
Sudah lebih dari sepuluh menit orang-orang berada didalam tanpa berita apapun, pikirannya mengarah kemana-mana. Perlahan pintu UKS terbuka, didorong oleh salah seorang anak PMR yang masih kelas sepuluh. "Gimana Kaila?"
"Dia sudah siuman Kak, Saya permisi." Pamitnya untuk pergi ke kelas. Reynand segera memasuki UKS untuk melihat keadaan Kaila, dia begitu cemas. Dua orang PMR lainnya keluar dari UKS, kembali melaksanakan kewajiban dengan menuntut ilmu.
"Lo kenapa Kai?"
"Gue ngga papa, cuma agak pusing sedikit. Tapi sekarang udah mendingan."
Keduanya terdiam tanpa obrolan, terasa sangat canggung dan kikuk setelah adegan penyelamatan Kaila dalam kamar mandi. Mereka kini tengah menjadi bahan perbincangan satu antero sekolah. Tanpa diketahui bahwa Amelia adalah penyebab utamanya.
"Pulang sekolah nanti, dijemput?"
"Engga."
Reynand terdiam sejenak, berpikir apakah ada acara selain nongkrong setelah pulang sekolah. "Nanti biar gue yang anterin."
"Ngga perlu, gue bisa naik angkot."
"Nggak!" Tegas Reynand, menetapkan keputusan dari satu belah pihak. Akhirnya Kaila menerima, sebenarnya tidak terpaksa sebab dirinya juga perlu itu. Dia menolak pertolongan Reynand, karena dia takut terlalu banyak merepotkan orang lain.
"Gue beli minun dulu." Pamit Reynand, Kaila mengangguk. Reynand melangkah menuju kantin untuk membeli minuman, kantin nampak sudah sepi setelah bel masuk berbunyi setengah jam lalu. Puluhan anak yang dengan semangat berolahraga, berlari kesana dan kemari untuk pemanasan.
"Mba, beli teh hangat sama aqua satu botol yang dingin." Ucap Reynand pada penjaga kantin.
"Iya Mas."
Reynand membuka layar ponselnya, tertera nama yang sama dengan tiga daftar panggilan. Sejak tadi Reynand tak melihat ponselnya, nada deringnya pun dimatikan sebab pelajaran. Kondisi membuat dirinya tidak peduli dengan ponsel.
Seseorang berjalan menuju kedalam kantin, dengan langkah sepatu yang terdengar sangat khas. "Ngapain kamu disini?" Tanya orang itu, sempat membuat Reynand kaget.
"Bapak sendiri disini ngapain?" Tanya Reynand balik. Orang itu adalah Pak Maman, guru fisika yang seharusnya sekarang mengajar dikelasnya.
Pak Maman nampak gelagapan untuk menjawab pertanyaan Reynand, "Saya mau beli bulpoin." Jawabnya mengasal.
"Maaf nih Pak, bukannya bulpoin itu adanya dikoperasi Pak?"
Pak Maman bertambah gelagapan, dirinya hampur saja ketahuan berbohong. "Saya salah masuk."
"Sudah, kamu sekarang kekelas." Sambungnya, lalu melangkah pergi entah kemana.
Selesai dibuatkan teh hangat, Reynand berjalan menuju UKS untuk memberikannya pada Kaila. Pandangan Kaila nampak kosong, sebenarnya dia takut hanya bersama Reynand di ruangan ini, tapi apa boleh buat. Reynand seakan memecahkan lamuman Kaila. "Hey, nglamun aja lo." Kagetnya. Kaila bergidig lirih, dan bangun dari posisi rebahannya. "Nih minum tehnya." Ucap Reynand dibarengi gerakannnya memberikan teh hangat.
"Thank's ya." Sahut Kaila.
"Lo kenapa bisa sakit gini?" Tanya Reynand.
"Kayanya semalem gara-gara ujan-ujanan deh,"
"Itu namanya lo nyakitin diri lo sendiri."
Kaila diam tanpa jawaban, dia tidak suka dengan orang seperti Reynand yang seolah menyalahkan Kaila, padahal memang salahnya sendiri.
Mereka berbincang hangat seperti biasanya, seakan tidak ada kekosongan dan terus saja memiliki topik pembicaraan, mulai dari jurusan SMA sampai pembicaraan mengenai SNMPTN. Obrolan itu berakhir ketika berbunyinya bel pulang sekolah. "Lo jangan pergi dulu, gue mau ambil tas." Reynand bangkit dari kursi disamping ranjang. "Inget, jangan pergi dulu." Katanya lagi saat berada di pintu UKS.
"Iya Reynand."
Reynand mengambil tas nya di kelas, tidak menghiraukan bagaimana pelajaran fisika yang barusan tidak dia ikuti. Tanpa mengikuti pelajaran pun, Reynand tetap mengerti materi pelajarannya.
"Kai! Kamu kenapa?" Tanya Dave mengagetkan, dia berjalan cepat menuju Kaila yang kini sudah berdiri.
"Apaan sih?" Cetus Kaila.
