Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
9. Malam


__ADS_3

Kaila membuka matanya perlahan, terdengar hiruk pikuk yang belum berhenti saat dia bangun dari posisi tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing, Dia berjalan mendekati pintu kamarnya. Melangkah keluar untuk mengetahui apa yang tengah terjadi, suara-suara itu kembali terdengar dan semakin keras.


"Terus siapa perempuan itu Mas?" Teriak Ratna, begitu keras sampai Kaila mengetahui bahwa orang tuanya tengah bertengkar malam ini.


"Perempuan mana?" Efan menyahut, menutupi siapa perempuan yang sebenarnya sudah memiliki hubungan dengannya selama satu tahun.


"Ngga usah pura-pura kamu Mas, udah tiga kali Aku liat kamu mesra-mesraan sama Dia. Jangan pikir Aku bodoh Mas!" Teriak Ratna lagi.


"Jadi Kamu udah tau? Oke, Aku emang punya hubungan sama perempuan itu. Kenapa emangnya? Kenapa?"


Kaila duduk dimeja makan, Dia kaget bahwa Ayahnya memiliki perempuan lain. Dia kira, Ayah yang selama ini nampak periang dan tak pernag marah adalah sosok yang dapat ditiru, namun kenyataannya tidak.


"Kamu putusin Dia? Atau kita pisah?" Pertanyaan yang sekaligus mengancam itu terdengar menyakitkan.


Tak terdengar lagi teriakan apapun, dunia kembali sunyi setelah lontaran pertanyaan dari Ratna. Kaila harap bahwa kejadian malam ini hanyalah mimpi buruknya dan tidak akan berkepanjangan. Pukul sebelas malam, satu isi rumah dikagetkan dengan suara-suara bising itu. Untung saja adik Kaila tidak mendengar pertengkaran antara Ayah dan Ibunya.


"Papa sama Mama berantem?" Tanya Kak Bintang yang tiba-tiba berdiri disamping kursi Kaila.


"Iya, Papa selingkuh."


"Hah? Udah ga bener tuh Papa, biar Kakak samperin." Bintang tak segan-segan untuk melabrak Papanya sendiri, sedangkan Kaila sudah cukup pasrah dengan keputusan oranv tuanya.


"Jangan Kak! Ini udah malam, besok aja." Saran Kaila, Bintang pun menuruti.


Kaila dan Bintang kembali ke kamarnya masing-masing mencari ketenangan. Keduannya sama-sama merasa kecewa, pada Papa yang dianggapnya bertanggung jawab dan bijaksana. Kenyataannya tidak, Papanya hanyalah seorang pecundang. Kaila membuka layar ponselnya, mencari nomor-nomor yang dapat dihubungi. Ingin berbagi cerita, supaya merasa lebih lega.


Fifi menjadi salah satu teman yang berusaha Kaila hubungi, Dia sangat berharap bahwa Fifi mengangkatnya di pukul sebelas malam. Meskipun sebenarnya Kaila tahu, Fifi bukanlah perempuan yang suka begadang.


Dua panggilannya tidak terjawab, dia beralih ke nomor Dani, dan juga hasilnya nihil. Pikirannya seolah terarah kesebuah nomor dengan empat angka terakhrinya 0534. Tak disangka bahwa orang itu kini sedang online. Tak menunggu lama, Kaila benar-benar menekan icon telepon. Dirinya seakan tidak sadar bahwa tangannya mengarah pada nomor Reynand, "Halo Kai?"


Kaila setengah kaget, baru saja menyadari bahwa dia menelpon Reynand. "Kenapa gua nelpon Reynand ya?" Batinnya.


^^^"Ha-halo Rey."^^^


"Kenapa malam-malam gini nelpon?"


^^^"Ehm- ehm, kenapa ya?" ^^^


"Ada apa hayo?"


^^^"Kok bising banget sih, lo dimana?"^^^


"Di depan rumah, barusan ada kecelakaan."


^^^"Kecelakaan apa?" ^^^


"Motor sama motor,


kayanya si motor yang nabrak ini ngantuk."

__ADS_1


Reynand berjalan masuk kedalam rumahnya, dengan sangat perlahan membuka pintu rumah. Meskipun diizinkan oleh Mamanya, tetap saja momen ini menjadi momen paling menakutkan menurutnya.


"Bentar, gua mau jalan kekamar.


Takut Mama kebangun."


^^^"Ya udah iya." ^^^


Sesampainya di kamar Reynand duduk diranjang, menatap kearah meja belajar.


"Oh iya, tadi lo belum jawab


pertanyaan gua, ada apa lo nelpon gua?"


^^^"Sebenarnya tadi tuh-, tadi, mau cerita sama seseorang gitu. Tapi ga tau mau cerita sama siapa, soalnya udah malam gini, Fifi sama Dani juga udah tidur." ^^^


"Mau cerita apa?"


^^^"Ga jadi deh."^^^


"Kalo mau cerita tapi ga jadi,


lebih baik ga usah nelpon tau ga?


Biar orang nya ga penasaran."


^^^"Ih kok lo nge gass si?"^^^


Kaila terdiam sejenak,


^^^"Barusan, nyokap bokap gua berantem, dan ternyata bokap gua selingkuh Rey. Gua ga nyangka Dia bakalan gini, padahal buat gua, bokap selalu jadi panutan ternyata-"^^^


"Gua ga tahu Kai, gua harus kasih saran apa ke elo. Gua ga pernah ngerasain, yang bisa gua bilang, lo harus kuat. Jangan sampe, lo jadi anak brokenhome karena masalah ini. Gua harap lo bisa laluin."


