Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
21. Perselisihan


__ADS_3

Amelia berjalan menuju halte didepan sekolah, menunggu Pak Ari, supir pribadinya. Amelia merasa, telat adalah kebiasaan Pak Ari,tapi tak apa pikirnya, sebab tak tega harus membentak-bentak orang tua. Ia tersenyum melihat teman-temannya yang pulang mengenakan motor.


Cuaca hari ini tidak begitu mendukung, tadi pagi hujan deras. Tapi sore ini tidak, hanya mendung, sepertinya akan ada hujan lebat lagi nanti. Ia memperhatikan genangan air di depannya, tepat berada di jalan raya. Dirinya menjadi sedikit was-was kalau air itu mengenai seragamnya.


Sudah sepuluh menit lebih Amelia menunggu, tapi mobil putih miliknya itu belum juga terlihat. Amelia mulai menghentak-hentakkan kakinya, sudah pegal berdiri sejak tadi. Kebanyakan teman-temannya sudah tak terlihat, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang untuk memebeli jajan diluar sekolah. Ia mulai kesal, Pak Ari belum juga menjemputnya.


Dave melihat Amelia berdiri sendirian, Ia memperhatikan bis yang mulai melaju kearah Amelia. Bis itu sepertinya akan berhenti karena posisinya berada di pinggir. Dave memprediksi bahwa genangan air didepan Amelia akan mengenai Amel. Dave berpura-pura berjalan didepan Amelia, dengan menyesuaikan lajunya bis.


"Dave." Sapa Amelia ketika melihat Dave berjalan ke arahnya.


Ketika bis itu tepat berada di depan Amelia, benar saja air genangan itu memercik ke seragam Dave. Amelia memejamkan mata panik saat genangan air itu mulai mengarah padanya, sampai dirinya tak sadar ada Dave yang seakan melindunginya dari air kotor itu. Perlahan Amelia membuka mata, matanya tertuju pada mata Dave yang berada di depannnya. Jantungnya berdegub bengitu kencang, tangannya pun tremor.


"Lo gapapa?" Tanya Dave.


Amelia mengangguk, belum asa nyali untuk mengeluarkan suara setelah adegan itu. Ia tidak menyangka jika Dave melindunginya dari air genangan. Setelah dirasa berani, Amelia berjalan melihat punggung Dave yang penuh dengan air kotor, seragamnya menjadi kotor sekali.


"Seragam lo kotor, gimana?" Tanya Amelia.


"Biar nanti gue cuci." Jawab Dave singkat.


"Emangnya kering, ini mendung juga." Ucap Amelia.


"Gue ada seragam lain." Sahut Dave masih dengan ciri khasnya yang dingin dan cuek pada perempuan.


Dave bukan tipikal orang yang menjauh ketika ada orang yang menyukainya, Dia orang yang cuek dan dingin pada perempuan yang belum dia kenal betul. Lain ketika Dia berada di dekat Kaila, sangat manja dan penuh perhatian.


"Haduh Dave, sorry gara-gara gue lo jadi gini. Gue selalu bikin masalah ya kalo dekat sama lo." Ucap Amelia.


"Emang." Sahut Dave enteng.


Dave berjalan menjauh tanpa pamitan, Ia pergi ke ruang osis untuk menyelesaikan beberapa tugasnya. Arah mata anak-anak yang berada di sekelilingnya tertuju pada seragam Dave yang begitu kotor.


Dave melihat Dara dan Reynand berjalan serasi, Dia bingung harus merasa senang ataupun kasihan. Dia seharusnya senang karena Reynand sudah memiliki orang lain selain Kaila, tapi disisi lain Dia juga prihatin pada Kaila yang kini sangat jauh dari Reynand.


"Orang dia dulu yang dm." Ucap Reynand lirih, berbicara dengan Dara.


"Lagian kamu balas." Sahit Dara sewot.


"Heh ngambek, ya udah kamu blok aja orangnya." Kata Reynand mengalah.


Dara yang kini memegang handphone Reynand, Ia mengutik-utik layar ponsel Reynand. "Kalo Kak Kaila, boleh di blok?" Tanya Dara, Ia begitu takut menanyakan hal itu. Ia takut Reynand tersinggung ataupun marah.


"Blok aja yang kamu ga suka, lagian juga kita ga pernah chat kok." Jawab Reynand enteng.