"Kamu gapapa kan? Mana yang sakit? Tunjukin ke Aku." Terocosnya sembari memperhatikan Kaila dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Udah udah, gua mau kekelas."
Kaila yang berniat menunggu Reynand didalam UKS, akhirnya keluar karena takut setelah kedatangan Dave. Pikiran mengenai kejelekan Dave terngiang-ngiang terus dipikirannya.
"KAI! PLEASE MAAFIN GUA! GUA JANJI MAU BERUBAH, LO MAU KAN BALIKAN SAMA GUE?" Teriak Dave sangat kencang hingga hampir semua anak yang melihat dapat mendengarkan apa yang Dave katakan.
"Gue ngga nyangka lo senekat ini, dampaknya bukan aja ke lo doang! Tapi gue juga! Ga ngotak lo ya." Bentak Kaila, tidak terlalu keras agar tak ada yang mendengar. Dilanjutkan dengan gerakannya berjalan cepat kekelas, walaupun masih merasakan sedikit nyeri di kepala. Benar saja dugaannya, puluhan cewe-cewe di sekolah membicarakannya dengan beberapa ungkapan.
"SOK BANGET SIH TUH ANAK, DIA KIRA DIA CANTIK APA?"
"JUAL MAHAL BANGET, SOK NOLAK KAK DAVE."
"APAAN SIH SOK-SOK AN BANGET."
"OH JADI DIA MANTANNYA DAVE, KOK KAK DAVE MAU YA SAMA DIA. PADAHAL MASIH CANTIKAN GUE."
Ungkapan-ungkapan mereka nampaknya menjadi hiasan ditelinga Kaila sekarang, Dia benar-benar kesal dengan cara yang dilakukan Dave tadi.
Kaila berjalan kedalam kelas untuk memgambil tas, beberapa anak melihat dirinya sinis. Sedangkan yang lainnya belum mengetahui apa yang terjadi diluar.
"Diluar ada apa sih Kai?" Tanya Gogon, salah satu teman sekelas Kaila. Nama aslinya Noval, tapi karena dari dulu panggilannya Gogon, jadi sampai sekarangpun demikian.
"Eh iya Kai, diluar ada apa?" Fifi datang dengan polosnya, sama-sama bertanya mengenai apa yang telah terjadi. Rasanya kesal saat diminta menjelaskan bahwa dirinya yang kini menjadi topik pembicaraan.
"Tau tuh." Jawabnya acuh.
Selesai mengemas barang-barang, Kaila berjalan keluar. "Kan gue udah bilang, tunggu gue. Eh lo nya malah pergi." Ucap Reynand belum mengerti.
Kaila terdiam sembari melanjutkan berjalan menuju gerbang utama sekolah. Reynand bertanya-tanya mengenai perubahan sikap Kaila secara mendadak. Saat Kaila berjalan ke halte bus, Reynand menarik tangannya. Mengajak Kaila pergi ke parkiran disamping sekolah.
"Mau kemana sih?" Gerutu Kaila.
"Ikut gue, kan gue udah bilang, gue mau anterin lo."
Akhirnya Kaila mengikuti permintaan Reynand, meskipun dia masih kesal pada Dave.
"Si Dave! Dia minta balikan sambil teriak coba, ga ngotak banget deh tuh anak. Anjing banget deh." Cerita Kaila ketika mobil sudah berjalan menerpa debu dijalanan. Untuk pertama kalinya Kaila mengucap kata-kata kasar didepan Reynand.
"Lo serius? Emang tuh orang ga ada otak ya. Ga habis pikir gue."
"Kalo mau nangis, jangan ditutupin. Gua ga bakal ngejek lo juga kok," Ucap Reynand, tanpa menengok kearah Kaila dan tetap fokus pada setirnya. Kaila tersenyum mendengarnya, lalu mengalihkan pembicaraan. "Lo tumben bawa mobil?"
"Gua mau jemput nyokap, di cafe Malina."
Reynand menengok kearah Kaila, memperhatikan Kaila secara benar-benar. "Hidung lo berdarah Kai!" Histerisnya, dengan cepat dia menghentikan mobil dan mencari tissu yang kali itu habis.
"Demi?"
Kaila mengeceknya, melihat di kaca mobil. Benar saja, hidungnya berdarah, ia segera mencari apapun yang bisa mengelap darah itu. Jangan sampai darah itu menetes di seragam. "Eh tissu!"
"Habis." Panik Reynand.
"Udah nih pake aja hoodie gue." Reynand menyerahkan hoodie abu-abu kesukaannya yang dia letakkan di jok belakang.
"Gapapa?"
"Gapapa, cepetan!"
Rasanya Reynand lebih panik dibandingkan Kaila, dia begitu khawatir dengan keadaan Kaila sekarang. Ia takut jika sampai terjadi seseuatu pada Kaila. Untuk pertama kalinya tidak dia sadari bahwa dirinya mengkhawatirkan Kaila.
"Kita kerumah sakit ya." Ajaknya, kembali menyalakan mesin mobil.
