Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
15. Hujan


__ADS_3

Hari Senin ini berbeda, mendung seakan menutupi seluruh permukaan langit. Reynand sudah berjanji bahwa dirinya akan menjemput Kaila pagi ini. Pukul enam empat lima, Kaila belum bersiap juga. Padahal Reynand sudah menunggunya lebih dari sepuluh menit.


Tak lama, Kaila keluar dari rumahnya dan menghampiri Reynand. "Ayo."


"Lama banget si." Keluh Reynand.


"Engga." Elak Kaila.


Tak mau ada perdebatan diantara keduanya, Reynand memilih diam. Mereka segera berangkat ke sekolah sebelum pintu gerbang ditutup. Hari ini seharusnya upacara, tetapi kalau hujan pasti dibatalkan.


"Gerimis ga sih?" Tanya Kaila, agak keras agar Reynand mendengarnya. Angin di jalan raya dan bisingnya kendaraan membuat mereka tidak bisa mengobrol seperti biasanya.


"Iya sedikit, mau berhenti dulu?"


"Lanjut dulu, kalo tambah deres berhenti." Teriak Kaila.


Mereka melanjutkan perjalanannya hingga sampai di lampu merah, kini sudah berganti hujan. Sempat dibuat bingung, Kaila dan Reynand akhirnya berteduh di depan toko yang belum buka. Hujan bertambah deras sampai akhirnya pukul tujuh mereka belum bisa melanjutkan perjalanan.


"Udah jam tujuh lebih, tapi masih hujan." Ucap Kaila.


"Iya, mau chat wali kelas aja?" Tanya Reynand.


"Ga usah deh, gue jadi males berangkat sekolah." Jawab Kaila, tidak seperti biasanya Dia merasa malas untuk bersekolah.


"Sekali-kali cabut gapapa ya kan?" Argumen Kaila nampaknya direspon baik oleh Reynand, mereka memutuskan untuk tidak mengabari siapapun.


Mereka duduk didepan toko itu sembari berbincang hangat, menunggu hujan mereda dan tidak ada rencana kemana mereka pergi setelah ini. Perbincangan ini tentunya akan selalu dikenang oleh keduanya, akan diingat selalu bahwa mereka pernah berteduh di depan toko yang masih tutup dan memilih untuk bolos sekolah.


"Sekarang masih takut kalo di kunciin di mobil sendirian?" Tanya Reynand.


"Iyalah, gue kaya phobia tau ga sih?"


"Kadang gue juga bingung apa yang ngebuat gue takut, karena rasanya was-was gitu." Ungkap Kaila, membuat Reynand terkekeh pelan. Reynand memperhatikan Kaila benar-benar ketika tertawa bebas, Ia merasa berhasil membahagiakan Kaila dan menariknya kembali ceria dari masalah keluarganya.


"Ngapa lo liat-liat gue, gue pasti cantik kan?" Tanya Kaila saat dirinya merasa diperhatikan oleh Reynand.


"Pede banget lu, tapi emang cantik sih." Puji Reynand.


"Tapi masih cantikan Dara kan?" Tanya Kaila, sempat membuat Reynand merasa kaget karena pertanyaan aneh itu, Dia hampir tidak bisa menjawab.


"Dih apaan jadi banding-bandingin." Kaila sempat kagum dengan respon Reynand mengenai pertanyaannya, Dia tidak menyangka bahwa Reynand bukanlah sosok yang suka membanding-bandingkan seseorang dengan lainnya.


Kaila membuka layar ponselnya, jam sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh tapi hujan belum juga reda. Tak lama pemilik toko datang untuk membuka tokonya. Toko itu dibuka dan membuat mereka mengetahui itu toko sembako.


"Udah hampir dua jam kita disini, tapi belum reda juga." Ucap Reynand.


"Iya, gue juga ga tahu abis ini mau kemana." Sahut Kaila sembari membuka whatsapp nya yang penuh dengan pertanyaan dari teman-temannya.


"Kehujanan ya Mas?" Tanya pemilik toko, Ia mendekat dan duduk di samping Reynand.


"Iya nih Mas, dari tadi belum reda. Udah keburu telat, ya jadi gimana lagi." Ucap Reynand, dengan senyumannya yang khas di berikan pada orang-orang.


Ponsel Kaila berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Teleponnya dari Fifi, menanyakan apa yang terjadi pada dirinya sampai-sampai Ia tidak berangkat ke sekolah. "Haduh Fifi pake telepon segala sih." Keluh Kaila.