Benar saja, Dara memblokir kontak perempuan yang dianggap mengganggu hubungannya. Sudah hampir dua minggu hubungan ini berjalan, tak ada yang terungkap selama hubungan ini berjalan. Semuanya kini berada di kehidupan yang baru, termasuk Kaila yang kini menjalani hidupnya seperti biasa.


•••


"Kapan ya gurunya keluar?" Ucap Fifi, sudah satu jam lebih Guru Fisika menguasai kelasnya. Jam pelajaran pun seharusnya sudah habis, tapi guru itu belum juga keluar. Sudah menjadi langganan Guru Fisika yang menambah jam pelajaran dan memotong jam istirahat. Beberapa anak sudah memberi kode, tapi beliau belum juga sadar.


Tiba-tiba bumi bergoncang, anak-anak merasakan goncangan yang cukup besar itu. Pigura yang terpajang didinding dengan wajah pak presiden pun ikut bergoyang. Semuanya panik, beberapa anak berteriak takut.


"Gempa!" Teriak salah seorang anak yang pertama kali merasakan gempa itu.


Guru Fisika itu menengok keadaan sekitar dan benar saja memang ada gempa. "Iya gempa, ayo keluar!" Pinta orang itu.


Semua anak berlari keluar menuju lapangan, ternyata sudah banyak anak-anak yang berada disana. Kaila menggandeng tangan Fifi dan berlari sekencang-kencangnya menuju lapangan. Semua anak berlari sembari berteriak, suasana menjadi bertambah panik.


Goncangan itu perlahan berhenti, membuat anak-anak tersenyum lega sebab tak ada korban dalam bencana ini. Dani menyipitkan matanya, melihat kearah Reynand yang berdiri bersama Dara. Posisinya agak jauh, tapi terlihat dengan jelas bahwa itu Reynand dan Dara.


"Kai." Panggil Dani sembari menepuk pundaknya.


Kaila menengok. "Kenapa?"


"Itu Reynand bukan si?" Tanya Dani sembari mengacungkan telunjuknya menuju Reynand dan Dara.


"Apa?" Tanya Kaila, Ia tak mendengar apa yang Dani katakan. Suasana lapangan yang begitu ramai dan berisik membuatnya bingung.


"Itu Reynand sama Dara kan?" Tanya Dani lagi, mendekatkan mulutnya ke telinga Kaila.

__ADS_1


Kaila melihat kearah yang ditunjukan Dani dan melihat kedua orang itu. Reynand merangkul Dara, dalam batinnya kesal. Tapi apa boleh buat, dirinya bukan siapa-siapa.


"Situasi gini aja masih sempat-sempatnya berduaan." Julid Dani, seakan-akan membela sahabatnya.


"Biarin lah, berduaan sama pacarnya ya biarin. Kecuali kalo berduaan sama pacar orang, nah baru." Respon Kaila, jauh dari prediksi Dani yang dikira akan membelanya juga. Jawaban Kaila membuat Dani mengernyit tidak mengerti, Ia sempat berpikir mengapa sahabatnya bisa sebaik itu.


Reynand yang kala itu masih mengobrol dengan pacarnya, melihat arah mata Kaila yang tertuju padanya. Keduanya membuat kontak mata, sehingga dengan cepat Kaila mengibaskan pandangannya menuju arah lain. Reynand terdiam melihat Kaila yang seolah salah tingkah karena pandangannya tertuju pada Reynand.


"Kebetulan kita sama-sama ada dikantin ya, jadi larinya bareng." Ucap Dara. Reynand mengangguk dan masih memperhatikan Kaila.


"Kayaknya ngga ada korban juga." Lanjut Dara. Dara melihat Reynand masih fokus pada satu titik yang membuatnya terpaku sejak tadi. Dara mengusap muka Reynand yang belum juga berpaling, lalu melihat kearah apa yang dipandang Reynand.


"Liatin apa si? Dari tadi diam aja." Ketus Dara, sedikit kesal sebab omongannya tak direspon.


Beberapa anak sudah kembali ke kelasnya, termasuk Kaila yang kali itu sudah tak berada di tempat. Pandangan Reynand sudah tertuju pada Dara kembali, melihat wajah Dara yang lucu ketika sedikit kesal. "Ga ada siapa-siapa, terus kamu liatin apa dari tadi?" Tanya Dara.


"Liatin kamu." Jawab Reynand.


