
Hari ini osis mengadakan rapat hingga larut malam karena ada agenda untuk besok pagi. Rencananya tidak ada pembelajaran dari pagi sampai sore sebab acara kartinian di sekolah. Anak osis juga telah menyelesaikan dekorasi di gor sekolah, menghias panggung bertema kan R.A Kartini.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi jemputan Kaila belum datang juga. Ia merasa takut karena sendirian berada di pos satpam. Kurang lebih lima belas menit yang lalu, Dave menawarkan boncengan untuk Kaila, bukan semata-mata ingin menolong tapi juga modus. Tapi Kaila menolak, Dia memilih duduk sendiri menunggu jemputan dibandingkam harus pulang bersama Dave. Sebenarnya Dave tidak tega, tapi apalah daya karena Kaila sudah menolak.
Pukul sebelas lewat tiga menit, seseorang mengenakan motor datang di depan pintu gerbang. Kaila semakin takut dan gemetaran, keringat dingin keluar dari badannya. Ia melirik siapa orang yang datang, tentunya itu bukan Kakak Kaila. Kak Bintang pasti mengenakan mobil untuk menjemputnya.
Langkah kaki terdengar mendekat, semakin keras setelah orang itu masuk ke area sekolah dan melangkah mendekati Kaila. Kaila tak berani melihat siapa orang itu, dia takut dan memilih untuk menundukan diri. Dia panik karena ujung sepatu orang itu sudah terlihat di pandangan matanya. "Kai." Sapa orang itu.
Kaila menegakkan badan nya dan melihat pertolongan siapa yang datang, suara yang familiar di telinganya membuat dirinya berdiri dan tersenyum senang. "Ya ampun Rey, bikin kaget aja lu. Gue kira siapa, lo pasti mau nganterin gue pulang kan?" Tebak Kaila.
Reynand menatap Kaila asing, tidak seperti tatapan biasa yang dia keluarkan. Dia terlihat tidak suka dengan senyuman yang diulaskan Kaila. Hal itu membuat Kaila menghapus senyumnya dan melemas. "Gapapa kalo engga juga, sebentar lagi pasti Abang gua sampe."
Kaila kembali duduk, celinguk kanan dan celinguk kiri mencari keberadaan Kakaknya yang belum juga datang. Dia sudah memikirkan apa saja omongan yang akan dia keluarkan dari mulutnya untuk Kakak menyebalkannya itu. Reynand melihat Kaila melemas, Dia tetap berdiri tanpa obrolan apapun. "Ayo pulang." Ajak Reynand.
"Gapapa kok, gua nungguin Abang." Tolaknya, seolah kesal dengan tatapan Reynand tadi. Dia tidak menyukai tatapan itu, malahan Dia sebal.
"Udah malam, ayo pulang." Tanpa jawaban dari Kaila, Reynand menarik tangan kanan Kaila untuk berjalan ke motornya.
"Udah deh Rey, gua gapapa kok. Lagian emang Abang gue janji buat jemput gue." Kaila kembali celingukan mencari dimana Kakaknya sekarang.
"Dia ga bakal jemput." Ungkap Reynand.
"Ga mungkin, orang dia udah janji." Kaila masih membela dirinya, tidak mau kalah dari Reynand.
"Udah ayo pulang, Abang lo ga akan jemput. Tadi Dia ngechat gue suruh jemput lo di sekolah." Kaila menyipitkan matanya, tidak menyangka bahwa Kakaknya sekejam itu. Ia bertambah kesal, apalagi yang diperintahkan menjemput itu Reynand. Beberapa hari ini kan Dia sudah tidak ada komunikasi dengan Reynand.
"Tapi kenapa Abang gue ngechat elo? Terus kenapa Abang gue ga bisa jemput?" Tanya Kaila nerocos.
