
Amelia melangkah dengan wajah judesnya, mengarah kepada seorang gadis yang kini berdiri kaku dan muka menunduk. Tatapannya tajam, membuat beberapa orang melihat kearahnya. Ia tidak berjalan sendirian, melainkan bersama kedua sahabat yang berjalan dibelakangnya. Gadis yang menjadi sasarannya terlihat takut, degupan jantungnya seakan terdengar sampai telinga.
"Lo Dara kan? Temennya Reynand?" Tanya Amelia.
"Iya Kak." Jawab Dara gugup.
"Ikut gue sekarang." Pinta Amelia sembari mengangkat dagu Dara agar mukanya lebih tegak.
Tak mau mencari masalah, Dara menuruti perkataan Amelia. Yang ada di pikirannya kini, apa salahnya sampai-sampai Amelia meminta dirinya untuk ikut dengan nya. Pasalnya memang Amelia seolah menjadi ratu dalam sekolahan itu, jarang sekali orang yang berani melawan Amelia.
Amelia mengajak Dara pergi ke belakang sekolah, mencari tempat sepi agar tak ada orang yang dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Ga usah takut, gue ngga akan ngapa-ngapain lo kok." Ucap Amelia, menenangkan.
Dara masih saja menunduk takut.
"Gue tahu lo ada rasa sama Reynand, gue juga tahu kalo Reynand ada rasa sama lu. Sekarang yang jadi penghalang ya cuma anak sok kegatelan itu, Kaila." Ungkap Amelia, membuat Dara merasa terbang setelah tahu Reynand ada rasa padanya.
"Gue akan bantu lo biar bisa dapatin Reynand sepenuhnya, tanpa Kaila."
Awalnya Dara merasa takut, juga tidak percaya bahwa Amelia akan membantunya. Ia juga takut jika Reynand mengetahui hal ini.
"Ga usah takut, ada gue." Ucap Amelia.
Dara tersenyum, menggambarkan bahwa dirinya setuju dan senang atas bantuan yang akan diberikan Amelia. Ia merasa beruntung karena ada yang membantunya, meskipun dirinya tidak mengerti apa alasan Amelia membantunya.
•••
Pukul lima sore, Kaila sampai kerumahnya. Reynand langsung berpamitan, sepertinya cukup lelah karena seharian ini berjalan-jalan bersama Kaila. Dengan langkah yang sudah lelah dan lemas, Kaila menaiki tangga untuk sampai di kamarnya. Perlahan pintu kamarnya dibuka, badannya rindu dengan kasur.
Tatapannya mengarah pada seseorang yang kini rebahan di kasurnya.
"Bagus, cabut aja terus." Ucap Kak Bintang ketika adiknya datang.
Kaila tersenyum mendengar ucapan Kakaknya, Ia sempat bingung kenapa Kakanya tahu.
"Kemana lo tadi pagi?" Tanya Kak Bintang.
"Tadi kan hujan sampai jam sepuluh, terus gue neduh di pinggir jalan. Ya udah gue sekalian cabut aja, udah nanggung juga." Jawab Kaila, dibarengi dengan gerakannya menaruh tas diatas meja belajar. Setelah itu duduk di kursi, bersiap mendengarkan setiap kata-kata Kakanya.
"Untung yang masuk grup orang tua wali gue, coba kalo Mama. Sampai rumah bisa ditumis lo." Ujar Kak Bintang.
"Kalo sekali-kali gapapa, tapi jangan diulangin lagi. Sekarang buatin gue nasi goreng." Pinta Kak Bintang, memanfaatkan situasi agar dirinya bisa memakan nasi goreng. Sebenarnya dengan mudah Ia bisa meminta Ibunya untuk memasaknya, tapi nuraninya tidak tega.
"Kok gue? Gue capek Kak, baru aja pulang udah di perintah aja." Gerutu Kaila, tidak terima karena perlakuan Kakanya.
"Oh ga mau ya? Bu ini Kaila tadi—" Ucapannya di potong, Kaila memilih bangkir daripada harus menghadapi Ibunya yang siap kapan saja menceramahinya.
"Iya-iya!" Potong Kaila agar Bintang tutup mulut.
Kaila melangkah cepat ke dapur, masih mengenakan baju seragam. Sebenarnya malas sekali memasak untuk Kakak yang ping menyebalkan itu, tapi apa boleh buat. Kalau saja Kakaknya mengadu, bisa jadi setelah ini Kaila dicincang.
"Kai, mau apa?" Tanya Ratna.
"Mau buat nasi goreng buat Kak Bintang." Jawab Kaila.
"Udah biar ibu aja yang buat, kamu duduk aja." Pertolongan yang menarik menurut Kaila.
"Ya udah Bu, makasih ya."
Kaila duduk di meja makan yang tak jauh dari dapur, hanya berharak sekitar dua meter dari ibunya memasak.
