
Mesin mobil sudah dimatikan, Ratna dan Kaila dengan bergegas keluar dari mobil. Pintu depan rumah itu sudah terbuka lebar, ditunggui oleh pemilik rumah.
"Halo jeng." Sapa Ndari pada Ratna.
"Halo juga cantik." Sapanya juga pada Kaila.
Kaila sangat senang dengan ekspresi Ndari, tampak riang tanpa rasa sedih. Hal ini membuat rasa kesal dan lelah Kaila hilang untuk sementara. Dia merasa bahwa kedatangannya membuat Ndari lebih bahagia.
"Hai Tante."
"Ayo masuk."
Ratna, Ndari, dan Kaila memasuki rumah penuh kenangan itu. Mereka lalu duduk di ruang tamu, berbincang dengan hangat, meskipun Kaila tidak menikmati nya. Obrolan itu terlalu tua untuk anak seumur Kaila.
Dering telepon terus terdengar dari handphone Kaila, nomornya tidak di kenal. Kaila bangkit dari duduknya, dan melangkah lebih jauh dari kebisingan yang diciptakan Mamanya dan Ndari.
^^^"Halo?" ^^^
"Lo jadi datang?"
Suara yang Kaila kenali, dia Reynand.
^^^"Jadi, tadi nyokap lo maksa." ^^^
"Keluar lo."
^^^"Dih, ngapain?"^^^
"Keluar."
^^^"Iya iya." ^^^
Reynand memutuskan panggilan itu, dia berharap Kaila menuruti kata-katanya.
Kaila membuka pintu depan dengan perlahan, dia penasaran, apa yang akan ditunjukan Reynand padanya. Meskipun, sebenarnya dia malas untuk beradu mulut.
"Kai." Panggil Reynand dari kursi taman disamping rumahnya.
Kaila mendekat kearahnya, ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh orang itu. Membuat dia semakin penasaran.
"Duduk." Pinta Reynand pendek. Tapi Kaila tidak mengiyakan, dia tetap berdiri disamping Reynand.
"Gua mau ngomong." Sambungnya setelah perintah pertama tidak dituruti.
"Ya ngomong gih." Sahut Kaila.
"Ya makanya lo duduk dulu."
Dengan terpaksa, Kaila duduk di samping Reynand. Dia tidak mengerti apa motifnya melakukan hal ini.
Reynand berdiri tegak setelah Kaila duduk.
"Kalo nyimpan soal, yang bener. Ilang baru tau rasa lo." Ucap Reynand memperingatkan Kaila, sembari menyodorkan dua lembar kertas yang berisi soal fisika.
Tangan Kaila hendak mengambil soal itu, namun Reynand mengambilnya kembali.
"Kalo ngerjain juga harus teliti."
Kaila benar-benar muak dengan situasi ini, dia sangat kesal terhadap pernyataan yang di keluar kan dari mulut Reynand.
"Ini juga nih, dua pangkat tiga kok sembilan?"
"Ini nomor lima, rumusnya bukan yang ini. Pake rumus yang satunya. Nomor tujuh udah benar, nomor delapan kurang gerak rotasi." Cerocos Reynand mengoreksi pekerjaan Kaila.
Lama kelamaan mendengar setiap penjelasan dari Reynand, membuat Kaila mengantuk. Dia meletakkan kepalanya di sandaran kursi sembari menghadap kearah samping, yaitu Reynand.
"Berarti inersianya bukan ini, kan bola berongga." Reynand masih saja menjelaskan mengenai Momen inersia, tanpa melihat keadaan Kaila sekarang. Kini dia sudah terlelap, dia terlalu lelah dengan semua aktivitasnya di sekolah.
"Baru sebentar, udah molor nih anak." Ucap Reynand.
"Adit." Panggil Reynand pada adiknya.
Adit yang mendengar panggilan Kakaknya dari bawah, dia keluar kamar dan berdiri di balcon.
"Apa Kak?" Tanya Adit bingung.
Reynand mendekat kearah Adit, sehingga dirinya berdiri di bawah tepat adiknya berdiri. Reynand melihat kearah atas.
"Ambilin Pensil, penghapus sama koran." Teriak Reynand, tapi berusaha agar Kaila tak mendengarnya. Sebenarnya kalau pun dia berteriak kencang, Kaila tidak akan dengar.
"Koran buat apa?"
"Udah ambilin aja."
