Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
14. Cantik


__ADS_3

Hawa dingin menyelimuti tubuh orang-orang yang kini menikmati kopi hitam buatan Kang Dodit. Meski hawanya dingin, suasananya terasa hangat dengan sanda gurau yang dibuat teman-teman Reynand. Tiada henti-hentinya mereka membicarakan perempuan, mulai dari kecantikannya, kepintarannya, bahkan body nya. Sudah dianggap biasa.


"Tadi sore, abis lu anterin Dara pulang tuh. Kaila ketemu sama gue, Kak Maul, sama Kak Dito." Ungkap Bimo, berusaha menceritakan apa yang telah terjadi tadi sore.


"Iya terus?" Tanya Reynand penasaran, Ia menegakkan badan, membuatnya terlihat serius.


"Dia tanya ke gue, lo kemana. Ya gue jawab aja lo pergi sama Dara. Kayanya dia udah nunggu lama di parkiran." Ucap Bimo.


"Haduh gue jadi ga enak sama Kaila, padahal gue yang ngajak. Apalagi kalo sampe dia nungguin gue." Keluh Reynand, merasa agak menyesal karena memilih mengantarkan Dara dibanding pergi bersama Kaila.


"Lagian lo nya juga, emang dasar jiwa buaya masih melekat ya gimana lagi? Kalo lo mau kejar Dara, jauhin Kaila. Kalo lo mau kejar Kaila, jauhin Dara." Ucap Maul memberi saran, tidak biasanya Maul sebijak itu.


"Ya gue kan cuma teman doang Ul sama Kaila, kalo Dara tuh baru."


Dito menyeruput kopinya, berusaha bergabung dalam pembicaraan malam hari ini. Dia menyimak satu persatu orang berbicara, sampai akhirnya mengerti. "Menurut gue perlakuan lo ke Kaila tuh sekedar teman Rey."


"Engga lah, biasa aja." Ketus Reynand, melawan pernyataan Dito.


Reynand begitu menyesal, Ia juga bingung bagaimana cara meminta maaf pada Kaila. Terlebih lagi beberapa hari ini Kaila terlihat marag pada Reynand, meski Reynand tidak menyadari apa yang membuat Kaila sebal.


...MAMA ...


Pulang, udah jam sebelas.


Oke Ma.


"Gue pamit dulu ya, nyokap udah ngechat. Kalo gua ga pulang bisa tidur diluar gue malam ini." Pamit Reynand pada semua teman-temannya.


"Yo, hati-hati Bro." Sahut beberapa temannya.


Reynand mulai mengemudiakan motornya dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya tiba di rumah. Kompleks rumahnya sudah nampak sepi, tak ada satupun orang yang lewat bahkan berada di luar rumah.


Suara menggelegar milik motor Reynand seolah membelah telinga mereka penghuni komplek. Ia lalu masuk ke dalam rumah, menyapa Mamanya yang masih duduk manis menonton televisi. Reynand melangkah perlahan ke sofa yang diduduki Mamanya, memeluknya hangat dan berharap pelukan itu dibalas juga oleh Mamanya.


"Besok kamu mau ikut kan ke rumah Kaila?" Tanya Mamanya sembari mengelus rambut Reynand.


"Oh besok ya? Aku ikut Ma." Jawab Reynand manja.


"Oke, jam sembilan aja ya."


"Iya."


Mereka berbincang selama lima belas menit, lalu keduanya bangkit dan bergegas untuk tidur.


"Selamat Malam, Sayang." Ucap Mamanya.


"Malam juga Mama."


Esok harinya, mereka sudah bersiap meninggalkan rumah. Pukul sembilan lebih sepuluh menit, Reynand dan Mamanya bergegas pergi mengenakan mobil. Sedangkan Adit tidak ikut sebab ada kerja kelompok di rumah temannya. Reynand merasa takut, juga bersalah. Pikirannya di penuhi dengan muka masam yang akan diberikan Kaila pagi ini untuknya.


"Ngelamun aja Rey, kenapa?" Tanya Taru penasaran.


"Gapapa Ma, lagi mikirin sesuatu aja."


Sampai dirumah Kaila, Mereka berdua turun dan mengetuk pintu rumah Kaila perlahan. Setelah tiga kali ketukan, pintu rumah itu terbuka.


"Eh Tante." Histeris Kaila yang masih mengenakan celana santai se lutut dan kaos oblong. Rambut yang hanya di jedai, dan muka polos.