"Pulangnya sore, dari mana Kai?" Tanya Ibunya, sempat membuat Kaila menelan ludah karena takut ketahuan.
"Ibu aneh ya kalo manggilnya 'Kai' biasanya kan panggilnya 'Ila'." Jeda Kaila, sebelum menjawab pertanyaan dari Ibunya.
"Tadi abis pulang sekolah Kaila diajak ke warung yang biasanya tempat nongkrong Reynand, lokasinya ga jauh dari sekolah. Yang punya namanya Kang Dodit, baik dan ramah sih Bu orangnya. Waktu Kaila kesana aja, Kang Dodit langsung nyapa Kaila. Kang Dodit taunya, Kaila pacarnya Reynand, padahal kan bukan." Ungkap Kaila, menceritakan kejadian yang terjadi hari ini. Kebiasannya untuk terbuka pada Ibunya, membuatnya tidak ada jarak dan seperti temab sendiri ketika bersama Ibunya.
"Sebentar lagi juga jadi pacar." Ujar Ibunya, meledek anak perempuannya.
"Engga Bu, Reynand itu naksir cewe tapi bukan Aku."
"Di warungnya Kang Dodit ini, tempatnya masih asri Bu. Masih banyak pohon, jadi bawaannya seger pas diliat. Kalo disana, Ila jadi kangen Semarang." Lanjut Kaila, meneruskan ceritanya yang tadi belum selesai.
"Warung nya dipinggir jalan?" Tanya Ratna.
"Iya, tapi masuk gang. Gang nya juga engga sempit, agak lebar kaya jalan di komplek kita."
Ratna mengangguk mengerti, Ia selalu mendengarkan cerita anaknya mengenai apapun yang sudah dilalui seharian.
"Ini nasi gorengnya udah matang, kasih ke Kakak kamu nih." Ucap Ratna sembari memberikan sepiring nasi goreng pada Kaila.
"Oke Bu, makasih ya."
Kaila lalu naik ke kamarnya, memberikan nasi goreng pada Bintang. Bintang tersenyum senang karena nasi goreng pesananya sudah datang, setidaknya Kaila merasa beruntung sebab Ibunya menolong.
•••
Fifi dan Kaila melangkah cepat ketika mereka bertemu dengan seorang cowok yang tengah mengejarnya. Fifi sebenarnya tidak mau mengikuti langkah Kaila yang besar-besar, tapi kalau tidak pasti Dia ditinggal.
Langkah Dave mulai melambat, seolah mengikhlaskan jika Kaila tidak mau bertemu dengannya. Amelia menyusul Dave, melihat aksi Kaila yang menghindar. Dirinya tersenyum licik, senang karena keduanya tidak bertemu.
"Masih aja ngejar-ngejar." Ketus Amelia, berdiri disamping Dave.
"Lo terlalu fokus sama Kaila Dave, sampe lo ngga sadar kalo ada perempuan yang lima tahun nungguin lo." Lanjut Amelia.
Dave menengok ke arah Amelia, mencerna setiap kata-kata Amel. Dia memang tidak sadar bahwa ada perempuan setia yang menunggunya.
"Maaf Mel, tapi gue belum bisa." Ucap Dave setelahnya, Ia lalu pergi.
"Gue tahu ini cape, tapi gue yakin suatu saat lo akan ngeliat gue Dave. Lo akan tahu gue selalu ada disini buat lo." Katanya sembari melihat punggung Dave yang mulai samar.
__ADS_1
Amelia berjalan ke kantin, tidak seperti biasanya dirinya berjalan sendiri. Kedua temannya memang sengaja tidak mengikuti Amelia, sebab tujuan pertamanya adalah bertemu dengan Dave. Siang ini kantin begitu ramai, wajar saja banyak anak-anak yang mengeluh kepanasan.
Matanya tertuju ke pojok kantin, Reynand dan teman-temanya duduk sembari menikmati es teh. Sedangkan di pojok satunya, Kaila dan Dave nampaknya berdebat. Memperselisihkan masalah yang sama, masalah yang seharusnya sudah tidak dibahas lagi.
"Kai lo dengerin gue dulu." Cegah Dave pada Kaila.
"Apa lagi Dave? Ada yang harus dibahas? Gue rasa semuanya udah cukup. Lo selalu ngebahas sesuatu yang seharusnya udah ga pernah diungkit lagi." Ucap Kaila.
"Tapi sejarang gue udah berubah Kai, gue ga kaya dulu. Tolong kasih gue kesempatan buat nebus kesalahan gue." Ungkap Dave.
Kaila berdecik, dirinya sudah geram dengan perbincangan tidak penting ini. Matanya berputar, sudah muak melihat Dave yang selalu memohon-mohon.