Selang beberapa menit, Adit berlari dari atas ke lantai bawah membawakan apa yang Kakaknya minta. Bersyukurnya Reynand memiliki adik penurut, meskipun terkadang mereka berdebat.
Koran yang sudah di ambilnya dari tangan Adit, diletakkan diatas rumput untuk alas duduknya. Sedangkan kursi dibuat seakan menjadi meja. Dengan sangat pasti, Reynand mengerjakan soal demi soal yang Kaila punyai. Tak ada niatan untuk menolong Kaila, dia hanya senang karena bertemu dengan soal-soal yang menantang dirinya. Tanpa membuka buku sekalipun, soal-soal itu nyaris terjawab oleh Reynand. Sedangkan Kaila, kini tidurnya semakin pulas.
Tidak terasa, sudah pukul tujuh malam, dan ini waktunya makan malam. Ndari dan Ratna yang keasikan mengobrol, mereka sampai lupa dengan anak-anak mereka.
"Rey!" Panggil Ndari dari dalam rumah.
"Iya, bentar."
Reynand berjalan mendekati Mamanya, ia paham Mamanya memanggil untuk mengajak dirinya makan malam.
"Kaila kemana ya?" Tanya Ratna, ia tidak mengetahui kapan dan kemana Kaila pergi.
"Dia ketiduran di luar Tante." Jawab Reynand.
__ADS_1
"Ketiduran?"
"Iya, tadi Reynand lagi ngerjain soal, terus dia malah tidur."
Mendengar ungkapan Reynand mengenai Kaila, Ndari dan Ratna tertawa renyah. Kedengarannya lucu, dan kenyataanya memang anaknya itu lelah menjalani aktivitas di sekolah.
Selesai makan malam, mereka bertiga keluar untuk mengantarkan Ratna dan Kaila berpamitan. Mama Kaila sangat penasaran dimana anaknya tertidur.
"Itu Kaila Tante." Reynand menunjuk Kaila dengan jari telunjuknya, dia masih tertidur tanpa perubahan posisi.
Ratna tertawa pendek, lalu melangkah kearah Kaila.
"Ya udah biar Tante bangunin."
"Eh, jangan. Biar digendong aja sama Rey sampe mobil." Cegah Ndari, setelah Ratna maju dua langkah.
Reynand melihat Mamanya dengan wajah yang bingung, dia tidak mengerti apa yang Mamanya katakan. Ide yang buruk, menurutnya.
"Aku ma?" Ucapnya lirih.
Ndari mengangguk dibarengi mata melotot, supaya anaknya mengiyakan apa yang dia minta.
Melihat ekspresi Mamanya, Reynand menuruti, dan segera menggendong Kaila sampai di dalam mobil.
Ratna segera pulang dari rumah Ndari, ia kasihan pada anaknya yang sudah tertidur pulas.
Dijalan pulang, Kaila terbangun dari tidurnya. Sembari meregangkan tangan, ia mengusap mata yang masih mengantuk. Betapa kagetnya, Kaila saat tahu dimana dirinya sekarang.
"Loh Ma, ini mau kemana?" Tanyanya kaget.
"Pulang."
"Kok pulang, aku kan belum makan."
"Ya kamunya malah tidur, sayang." Ucap lembut dari Mama Kaila.
"Terus kenapa aku ga dibangunin Ma?"
Kaila melihat jam yang melingkar ditangan kirinya. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Mama ga tega mau bangunin."
Kaila mengingat kejadian terakhir sebelum dia terlelap, ia gelisah mencari soal fisika yang dijelaskan Reynand tadi. Kalau tugas itu sampai ada ditangan Reynand, bisa mampus. Malas sekali untuk meminta soal itu dari tangan Reynand.
"Soal-soal aku mana ya?" Tanya Kaila pada Mamanya.
"Oh itu, tadi diselipin ke tas kamu."
Kaila mengambil kertas itu yang berada di ruang tas paling depan. Kertas yang tadinya kosong tanpa jawaban, kini terjawab dan penuh dengan coretan. Hal itu membuat Kaila mengerutkan dahinya.
"Dia kok ngerjain soal aku sih?" Gerutu Kaila.
Rumah berpagar hitam milik Pak Efan tampak sepi seperti tak berpenghuni. Ternyata Papa nya belum pulang dari kantor, sedangkan Bintang masih sibuk dengan pasiennya. Hanya ada Zaky, adik laki-laki Kaila yang sempat ketakutan ketika ditinggal dirumah sendirian. Meskipun sudah berusia tiga belas tahun, tapi dia tetap takut ditinggal dirumah besar itu.
