
Hari semakin larut, Kaila belum bangun juga. Wajar saja kalau Dia lelah bukan hanya fisik tapi juga hati. Ponselnya berdering, menandakan ada telepon. Tari yang mendengar ponsel berbunyi, lantas mencari sumber suaranya. Dia terhenti tepat di samping Kaila tertidur.
"Mama." Ejanya saat melihat tulisan yang ada di layar ponsel Kaila.
Perlahan Ndari membangunkan Kaila, mungkin itu telepon penting. Apalagi hari semakin larut pasti orang tuanya khawatir pada Kaila. "Kai. Bangun Sayang, ada telepon."
Matanya mulai terbuka, nyawanya mulai terkumpul dan melihat keadaan sekitar yang bukan rumahnya. Kaila melihat Tari, Dia juga melihat ada telepon.
"Halo Ma."
"Kemana kamu? Udah malam, belum pulang juga."
"Oh iya, Aku di rumah Tante Ndari."
"Oh disana, sekarang pulang ya."
"Iya Mah, ini mau pulang."
"Ya udah hati-hati."
"Iya Mah."
Kaila meletakkan ponsel nya setelah teleponnya terputus, Ia tersenyum melihat orang yang ada di depannya saat ini. "Tante udah pulang?" Tanyanya.
"Iya, Tante lihat kamu tidur, tapi Tante ga tega mau bangunin." Ungkap Ndari, Ia menyisihkan rambut Kaila ke belakang telinga.
Kaila celingukan, mencari sesuatu yang nampaknya hilang. "Sepi banget Tan, Reynand mana?"
"Lagi beli gula di minimarket depan."
Kaila mengangguk mengerti, tubuhnya kembali segar setelah tertidur beberapa jam. Dia menggerakkan lehernya kekanan dan kekiri sampai berbunyi. Dia lalu membereskan tasnya, berniat untuk pamit dari rumah itu.
"Tan, Kaila mau pulang ya. Udah malam, Kaila di cariin Mama." Pamit Kaila sembari menggendong tasnya. Tangan Ndari mencekal pergelangan Kaila pelan, mencegahnya pulang.
"Tungguin Rey dulu sebentar, Dia ngga lama kok. Udah malam, Tante takut terjadi apa-apa sama kamu." Pesan Ndari, lalu Kaila mengangguk menuruti. Keduanya berbincang hangat seperti biasanya sampai tak lama Reynand pulang.
Reynand berjalan perlahan sembari membawa bungkusan yang tak lain adalah pesanan Mamanya. Ia sedikit kaget setelah melihat Kaila duduk bersama Mamanya.
"Anterin Kaila pulang ya Rey." Ucap Ndari.
"Oke, mau sekarang Kai?"
"Iya, yuk. Aku pamit ya Tan, makasih banget." Pamit Kaila lagi, Ia mencium punggung tangan Ndari dan tersenyum senang.
"Ya udah, Aku anterin Kaila pulang dulu ya Ma."
"Iya, hati-hati."
Kaila dan Reynand berjalan serasi, mereka berdua berjalan menuju garasi tanpa obrolan apapun, nyawa Kaila belum terkumpul sepenuhnya. Kini perasaan Kaila campur aduk, antara tidak enak, sedih, bercampur senang. Tidak enak karena selalu merpotkan Reynand, sedih sebab kejadian tadi siang, dan senang karena ada seseorang yang memahami dirinya.
"Naik mobil aja ya, udah malam." Kata Reynand.
Kaila mengangguk, mereka lalu naik ke dalam mobil dan segera berjalan pulang. Reynand memperhatikan Kaila terkadang, Ia merasa ada yang berbeda pada diri temannya. Tidak seperti biasanya yang cerewet dan ceria, malam ini Kaila menjadi sosok yang pendiam. "Kenapa lo? Ada masalah lagi?"
Kaila terdiam sejenak, melihat Reynand yang dengan perhatiannya sambil menyetir. "Gua- ga enak sama lo dan keluarga lo."
"Kenapa?" Tanya Reynand.
"Gue ngerepotin lo terus, kalo gua ada disamping lo pasti gua selalu bikin repot." Ucap Kaila, kepalanya menunduk lesu.