"Udah nanti gua ceritain di jalan, sekarang lo naik dulu." Pinta Reynand. Kaila akhirnya naik ke motor Reynand, Dia kurang suka jika Reynand memakai motor ninja karena kakinya pegal.
"Kak Bintang ada operasi dadakan, katanya sih penting banget. Kalo ngga gue yang jemput, ya siapa lagi. Ga mungkin kan nyokap lo atau bokap." Jelas Reynand ketika mereka sudah mulai berjalan.
Semilir angin membuat Kaila merasa ngatuk, apalagi hari ini Dia merasa sangat lelah karena harus mengurus ini itu yang tentunya kegiatan osis. Perlahan matanya terlelap, tertidur dalam pelukan hangat yang diberikannya pada Reynand. Reynand melirik dari kaca spionnya bahwa Kaila memang tertidur, jadi tidak masalah jika Kaila memeluknya.
Selama perjalanan, tak ada obrolan apapun. Tampak seperti Reynand mengemudikan motor sendirian. Sampai di rumah Kaila, Reynand mencoba membangunkan Kaila. Tapi susah sekali untuk bangun, jadi dia memutuskan untuk menggendongnya sampai di kamar. Ketukan pintu Reynand rupanya di sambut hangat oleh Ratna. "Ayo masuk, langsung bawa kamar aja gimana Rey?" Tanya Ratna.
"Iya gapapa Tan." Jawab Reynand.
Ratna mengantarkan Reynand yang menggendong Kaila ke kamar, Kaila pun tetap tertidur lelap tanpa sadar sedikit pun.
Setelah itu, Ratna dan Reynand keluar dari kamar Kaila, mereka sedikit berbincang. "Makasih ya Rey udah mau jemput." Ucap Ratna, sembari tersenyum ke arah Reynand.
"Iya Tante, sama-sama." Mereka mulai berjalan, dibarengi obrolan-obrolan kecil.
"Oh iya Tan, Om ga pernah keliatan?" Tanya Reynand, Dia belum mrngetahui kalau Ratna dan Efan sudah becerai.
"Om sama Tante udah cerai Rey, jadi Om yang keluar dari rumah." Ungkap Ratna.
"Maaf ya Tan, Aku ga tahu."
"Iya gapapa Rey."
Sampai di depan pintu rumah Reynand berpamitan, sebelumnya Ratna sudah menawarkan untuk duduk dulu dan menikmati makanan, tapi Reynand menolak sebab malam sudah larut. "Rey pamit ya Tante."
Reynand mencium punggung tangan Ratna, Ratna mengangguk dibarengi senyuman. Reynand mulai melangkah menjauh, sebelum sampai di motornya Ia mendapat pesan. Dengan segera Dia mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka pesan itu.
DAVE
Thanks lo mau jemput Kaila.
Iya sama-sama.
Sebelum Dave pulang dari sekolah, dirinya menghubungi Reynand untuk menjemput Kaila meskipun sebenarnya jika Dave tidak memintanya pun Reynand akan menjemput Kaila karena pinta dari Kak Bintang. Dave menunggu kedatangan Reynand sembari menjaga Kaila meski tidak berdekatan bahkan tidak saling pandang, Dia tidak mungkin meninggalkan Kaila sendirian di malam yang selarut itu. Walaupun jika di katakan Dave dan Reynand tidak pernah akur, Dave menurunkan gengsi dan ego nya agar Kaila bisa pulang dengan selamat.
Reynand mulai mengemudikan motornya, Dia mengantuk karena waktu menunjukan tengah malam. Udara yang menabraknya di jalan terasa dingin, hingga beberapa kali dia merapatkan jaketnya. Dia menyadari bahwa seharusnya Ia tidak pulang selarut ini, mungkin Mamanya akan marah ketika melihat dirinya mengendap-endap sebab terlalu larut.