"Gue udah maafin lo, tapi gue ga bisa kaya dulu lagi. Sekarang udah punya kehidupan yang baru, jadi please jangan ganggu gue lagi. Masalah gue udah terlalu banyak, kalo lo datang ke kehidupan gue lagi, gue semakin pusing sama masalah-masalah gue." Jelas Kaila.
"Izinin gue buat ngeringanin masalah lo, kita pecahin masalah kita sama-sama." Dave masih mengelak, perdebatan itu belum berhenti ketika Amelia mendekat.
"Jangan jadi pelangi buat gue yang buta warna, jadi pelangi buat perempuan yang selalu ada buat lo. Gue ngga mau lo nyesel ketika Kak Amel pergi, penantiannya udah terlalu lama. Kalo gue jadi dia, pasti gue pergi Dave." Kaila berjalan pergi, sudah cukup berbicara dengan orang yang tidak akan mengerti perasaannya.
Amelia melihat Kaila pergi, merasa tidak menyangka jika Kaila sebaik itu pada dirinya.
"Semoga suatu saat lo akan sadar, bahwa ada telinga gue yang selalu ada buat dengerin cerita lo dan ada pundak gue yang selalu ada kalo lo butuh sandaran." Ucap Amelia, lalu pergi meinggalkan Dave yang masih berdiri kaku.
Mendengar ucapan Amelia, Dave nerasa bahwa dirinya orang yang sangat jahat. Pemikirannya hanya tertuju pada Kaila, sampai-sampai orang yang selalu ada untuknya tidak pernah terlihat sama sekali.
Reynand melihat perdebatan ketiga orang yang baru selesai, Ia tak tahu apa yang telah dibicarakan. Tapi dirinya bisa menyimpulkan bahwa ada cinta segitiga diantara mereka. Semua pihak akan tersakiti dalam situasi ini.
"Hai Kak." Sapa Dara, cukup mengagetkan Reynand.
"Eh Dar. Kenapa sayang?" Tanya Reynand, membuat Dara melotot dan pipinya memerah.
"Ih apaan sih Kak, malu tuh ada teman-teman." Ujar Dara, padahal sebenarnya dia senang.
"Biarin. Oh iya ada apa?"
"Ini Aku udah bawain nasi goreng yang kemarin ga jadi, tadi pagi aku buat lagi." Ucap Dara, tangannya menyodorkan kotak makan berisi nasi goreng buatannya.
Reynand menerima kotak makan itu, sudah tidak sabar ingin mencoba nasi gorengnya.
"Makasih ya."
Reynand membuka kotak makan yang diberikan Dara, wangi nasi gorengnya langsung tercium. Dara duduk disamping Reynand, berniat menemaninya memakan nasi goreng.
"Enak ga?" Tanya Dara, saat suapan pertama telah selesai ditelan.
"Enak banget." Jawab Reynand.
Dara tersenyum senang, Reynand memakannya lagi.
"Barusan Kak Kai nemuin Kak Alby?" Tanya Dara.
Reynand menengok ke arah Dara, "Engga. Kenapa?"
"Gapapa, barusan Aku ketemu."
"Hah? Engga, cuma tanya aja."
•••
Kaila melangkah lemas menuju kedalam rumahnya, matanya tertuju pada koper berwarna pink di samping tangga. Arah pandangannya melihat Ibu yang sudah mengenakan baju rapih dan tas.
"Bu, mau kemana?" Tanya Kaila spontan.
"Mau ke Semarang, nenek sakit." Jawab Ratna.
Kaila melihat adiknya yang sudah bersiap juga, Ia bergegas menuju kamarnya untuk bersiap. Sebelum dirinya ditinggal.
"Mau kemana Kai?" Tanya Ratna.
"Mau ke kamar Bu, ganti baju. Tungguin ya, Aku cuma sebentar kok."
"Kamu ngga usah ikut, di Jakarta aja sama Kakak." Ucap Ratna, mencegah Kaila berganti baju.
"Loh Aku ga ikut? Aku ikut Bu, Aku kan kangen juga sama Nenek."
"Sekolah kamu gimana? Udah kamu di sini aja, biar Ibu sama Adek aja."
Kaila akhirnya pasrah, kalau pun melawan Ibunya pasti akan kalah. Lagi pula satu hari kemarin Kaila sudah tidak berangkat, jika besok dirinya izin pasti akan tertinggal pelajaran.
Setelah Ibunya pergi, suasana rumah jadi sepi sekali. Hanya ada detikan jam yang membuat dirinya takut. Kaila lalu duduk di bibir ranjang dan membuka ponselnya. Ponselnya diangkat ketelinga.
"Halo Kak."
^^^"Halo."^^^
"Dimana?"
^^^"Kencan." ^^^
"Lo pulang jam berapa?"