"Ini pacarnya mas?" Tanya pemilik toko lagi.


"Bukan Mas, teman saya." Jawab Reynand, Kaila menengok cepat. Sembari meyakinkan bahwa memang mereka hanya sekedar teman. Reynand melihat Kaila yang tiba-tiba menengok, Ia mengerutkan dahi tidak mengerti.


"Kenapa?" Tanya Reynand.


Kaila memecahkan lamunannya, Ia tersenyum ke arah Reynand. "Engga, ini Fifi dari tadi telepon."


"Angkat aja." Ucap Reynand.


"Engga deh, gue males urusan sama nih anak. Tanyanya bisa sampe maghrib."


"Mas, mau beli minum. Sama sekalian mau ke toilet." Ucap Reynand, agar toko itu dimasuki pembeli. Ia merasa kasihan, apalagi kondisi hujan seperti ini pasti jarang orang yang berbelanja.


"Iya, ayo Mas." Ajak pemilik toko dengan ramah.


"Nitip handphone ya." Ucap Reynand, lalu meletakkan ponselnya di dekat Kaila. Kaila mengangguk, Dia mengambil ponsrl itu dan menggenggamnya.


Reynand dan pemilik toko masuk, Kaila merasa kesepian meskipun hujan nampaknya ramai. Ia membuka instagram dan melihat beberapa video. Tak lama dari itu, Kaila mendengar dering ponsel. Bukan dari ponselnya, melainkan dari ponsel Reynand yang dia genggam. Dengan cepat Kaila melihat siapa penelponnya.


"Dara." Ucapnya sambil membaca nama yang tercantum di layar ponsel.

__ADS_1


Kaila melihat sekeliling sembari berpikir apa yang harus dia lakukan, kalau Dia jawah pasti Dara akan menyangka hal-hal yang aneh. Kalau tidak dijawab, Ia takut ada sesuatu yang penting. Kaila memutuskan untuk tidak mengangkat teleponnya, Ia lebih baik menunggu Reynand untuk mengangkat telepon itu.


"Nih minum." Reynand memberikan satu botol minuman pada Kaila.


"Barusan ada telepon dari Dara." Ungkap Kaila.


"Lo angkat?"


"Engga, nanti kalo Dia cemburu gimana."


Reynand tidak menyangka ada seseorang seperti Kaila, sangat menghargai perasaan orang lain. Hal ini yang membuat Reynand betah dan kagum terhadap Kaila. Kaila sangat meminimalisir ucapan dan tindakan yang bisa membuat lawan bicaranya sakit hati. Reynand tersenyum.


"Gue telepon Dara dulu ya." Pamit Reynand, Ia menjauh dari Kaila.


Kaila melihat punggung Reynand, melihat kepalanya yang mengangguk-angguk dibarengi senyuman.


"Engga, sekarang lagi neduh di pinggir jalan." Ucap Reynand pada Dara.


"Pasti nasi gorengnya enak, gue jadi pengen." Katanya lagi.


Setelah beberapa menit, Reynand kembali duduk disamping Kaila. Kaila yang tadinya melamun sembari menatap punggung Reynand, kini memecahkan lamunanya dan melihat ke arah lain. Senyum palsu nya terlukis menyambut kedatangan Reynand.


"Kayanya udah mulai reda hujannya, abis ini mau kemana?" Tanya Reynand.


"Kemana ya? Mall?"


"Oke juga, ya udah yuk." Ajak Reynand.


Reynand masuk ke dalam toko, berpamitan pada pemilik toko juga berterima kasih karena pelayanannya yang sangat baik. Mereka segera pergi ke mall terdekat, tidak ada tujuan apapun. Tapi jika melihat barang yang bagus mungkin mereka membelinya.


Matahari perlahan muncul setelah hujan, hingga tercipta pelangi yang amat indah. Ditengah kota Jakarta, pelangi itu menjadi saksi perjalanan antara Kaila dan Reynand. Semakin mereka pergi bedua, semakin banyak juga kenangan yang ada dimemori mereka.


"Eh, ada pelangi." Ucap Kaila histeris, wajahnya terlihat lucu. Menggemaskan sekali seperti anak kecil yang baru saja melihat pelangi, wajah seceria itu yang Reynand rindukan dari Kaila. Beberapa peristiwa membuatnya tidak bisa seceria ini, keadaan menuntutnya untuk tetap diam dalam kondisi hati yang buruk.


"Iya, cantik kaya—" Kata-kata Reynand dipotong oleh Kaila.


