
Pukul lima sore, Reynand duduk di meja makan sembari menemani Mamanya memasak. Mereka berbincang hangat, sampai akhirnya Reynand teringat kejadian di sekolahnya tadi. Ia tersenyum ketika mengingatnya. "Ma, Mama ingat Dara ngga? Tetangga kita."
"Dara? Anaknya Pak Supri?" Tanya Mamanya, sambil mengingat-ingatnya kembali.
"Iya itu, Dia baru pindah ke sekolah ku. Katanya sekarang Dia tinggal di dekat sekolah." Ungkap Reynand, masih dengab senyumannya. Sedangkan Ndari malah hanya diam tanpa ucapan, namun tangannya masih bergerak mengupas bawang putih.
"Sekarang Dia cantik banget." Sambung Reynand, membuat Taru yang tadinya memunggi Reynand menjadi menatap Reynand.
"Jangan main-main ya kalo sama cewe, kasihan." Nasehat Ndari, sedikit ditekankan agar anaknya mengerti. Reynand mengernyit, Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Mamanya.
"Iya Ma, Aku tahu kok."
"Gimana kabar Kaila?" Tanya Ndari, seolah mengalihkan pembicaraan mengenai Dara.
"Baik, tadi juga Aku ketemu sama Dia. Sekalian aja Aku kenalin ke Dara." Ucap Reynand, Ndari menatap Reynand dengan tatapan bingung. Apa yang sedang ada dipikiran Reynand sebenarnya?
"Kamu kenalin Dara ke Kaila?"
"Iya."
Ndari mengalihkan pandangan lalu berbalik menatap Anaknya lagi, tatapannya menjerumus. Ucapan Reynand terasa aneh menurutnya. "Kalo Kaila cemburu gimana?" Tanyanya.
"Hahaha." Reynand tertawa, bukan hanya mencairkan suasana yang aslinya menegangkan, tapi memang lucu.
"Aku sama Kaila itu cuma teman Ma, tapi kalo sama Dara kayanya Aku naksir, hehe." Sambung Reynand setelah dirinya merasa sudah bisa berbicara. Ndari mengerutkan dahinya, nampak tidak setuju pada perkataan Reynand.
"Teman? Perlakuan kamu ke Kaila itu lebih dari teman Rey. Kamu ngga kasihan sama Dia?" Tanya Ndari.
Reynand menunduk, berpikir sejenak bahwa perkataan Mamanya salah. Itu tidak benar, dirinya memperlakukan Kaila sama dengan teman lainnya. Itu pun karena Kaila sering menolong keluarganya.
"Kasihan kenapa Ma? Dia juga nganggep kita temanan kok Ma."
"Kamu ngga tahu apa yang Dia rasain kan? Kalo dia beneran suka sama kamu gimana?"
Reynand menegakkan pandangan dibarengi senyuman aneh, Dia merasa bahwa Mamanya sangat membela Kaila. Padahal dirinya dan Kaila ada teman. "Engga Ma, kita teman kok."
"Kalo kamu mau sama Dara, kamu lepasin Kaila. Jangan kamu kasih dua-duanya perlakuan yang sama, perasaan perempuan itu lebih peka dibanding laki-laki." Jelas Mamanya, Reynand mengangguk. Sekarang Dia memahami apa yang dimaksud oleh Mamanya. Setelah itu, Dia masuk ke kamar untuk mandi.
•••
Hari sudah mulai gelap, tetapi Ayah Kaila belum pulang juga. Ratna kini tengah duduk di depan televisi bersama kedua anaknya, Bintang dan Kaila. Semula mereka beebincang hanvat sembari menonton televisi. Tapi, pembicaraannya kini mengarah pada Papanya. Ratna sudah mengambil keputusan untuk bercerai dengan Efan, tanpa adanya pendapat dari ketiga anaknya.
"Ibu besok mau ke pengadilan agama, Ibu mau cerai sama Ayah." Ucap Ratna, sontak membuat kedua anaknya menengok kaget. Mereka tidak menyangka bahwa permasalahan kedua orang tuanya menjadi perantara perpisahan mereka.
"Ibu yakin bakalan pisah dari Ayah? Ibu ngga sayang sama Ayah?" Tanya Bintang menerocos, Dia belum bisa melepaskan Ayah yang sejak kecil mendampinginya berlari kesana dan kemari sampai akhirnya bisa berhasil menggapai cita-citanya.