"Alah udahlah kita ke kantin lagi." Ucap Dara mengalihkan pembicaraan, sedikit salah tingkah karena Reynand memperhatikannya.


Keduanya berjalan ke kantin, beberapa anak sudah mulai tenang kembali seperti semula.


"Kemarin Aku baca di instagram, ada lomba. Lomba kaya sains gitu, tapi ngerjainnya online." Ucap Reynand pada pacarnya, mereka tengah duduk di bangku kantin sembari menikmati es teh yang baru dipesan.


"Kamu mau ikutan?" Tanya Dara.


"Pengen, tapi belum belajar apa-apa.


Nantinya ga menang lagi." Jawab Reynand.


"Ikut aja Kak, perkara menang apa ga menang urusan nanti." Ucap Dara menanggapi.


Reynand mengangguk, Ia membulatkan rencananya untuk mengikuti lomba itu. Lima hari menuju lomba, dirinya harus menyiapkan materi-materi apa saja yang dipelajari. Ia senang karena Dara mensuport apa yang diminatinya.


•••


"Tiga hari ini kamu udah ngajakin aku ke mall, nongkrong, sekarang kamu ngajak ke kafe?" Tanya Reynand pada Dara dalam telepon.


"Sebentar aja ya, jangan lama-lama."


Reynand menutup teleponnya, Ia mengiyakan permintaan Dara yang mengajaknya ke kafe biasanya. Dengan cepat Ia bersiap-siap, lalu menjemput Dara.


Sampai di kafe, mereka berdua duduk di tempat biasanya. Reynand membuka layar ponselnya, membuka e-book dan membaca buku dengan tenang. Dara merasa kesal karena tak ada pembicaraan diantara mereka, Ia jadi jenuh hanya mengotak-atik layar ponsel. "Kak, kok Kakak jadi ga asik gini sih." Gerutu Dara.


"Ga asik gimana? Aku lagi baca materi Dar." Jawab Reynand sabar.


"Katanya cuma sebentar, kok disini malah baca juga. Kenapa ga nanti aja sih waktu di rumah?" Dara mulai menunjukan bahwa dirinya kesal.


"Terus mau kamu gimana?" Tanya Reynand mulai kesal. Ia sudah tidak bisa tersabar lagi, Ia kesal karena Dara sering sekali rewel, wajar juga sebab Dara memang masih kecil.


"Ya Aku mau kita kaya biasanya, ngobrol, bercanda." Jawab Dara.


"Lama-lama kesel aku Dar, kamu ga mau ngertiin. Beberapa hari ini kamu minta ini lah itu lah, Aku kira ketika Aku tanya sama kamu tentang olimpiade itu kamu bakalan kasih renggang waktu. Tapi nyatanya? Malah semakin sering kita keluar, semakin jarang juga aku belajar." Ungkap Reynand, untuk pertama kalinya Ia mengungkapkan kekesalannya.


"Kakak nyalahin Aku?" Tanya Dara, Ia malah kesal balik terhadap Reynand bukannya merasa bersalah.


"Ya terus mau salahin siapa? Aku? Aku yang salah?" Reynand geram sekali dengan Dara sampai Ia sampai hati membentar Dara. Tapi Dara tidak mau kalah, Dia tetap membela dirinya sendiri dan menyalahkan Reynand.


"Ya kamu lah, masa Aku." Jawab Dara.


Reynand menghela napas berat, Ia sudah lelah bertengkar dengan pacarnya. Lebih baik diam dan tidak usah diteruskan.


"Ayo pulang." Ajak Reynand, sudah lebih tenang.


"Kan baru sebentar." Sahut Dara.


"Mau aku tinggal atau pulang sekarang?" Tanya Reynand.


Dara memandang Reynand kesal, kali ini Reynand tidak memuji ekspresi Dara yang biasanya disebut gemas. Ia benar-benar marah dan ingin pergi dari situasi yang membaut mood belajarnya terganggu.

__ADS_1


"Kamu pulang aja. Aku masih mau disini." Jawab Dara, dengan nada kesal juga.


"Disini sama siapa? Ngapain juga disini?" Tadinya Reynand mengancam, tapi karena jawaban Dara tidak sesuai dengan ekspektasinya maka dari itu Reynand bertanya. Ia jadi kurang tenang kalau Dara disini sendirian.