"Halo Sayang, apa kabar?" Tanya Ndari sembari memeluk Kaila erat. Tatapan Kaila datar ketika melihat Reynand juga datang ke rumahnya.


Ndari melepas pelukannya, Dirinya merasa rindu pada Kaila sebab sudah lama tidak bertemu. Terlebih lagi sejak ada Dara dalam hidup Reynand, Reynand jarang sekali mengajak Kaila berkunjung kerumahnya.


"Baik Tan, Tante gimana?"


"Baik juga Kai."


Kaila kembali tersenyum, "Ayo masuk Tan, Aku panggilin Mama."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, dan tak lama Ratna keluar dari kamarnya setelah mendengar beberapa kebisingan di ruang tamu. Senyumannya terlukis ketika Ratna turun dari tangga, nampak sekali bahwa dirinya senang sebab kedatangan tamu.


"Eh Jeng, apa kabar?" Tanya Ratna, sembari berjalan lalu saling kecup dengan Tari.


"Baik Jeng, Jeng Ratna apa kabar?"


"Baik juga Jeng." Mereka terkekeh pelan.


"Tante, Kaila masuk dulu ya. Soalnya Kaila lagi ada tugas, jadi agak sibuk." Pamit Kaila, merasa tidak nyaman dalam ruang tamu miliknya saat ini. 

__ADS_1


"Oh gitu, ya udah gapapa Kai." Jawab Ndari.


Reynand menatap Kaila, begitu juga Kaila yang hendak pergi dari hadapan mereka. "Kai."


Kaila menengok, sebenarnya hanya pencitraan sebab di depan orang tua mereka. Ia mengernyit, menampakkan muka tulus padahal sebenarnya tidak.


Reynand memegang tangan Kaila, mengajak Kaila keluar rumah agar orang tua mereka tidak mengerti masalah yang sedang di hadapi. N dan Ratna melanjutkan obrolan mereka mengenai perceraian Ratna.


Sampai di luar rumah, Kaila mengehempaskan genggaman tangan Reynand. Dia cukup kesal sebab perlakuan Reynand kemarin sore.


"Kai maafin gue, gue—" Ucao Reynand yang akhirnya dipotong oleh Kaila, Dia sudah tau kemana arah pembicaraan ini.


"Gue udah tau, gapapa. Kenapa harus gue kali Dara lebih butuh lo kan?" Tanya Kaila, pertanyaan yang seolah menusuk untuk Reynand.


"Bukan gitu Kai,"


"Gue udah bilang gue sibuk Rey, gue masuk dulu ya." Pamit Kaila sambil berbalik badan, Reynand merasa bahwa Kaila benar-benar marah padannya. Marah Kaila kali ini  berbeda dengan biasanya, itu yang membuatnya percaya bahwa Kaila benar-benar marah.


"Gue tahu lo marah beneran sama gue, tapi maafin gua Kai." Pinta Reynand, masih terus memohon agar permintaan maafnya di terima.


"Gue ga marah kok, ga ada yang perlu di maafin. Udah ya."


"Kai, maaf." Reynand memanyunkan bibirnya, seperti hendak menangis menirukan anak kecil. Kaila hendak tertawa karen muka lucu Reynand kali ini, sebelumnya Dia belum pernah melihat ekspresi ini.


"Apaan si lo, garing tau ga." Ungkap Kaila sembari tersenyum.


"Garing tapi lo senyum."


"Gue senyumnya bohongan biar lo senang. Udah ya, gue mau masuk nih." Pamit Kaila lagi.


"Masa gue disinu lo nya masuk, ayo dong jalan sama gue. Sebagai ganti kemarin sore." Ajak Reynand, dengan muka memelas.


"Gimana ya? Tapi, ya udah deh iya." Jawab Kaila, Reynand tersenyum senang.


"Gue mandi dulu bentar."


•••


Sudah satu jam lamannya Kaila berada di dalam kamar, Reynand sudah lelah menunggu Kaila berdadan. Apalagi mendengar obrolan-obrolan kedua ibu-ibu ini yang membuatnya bosan.


Tak lama, Kaila turun untuk menemui semuanya.


"Oh gitu, ya udah gapapa. Hati-hati ya." Pesan Ratna pada Anaknya yang kala itu tengah mencium punggung tangannya.