^^^"Jam lima." ^^^
"Udah tahu kalo Ibu pergi?"
^^^"Udah." ^^^
"Nanti malem lo ga ke rumah sakit kan?"
^^^"Gue ada jadwal operasi nanti,^^^
^^^pasti ke rumah sakit." ^^^
__ADS_1
"Terus gue sama siapa dirumah?"
^^^"Ya sendiri lah, ^^^
^^^masa iya ikut gue ke RS." ^^^
"Gue takut."
^^^"Ga ada apa-apa juga." ^^^
Kaila merasa kesal pada Kakaknya, seperti tidak serius menanggapi omongannya. Hingga matahari terbenam, Kakaknya baru pulang. Ia langsung berganti baju dan berangkat ke rumah sakit. Terkadang Kaila bingung dengan Kakaknya sendiri, serius dan bergurau nada bicaranya sama saja.
"Lo beneran mau berangkat?" Tanya Kaila meyakinkan.
"Iyalah, lo kira gue cuma pura-pura?" Sahut Bintang sembari mencari kunci mobil.
"Ya tapi gue di rumah sendiri loh Kak, masa lo mau ninggalin gue."
"Ga ada apa-apa, udah dibilang juga jangan takut. Udah ah gue mau berangkat." Pamit Kakaknya ketika kunci mobil sudah ditangannya.
Bintang mulai berjalan, Kaila yang saat itu kebingungan akhirnya mengunci pintu depan dan berjalan ke kamar. Di kamar, Kaila hanya bermain handphone dan menonton film, sembari terkadang mendengar suara-suara yang di timbulkan cicak ataupun kulkas.
Pukul sembilan malam, Kaila belum bisa tidur. Ia berniat untuk pergi ke rumah Fifi, tapi Dia takut kalau rumahnya ditinggal tanpa penghuni.
Kaila membuka jendela kamarnya, melihat indahnya bulan sabit malam ini. Ia menghembuskan napas perlahan, mengurangi rasa tegang dan takutnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada telepon.
"Halo."
^^^"Lagi apa?" ^^^
"Lagi berdiri."
^^^"Berdiri?" ^^^
"Iya berdiri, lagi ngeliatin bulan.
Lagi dimana sih?"
^^^"Di rumah, bising ya?^^^
^^^Mama kalo nyalain tv emang gitu, keras." ^^^
"Gue kirain lagi di jalan."
^^^"Engga." ^^^
Kaila masih melanjutkan telepon nya bersama Reynand, terkadang tertawa karena cerita Reynand. Tiba-tiba lampu kamarnya mati, membuat dirinya kaget dan bertambah takut. Ia juga melihat lampu milik tetangga-tetangganya yang juga mati.
"Eh. Kok lampunya mati,
lah kok mati sih."
^^^"Kenapa?" ^^^
"Lampunya mati,
kayanya pemadaman deh.
Haduh, ada-ada aja sih."
^^^"Ambil lilin dulu." ^^^
"Ga berani ke bawah,
gue di rumah sendirian."
^^^"Sendiri? Nyokap?" ^^^
"Ke Semarang,
Abang ke rs."
Tak mengabari apa-apa, Reynand mematikan teleponnya. Kaila merasa sangat takut, matanya tak bisa melihat apa-apa. Bulu kuduknya berdiri, detak jantungnya cepat tanpa aturan. Kaila lalu berjalan perlahan sembari meraba-raba, Ia berbaring diranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tak lama seteleh itu, terdengar suara motor dari bawah. Kaila bertambah takut, takut ada orang jahat yang masuk ke rumahnya. Tangan Kaila memcengkram selimut lebih kencang lagi, hingga ponselnya berbunyi.
Kaila melihat siapa penelponnya, lalu memgangkat telepon itu.
^^^"Kai, lo keluar." ^^^
"Hah? Ngapain? Gue takut."
^^^"Udah keluar aja, ada gue." ^^^
"Ya udah iya."
Kaila membuka selimutnya dan berjalan menuju ke bawah dengan telepon yang belum juga dimatikan. Langkahnya samar-samar, takut kalau sampai Reynand tidak serius.
Pintunya dibuka, dan benar saja ada Reynand didepan pintu. Dengan senyumannya yang terlukis.
"Kok ada lo?" Tanya Kaila.
"Iya gue tau lo takut sendirian, makanya gue kesini." Jawab Reynand.
"Sekarang gue tambah takut, takut lo macem-macem."
"Emang."
"Awas aja sampe beneran macem-macem gue tendang lo." Ucap Kaila, meskipun Ia mengatakan itu, tapi sebenarnya dirinya percaya Reynand tidak akan melakukan hal-hal bodoh pada Kaila.
"Gue telepon Maul sama Bimo dulu, biar kita ga cuma berdua."
__ADS_1
"Gue juga mau telepon Fifi sama Dani."