin makan, tak menghiraukan apa yang Fifi katakan. Dia mulai menyuapkan makanan kemulutnya, mengunyah dengan tenang, sembari menikmatinya.
"Kak Dave Kai!"
"Kak Dave." Histerisnya.
__ADS_1
Mendengar apa yang Fifi katakan, Kaila kaget setengah mati, sampai tersedak makanan. Dirinya tidak sanggup menemui Dave saat ini, rasa kecewannya masih saja tersimpan dibenak.
"Eh Kai. Lo kenapa?" Dani yang mendengar batuk Kaila, dia memberikan orange jus miliknya.
Fifi tak memperhatikan keadaan sahabatnya, matanya tertuju pada cowok yang saat ini berjalan kemeja disamping jendela. Tak jauh, hanya berjarak tiga meja dari tempat duduknya. Kaila mulai membaik, setidaknya orange jus telah mendorong makanan yang ada di tenggorokan.
"Udah Dan, thank you ya." Ucapnya berterima kasih pada Dani.
"Ganti posisi boleh ga si? Lo yang disini, kalo gue disini kan gue munggungin. Susah liatnya." Gerutu Fifi, masih dalam keadaan histeris. Setelah melihat Kak Dave, bisa saja dia tidak makan, dan pandangannya hanya tertuju pada Dave.
"Bagus deh, lo yang disini. Gue yang kesitu." Kaila magang dengan cepat sebelum Dave melihatnya berada di cafe ini juga.
"Kenapa si lo?" Tanya Dani, tak biasanya sikap Kaila seperti ini. Gelisah.
"Gapapa, gua mau lanjutin makan aja." Kaila mengelak.
Suasana yang tadinya tenang, kini seketika berganti antara takut dan gelisah. Detak jantung Kaila terus saja berdetak dengan kecepatan tinggi. Hingga pada suatu titik menakutkan saat Fifi menyapa Dave. Dave memperhatikan tubuh seorang cewek dari belakangnya tanpa melihat siapa orang itu. Membuat dirinya penasaran, dan melangkah mendekat.
Langkah yang dibuat Dave dengan cepat sampai di samping Kaila. Mata Kaila terpejam saat itu.
"Kai?" Sapanya. Jantungnya serasa mau copot.
Tanpa pikir panjang ataupun melihat orang yang menyapanya, Kaila berpamitan menuju kamar mandi. Pikirannya campur aduk, mengenai teman-temannya yang akan mengetahui siapa Dave sebenarnya, dan perasaan benci yang masih tersimpan.
"Kai."
Dave mengejar Kaila dengan penuh harap, bahwa dirinya bisa kembali menjalani hubungan dengan Kaila. Membuka halaman baru setelah apa yang dia berbuat dua tahun lalu. Dan hal itu bukan hal mudah bagi Kaila, melupakan bahkan mengikhlaskan adalah hal yang sulit.
Sampai Dani dan Fifi tak melihat keberadaan Kaila, Dave mencekal tangan Kaila kencang hingga dirinya tak mampu berkutik dari posisinya. Cekalan itu membuat Kaila panas dingin.
"Apa?" Akhirnya dia menjawab, meskipun dengan sedikit hentakan.
"Tunggu."
Kaila membalikkan badannya, melihat sepatu orang itu tanpa menatap matanya. Dia tidak berani melakukan itu, menjaga agar air matanya tidak keluar untuk menangisi seseorang yang jahat seperti Dave.
"Aku mau minta maaf." Sambungnya.
"Pergi! Aku mau balik ke teman-teman." Bentak Kaila. Dave masih menghalanginya sebelum Kaila diam dan mau mendengar apa yang ingin dia katakan. Pembahasan mengenai hubungan yang kandas dua tahun yang lalu adalah topik membosankan.
"Dengerin aku dulu." Cegah Dave.
Tak menghiraukan ucapan dari Dave, Kaila mulai melangkah lagi, mencari celah dimana dirinya bisa pergi. Sedangkan Dave yang ingin menjelaskan, tidak akan membiarkan Kaila pergi begitu saja.
"Apa?! Hah?! Kamu mau ngomongin apa?!" Kali ini dia tidak tahan, semua emosinya seakan meluap dan pandangannya tertuju pada raut muka Dave.