Keduannya berpamitan lalu berjalan menuju mobil. Menepati janji kemarin sore, Reynand dan Kaila memilih pergi ke cafe andalan mereka. Meskipun harganya bisa dibilang lumayan, tapi rasanya sangat memuaskan lidah. Sebenarnya Kaila belum terlalu ikhlas menerima permintaan maaf dari Reynand, terlebih lagi ketika dirinya mengingat kejadian kemarin. Terdengar jelas bahwa Reynand memang lebih memilih Dara daripada dirinya.


"Ayo turun, bengong aja." Ajak Reynand setelah sampai di parkiran cafe.


Mereka berdua turun, melangkah serasi ke dalam cafe. Tatapan Kaila seolah kosong, seperti ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hatinya.


"Kenapa si? Bengong mulu." Ujar Reynand setelah keduanya duduk di kursi biasanya.


"Gapapa, kepikiran ini aja." Jawab Kaila, semenjak mereka baikan Kaila menjadi pendiam tak seperti biasanya yang periang. Reynand merasakan perbedaan itu, Ia paham bahwa sebenarnya Kaila masih marah pada dirinya.


"Ada apa sih, Cantik? Lo masih marah sama gue?" Tanya Reynand, membuat Kaila sedikit merasa terbang karena panggilan itu. Pipinya menjadi merah dan merasa malu.


"Gua gapapa, dibilang gapapa juga."


"Cewek tuh emang susah ya, ditanyain kenapa pasti jawabnya gapapa. Giliran cowok disuruh nebak sebenarnya ada apa, emang cowok tuh dukun apa gimana sih." Keluh Reynand.


"Gue tuh lagi kepikiran bokap gue aja, bisa-bisanya ninggalin nyokap gue demi perempuan yang baru dia kenal." Ungkap Kaila, Reynand mengangguk-angguk mengerti. Sekarang Dia tahu apa permasalahan yang sedang Kaila pikirkan.


"Cowo kalo emang udah tertarik tuh kadang ga perhatiin apa pengorbanan cewe yang nemenin dari nol." Balas Reynand, menyatakan kebenaran  menurutnya.


"Tapi gua kasian sama nyokap, setiap malam sebelum tidur pasti dia nangis. Tapi waktu gue samperin, Dia bilang Dia ga nangis. Gua bingung harus lakuin apa, udah puluhan kali Gue liat nyokap nangis, secara ga langsung hati gue kek disayat-sayat." Ungkap Kaila, berusaha menahan air matanya karena malu. Lagian Kaila sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cengeng terhadap masalah yang dihadapinya. Reynand menatap lekat perempuan kuat seperti Ibunya, perempuan yang bisa dianggap titisan Ibunya karena sekuat itu menghadapi masalah. Dalam hatinya hanya ada rasa iba, melihat sahabatnya beberapa kali membenahkan mata agar air matanya tidak keluar.


Tanpa respon apapun, Reynand memeluk Kaila. Mengelus punggung Kaila perlahan, secara tidak menenangkan dan juga menyemangatinya. Kaila seperti menjatuhkam tubuhnya dalam dekapan Reynand, melepaskan semua beban-beban yang Dia rasakan beberapa waktu ini.


"Ada telinga gue yang selalu ada buat denger setiap keluh kesah lo, ada punggung gue juga yang selalu siap buat lo bersandar. Semangat ya cantik." Ucap Reynand, Kaila merasa terbang akan ucapan Reynand. Berbeda jauh dengan perlakuan Dave yang selalu menuntut ini itu agar Kaila menjadi sosok yang sempurna di matanya.


"Makasih Rey."


"Giliran gue buat nolongin lu dari kondisi terpuruk, gue juga pernah ngerasain kehilangan waktu bokap gue meninggal."


•••


Pukul dua belas siang mereka baru saja pulang berjalan-jalan, mengelilingi Jakarta yang macetnya tidak main-main. Hawa yang panas membuat Kaila tidak sabar untuk masuk kedalam rumah dan meminum air dingin. Ndari masih di rumah Ratna karena menunggu kedatangan anak-anak mereka, sedangkan Reynand kini berjalan di belakang Kaila menuju meja makan.

__ADS_1


Tak ada hal yang baru dari Ndari dan Ratna, sejak Reynand dan Kaila pergi sampai mereka pulang posisi duduk mereka tetap sama. Obrolan ibu-ibu memang tidak pernah bisa dipotong oleh apapun.


"Udah pulang?" Tanya Ndari.


"Iya." Jawab Reynand.


