Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
18. Jus Jambu


__ADS_3

Sudah tiga hari berturut-turut Kaila berada di rumah sakit, kemarin Fifi dan Dani sudah menjenguk Kaila. Sedangkan Reynand mungkin sudah sibuk dengan pacar barunya. Sudah tiga hari juga Reynand tidak menghubungi Kaila, entah karena sibuk atau memang sengaja menjauh karena punya pavar baru.


Suasana rumah sakit makin sepi, membuat Kaila ingim sekali pulang kerumah. Tapi dokter bilang, tubuhnya belum kuat untuk berjalan terlalu jauh. Ia juga merasakan mual dan pusing beberapa kali. Kak Bintang sering bertugas ketika malam hari, siang harinya Ia menjaga Kaila di rumah sakit. Kaila merasa tidak enak sebab Kakaknya pasti lelah, setiap harinya berada di rumah sakit.


Tepat pukul tiga, pintu masuk ruangan Kaila membuka. Ia sudah punya firasat bahwa itu Kakaknya, tapi ternyata bukan. Sebab Kakaknya sudah bilang, Ia akan pulang untuk mengambil baju ganti. Orang yang baru saja datang itu mendekati Kaila yang kini tengah berbaring sembari bermain handphone. Orang seperti Kaila memang susah untuk bisa tertidur.


"Sibuk banget nih kayaknya." Ucap Reynand, sontak membuat Kaila mencari tahu siapa orang yang datang.


"Rey?" Kaila bagun dari posisi rebahannya menjadi duduk.


"Lama banget ga datang ke sekolah ya Bu?" Tanya Reynand meledek, Ia merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Kaila hangat.


"Baru tiga hari." Jawab Kaila, pelukan itu sudah dilepas.


"Lo masuk rumah sakit tapi ngga ngabarin gue." Ucap Reynand sembari memberikan buket bunga yang dibawanya untuk Kaila.


"Bukan siapa-siapa kenapa harus ngabarin? Lagian gue pingsan diangkot, langsung di bawa kesini." Pertanyaan Kaila sontak membuat Reynand mengerutkan dahi, bertanya-tanya apa maksud pertanyaan itu.


"Kok bukan siapa-siapa? Ya gue kan teman lo Kai. Ya masa longga anggap gue temen lo." Kata Reynand.


"Bagas juga teman gue, Iqbal juga. Tapi gue ga kabarin mereka." Ucap Kaila serius, obrolan ini mulai serius. Semula hanyalah ungkapan biasa, lama-kelamaan menimbulkan perdebatan.


"Ya udah gini, kita sahabatan aja gimana? Kalo sahabat pasti deket kan?" Tanya Reynand, merasa belum paham dengan apa yang disebutkan Kaila.


"Ga ada yang namanya persahabatan antara cowo dan cewe." Jawab Kaila, masih mengarahkan obrolan itu. Menjerumus pada hal yang dia maksud.


"Terus lu maunya apa? Teman atau sahabat?"


Seperti soal yang tak ada jawabannya, tidak ada opsi yang bisa dipilih karena semuanya kurang tepat.


"Teman aja." Jawab Kaila.


"Ya masa gue disamain kaya Bagas sama Iqbal." Ujar Reynand tidak terima.


Kaila menarik napas panjang, sudah bosan dengan topik tidak penting ini. "Udah-udah jangan dibahas lagi." Ucapnya.


"Pacar barunya mana?" Tanya Kaila.


"Gue belum nembak Dara, masih cari tanggal istimewa." Jawabnya, sempat membuat Kaila bernapas tenang.


Reynand duduk dikursi samping ranjang, menatap Kaila iba karena pucat. Kaila juga nampak lemas dan tak selincah biasanya. Reynand mengangkat tangan nya sampai dipuncak kepala Kaila, mengacak rambutnya sedikit dan mengelusnya.


"Kasian banget anaknya Bu Ratna, maaf ya gara-gara gue lo jadi gini." Kata Reynand.


"Kenapa gara-gara lo?" Tanya Kaila heran.


"Seharusnya hari itu gue anterin lo pulang, karena ketemu Dara gue jadi nganterin Dia." Ungkap Reynand, tangannya sudah kembali.


"Engga lah, lagian lo anterin Dara kan permintaan gue." Ucap Kaila.


Kaila menaruh ponselnya di nakas, sedangkan Reynand masih memperhatikan Kaila benar-benar. Reynand menyesal karena lebih memilih mengantarkan Dara dibanding Kaila, meski sebenarnya Kaila memaklumi hal itu.


"Udah makan?" Tanya Reynand.