"Semakin Ibu bertahan sama Ayah kamu, semakin Ibu sakit hati. Toh Ayahmu juga udah setuju kalau kita bercerai." Ungkap Ratna dengan mata yang berkaca-kaca, Dia cukup tegar sebab masih menahan air mata itu. Ia tidak mau anaknya melihat tangisannya, Ia hanya menunduk menutupi air mata yang hampir keluar.
"Ya, semua keputusan ada di Ibu sih. Kita selalu dukung kok." Kata Bintang, Kaila yang duduk disamping Ibunya, mengelus pundak Ibunya lembut seolah menguatkan. Dia tidak menyangka jika Ayah yang dari kecil selalu menjadi panutan, kini telah berubah. Ayah yang sering membentak, Ayah yang sudah tidak perhatian pada keluarganya lagi, dan Ayah yang selalu menyakiti perasaan Ibu.
"Aku masih ngga percaya kalo Ayah kita begitu Bu, Dia kan selalu jadi panutan kita." Kini Kaila berbicara, memberanikan diri membuka mulut.
"Apalagu Ibu, Ayahmu itu orang yang paling Ibu percaya. Tapi ternyata," Ratna menghentikan ucapannya.
Tak lama, terdengar bunyi pintu yang terdorong. Ayahnya pulang dengan membawa martabak telur kesukaan keluarga itu. Waktu masih di desa, mereka sangat menyukai martabak telur, dan nampaknya setelah di kota pun tidak berbeda. Efan meletakkan martabak itu di atas meja, tepat di depan ketiga mata yang melemas.
"Ini martabak kesukaan kalian kan? Ayo makan." Ucap Efan. Tak ada gerakan apapun dari ketiga orang itu, mereka tengah mengingat kehangatan yang dulu pernah ada. Kehangatan dalam suatu keluarga tanpa adanya masalah, selalu bersyukur dan bersenang-senang meski hidup pas-pasan.
"Kalian makan, Ibu ke kamar dulu." Pamit Ibunya, lalu melangkah perlahan menuju kamarnya. Efan sebenarnya tak kuasa melihat perpecahan ini, tapi hatinya bimbang untuk memilih diantara istrinya atau kekasihnya.
"Ayo makan." Ajak Kaila mencairkan suasana, sudah cukup kesedihan meratapi malam ini.
__ADS_1
"Dek, ayo makan." Teriak Kaila agar Adiknya mendengar.
Bintang dan Kaila melangkah ke meja makan sembari membawa martabaknya, meninggalkan Ayahnya yang tetap berdiri kaku. Kaila mengambil tiga piring untuk kakak dan adiknya, dia lalu duduk dan mengambil nasi. Tak lama setelah itu Adiknya datang, Dia tersenyum.
Efan melangkah ke kamarnya, Ia melihat seorang perempuan yang mendampinginya berjuang dari nol sampai sekarang. Batinnya tergores menatap air mata yang jatuh untuk ke sekian kalinya. Dia tidak tega, tapi Dia juga tidak mau melepaskan selingkuhannya. Hatinya mulai bimbang, rencana yang sudah Ia susun matang-matang nampaknya gagal. Rencanya Dia akan berbicara mengenai selingkuhannya, Ia akan segera menikahi perempuan itu.
"Na." Panggilnya pada Ratna, Ia lalu duduk di dekat Ratna.
Ratna mengusap air matanya, Dia masih sempat menyembunyikan rasa sakit itu setelah ke sekian kalinya menyadarkan suaminya. Dia lelah dengan perselingkuhan ini, semua kesalahan suaminya bisa dimaafkan kecuali perselingkuhan.
"Aku mau ngomong." Ucap Efan dengan degupan jantung yang bisa dibilang kencang, nyalinya seakan menyempit.
Dua hari yang lalu Dewi, selingkuhan Efan mendatangi Ratna. Memberikan beberapa penegasan pada Ratna agar segera menceraikan Efan. Dia juga sempat mendorong Ratna sampai dirinya terjatuh dan dagunya terluka, maka dari itu kini dagunya di lapisi handsaplast.
"Ngomong aja Mas."
"Lima hari lagi Aku mau menikah sama Dewi." Ungkap Efan, sempat membuat hati Ratna tersayat-sayat. Tatapan matanya tertuju pada mata Efan membentuk kontak mata dengan tatapan tegas.