__ADS_1
"Kamu mau bilang kalo kita putus, karena kamu kerja sama Kak Amel? Iya?" Sambungnya, teriakan Kaila membuat dirinya menjadi topik di cafe itu.
"Engga gitu." Dave masih mengelak.
"Terus?! Apa?! Kamu jawab dong!"
"Aku minta putus karena, ya karena aku harus mulai fokus sama UN." Alasan Dave yang tidak bisa diterima oleh Kaila.
Kaila bukan sosok yang bisa memaafkan sesuatu dengan mudah, dirinya perlu waktu untuk melupakan hal itu. Dia sangat berharap bahwa Dave mengerti apa yang dirinya mau. Kenangan-kenangan yang mulai terkubur seakan bangkit kembali diubun-ubun, dan membiarkan air matanya luluh meskipun dapat tertahan. Saat ini dirinya butuh ruang untuk sendiri dan diam tanpa kebisingan.
Kaila melangkahkan kaki menjauh dari Dave, dia tak menghiraukan lagi apa saja kalimat yang dikeluarkan oleh Dave saat itu. Matanya sudah tidak dapat menahan air mata lagi, kedatangan Dave kini hanya membuat dirinya semakin terluka akan tindakannya dua tahun yang lalu. Bukan tentang apa yang telah mereka lakukan bersama saat senang maupun susah, tapi karena cara meninggalkan dengan kejam dan tak memiliki akal.
Tanpa berpamit pada kedua sahabatnya, Kaila bergegas pergi dari cafe itu. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri dalam menangkan jiwanya. Pikiran dan perasaan yang beradu dalam hati, membuat dirinya tidak dapat menahan hal ini sendirian.
Dani dan Fifi keluar cafe untuk mencari kemana Kaila pergi, namun kini Kaila sudah menaiki taksi yang dia hentikan didepan cafe. Satu tetes air mata jatuh di pipinya, tidak disadari bahwa dirinya menitihkan air mata untuk orang yang dia benci.
"Mba, maaf taksinya mogok." Mendengar ucapan dari supir taksi, Kaila menghapus air matanya sebelum supir itu melihatnya.
"Kalo gitu saya turun disini aja Pak. Ini uangnya." Setelah menberikan beberapa uang pada supir taksi itu, Kaila berjalan dan mencari tempat berteduh sampai ada kendaraan yang bisa dia naiki.
Suasana mendung tentunya mendukung akan mood nya sekarang, selama sepuluh menit tak ada kendaraan yang lewat termasuk bus ataupun angkot. Hingga sebuah mobil berhenti didepannya, memperhatikan benar-benar seorang cewek yang tengah berdiri dengan raut wajah bersedih.
"Kai." Panggil seseorang ketika turun dari mobil.
Dengan cepat Kaila menghapus air mata yajh tersisa diujung matanya.
"Rey?" Sapanya balik pada Reynand.
"Lo nangis?"
"Engga, ini tadi ada debu masuk gitu ke mata." Elak Kaila pada Reynand, namun dia tidak dapat dibohongi hanya dengan ucapan. Reynand sangat mengerti bahwa perasaan Kaila kini sedang tidak baik-baik saja.
Dering ponsel rupanya terdengar sedari tadi, namun Kaila tidak menyadari ataupun mendengar dering itu. Ia sudah dapat menebak bahwa penelpon itu adalah sahabat-sahabatnya.
Ditengah obrolan kikuk itu, hujan lebat mengguyur mereka.
"Hujan! Ayo masuk mobil." Ajak Reynand.
Namun Kaila menggeleng, dia berharap bahwa hujan akan menemaninya siang ini di kota Jakarta.
"Nanti lo sakit! Ayo masuk." Reynand memaksa Kaila dengan menarik tangannya sebelum baju dan badannya basah kuyub.
Meskipun sudah menolak, tapi Reynand memaksa dan membuat Kaila masuk dalam mobilnya.
"Baju lo basah?" Sebenarnya Reynand enggan untuk menanyakan hal ini, tapi keadaan Kaila sekarang membuat dirinya cemas.
__ADS_1
Kaila menggeleng lagi tanpa ucapan apapun.
"Gue antar lo pulang." Ucap Reynand.