Kaila hanya mengangguk membuat Reynand tidak mempercayainya, "Yang benar?"


"Iya udah." Jawab Kaila.


"Gue sampe lupa nanyain keadaan lo, gimana? Udah enakan?"


"Udah sih, mending daripada hari-hari kemarin. Kayanya besok juga pulang." Jawab Kaila, yang sudah merasa enakan. Ia sudah terlalu bosan melihat ruangan yang sama dari dua hari yang lalu.


"Gue udah bosan disini." Ungkap Kaila.


"Mau jalan-jalan ke taman?"


"Iya yuk." Ajak Kaila.


Reynand membantu Kaila bangkit dari ranjangnya, mereka lalu berjalan perlahan ke arah taman. Kaila sudah tidak diinfus, jadi memilih berjalan kaki hitung-hitung sembari latihan. Sampai di taman, mereka duduk di kursi dekat pohon mangga. Banyak lalu lalang orang-orang dengan berbagai ekspresi, dari ceria sampai menangis karena sedih.


"Tante Ratna belum pulang?" Tanya Reynand.


"Belum, gue juga engga bilang kalo gue masuk rs." Jawab Kaila.


"Kenapa ga bilang? Terus dari kemarin lo disini sendirian?"


"Kalo malam sendirian, kan Kak Bintang tugas. Kalo siang baru nemenin, ini juga lagi ambil baju dirumah. Gue ngga enak sama Dia, beberapa hari ini pasti capek banget karena gue ada di rs. Sebenarnya gue juga udah bilang, kalo mau pulang buat tidur gapapa. Tapi dianya malah ga enak balik ke gue, katanya kasihan soalnya kalo malam ga ada yang jagain." Cerita Kaila pada Reynand. Reynand adalah pendengar yang baik, Ia mencerna setiap ucapan Kaila.


"Ga takut lo sendirian?" Tanya Reynand.


"Ya gimana lagi, mau ga mau harus mau. Lagian di Jakarta kan ga ada kerabat."


"Seharusnya lo telepon gue atau teman-temab lo buat jagain kalo malam." Ucap Reynand.


"Engga, gue ga mau ngerepotin. Lagian kan paginya sekolah, nanti ngantuk waktu disekolah."


"Kenapa sih lo jadi orang baik banget? Pasti selalu ngutamain orang dulu, baru diri lo sendiri." Ucap Reynand, Ia menopang dagu dan melihat ke arah Kaila.


"Gue ga sebaik yang lo kira kok, banyak sesuatu jelek di balik ini yang lo ga tau. Disini gue cuma belajar jadi lebih dewasa, supaya ketika ada masalah lagi di hidup gue, gue udah siap buat ngadepin bukannya lari." Ungkap Kaila, Reynand tidak menyangka bahwa pemikiran Kaila sejauh itu, sedewasa itu sampai dirinya terkagum-kagum.

__ADS_1


"Pasti lo jarang marah ya."


"Gue manusia, ya kali ga pernah marah." Ucap Kaila.


Merasa sudah mulai dingin, Kaila dan Reynand berjalan ke ruangan. Mereka berdua dikagetkan dengan teriakan histeris dari seorang ibu-ibu yang mendorong blankar yang ditutupi kain putih. "Kasihan ya." Ucap Kaila.


"Iya." Sahut Reynand.


"Kai." Sapa Kak Bintang dari arah kiri.


Kak Bintang mendekat sembari membawa paper bag yang berisi baju, dibawah matanya ada lingkaran hitam yang menunjukan dirinya kurang tidur.


"Eh ada elo Rey." Ucap Kak Bintang.


"Iya Bang."


Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Kaila, lalu menempatkan diri masing-masing. Kaila yang kembali ke ranjang, Reynand dan Kak Bintang yang duduk di sofa. 


"Dari tadi disini?" Tanya Kak Bintang.


"Ya lumayan si Bang."


"Abis ini lo ada acara ga?" Tanya Kak Bintang lagi.


"Engga sih Bang, kenapa?"


"Lo jagain adek gue bisa ga, gue biar ke ruangan gue. Mau tidur, soalnya semalam ga tidur sama sekali." Ucap Kak Bintang.


"Oh gitu, iya gapapa Bang. Kayanya juga Abang udah ngantuk banget tuh." Jawab Reynand dibarengi senyumannya.


"Oke, lo jangan apa-apain adik gue ya." Pesan Bintang.


"Siap Bang."


Kak Bintang keluar dari ruangan Kaila, Ia melangkah ke ruangan nya. Kini tersisa hanya Kaila dan Reynand, Reynand mendekat ke arah Kaila dan duduk disamping ranjang.