Kaila menitihkan air mata, tidak menyangkan bahwa sosok ayah yang selalu dibanggakannya ternyata hanyalah seseorang pecundang. Rasa benci mulai muncul ketika pemikiran jelek mengenai Ayahnya terus saja menghantui. Hanya ada rasa kecewa ditambah rasa marah, saat itu pula perasaannya kacau.


"Kai?"


"Gua tahu malam ini lo rapuh, tapi, malam ini masih panjang. Lo harus tidur sekarang, besok kan sekolah."


Kaila masih terdiam, Dia mengalihkan pandangan yang semula menatap langit-langit, kini memiringkan badan menatap meja belajar.


^^^"Ekhem." ^^^


Dengan sekuat mungkin Kaila menegaskan suaranya, mencoba agar Reynand tidak mengetahui jika dirinya menangis saat ini.


"Udah, jangan dipikir. Kalo terlalu stress, magh lo bisa kambuh. Salah satu penyebab magh itu stress kan. Sekarang tidur, meremin mata."


^^^"Bentar-bentar, tau dari mana lo kalo gue punya magh?"^^^

__ADS_1


"Cari di google. Canda. Gue itung sampe tiga, kalo lo ga merem, gua samperin lo kerumah."


^^^"Dih, ga gua bukain pintu."^^^


"Gua lewat jendela lah."


"Udah ah, satu.. Dua.. Tiii...ga."


Benar saja, Kaila terpejam dengan mudahnya. Seolah terhipnotis pada kata-kata Reynand.


•••


Pagi itu adalah pagi yang paling dibenci oleh Kaila, sejak Dia bangun, perasaanya kacau dan tak bersemangat. Mengingat apa yang telah dibicarakan orang tuanya semalam, namun tetap ada Kakak yang selalu membela dan memberikannya semangat untuk tetap hidup.


Mentari seolah telah melambai, menandakan bahwa gerbang sekolah yang sebentar lagi tertutup. Selesai sarapan, Kaila bergegas kesekolah, tak seperti biasanya Dia meminta Kak Bintang untuk mengantar.


"Ga habis pikir aku tuh sama Papa. Mama tuh kurang apanya sih?" Desisnya didalam mobil.


"Namanya orang, apalagi laki-laki, kalo liat yang lebih cantik itu pasti nengok. Cuman ya tergantung orangnya bisa ngendaliin napsunya atau engga." Jelas Kakaknya mengenakan logika.


"Ya tapi kan seharusnya Papa sadar, dia udah punya anak tiga. Ya kali mau nikah lagi." Nada bicaranya masih kesal, ditambah lagi macetnya perjalanan mengenakan mobil. Lalu lalang ojek online yang nampaknya tengah sibuk-sibuknya di jam berangkat kekantor.


"Aku takut Kak."


"Takut kenapa Dek? Jangan sampe, persoalan orang tua kita bikin mental healthy kamu terganggu ya. Ini masalah mereka, bukan kita. Udah lah jangan dipikirin."


"Aku kasihan sama Mama, pasti Dia sedih Kak."


Ucap Kaila.


"Kakak tahu, Mama sedih. Tapi, mereka pasti punya jalan keluar, bisa nyelesain persoalan ini. Kamu fokus aja tuh ke sekolah kamu, mau ambil jurusan apa nanti kuliahnya?" Tanya Kak Bintang. Mengalihkan pembicaraan yang semula dirasa kurang penting, sebab bisa merusak kesehatan mental dari Adiknya. Dia tidak mau, jika Adiknya menjadi seperti anak-anak brokenhome lainnya.


"Masih bingung Kak, tapi kayanya Aku mau ambil psikolog atau mungkin teknik."


"Jangan teknik Dek, kamu kan cewek. Cewe itu kerjanya pake hati, jadi ga cocok buat masuk ke teknik. Sedangkan cowok, kalo kerja kebanyakan pake logika."


Perbincangan hangat itu mengantarkan keduanya kedepan pintu gerbang sekolah yang masih dalam keadaan terbuka. Tanpa lupa untuk berpamitan, Kaila berjalan menuju kelasnya. Perasaan kesal masih saja menyelimuti hatinya.


"Kai!" Teriak Dani membuat yang membuat beberapa orang menengok, termasuk Kaila.


"Lo ternyata mantannya Kak Dave? Dan lo ga bilang sama gue? Jahat ya lo Kai. Gua ga nyangka lo bisa ngelakuin itu ke Gue." Kaila merasa takut, Dia baru ingat kejadian di hari kemarin. Hari ibi pasti Dia akan diuji.


"Bukan gitu Dan, Gua cuma butuh waktu aja buat ngomong itu ke elo. Lagian juga udah mantan, buat apa di permasalahin lagi?"


"Masalahnya itu, Kak Dave nembak lo lagi. Secara ga langsung berarti Kak Dave naksir lo lagi kan?"


"Ya gue ga peduli," Kaila seolah acuh, dia bosan dengan percakapan tidak penting ini. Otaknya kini seakan berputar terus menerus mencari jalan keluar, pikirannya terbagi-bagi dari masalah keluarga, masalah sekolah sampai masalah perasaan. Rasanya sangat berat untuk melaluinya.


"Hari ini siap-siap deh lo, jadi omongan satu sekolah." Ucap Dani.

__ADS_1


Dan benar saja apa yang diucapkan oleh Dani, dua langkah didepannya, orang-orang memperhatikan Kaila dari atas sampai bawah sembari berbisik dengan teman disampingnya. Hari ini pasti hari yang berat untuk Kaila, menurutnya masalah keluarga saja dia sudah pusing. Apalagi masalah ini, jumlah anak satu sekolah itu tidak sedikit. Mereka memperlakukan Kaila, seolah Kaila bersalah.


__ADS_2