"Dara." Ceplos Kaila entah apa yang seharusnya Reynand katakan, tapi sebelum Kaila merasa sedih lebih baik dirinya yang mengungkapkan. Setelah itu, Reynand nampak diam dan tak mengucapkan apa-apa lagi. Sedangkan Kaila, kembali tersenyum senang melihat pelangi.


Sampai di mall, mereka masuk dan berjalan-jalan. Mall tetap ramai meski bukan hari libur, tidak seperti biasanya yang hanya ada beberapa pengunjung. "Tumben rame." Ucap Reynand.


Mereka berjalan sepadan dan serasi tanpa bergandengan tangan, status bukan siapa-siapa membuat mereka enggan untuk berpegangan tangan.


"Eh liat hoodie yuk." Ajak Kaila, sembari menunjuk hoodie-hoodie yang tergantung rapih.


"Iya." Mereka mendekat ke arah hoodie-hoodie itu, merasa tertarik dengan warna-warnanya. Kaila mengambil satu hoodie berwarna abu-abu.


"Gue mau ini deh." Ucap Kaila, lalu dirinya berjalan menuju kasir.


Kaila tidak pernah mau jika Reynand menraktirnya, Ia lebih suka membayarnya sendiri. Baik makanan maupun barang-barang.


Setelah itu mereka berjalan lagi, hal yang menarik di mata Reynand adalah kaos hitam. Brand itu sudah biasa ia kenakan, karena memang nyaman dipakai meskipun harganya bisa dibilang mahal. Ia baru mengetahui jika ada koleksi-koleksi terbaru mereka. "Kesana yuk." Ajak Reynand.


Kaila mengangguk sembari tersenyum.


Reynand mencari kaos yang cocok untuk dirinya, diikuti Kaila yang juga melihat-lihat beberapa kaos itu. Reynand memegang kaos hitam dengan hiasan di dada kiri, Ia kurang menyukai kaos-kaos dengan hiasan yang besar di punggung atupun di depan. Kaila menemukan kaos yang sama, Ia juga menyukai kaos yang hanya ada satu hiasan. "Ini bagus ga sih?" Tanya Kaila pada Reynand.


Reynand menengok sembari masih memegang kaos yang tadi. "Eh sama, bagus sih simpel." Ucap Reynand.


Reynand mengambil kaos dari tangan Kaila, melihat-lihatnya lagi dan akhirnya dibeli. Selesai berbelanja, Kaila dan Reynand pergi ke cafe yang ada di dalam mall. Cafe yang cukup luas dan ramai pengunjung. Mereka duduk berhadapan setelah memesan beberapa makanan.


"Cape juga keliling mall, ga kerasa udah dua jam kita disini." Ucap Kaila.


Kaila membuka ponselnya, melihat beberapa pesan dari teman-temannya.


"Iya, abis ini mau pulang?" Tanya Reynand.


"Jangan dulu, nanti gua diomelin nyokap."


Reynand melihat sekeliling sembari berpikir kemana mereka akan pergi. "Ke warung Kang Dodit gimana?"


"Kang Dodit?" Tanya Kaila.


"Iya, yang waktu itu gue ngajak lo kesana abis dari gedung." Jawab Reynand.


"Oh itu, iya gapapa."

__ADS_1


Pukul satu lebih lima menit mereka mulai berjalan menuju warung Kang Dodit, hanya tenpat ini yang bisa mereka kunjungi. Lagi pula, setelah pulang sekolah pasti teman-teman Reynand datang ke warung Kang Dodit.


"Siang Kang." Sapa Reynand setelah turun dari motor.


"Eh Rey, kunaon ari semalam teu nongkrong?" Tanya Kang Dodit masih dengan logat sundanya.


"Pada tobat ceunah mereka teh kemarin dipanggil BK."


Reynand melangkah menuju tempat yang biasa dia duduki, diikuti Kaila yang melangkah di belakangnya. Kaila tersenyum pada Kang Dodit, menunjukan sopan santunnya pada orang yang lebih tua. Kang Dodit pun membalas senyuman Kaila sambil mempersilahkan Kaila untuk duduk.


"Kopi satu ya Kang." Ucap Reynand.


"Siap." Sahut Kang Dodit dari dalam warung.


Kaila duduk di kursi yang berbeda dengan Reynand, di samping sebelah kanan Reynand. Mereka berdua diam, tak ada pembicaraan karena sibuk dengan ponsel masing-masing. Kaila melihat sekeliling dengan udara yang masih segar dan banyak pohon-pohon yang rindang. Gang menuju warung Kang Dodit tidak kecil, juga tidak terlalu besar. Yang Dia suka adalah suasana yang sejuk dan tenang, angin sepoi-sepoi dan udara sejuk jarang dia rasakan di tengah kota nyatanya dapat di rasakan di warung Kang Dodit.