"Aku kurang apa sih Mas? Kurang cantik? Kurang perhatian? Atau masakanku kurang enak?" Tanya Ratna nyerocos.
Efan berbalik menatap Ratna, memegang tangannya lembut. Sentuhan itu masih sama seperti pertama kalinya merrka bertemu.
"Engga ada yang kurang kok Na."
"Ya udah nikahin aja orang yang dorong Aku sampai dagu ku luka, toh besok Aku mau ke pengadilan agama kok." Ucap Ratna, Ia bangkit dari duduknya dan menjauh dari Efan.
"Pengadilan agama? Mau apa?"
"Kamu pikir Aku kesana mau apa selain bikin gugatan cerai?" Sentak Ratna.
"Na, ga gitu Na. Aku gamau pisah dari kamu, Aku sayang sama kamu Na."
"Aku udah capek Mas, semakin kamu pertahanin Aku, semakin Aku sakit hati."
•••
Sudah tiga hari berturut-turut, Kaila dan Reynand tidak mengobrol sama sekali. Menurut keterangan Bimo, beberapa hari ini Reynand disibukkan dengan Dara. Kerap sekali mereka bersama, ibarat dimana ada Dara disitu juga ada Reynand. Bimo mengatakan bahwa Reynand jarang keluar malam, entah karena dilarang Dara atau pergi bersama Dara.
"Lo kangen ya?" Ujar Bimo menebak, matanya nampak licik.
"Engga Bim, ya kali. Ya lo pikir aja deh, hampir tiap hari gua ngobrol sama dia, tiba-tiba Dia ngilang gini." Ungkap Kaila, berusaha menutupi kekesalannya.
"Tenang, Reynand sehat-sehat kok. Yang ga sehat itu gue, karena ga pernah ngeliat Fifi." Ucap Bimo, membuat Kaila tersenyum konyol ketika melihat mukanya.
"Ya udah yuk pulang." Ajak Kaila, Bimo mengangguk lalu mereka berjalan bersama sampai di pimtu gerbang.
"Lo udah ada yang jemput?" Tanya Bimo.
"Udah, sama Abang."
Kaila dan Bimo menatap dua wajah yang nampak bahagia, tersenyum senang seperti tak memiliki beban. Senyuman yang di ukir keduanya sempat membuat nyali Kaila menyempit untuk menyapa. Dirinya takut bila sapaan itu tidak dibalas.
"Kai, Bim, duluan ya." Sapa Reynand dengan senyuman, Dara pun tersenyum ramah. Mereka berdua berboncengan, biasanya yang duduk di boncengan itu dirinya tapi sepertinya kini Dia tidak akan duduk disana lagi.
Kaila mengangguk dibarengi dengan senyuman kaku, berbeda dengan Bimo yang senang karena mereka berdua bersatu. "Senyumnya yang ikhlas Kai. Lo cemburu kan?"
"Dih apaan sih Bim, lo jadi ngebahas kesana-sana." Kaila nampak mengalihkan meskipun sebenarnya dirinya kesal melihat itu.
Tak lama dari itu Kak Bintang menjemput dengan mobilnya, Dia sudah berjanji akan menjemput Adiknya meskipun jadwal rumah sakit sedang padat-padatnya. Kaila pun pulang meninggalkan Bimo sendirian menunggu angkot jurusannya.
"Kak, mau mampir ngga?" Tanya Kaila.
__ADS_1
"Haduh, jadwal gue lagi padat nih. Gue aja sempat-sempatin jemput lo karena udah janji." Jawab Bintang.
"Yah Kak, kali ini aja Kak. Ke cafe langganan kita, setengah jam aja gimana?" Bujuk Kaila, sudah lama Dia dan keluarganya tidak menunjungi tempat itu, keretakan keluarga membuat mereka semua canggungg untuk prrgi bersama.
"Gimana ya?"
"Iya deh Kak, iya, yaaa." Bujuknya lagi sampai Kakaknya mengangguk mau.
Mereka berjalan menuju cafe Karolin, cafe yang biasa dikunjunginya ketika Ayahnya gajian. Hampir setiap bulan mereka mendatangi tempat ini, tapi dua bulan terakhir tak ada catatan bahwa mereka datang. Kaila berjalan mendahului Kak Bintang, seperti anak kecil yang mencari tempat duduk incaran. Dia lalu dudum di tempat biasanya, di tempat favorit keluarganya.