Reynand menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Dia kembali menatap Kaila. Tatapan yang penuh rasa iba pada sosok yang kini berada di depannya. Perlahan, tangan kanan Reynand mengacak rambut Kaila yang saat itu masih menunduk. Hal itu membuat Kaila menegakkan kepalanya, lalu Reynand memeluk Kaila hangat. Kedua tangannya mengelus punggung Kaila, menjadi penguat diantara musibah-musibah yang sedang Kaila hadapi. Sungguh tak kuasa, Kaila menahan isaknya sebab tak kuat pada masalah-masalahnya. Tapi kini Dia berusaha mencegah air matanya luruh, berusaha lebih kuat dari biasanya.
"Gapapa, masalah-masalah lo pasti kelar kok." Ucap Reynand.
Selesai itu, Reynand mengemudikan mobilnya lagi. Meneruskan perjalanan menunu rumah Kaila yang sudah tidak jauh dari posisinya berhenti. Sesampainya di rumah Kaila, Reynand menghentikan mobilnya. Kaila mengelus lengan kiri Reynand, seolah mengucap terima kasih.
"Makasih ya buat hari ini."
Reynand mengangguk, Dia mencari topik agar Kaila tidak kembali bersedih. "Oh iya, lo tau mas-mas yang ngefoto kita waktu di gedung?"
Kaila mengangguk semangat, "Kenapa?"
"Dia itu fotografer, dia posting foto kita di ig." Kata Reynand.
__ADS_1
"Haha, demi apa lo?"
"Iyaa, untung ga ada yang tau tuh. Untung juga Dia ga ngetag kita haha."
Keduanya tertawa, Reynand melihat Kaila tertawa senang. "Udah sana pulang, ngebet banget ya kalo di rumah gua lo tidur. Lo pengin tidur di rumah gua? Makannya lo nikah dulu sama gua."
"Dih apaan, udah deh gua pulang. Lama-lama lo ngelantur."
Kaila keluar dari mobil Reynand, Reynand masih tersenyum karena Kaila. Tak lama, Dia pergi dari halaman rumah Kaila.
•••
Reynand melangkah cepat dari parkiran menuju kelasnya, sembari berjalan tatapannya tertuju pada saudaranya yang tengah berjalan juga didepan koridor kelas. Amelia tampak sama, membawa kipas berwarna pink yang nyatanya sangat dia sukai. Dua temannya yang mengikuti di belakang pun ikut tebar pesona di depan anak-anak. Kebiasaan jelek Amelia sudah tertanam sejak SMP, dari sini Dia mulai memperlakukan orang seenaknya karena kurang didikan orang tua.
"Aduh!" Ceringai seorang perempuan yang menabrak Reynand secara tidak sengaja. Wajar saja bila mereka bertabrakan, sebab posisinya kini ada di perempatan. Apalagi Reynand yang melamun, dan matanya yang entah kemana saja.
Perempuan itu menatap wajah Reynand, memperhatikan lekat-lekat setiap lekuk wajahnya dan menilai bahwa laki-laki yang ada didepannya itu tampan. Matanya bergeser ke kiri bawah sampai menemukan nama yang tertera di bet bajunya, 'Zikri Alby Reynand' ejanya dalam hati.
Reynand mengernyit, merasa aneh ketika melihat sosok baru yang memperhatikannya dari ujung sampai bawah. Alis kanannya naik, membuat tatapan Reynand semakin sinis. Tidak salah bila seseorang yang baru bertemu dirinya merasa sebal, sebab perlakuannya.
"Kak Alby!" Histeris perempuan itu tanpa pertanyaan apapun sebelumnya. Reynand agak kaget ketika perempuan itu menyebut namanya, sebelumnya dia belum mengenal perempuan itu, wajahnya asing.
"Ini aku Dara Kak, teman satu komplek Kakak." Ungkap Dara, sembari tersenyum girang karena bertemu dengan teman masa lalunya.
Otak Reynand seolah berputar membuka memori-memori di masa lalunya sampai menemukan perempuan kecil yang ada di zaman SD nya. Tangan kanannya nampak mengacungkan ke wajah Dara sambil mengingat-ngingatnya kembali. "Oh iya Dara."
"Kakak sekolah disini juga ternyata?" Tanya Dara.
Reynand mengangguk dan tersenyum, matanya melihat Dara dari atas sampai bawah. Melihat gadis kecil yang dulu sering Dia selamatkan dari teman-teman nakalnya. Tidak menyangka bahwa waktu secepat itu berlalu.