"Pasti lo ga biasa le tempat kaya gini ya? Biasanya pasti nongkrong di cafe." Tebak Reynand, yang nyatanya itu salah.


"Iya si biasanya di cafe, tapi gue lebih suka disini. Gue jadi ingat Semarang, udah lama gue ga mudik." Ucap Kaila.


"Disini walaupun tempat nya biasa aja, tapi sejuk karena masih banyak pohon." Kata Reynand.


Tak lama Kang Dodit datang membawakan kopu pesanan Reynand. "Ini pacar baru Rey?" Tanya Kang Dodit.


Reynand tersenyum ke arah Kaila, sudah beberapa kali pertanyaan ini dilontarkan pada keduanya. Dan itu memang harapan Kaila, tapi nyatanya ada orang yang lebih spesial di hati Reynand. "Bukan Kang, cuma teman kok." Jawab Reynand.


"Da sebentar lagi juga jadi pacar." Ujar Kang Dodit mengasal.


"Engga atuh Kang, mana mau Dia sama Saya." Elak Reynand.


"Nya mau atuh, ya kan Neng? Da Reynand kan ganteng, pintar, gagah. Siapa yang ngga mau?"


Kaila tak bergabung dalam percakapan itu, Ia hanya menunjukan senyum palsu untuk kesekian kalinya. Beberapa hari ini baru Dia rasakan betapa sedihnya memakai topeng agar orang lain tidak tahu apa yang sebenarnya Dia rasakan.


"Udah ah Kang, kasian ini anaknya." Ucap Reynand. Kang Dodit kembali kedalam warung, meninggalkan Reynand dan Kaila.


"Sebentar lagi anak-anak pasti kesini." Ungkap Reynand setelah melihat jam sudah menunjukan pukul dua lebih tiga.


"Gua malu."


"Malu sama siapa? Kan teman sekolah semua."


"Tapi kan ada Kak Maul sama Kak Dito." Ucap Kaila.


"Gapapa, biasa aja kalo sama mereka."


Benar saja, hanya selang beberapa menit Maul, Dito, dan Bimo datang dengan motor mereka. Sebenarnya tongkrongan ini tak hanya untuk mereka, tapi juga anak-anak lain.


"Lo cabut?" Tanya Maul.


"Sekali-sekali." Jawab Reynand.


"Mampus lu ditanyain guru berkali-kali." Ungkap Bimo, Ia mengetahui jika guru-guru mencari Reynand sebab mereka satu kelas. Reynand yang terkenal pintar, rasanya aneh jika Dia bisa bolos sekolah.


"Udah cabut, ngajak-ajak cewe lagi lo." Ketus Dito.


Ketiga anak itu duduk di sekeliling Reynand dan Kaila, Kaila sempat merasa takut tapi Ia percaya pada Reynand. Entah apa yang membuat dirinya selalu percaya pada Reynand, tidak pernah berpikir yang aneh-aneh mengenai Reynand.


"Tadi pagi kan hujan, ya udah gue cabur aja. Nah gue emang sama dia dari pagi." Jelas Reynand.


"Gue sama Maul mau nge game dulu, lo ngobrol aja sama Dito sama Bimo ya." Pesan Reynand, meskipun sebenarnya Kaila merasa canggung tapi Ia mengiyakan.


Kaila tak berani membuka pembicaraan diantar ketiga orang itu, sedangkan Reynand dan Maul sudah histeris karena game nya.


"Kak Maul mau lanjut kemana?" Tanya Bimo.


"Kalo impian gue sih di ITB, tapi ya liat nanti aja. Kalo lo mau kemana Bim?"


"Gua masih bingung Kak, sebenarnya pengin di UI tapi ya berat." Jawab Bimo. Kaila hanya mendengarkan obrolan keduanya, menyimak benar-benar.


"Lo mau di UI juga?" Tanya Maul pada Kaila.


"Penginnya iya sih Kak."


Sampai pukul setengah empat, Kaila dan Reynand pulang. Sebenarnya Kaila sudah mulai akrab dengan teman-teman Reynand, tidak di sangka-sangka obrolan mereka nyambung. Tadinya Kaila masih mau mengobrol, tapi Reynand mengajaknya pulang karena waktu sudah sore.

__ADS_1


__ADS_2