"Mba." Panggi Bintang. Seorang pelayan datang dan menulis apa saja yang dipesan Bintang dan Kaila.
"Kangen ya Kak." Ucap Kaila.
"Iya, udah lama kita ngga kesini." Sahut Bintang mengiyakan apa yang dibicarakan adiknya.
"Dulu Ayah selalu bilang kalo gajiannya, sama aja gajian kita semua." Ucap Kaila sembari menatap lingkungan sekitar yang agak ramai.
"Iyaa."
Setelah pesanan datang, mereka segera menikmati makanan itu. Berhubung waktunya tidak banyak. Tatapan Kaila tiba-tiba memudar ketika melihat dua orang itu lagi melangkah dengan serasi. Tidak seperti Kaila dan Reynand yang dulu Dia suka berjalan di belakangnya. Kaila mencoba tersenyum meskipun senyuman yang diberikan itu palsu. "Kai."
Kaila nampaknya masih melamun, sampai-sampai sapaan hangat dari Reynand tidak dibalasnya. Bintang menggetarkan tangan Kaila, membangunkannya dari lamunan kosong. "Kai, itu ada yang manggil."
"Eh, iya-iya." Balas Kaila.
Reynand dan Dara mendekat, sekedar menyapa hangat kedua orang yang kini duduk berdua. Wajahnya terlihat ceria, senang, dan penuh wibawa. Meski tak ada pegangan tangan, tetap saja terlihat romantis. "Jadi Dokter itu Abang lo?" Tanya Reynand setelah melihat wajah Kak Bintang.
"Ini Reynand Kak, yang Ibunya pingsan di rumah sakit." Jelas Kaila.
"Oh iya-iya, gue ingat."
"Kenalin Gue Bintang, Kakaknya Kaila." Lanjut Bintang sembari menengadahkan tangan, mengajak Reynand berjabat-tangan.
"Iya Dok, Saya Reynand."
"Jangan kaku gitu dong, panggil Bang aja."
Reynand dan Bintang terlihat masih canggung setelah pertemuan kedua itu. Tak lama Reynand dan Dara berpamitan karena niar awalnya hanya menyapa, mereka melangkah keluar cafe.
"Itu cewe nya?" Tanya Kak Bintang.
"Ga tahu, udah pacaran apa belum." Jawab Kaila seadanya.
Bintang terkekeh, Dia melihat ekspresi Kaila yang menyembunyikan kekesalannya setelah bertemu dengan Reynand. Kaila melirik Bintang kesal, Dia merasa risih dengan kekehan itu.
"Apaan sih lo kak? Ga jelas banget."
"Gue tahu lo pasti cemburu kan?" Tanya Bintang.
"Engga kok, apaan sih lo sok tahu banget."
Bintang mengalah, di situasi seperti ini Kaila tidak akan mengalah. Kalau diteruskan, mungkin akan menjadi pertengkaran serius.
Selesai makan, mereka bangkit dari duduknya. Arah mata Kaila menuju pintu cafe yang posisinya tak jauh dari dirinya berdiri. Matanya tiba-tiba melotot kaget, melihat Ayahnya berjalan dengan perempuan yang tidak dia kenali. Perempuan itu masih muda, mungkin sekitar dua puluh delapan tahunan. Bisa ditebak bahwa itu adalah selingkuhan Ayahnya.
"Kak, itu Ayah kak. Sama perempuan, gua harus samperin Dia." Ungkap Kaila, Dia mulai melangkah untuk menghampiri Ayahnya.
"Jangan Kai, jangan gegabah." Cegah Bintang, Ia memegang lengan Kaila dan menariknya untuk kembali ke posisi semula.
"Tapi Ayah tuh keterlaluan!"
__ADS_1
"Jangan kesana, biar aja. Kita pura-pura ngga tahu aja, toh hari ini Ibu ke pengadilan kan?" Cegah Bintang lagi, Dia tidak mau sampai Kaila maupun Ayahnya membuat keributan di tempat seramai ini.
Selesai makan mereka berdua segera pulang, tidak peduli dengan Ayahnya yang kini tengah menikmati makanan bersama pelakor itu.