"Aku permisi ke kelas ya Kak," Pamit Dara, Dia mulai melangkah berlawanan dengan Reynand. Dua langkah Dara pergi, Reynand berbalik badan dan memanggilnya. "Dar."
Dara menengok dan menaikan kedua alisnya seolah bertanya. Reynand tersenyum, nampak licik dan keren tentunya. "Makin gede lo makin cantik." Ucapnya, secara sadar setelah melihat perubahan drastis dari Dara.
Dara tersenyum, "Kakak juga."
"Juga apa?" Tanya Reynand.
Reynand juga melanjutkan langkahnya menuju kelas, otaknya serasa dipenuhi wajah Dara yang menurutnya lucu. Dia manis, cantik, dan membuat Reynand gemas.
"Kenapa Rey?" Tanya Bimo, Bimo agak takut ketika dihadapkan dengan Reynand.
"Ada cewe cantik, adik kelas lagi." Ucap Reynand.
"Amelia sama si cewe baru itu mau lo kemanain?" Tanya Maul yang tiba-tiba muncul dari belakang Reynand. Tangan kanannya menepuk pundak Reynand agak keras.
"Kalo mau ngegebet satu aja kali, ya kali tiga-tiga nya mau lo embat. Nanti gue kaga dapat." Kali ini Dito yang berbicara, Dia laku duduk di depan bangku Reynand.
"Gue ngga bilang ngegebet Amel sama Kaila woy, tapi kayanya yang ini mau gue gebet." Ucap Reynand.
Dito dan Maul tersenyum miring mendengar ucapan temannya, "Emang buaya dari lahir." Ucap Maul.
Setelah kurang lebih lima belas menit mereka mengobrol dengan topik yang sama, bel masuk berbunyi. Maul dan Dito kembali ke kelas mereka, Bimo dan Reynand duduk ditempat duduk mereka. "Bim, cabut yuk." Ajak Reynand.
"Engga deh Rey, hari ini pelajaran kimia."
"Kan ada gua, udah ayo cabut." Ajak Reynand lagi. Akhirnya Bimo setuju, mereka mulai bangkit dari duduknya.
"Kalo ada yang tanya gua kemana, jawab lagi di uks." Ucap Reynand agak keras agar seisi kelas mendengarnya.
Reynand dan Bimo berjalan menuju kantin, otaknya masih sama dipenuhi dengan bayang-bayang wajah Dara. Ia ingin menemuinya, tapi nampaknya keadaan tidak memungkinkan. Bimo membawa snack-snack yang dibawanya dari rumah, kebiasaan makannya sambil berjalan sudah meresap ketulang.
"Eh, lo kenal Dara ngga?" Tanya Reynand pada dua perempuan kelas sepuluh yang tengah berjalan juga.
"Dara yang anak baru?"
"Iya, kelas apa?" Ranya Reynand lagi.
"X IPA 2 kak." Ucap salah satu perempuan itu.
"Oke." Tanpa ucapan terima kasih, Reynand melangkah menuju kelas sepuluh ipa dua. Sembari berpikir apa alasan yang tepat untuk mengajak Dara pergi dari kelas. Bimo seolah tak sadar kemana dia akan pergi, snack yang dibawanya cukup menghipnotis sehingga dia mengikuti kemana Reynand.
Dengan persiapan yang cukup, Reynand mengetuk pintu kelas Dara. Jantungnya berdetak cukup keras, bersiap untuk mengahdapi guru yang kini tengah mengajar di kelas Dara. "Masuk." Ucap seseorang dari dalam kelas. Reynand dan Bimo segera masuk, sebelum itu Bimo memasukkan snacknya ke dalam saku celana.
__ADS_1
Reynand dan Bimo berdiri di depan kelas, mereka lupa bagaimana kondisi mereka sekarang. "Baju kamu kenapa ngga di masukin? Ayo masukin." Pinta Bu Estri, guru sejarah yang killernya tidak karuan.
Mereka menuruti apa yang Bu Estri minta, dengan napas panjang Reynand mulai berbicara. "Dara dipanggil guru piket Bu."
"Buat apa?" Tanya Bu Estri.
"Saya kurang tahu Bu, mungkin masalah seragam." Jawab Reynand. Baju Dara memang masih berbeda, masih mengenakan seragam sekolah lamanya.
"Ya sudah, Dara boleh keluar."