"Cepat sembuh, biar jok motor gue ga kosong terus." Ucap Reynand, menatap Kaila dengan sengaja agar tercipta kontak mata.


Kaila mengalihkan pandangannya, pipinya memerah. Ia nampak gelisah, secara cepat Kaila  menutup pipinya dengan kedua tangannya sebab takut Reynand tahu kalau dirinya salah tingkah.


"Kan ada Dara." Sahut Kaila.


"Iya si."


Reynand memegang kedua tangan Kaila yang masih menempel di pipinya, Ia ingin melihat apa yang sebenarnya ditutupi Kaila. Kaila lalu membukannya, syukur saja merah pipinya sudah hilang.


"Kai nanti malam lo udah bisa pulang." Ucap Kak Bintang dari arah pintu.


•••


Reynand merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, sudah cukup lelah beraktivitas sejak pagi tadi. Kini matahari sudah tenggelam, Ia baru saja pulang dari rumah sakit karena menunggu sampai Kaila pulang. Setelah itu Reynand membuka layar ponselnya yang sejak sore tadi tidak di cek.


DARA :


'Aku udah sampai Kak.'


^^^'Maaf ya baru balas, dari tadi ga buka hp.'^^^


'Iya gapapa, udah makan?'


^^^'Belum.'^^^


'Makan dulu.'


^^^'Iya abis ini mau makan.' ^^^


^^^'Lo udah makan?'^^^


'Udah barusan.'


Reynand meletakkan ponselnya, ia memegang kepalanya dengan tangan kanan. Memijatnya perlahan agar lebih enakan, padanganya tertuju pada langit-langit atap. Beberapa hari ini Dara terlihat berbeda, Dara menceritakan kejelekan-kejelekan Kaila pada Reynand. Pikiran Reynand jadi campur aduk, setengah percaya tapi juga tidak. Sebab Reynand tahu Kaila orang yang amat baik.


Kemarin Dara bilang bahwa Kaila pernah menampar perempuan yang ada di sekolahnya, tetapi Dara tidak menyebutkan siapa orang itu. Meskipun begitu, Reynand masih tetap percaya Kaila tidak mungkin melalukan hal seperti itu tanpa adanya alasan.


Omongan-omongan Dara mengenai Kaila membuat malam nya ini overthinking. Kejelekan yang diungkap Dara tak hanya mengenai Kaila yang ada disekolah, tapi juga tentang keluarganya. Membuat Reynand semakin penasaran apa tujuan Dara membeberkan hal itu, padahal dirinya hanya orang baru yang seharusnya belum tahu apa-apa.


^^^'Boleh telepon Dar?' ^^^


'Boleh Kak.'


Reynand menelpon Dara yang tak lama langsung diangkat, tujuannya hanya ingin menananyakan kebenaran berita yang Dara dapat.


"Kenapa Kak?"


^^^"Gapapa, lo lagi sibuk?" ^^^


"Engga."


^^^"Gue mau tanya, lo dapat ^^^

__ADS_1


^^^informasi tentang Kaila dari mana?" ^^^


"Ehm... Dari teman-teman


sama Aku liat sendiri."


^^^"Teman-teman lo ngomongin Kaila?" ^^^


"Engga juga sih, cuman mereka


cerita aja kalo Kak Kai pernah


di bully sampai dilemparin makanan.


Tapi emang orang nya gitu kali ya Kak?


Kemarin juga Aku lihat Kak Kai


gandengan sama cowo.


Orangnya tinggi pakai kacamata."


^^^"Lo liat dimana?"^^^


"Di samping perpustakaan,


tapi Aku langsung pergi soalnya udah di tungguin guru."


Reynand mengangguk paham, Dia sudah tahu siapa orang yang dimaksud oleh Dara. Itu pasti Dave. Sejauh pemahamannya mengenai Kaila, Kaila bukan lah sosok yang seperti diceritakan Dara, Ia mengerti betul sifat Kaila. Setelah membicarakan mengenai Kaila, Reynand dan Dara bertelepon sampai pukul sembilan.


Hari ini Reynand sengaja tidak pergi ke warung Kang Dodit, Ia memilih untuk tidur.


Esok paginya, Reynand berangkat ke sekolah bersama dengan Dara. Tadi malam Dara meminta Reynand menjemputnya, karena Papanya sedang berada di luar kota. Sedangkan Kaila, hari inu dirinya mulai masuk sekolah. Meskipun rasa mualnya terkadang datang, tapi dia tetap memaksa.