Sampai di depan rumah, Reynand berjalan masuk dengan jantung yang berdetak kencang. Langahnya sengaja di pelankan agar tidak terdengar oleh Mama ataupun adiknya, Ia berharap kunci rumahnya tidak menggantung dibalik pintu. Reynand mencoba membuka pintu rumah miliknya, ternyata bisa. Dia selalu membawa kunci cadangan yang digabung dengan kunci motornya. Meskipun terkadang tidak bisa dibuka karena ada kunci lain yang menggantung dipintu.
Reynand membuka pintu, secara perlahan-lahan sampai tidak menciptakan suara sedikir pun. Dia melihat sekelilingnya, lampu ruang tamu sudah dimatikan. Nampak juga Mamanya sudah tertidur.
'Slap.'
Betapa kagetnya Reynand ketika lampu ruang tamu yang tiba-tiba menyala, Mamanya memergoki anak laki-laki yang berjalan mengendap-endap. Raut wajahnya terlihat kejam tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Mama kan udah bilang, kalo nongkrong jangan pulang malam-malam. Kemana kamu?" Tanya Mamanya.
"Abis jemput Kaila, Dia baru pulang Ma."
"Pulang dari mana?" Tanya Mamanya lagi.
"Sekolah, Dia kan anak osis. Terus besok ada acara di sekolah." Ungkap Reynand, raut wajah Mamanya seolah berganti. Tidak terlihat seram lagi seperti sebelumnya, Reynand sudah bisa tenang karena wajah Mamanya berubah.
"Mah, ternyata Mamanya Kaila sama Papanya udah cerai." Ucap Reynand sembari mendekati Mamanya.
"Cerai? Yang benar kamu?" Ndari terdengar kaget juga tidak percaya.
"Iya, sekarang udah pisah rumah."
Ditambah lagi dengan beberapa cerita Reynand tentang kedua orang tua Kaila, Dia kasihan terhadap Kaila. Yang dikhawatirkan hanya satu, yaitu mental Kaila. "Besok Mama mau kesana deh." Cetus Ndari secara tiba-tiba.
"Sabtu aja Ma, biar Aku bisa anterin." Ucap Reynand.
"Ya udah iya Sabtu."
•••
Hari ini hari kartini, semua siswa mengenakan kebaya dan baju adat untuk memperingatinya. Pukul tujuh lebih lima menit, semua anak berkumpul di lapangan sekolah untuk upacara bendera. Selesai itu, semua anak diminta untuk pergi ke gor. Dakorasi yang cukup bagus, cocok sekali dengan tema yang mereka angkat.
Pagi ini Kaila sibuk sekali karena menjadi sie. perlengkapan, semuanya diatur oleh nya sebab dirinya yang menjadi koordinator. Sudah puluhan kali dia berlari kesana kemari demi kelancaran acara, sejak dua hari lalu Dia dan teman-temannya sudah menyiapkan alat-alat yang mereka butuhkan.
"Duduk dulu Kai." Ucap Bagas, Ia melihat Kaila begitu kelelahan.
"Iya Gas."
Bagas mengambil kursi plastik yang tidak dipakai, mereka memantau acara yang berlangsung, jauh dari panggung. Kaila bersiap untuk duduk, dan akhirnya—
'Srett!'
Roknya nyaris sobek, terlebih lagi sobeknya di paha sebelah kiri. Kaila tidak mengerti apa yang membuat roknya sobek agak lebar. Pikirannya seolah berputar mencari solusi bagaimana dirinya menutupi rok yang sobek itu. Kebetulan Bagas tidak menengok ke arah Kaila, Ia sedikit tenang. "Gas, gue mau ke belakang dulu ya sebentar."
"Baru aja duduk Kai, lo emamg ga bisa diam." Ujar Bagas kesal.
Kaila menutupi bagian yang sobek itu dengan tangan kirinya, untung saja hanya ada beberapa anak osis yang berada di luar gor. Ditengah jalan dia bertemu salah satu kakak kelas osis, nyalimya seolah menciut karena takut ketahuan bahwa roknya robek, Dia malu.