Merasa sudah siang, Reynand dan Ndari berpamitan. Ratna sempat menawarkan untuk makan siang dirumahnya, tapi Tari menolak sebab dirinya hendak menyiapkan makanan untuk Adit. Lagi pula Reynand baru saja makan di cafe bersama Kaila.


Sampai di rumah, seorang perempuan duduk di teras rumah. Menunggu kedatangan sang pemilik rumah.


"Loh Dara?" Tanya Reynand, Ia tidak menyangka bahwa Dara datang kerumahnya. Tentu saja Dia senang, gebetannya berkunjung kerumahnya tanpa berkabar dahulu.


"Hai Kak." Sahut Dara.


"Oh ini Dara?" Tanya Ndari.


"Iya Tante." Dara memeluk Tari erat, begitu rindu sebab tak pernah bertemu.


"Cantik banget sekarang." Puji Ndari.


"Iyalah." Sahut Reynand.


Dara memberikan sekotak kue yang dibelinya di jalan sebelum dirinya sampai di tujuan, kue kesukaan Reynand sedari kecil. Toko kue langganannya juga.


"Ayo masuk." Ajak Ndari.


Mereka bertiga masuk, Dara dan Reynand duduk di ruang tamu sedangkan Ndari meletakkan kue nya di meja makan.


"Lo udah lama nunggu?" Tanya Reynand.


"Engga sih, baru aja kok."


Dara dan Reynand duduk bersebelahan, sangat dekat sampai Dara bisa mencium aroma yang berbeda dari Reynand. Bukan minyak wangi yang biasa Reynand kenakan, minyak wangi favoritnya, membuat dirinya bisa terlelap dalam pelukan Reynand.


"Habis pergi sama cewe?" Tanya Dara, nampak menginterogasi.


"Iya, kan sama Mama." Jawab Reynand mengasal.


"Kenapa?"


"Bau parfum cewe." Ungkap Dara.


Reynand menatap sekeliling, terlihat agak gugup karena tanpa disadari minyak wangi Kaila menempel di bajunya. Ndari datang dengan membawakan orange jus, ditemani beberapa cemilan.


"Tante, ga usah repot-repot." Ucap Dara.


"Engga repot kok Dar."


Tari duduk di hadapan Reynand dan Dara yang kini sudah menjaga jarak, tidak seperti sebelumnya. Mereka malu karena Tari datang.


"Tadi dari mana Tan?" Tanya Dara.


"Dari rumah—" Jawaban Ndari dipotong Reynand.


"Rumah temannya Mama." Ceplos Reynand, tidak ingin Dara tahu dirinya dari rumah Kaila.


Ndari menatap Reynand bingung, mengerutkan dahi, masih tidak mengerti dengan ucapan Reynand. Reynand tersenyum melihat ekspresi Mamanya ketika kaget.


"Di minum Dar." Ucap Ndari.


"Iya Tan."


Keringat membasahi dahi Adit, Ia baru saja pulang dari lapangan selepas bermain bola. Meskipun itu komplek, tapi nyatanya anak-anak disana memiliki solidaritas yang tinggi tidak seperti anak komplek lainnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adit dengan semangatnya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab ketiga orang yang berada di ruang tamu.


Dara menatap Adit yang masih memakai pakaian lusuh, penuh keringat, dan tangan yang secara tidak terlihat tetapi nyatanya kotor. Dia paling anti dengan kotoran, Dara adalah orang yang merasa jijik ketika melihat sesuatu yang jorok-jorok. Itu menjadi alasan Dara mau mendekati Reynand yang selalu bersih dan wangi.


"Eh ini Adit ya?" Tanya Dara.


"Iya Kak." Jawab Adit.


"Kenal Kakak ga? Kak Dara." Ucap Dara.


"Waktu kecil kita sering main bareng, mungkin ga inget sih. Waktu itu kamu masih kecil." Lanjut Dara.

__ADS_1


Adit mengajukan tangannya, hendak bersalaman dengan Dara. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu, maka dari itu Adit mengajak Kak Dara bersalaman. Dara terlihat jijik, menatap Adit dari atas ke bawah.


"Kamu mandi dulu aja ya Dit." Ucap Dara halus, secara tidak langsung menolak uluran tangan Adit yang mengajaknya bersalaman. Reynand dan Ndari memandang Dara bingung, rupanya sifat Dara sudah berubah. Adit menarik kembali tangannya, lalu tersenyum palsu. Ia sedikit kesal pada Dara yang menolak berjabat-tangan dengannya. 


__ADS_2