"Ya Aku masih mau disini, mau pulang juga ngapain? Udah kalo kamu mau pulang ya pulang aja, ga usah ngajak-ngajak." Ketus Dara, Reynand bernapas panjang lalu pergi. Dia sudah geram dan tidak nyaman dengan pertengkaran ini, masalah yang kecil tapi diperbesar.


Reynand berjalan keluar dari kafe, matanya tertuju pada Kaila yang kala itu tengah berjalan bersama Fifi dan Dani. Tak ada senyuman dan sapaan, keduanya cuek dan bertingkah seolah tidak pernah bertemu. Kaila melirik Reynand biasa, melihat muka Reynand yang tampak kesal. Ia juga tak tersenyum bahkan menyapa, bersama teman-temannya Kaila masuk ke dalam kafe.


"Reynand kenapa gitu ya mukanya?" Tanya Fifi.


"Ga tau tuh, lagi ga mood kali." Jawab Dani.


"Eh bentar-bentar, itu kan si Dara?" Fifi menunjuk perempuan yang duduk ditemani satu gelas minuman hampir habis. Dani dan Kaila menengok serentak, memperhatikan benar-benar perempuan yang ditunjuk Fifi.


"Iya benar itu Dara, berarti barusan Reynand abis ketemu Dara dong." Ucap Dani menebak-nebak, sedangkan Kaila hanya diam tak ikut campur.


"Udah yuk duduk." Ajak Kaila, sembari mengalihkan pembicaraan.


Ketiga orang itu duduk dengan posisi yang agak jauh dari Dara, sehingga Dara tidak melihat keberadaan mereka. Kaila mengeluarkan laptop yang dibawanya untuk mengerjakan tugas, Fifi dan Dani masih sibuk memperhatikan Dara. Tak lama dari itu, seseorang mendekati meja Dara. Menyapanya dengan tos, lalu duduk berhadapan dengan Dara.


"Itu siapa wa? Kenapa Dia sama cowo lain?" Tanya Dani, nada julid nya sudah mulai terlihat kini. Laki-laki yang kini menemani Dara tidak dikenali ketiganya.


"Eh iya dong, ya kali dia selingkuh." Sahut Fifi, bertambah julid.


"Biarin ge, asal dia ga ganggu ya udah biarin aja. Lanjutin ini tugas nya." Ucap Kaila, masih tetap fokus mengetik di depan laptop.


"Wah, ga bisa nih ga bisa. Gue harus telepon Reynand." Kata Fifi antusias, rasanya ingin sekali mengadu pada Reynand bahwa pacarnya sedang bersama laki-laki lain.


"Iya benar Fi, gass aja yuu." Dani mendukung.


"Jangan cari gara-gara Fi, nanti kita yang disalahin." Cegah Kaila, sudah malah ikut campur urusan antara Dara dan Reynand.


"Tapi ini info penting Kai."


Tanpa pikir panjang, Fifi menelepon Reynand.


"Halo Rey." Sapa Fifi dalam teleponnya.


"Iya halo. Kenapa Fi?" Tanya Reynand.


"Dara bilang sama lo kalo dia mau ketemu sama cowok?"


"Cowok? Dimana?"


"Di kafe yang tadi, dia lagi sama cowo nih. Tapi gue ga kenal dia siapa." Adu Fifi pada Reynand.


Reynand mengerutkan dahinya bingung, Dia menjadi penasaran dan kurang percaya pada Dara.


"Ya udah Fi, biar gue tanya dulu."


Reynand lalu memutus sambungan teleponnya, Ia segera menelpon Dara.


"Yess, berhasil." Ucap Fifi senang.


Dara melihat ponselnya berdering, tertera nama pacarnya di layar. Dengan cepat Dia mengangkat telepon itu, sedikit penasaran apa yang akan dibicarakan setelah kemarahan keduanya.


"Halo." Sapa Dara dalam telepon.


"Kamu sama siapa?" Tanya Reynand.


"Siapa apaan sih?" Dara malah berbalik tanya, dirinya berpura-pura tidak tahu.


"Kamu sapa siapa?!" Reynand menegaskan pertanyaannya.


"Kamu lama-lama ga jelas ya, udah ah aku matiin." Ucap Dara menghindar.


"Kamu yang ga jelas! Tinggal jawab, kamu sama siapa."


Dara memutus panggilan teleponnya, tidak mau mengaku dengan siapa dirinya sekarang. Perselisihan keduanya semakin rumit, Reynand semakin kesal pada Dara yang tidak mengaku dengan siapa dirinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2