"Engga Rey, gue ngga papa kok. Ini udah biasa." Cegah Kaila, memang dia sudah terbiasa pada mimisan.
__ADS_1
"Tapi mimisan kan bahaya Kai."
"Engga Reynand, gue udah terbiasa. Gue juga pernah ke dokter, tapi katanya gue cuma kecapean doang. Bukan penyakit serius kok." Jelas Kaila agar Reynand berhenti memaksanya ke rumah sakit.
"Sekarang, kita jemput nyokap lo ya." Kaila nampak tetap tenang dalam keadaan ini, tak ada rasa takut ataupun cemas sekalipun.
"Tapi beneran lo gapapa?"
"Iya, gue gapapa."
Darah itu rasanya sudah berhenti menetes, Kaila melepaskan hoodie itu dari hidungnya, lalu memperhatikan bercak-bercak darah yang kini ada dihoodie milik Reynand. Rasanya malu, sedih, bahkan bersalah. "Sorry ya Rey, hampir setiap hari gue ngerepotin lo. Makasih jyga lo udah nolongin gue, makasih banget. Pasti sekarang, lo nilai gue cewek penyakitan ya?"
Reynand menghentikan mobilnya lagi, memfokuskan wajahnya memperhatikan Kaila. Hal itu tentunya sempat membuat Kaila tersipu bahkan salah tingkah. Perasaanya semakin bercampur aduk setelah ini. "Engga Kai, menurut gue, lo malah cewek yang kuat. Jangan jelek-jelekin diri sendiri, ga baik." Katanya tenang, terdengar sangat menenangkan di telinga.
"Oh iya, hoodie lo biar gue bawa dulu. Biar gue cuci, nanti takutnya kalo nyokap lo ngeliat, dia jadi cemas."
"Ya udah gapapa."
Mereka kembali berbincang, dan kini telah sampai di depan cafe Malina. Ndari sudah bersiap untuk pulang, dia berdiri ditemani kedua temannya.
"Eh, gue ke belakang aja ya. Biar nyokap lo yang didepan." Ucap Kaila sembari melepas sabuk pengaman.
"Jangan, disini aja." Cegah Reynand, memegang pergelangan Kaila dan membuat jantungnya serasa mau copot. Darahnya seolah berhenti mengalir, seluruh tubuhnya menjadi dingin, dan untuk menelan ludah saja dia kesusahan.
"Gue ngga enak sama Tante Ndari."
"Gapapa."
Ndari melihat Kaila yang duduk di jok depan bersama anaknya, dia sangat senang memperhatikan anaknya dan Kaila tersenyum semringah tanpa beban, meskipun itu mustahil. Ndari berjalan ke jok belakang..
"Tante, biar Tante yang duduk didepan ya. Kaila biar dibelakang aja." Kata Kaila setelah Ndari masuk kedalam mobil.
"Udah gapapa Kai, santai aja. Kaya sama siapa.".
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan, dengan beberapa perbincangan hangat mengenai teman-teman Ndari. Tentunya bukan topik yang menyenangkan untuk pada remaja seperti Reynand dan Kaila. Tapi mereka berdua menghormati apa yang Ndari sampaikan, mendengar kan benar-benar sampai Ndari merasa mereka adalah pendengar yang baik.
"Tante, mau mampir dulu kerumahku?" Tanya Kaila ketika mereka sampai di depan pintu gerbang hitam miliknya. Ndari ikut keluar mobil, untuk berpindah tempat duduk.
"Lain kali ya Kai, ini udah sore. Masih ada yang mau Tante kerjain di rumah." Tolak halus Ndari.
"Oh iya gapapa Tan. Bilangin keanaknya ya Tan, makasih banget dari Kaila." Ucap Kaila seolah tidak ada Reynand ditempat itu. Reynand tertawa geli mendengarnya, dia senang dengan ucapan itu.
"Sok atuh ngomong sendiri."
"Udah cukup, ke Mamanya aja."
Ndari masuk kedalam mobil, duduk di jok depan menemani anaknya menyetir.
Lambaian tangan Kaila kini sudah tidak terlihat, hanya ada senyuman yang masih terlukis dibibir Reynand. Ucapan Kaila tadi masih saja terngiang-ngiang ditelinganya. "Cie siapa yang masih senyum-senyum aja ni?" Goda Ndari pada Reynand.
"Apaan sih Mama? Rey ga senyum-senyum kok."
"Oh ngga senyum ya? Ga bohong?" Goda Ndari lagi.
"Beneran Mama."
"Kamu tumben nganterin Kaila Rey?" Tanya Ndari.
"Tadi tuh Kaila sakit, makanya aku aterin pulang. Awalnya ga mau, tapi aku paksa."
"Eh kok maksa-maksa orang?"
"Ya kan kasihan Ma kalo dia pulang sendiri, tadi aja dia pingsan." Ucap Reynand, Ndari tertawa renyah mendengarnya. Terlihat senang debgan sikap yang diberikan Reynand pada Kaila.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Anak zaman sekarang tuh lucu."