"Dek." Panggil Ratna, sejak diperjalanan Ia memikirkan anak bungsunya. Apalagi setelah Suaminya mengabarkan dia akan pulang lebih lambat.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar detikan jam dinding yang terus berjalan.
"Adek kemana ya? Kok ga ada suaranya?" Ratna semakim khawatir sebab tak ada suara apapun dari Zaky.
"Dek." Kini Kaila, dia berusaha mencari kemana Adiknya pergi.
"Di kamar juga ngga ada Mah." Ucap Kaila.
Mereka kembali mencari kemana Zaky pergi, mencoba menelpon beberapa kali dan tak ada jawaban sama sekali.
"Paling dirumah tetangga Mah." Kaila mencoba menenangkan Mamanya yang gelisah.
"Ila kekamar dulu, mau bersih-besih, nanti kalo Zaky belum ketemu juga, panggil Ila ya." Pamit Kaila, dan bergegas pergi dari hadapan Ratna.
Perlahan dirinya membuka pintu kamar, betapa kagetnya ia setelah melihat adik yang dicari-carinya sudah tertidur pulas di kamarnya.
Sebenarnya dia merasa kasihan setelah melihat Zaky tertidur pulas, dia teringat saat dirinya sedang meributkan masalah yang tidak terlalu penting. Adik sematawayangnya itu, terlihat kelelahan. Ditangannya pun masih ada jangka yang baru saja dia ambil dari meja Kaila.
Tanpa pikir panjang Kaila berjalan menuruni tangga untuk memberi tahu Mamanya. Ratna begitu bersyukur karena anaknya yang ketiga sudah ditemukan. Pikiran yang tadinya jelek, kini telah berganti.
Mengingat semula apa rencananya, dia kembali kelantai atas untuk mandi. Badan rasanya sangat dingin setelah mandi pada pukul delapan malam. Ia teringat dengan soal fisika yang rencananya akan dirinya kerjakan malam ini. Rasa penasarannya timbul dan terkumpul pada satu pertanyaan yang ingin dia lontarkan langsung pada orang itu.
'Kenapa dia mengerjakan soalnya? Apa keuntungannya?' Batinnya.
Kaila membuka layar ponselnya, mencoba menelpon Reynand dan menanyakan hal ini. Berulang kali dia berpikir apakah perntayaan itu tidak layak.
Dan akhirnya Kaila menekan tombol itu, icon yang bergambar telepon.
"Kenapa?"
Suara itu terdengar dari balik handphone, membuat Kaila kaget.
^^^"Ha—halo." ^^^
^^^"Ehm." ^^^
^^^"Lo kenapa kerjain soal gue? ^^^
^^^Gue kan bisa jawab sendiri."^^^
"Ga usah pede, gua cuma
mau latian soal pake soal lo."
__ADS_1
^^^"Ya tapi kenapa lo jawabnya ^^^
^^^di kertas gue si? ^^^
^^^Lo kan bisa pake kertas lain." ^^^
"Ga ada kertas ditaman,
lagian kalo lo ga suka,
tinggal hapus. Apa susahnya si?"
Kesal dengan jawaban Reynand mengenai pertanyaannya, dia memutuskan untuk mematikan sambungan telepon itu. Tidak ada manfaatnya, sambungan telepon itu hanya mengundang amarah Kaila dengan cara adu mulut.
Meskipun begitu, dia senang karena bebannya berkurang. Saat ini Kaila bisa beristirahat tanpa adanya beban tugas fisika.
•••
"Telepon siapa ai kamu teh, marah-marah kitu?"
Tanya Kang Dodit, penjual kopi dan gorengan dipinggir jalan, yang memiliki berewok. Kang Dodit merasakan perbedaan dari manusia penuh rahasia itu, tidak seperti biasanya, Reynand terdengar cuek dan dingin. Mengapa dikatakan rahasia? Karena Reynand adalah tipe orang yang suka menyembunyikan setiap masalahnya, memendamnya sendiri, dan merasakannya sendiri. Meskipun dia tahu kalau dia bercerita pada teman-temannya, pasti mereka mendengarkan bahkan memberikannya solusi, tapi dia enggan.
"Cewe Kang, baru kenal." Jawabnya jujur.
"Kenapa cuek atuh?"
"Engga lah Kang, biasa aja."