Beban Reynand serasa hilang, Dia senang karena rencananya berhasil. Dara melangkah keluar bersama Reynand dan Bimo setelah berpamitan pada Bu Estri. Ia belum tahu kalau ini hanya akal-akalan Reynand saja.
"Dar, udah tahu tempat-tempat di sekolah ini?" Tanya Reynand.
"Belum Kak." Jawab Dara.
"Bim, lo kekantin dulu." Ucap Reynand.
"Oke, sukses ya." Sahut Bimo sebelum Dia pergi.
"Ya udah, yuk ikut gua." Ajak Reynand, Dara menatap Reynand takut setelah mendengar kata 'sukses' yang keluar dari mulut Bimo. Pikirannya jadi kemana-mana, Ia merasa gelisah sebab hanya berdua dengan Reynand.
"Kemana Kak?"
"Jalan-jalan keliling sekolah biar lo tahu. Lo jangan takut, gua ngga akan macam-macam kok." Ucap Reynand dan membuat Dara percaya padanya.
Mereka mulai berjalan melewati belakang kelas agar tidak ketahuan guru. Suasana hening membuat mereka sedikit canggung, wajar saja karena mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. "Lo dari kapan sekolah disini?" Tanya Reynand membuka pembicaraan.
"Dua hari yang lalu Kak."
"Sekarang tinggal dimana?" Tanya Reynand lagi.
"Dekat sekolah Kak, bisa jalan kaki juga. Kalau Kakak masih di rumah yang sama?"
"Iya, gue ga mau pindah. Banyak banget kenangannya disana." Ungkap Reynand. Mereka berjalan seirama, melangkah perlahan tanpa ada rasa tergesa-gesa.
"Om Tante sehat?" Tanya Dara.
"Nyokap sehat, Bokap baru meninggal dua bulan lalu." Jawab Reynand tetap pada nada datarnya. Jawaban itu sempat membuat langkah Dara terhenti dan menengok ke arah Reynand.
"Maaf ya Kak, Aku ngga tahu." Ucap Dara.
Keduanya terus berjalan sampai akhirnya berhenti di kantin, untuk sekedar duduk dan membeli air mineral. Kantin nampak sepi, tapi beberapa kali terdengar teriakan dari anak-anak yang bermain basket. Bimo sudah duduk sembari memainkan ponselnya, nampaknya Dia sudah kenyang dan tidak memakan snack lagi. "Tadi kakak bilang, Aku dipanggil guru. Kak Alby bohong?" Tanya Dara setelah mengingat alasan yang dibuat Reynand. Reynand tersenyum mendengar pertanyaan Dara, terdengar lucu. Dara masih sama seperti dulu, anak perempuan yang polos.
"Iya, biar bisa ngajak lo kesini." Jawab Reynand.
Tak lama setelah itu, Kaila dan teman-temannya masuk ke kantin. Mereka mengenakan kaos olahraga, sepertinya tadi memang suara dari anak-anak kelas Kaila. Kaila menatap Reynand, melihat bahwa sahabatnya itu kini tengah duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang tidak dikenalinya. Seragamnya pun berbeda, Dia sudah bisa menabak bahwa perempuan itu anak baru.
"Kai." Panggil Reynand pada Kaila yang masih diam terpaku.
Kaila mendekat, Dia paham bahwa Reynand memintanya mendekat. "Kenapa?"
"Kenalin, Dara. Teman kecil gue." Ucap Reynand.
Kaila tersenyum, Dia menjulurkan tangan ke depan Dara. Dara pun mengangkat tangannya sehingga mereka berjabat tangan. "Kaila." Kata Kaila mengenalkan dirinya.
"Dara."
"Lo ngajak dia cabut?" Tanya Kaila heran karena ini masih jam pelajaran.
"Iya." Reynand terkekeh.
"Gila lo, nekat banget."
Fifi dan Dani mendekat, mereka mengajak Kaila untuk duduk. Cukup lelah setelah pelajaran olahraga, namun tetap merasa senang karena tidak hanya terpaku pada buku.
"Lo cemburu?" Tanya Fifi, Dia melihat muka Kaila agak kesal setelah bersalaman dengan Dara.
"Engga lah, biasa aja."
"Kok lo ngegas sih, gue kan cuma nanya." Ungkap Fifi, Ia menyadari bahwa sebenarnya Kaila kesal.
"Iya maaf ya cantik." Kata Kaila dibarengi senyuman palsunya.
__ADS_1