Kaila melihat Reynand berbocengan dengan Dara di pintu gerbang sekolah, wajahnya masih pucat seperti kemarin. Senyumnya terlukis seperti biasa ketika Reynand menyapa. Untuk kesekian kalinya, Kaila berpura-pura tegar dihadapan orang-orang.


"Kai." Sapa Reynand.


"Iya." Sahutnya.


Pelajaran segera dimulai, dan waktu istirahat pun segera datang. Dara berdiri di samping meja kantin, melihat keadaan sekitarnya dengan beberapa kode dari tangannya. Ia melihat ke belakang tembok kantin, dan menunjukkan jempol ketika Kaila hampir masuk ke kantin.


Dara menumpahkan jus jambu yang sudah dia pesan ke roknya sendiri. Dara lalu berpura-pura membersihakannya. Melihat Dara membersihkan jus jambu di roknya, Kaila mendekat dan mengambil beberapa tisu untuk membantu Dara.


"Kenapa Dar? Kok bisa gini?" Tanya Kaila.


"Iya nih tumpah." Jawab Dara.


Reynand berjalan mendekat ke arah mereka berdua, menatap Kaila tajam dengan perasaan kesal dan emosi.


"Lo gila ya Kai!" Bentak Reynand, lumayan kerasa sampai beberapa orang melihat kearah mereka.


Sedangkan Dara melihat Reynand yang membentak Kaila dengan rasa senang, Ia berpura-pura terus membersihkan tumpahan jus itu sampai benar-benar bersih dan hanya terlihat basah.


Kaila mengerutkan dahi melihat Reynand membentaknya, sebelum itu Reynand belum pernah berkata dengan nada tinggi padanya. Ia meletakkan tisu di meja, lalu menghadap Reynand.


"Ternyata benar, selicik itu pikiran lo." Bentak Reynand lagi.


"Apa si Rey? Ada apa?" Tanya Kaila bingung.


"Ga usah pura-pura bego!"


Kaila menengok ke arah Dara, melihat Dara yang kini tertunduk takut seolah tak mengerti apa-apa.


"Dar ini kenapa?" Tanyanya pada Dara.


Reynand menarik tangan kanan Kaila dengan paksa, mencekramnya keras sampai beberapa kali Kaila memutar-mutarkan pergelangan tangannya. Perlakuan Reynand kali ini begitu kasar, tidak seperti Reynand yang biasanya. Ia membawa Kaila ke belakang sekolah, agar orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.


"Ada dendam apa lo sama Dara?" Tanya Reynand.


Kaila merasa menggigil, degupan jantungnya begitu keras sampai-sampai badannya panas dingin. Baru saja dia keluar dari rumah sakit, tapi kini seolah mendapat kejutan yang tidak dia sangka-sangka. Ia menatap Reynand lagi, masih dengan kebingungan. Karena memang dia tidak mengerti apa yang sedang Reynand bicarakan.


"Apa sih Rey? Ada apa? Coba jelasin dulu." Tanya Kaila, masih belum mengerti juga dengan apa yang sedang Reynand bahas kali ini.


"Lo numpahin jus di rok Dara kan?"


Kaila memutar pandangannya, tidak menyangka jika kemarahan Reynand hanya disebabkan hal se sepele ini, lagi pula dirinya hanya membantu Dara membersihakan roknya.


"Gue? Nyiram Dara pakai jus? Buat apa?" Kaila berbalik tanya.


"Ga usah pura-pura Kai, ada saksinya." Jawab Reynand.


"Sumpah ya, gue ga ngerti sama lo. Gue cuma bantu bersihin roknya, malah dituduh numpahin." Ungkap Kaila, masih membela diri karena memang Ia benar.


"Pikiran lo selicik itu ya Kai?" Tanya Reynand.


"Gue udah bilang, bukan gue yang numpahin. Terserah lo mau percaya siapa." Jawab Kaila kesal, kepalanya pusing karena tadi berjalan terlalu cepat mengikuti langkah Reynand.


Kaila melangkah pergi sembari memegangi kepalanya yang terasa berputar, Ia mengenakan tangan kirinya untuk berpegangan pada dinding. Lama kelamaan jalannya sempoyongan, Kaila takut dirinya pingsan. Ia lalu berhenti sebentar dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Reynand melihat Kaila, Dia mendekati Kaila dan ingin membantunya berjalan. Sekesal apapun dirinya pada Kaila, tapi rasa khawatir masih menyelimuti hatinya. Reynand menuntun Kaila dengan merangkulkan tangannya di pundak Kaila, tapi Kaila mengibaskannya.


"Udah ga usah, lo urus aja Dara." Ucap Kaila dan berjalan lebih cepat agar Reynand tak mengikutinya.


__ADS_2