"Eh Kai." Sapa anak itu.
"Iya kak." Jawab Kaila, wajahnya terlihat khawatir. Orang itu tetap berjalan tanpa memperhatikan Kaila lagi, Kaila pun kembali berjalan menuju toilet.
Reynand melihat wajah khawatir itu, dia bisa menebak apa yang sedang Kaila tutupi. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya, berjalan mengikuti kemana perginya Kaila sendirian. Hari ini Kaila terlihat cantik menurutnya, dengan rambut yang di ikat rapih. Nuansa kartini pada dirinya terlihat jelas.
Reynand mengikuti Kaila tanpa diketahuinya sedikit pun, sampai akhirnya Kaila hampor berbelok ke kamar mandi. Tangan Reynand mencekal tangan Kaila, menghentikannya sekejap. Kaila berhenti melangkah dan melihat siapa yang mencegahnya, Ia talut ada yang mengetahui roknya sobek.
"Kenapa?" Tanya Reynand.
Kaila menatap Reynand bingung.
"Ehm, engga. Kenapa lo disini?"
Reynand tak menjawab pertanyaan Kaila, Dia melepas kain batik yang ada di bawah bajunya sebagai hiasan dan memberikannya pada Kaila.
"Pake ini buat nutupin."
Kaila seolah mengernyit, bertanya-tanya dari mana Reynand tahu jika rok nya robek. Ia hanya diam, tak melakukan tindakan apapun.
"Kelamaan mikir, nih." Ucap Reynand sembari memberikan kain batik itu pada Kaila.
Tak menunggu lama, Kaila masuk kedalam kamar mandi, Reynand menunggunya diluar. Meskipun terlihat tidak cocok, tapi setidaknya kain itu bisa menutupi rok Kaila. Selesai memakainya, Kaila keluar kamar mandi dan melihat Reynand yang tetap berda di posisi semula. Kedua tangan Reynand didepan dada, badannya di sandarkan di dinding, dan kakinya menyilang seperti preman yang menunggu mangsanya.
"Lo ngapain masih disini?" Tanya Kaila.
"Bukannya makasih apa gimana, malah ngusir." Ketus Renand.
"Terima kasih Bapak Zikri Alby Reynand atas kain batiknya." Ucap Kaila dengan senyuman palsunya dan kembali ke wajah datar.
Kaila lalu berjalan kembali ke gor meninggalkan Reynand yang tengah tersenyum karena disanjung Kaila. Dirinya menengok ketika Kaila melangkah pergi, Ia berjalan cepat untuk menyusul kepergian Kaila.
"Ada syaratnya Kai." Kata Reynand.
__ADS_1
"Syarat apaan sih?"
"Lo ada dendam apa sih Kai sama gue, dari kemarin jutek banget." Adu Reynand srbab perlakuan Kaila sejak kemarin malam terdengar masam ditelinganya. Tidak seperti Kaila biasanya yang lembut dan ramah.
"Menurut lo?"
Kaila tetap berjalan semakin cepat, sedangkan Reynand berhenti. Ia berpikir apa kesalahan yang sudah diperbuatnya sebelum ini, rasanya tak ada kesalahan apapun. Lagi pula beberapa hari sebelum ini Reynand jarang sekali bertemu dengan Kaila. Reynand kembali berjalan menyusul Kaila.
"Emang salah gue apa Kai? Perasaan gue ga pernah ngapa-ngapain." Tanya Reynand, semakin penasaran.
"Udah ga usah dibahas, syaratnya apa?"
"Traktir gue di cafe biasa, abis pulang sekolah."
Ungkap Reynand.
"Ga bisa gue sibuk." Ucap Kaila masih dengan nada judesnya.
"Oh gitu, siniin kain batiknya."