Kang Dodit teringat dengan istrinya yang kini berada dirumah, dulu dimasa mudanya, Kang Dodit juga seperti Reynand yang cuek pada perempuan yang baru dia kenal. Tapi ternyata takdir berkata lain, perempuan itu menjadi istri Kang Dodit sampai sekarang.
Dering ponsel Reynand dibarengi getarannya terdengar keras ditelinga. Dia segera mengangkat telepon yang entah dari siapa.
^^^"Halo."^^^
"Temenin gue makan Rey."
^^^"Kemana?"^^^
"Cafe biasanya."
^^^"Oke. Gua bawa mobil aja ya, ^^^
^^^udah malam kalo gua ^^^
^^^bawa motor takutnya^^^
^^^lo masuk angin."^^^
"Iya. Hati-hati."
Tanpa jawaban apapun, Reynand segera menjemput penelpon itu kerumahnya.
"Kang. Rey teh pamit nya, mau jemput Amel."
"Ini uangna di bawah gelas." Sambungnya sebelum pergi dan ia meletakkan uang lima ribuan di bawah gelas kopi.
Sebelum menjemput Amelia, Reynand pulang kerumah untuk mengambil mobil pajero sport miliknya. Sebenarnya, dia lebih suka naik mobil ketika bepergian, tapi karena macet dia malas untuk mengendarainya.
Amelia sudah bersiap untuk pergi bersama Reynand, dengan parfum favoritnya dia terlihat lebih percaya diri. Ia menunggu Reynand didepan pintu gerbang hitam miliknya. Dan tak lama Reynand datang dengan mobilnya.
"Udah lama?" Tanya Reynand.
"Engga. Barusan kok."
Suara merdu dari penyiar radio, membuat keduanya bertambah nyaman. Lantunan lagu barat yang disukai Reynand juga disukai oleh Amel. Keduanya menikmati kebersamaan ini dan mungkin akan merasa kehilangan ketika keduanya memiliki pasangan. Perlahan satu persatu peristiwa terlewati dan mereka tak menyadarinya. Sejak Sekolah Dasar, Alby dan Amel sudah dekat dan saling melindungi. Wajar saja kalau Alby menganggapnya bukan hanya sekedar sepupu, melainkan saudara kandungnya sendiri.
Semenjak SMA, mereka sering dijodohkan oleh banyak orang, terutama disosial media. Padahal keduanya tak memiliki perasaan selain saudara. Kedekatan mereka memang membuat orang-orang mengira bahwa mereka sepasang kekasih, namun anggapannya salah besar.
Sampai pintu cafe, Amelia memberikan handphone Reynand yang sejak tadi dipegangnya. Meskipun tak memiliki privasi apapun, Reynand kurang suka dengan cewek yang ingin tahu apa isi handphone nya.
Serasi.
Hanya itu yang ada dipikiran orang-orang ketika melihat mereka berjalan bersama.
"Lo pesan makan gih," Pinta Reynand, sebenarnya dia ada janji dengan teman-temannya, tapi dia memilih untuk pergi bersama Amel dulu.
"Iya bentar."
Amelia memesan makanan, sedangkan Reynand dia membuka layar ponselnya dan melihat notifikasi dari fans-fansnya. Ratusan dm dari para fansnya sempat membuat dia kesal dengan getaran notif itu.
"Lo lagi dekat sama cewek?" Tanya Amelia.
Reynand bungkam seketika, tak ada seseorang yang dekat dengannya saat ini. Hidupnya terasa seperti biasanya, bahkan lebih buruk.
"Enggak, dapat gosip dari mana lo?"
"Tadi si Reni lewat rumah lo, katanya sia liat lo lagi di taman sama cewe."
Reni, teman Amelia sekaligus tetangga yang tidak jauh dari Reynand. Rumah mereka berjarak empat rumah.
"Oh dia, itu anak teman nyokap gue. Emang kenapa si?" Tanyanya. Dia kurang suka apabila Amelia ikut campur dalam urusan itu.
"Gapapa juga, gue ikut senang kalo lo udah punya cewe."
Kedua orang itu berbincang hingga jam menunjukan pukul setengah sepuluh, tidak terasa waktu berlalu dengan cepat tanpa adanya rasa canggung. Pembicaraan itu berhenti ketika dering telepon dari Papa Amel terdengar. Hingga mereka memutuskan untuk pulang dari cafe.
------------------------------------------------------
Buat temen-temen yang udah mau baca sampe part ini, kalian baik banget. Makasih karena mau baca ini. Love youuuuu.
__ADS_1
@putriiltfh_