Kaila berhenti, Ia menatap Reynand. "Ya udah iya, tuan Reynand. Nanti sore ya." Katanya dengan senyuman palsu lagi, Dia kembali berjalan meninggalkan Reynand.
Kaila dan Reynand kembali ke posisi mereka semula, mengikuti acara ini sampai selesai.
REYNAND
Nanti sore gua tunggu di parkiran biasa ya.
Mundur sepuluh menit, gue mau bantuin anak osis sebentar.
Oke.
Selesai acara, Kaila membantu anak osis membersihkan gor sekolah. Meskipun tidak membantu mereka sampai selesai, setidaknya Ia bisa membantunya sedikit. Reynand dudum bersama Bimo dan beberapa teman kelas dua belasnya di kantin. Sembari menunggu Kaila selesai beberes.
"Bu, saya mau numpang ngecas." Ucap Reynand, setelah melihat baterai ponselnya hanya lima persen.
"Listriknya mati Mas dari tadi." Sahut Bu kantin dari balik gerobak.
"Oh gitu, oke Bu."
"Sumpah sih, dia tuh lucu. Gemes banget, jadi pengin pacarin." Kata Maul membicarakan anak kelas sebelas yang wajahnya masih imut-imut.
"Iya sih, cantik juga. Polos banget kanyanya Dia." Ungkap Dito.
Dara berjalan mendekati Reynand, memegang pundak Reynand yang kini tengah duduk. Reynand menengok, Dia tebak itu Kaila karena kini yang ditunggunya Kaila.
"Kak Alby." Sapa Dara.
"Eh udah Kai?" Tanya Reynand yang mengira itu Kaila.
Raut muka Dara melesu, merasa sedih karena Reynand menyebut nama Kaila didepannya.
"Anterin Aku pulang bisa ngga kak?" Tanya Dara.
Reynand memutar bola matanya, Dia bingung harus berbuat apa. Sebentar lagi pasti Kaila pergi ke parkiran. Reynand menatap Dara yang memberikan muka berharap, menurutnya kesempatan ini juga sayang untuk dilewatkan. Sebab Dara adalah sosok yang pendiam dan polos, untuk pertama kalinya Dara meminta pertolongan pada Reynand.
"Gass Rey." Cetus Maul.
Reynand tersenyum, "Ya udah ayo."
Reynand dan Dara mulai berjalan pulang, sedangkan Kaila direpotkan dengan beberapa perintah dari ketua osis. Ini sudah lebih dari sepuluh menit, tapi dirinya belum juga pergi. Setelah selesai beberes, Kaila bergegas pergi ke parkiran untuk menemui Reynand. Ia tidak melihat Reynand sama sekali, parkiran sangat sepi. Hanya ada beberapa motor tanpa penghuninya. Kaila memutuskan untuk menunggu Reynand, sampai lima belas menit.
Sudah lima belas menit terlampaui Reynand belum datang juga. Dirinya geram karena sudah cukup lelah ditambah lagi harus menunggu Reynand selama itu. Kaila lalu berjalan menuju pintu gerbang untuk pulang, Ia bertemu dengan Bimo dan Maul yang juga tengah berjalan keluar sekolah.
"Bim, lo liat Reynand?" Tanya Kaila pada Bimo.
"Dia lagi pergi sama adik kelas." Sahut Maul, lupa dengan nama yang sering di sebut Reynand.
"Iya Kai, lagi pergi sama Dara." Ungkap Bimo melengkapi.
"Oh gitu, ya udah makasih ya." Ucap Kaila.
Kaila begitu kesal dengan Reynand, kalau tahu begitu pasti Kaila sudah pulang sejak tadi. Tidak perlu membuang-buang waktu untuk menunggu, lebih baik rebahan di rumah. Kaila mengibas-ibaskan tangannya memberi tanda pada angkot biru menuju rumahnya agar berhenti. Angkot itu berhenti juga, dia segera menaiki nya dan pulang ke rumah.
__ADS_1