Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
17. Friendzone


__ADS_3

Sembari menunggu teman-teman dari mereka datang, Reynand mengumpulkan kayu-kayu kering dan membuat api unggun kecil-kecilan. Supaya ada penerangan dan juga kehangatan. Mereka berada di taman, Kaila duduk melihat Reynand yang bersusah payah menyalakan api dengan koreknya. Kaila benar-benar melihat pengorbanan dari seorang Reynand, hal-hal kecil seperti inilah yang membuat dirinya memberikan ruang di hatinya untuk Reynand.


"Nah nyala." Ucap Reynand senang, Ia lalu duduk di samping Kaila. Melihat api yang mulai menyala.


"Sorry gue jadi ngerepotin lo lagi." Kata Kaila.


"Engga, namanya juga makhluk sosial."


Kaila tersenyum palsu, dalam benaknya Dia merasa sedih. Di hati Reynand, Kaila hanya sosok teman perempuannya tanpa ada kata spesial.


"Oh iya, gue mau nembak Dara."  Ucap Reynand.


Kaila sontak menengok, Ia tidak percaya secepat ini Reynand menembak Dara. Senyum palsu nya kembali terlukis, saat ini dia mulai sadar bahwa tersenyum palsu rupanya sulit. "Gue percaya Dara pasti nerima lo."


"Semoga ya Kai."


"Yah, bakalan sepi dong kalo ngga ada lo." Keluh Kaila.


"Sepi kenapa? Gue kan disini." Tanya Reynand masih belum mengerti.


"Ya kan lo sama Dara, pasti ngga akan main lagi sama Gue." Jawab Kaila.


"Kenapa? Gue bakalan tetap kaya gini kok, main sama lo." Reynand belum mengerti juga, Dia menatap Kaila yang matanya berkaca-kaca.


"Cewe itu ngga suka kalo pacarnya deket sama temen cewe lain." Ucap Kaila, matanya berkaca-kaca namun bisa ditahan. Syukur saja hanya ada nyala api sebagai penerangnya jadi matanya tidak terlihat berkaca-kaca.


"Gue ga suka punya pacar yang terlalu ngekang, posesif boleh tapi jangan terlalu." Reynand menatap Kaila, memperhatikan mata Kaila yang mulai memerah.


"Mata lo kenapa?" Tanya Reynand.


Kaila mengalihkan pandangannya yang semula menatap Reynand, kini menghindar dari Reynand. "Ini kena asap, jadi agak pedes."


Kaila mengusap matanya, agar Reynand percaya bahwa matanya hanya terkena asap api unggun. Tak lama Fifi dan Dani datang, begitu pula Maul dan teman-temannya. Mereka membawa beberapa makanan supaya malam ini bisa lebih seru.


"Lo bawa makanan?" Tanya Kaila pada Fifi yang memegang satu kresek snack.


Fifi mengangguk, ia meletakkan kresek putih itu di depannya.


"Main truth or dare yuk." Ajak Dani.


"Boleh tuh kayaknya." Sahut Dito.


Mereka duduk melingkar di samping api unggun yang masih menyala terang, mencari aplikasi yang bisa digunakan untuk bermain truth or dare.


"Ini gue nemu." Cetus Bimo, sembari mempertontonkan aplikasi yang baru dia dapat.


Truth or dare di mulai, dengan sasaran pertama yaitu Dito. Mukanya nampak gelisah sebab takut ditanyai ataupun di minta melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Badannya jadi panas dingin, senyumnya menjadi kaku.


"Truth or dare." Ucap Bimo.


"Truth." Jawab Dito.


"Gue punya pertanyaan bagus, udah berapa kali lo masuk BK?" Tanya Maul, tak harus ditanya sebenarnya karena setiap Dito masuk BK Maul pun ikut terseret. Semuanya terkekh pelan dengan pertanyaan yang di lontarkan Maul.


"Pertanyaan lo kaya orang yang suci aje, kalo gue masuk BK kan lo juga ikut. Lebih dari sepuluh kali kayanya." Respon Dito sembari tersenyum.


"Bosen ga tuh sepuluh kali masuk BK?" Tanya Bimo.


"BK udah kaya rumah gue Bim, kemana pun gue pergi pasti selalu pulang ke BK."


Kali ini semuanya tertawa, muka Dito yang biasa saja tanpa rasa menyesal membuat lelucon itu seolah tercipta. Dilanjutkan bermain truth or dare, kini giliran Fifi.


"Truth or dare."


"Dare." Jawab Fifi.


"Chat Pak Cipto, terus panggil dia 'Sayang'." Cetus Dito, Pak Cipto itu tukang kebon di sekolah yang belum beristri walaupun umurnya mendekati tiga puluh lima.


"Gila lo Kak, ga mau gue." Tolak Fifi.


"Harus mau, ayo buruan."


Dengan tepaksa Fifi menghubungi Pak Cipto, memanggil Pak Cipto dengan sebutan 'Sayang' sontak semuanya tertawa di tengah malam gelap. Permainan ini tak membuat mereka lupa dengan snack yang di bawa Fifi, apalagi Bimo.

__ADS_1


"Udah." Ucap Fifi sembari menuduhkan layar ponselnya pada semua anak.


"Lanjut ya, Kaila elo Kai." Ungkap Bimo.


"Truth or dare."


"Truth." Kaila terlalu takut dengan tantangan, maka dari itu dia lebih memilih pertanyaan.


"Apa penyesalan lo selama hidup?" Tanya Fifi.


"Penyesalan gue.. Terlalu mementingkan kebahagiaan orang dibanding kebahagiaan gue sendiri." Jawab Fifi, semua orang terdiam tanpa kata, merasa iba pada Kaila yang seolah terus menerus diterpa masalah. Niat Fifi menanyakan hal itu memang agar Kaila dapat bercerita, dan semoga dengan dirinya bercerita bisa meringankan beban di hidupnya.


"Lo bilang lo nyesel, tapi saat ini lo masih ngelakuin hal yang sama." Ujar Fifi, sontak membuat Kaila diam tanpa senyumannya. Pernyataan itu seperti panah yang bisa menembus hati Kaila.


"Lo orang yang terlalu baik Kai." Kini Dani, sedari tadi dia diam dan saat ini Ia berani berbicara. Terkadang Dani geram pada Kaila yang selalu mengedepankan orang lain dibanding dirinya sendiri.


"Gini Kai, baik boleh tapi goblok jangan." Maul angkat bicara, ia mengetahui jika Kaila orang yang sangat baik. Gaya berbicaranya saja sudah terlihat, bahkan hanya perhatian kecil Kaila saja sudah bisa membuat beberapa orang ingin dekat dengan Kaila, termasuk Maul. Dekat disini bukan tentang cinta, tapi sebatas sahabat yang ingin tahu Kaila lebih dalam.


Disituasi ini Kaila merasa di pojokkan, mungkin ini hanya sebatas nasehat. Tapi rasanya disini Dia yang bersalah, Ia menunduk tak berani mengangkat kepala sebelum semuanya berhenti berbicara. Reynand melihat Kaila iba, Ia mengelus punggung Kaila.


"Ya udah yuk lanjut." Ajak Dani, mereka bermain truth or dare sampai pukul sepuluh malam.  Kini Kaila duduk di bangku taman bersama Reynand, sedangkan yang lain duduk didekat api unggun. Kaila mengambil gitar dari dalam rumahnya, lalu Reynand yang memainkan. Bernyanyi bersama sampai Kaila melupakan ucapan Reynand yang ingin mengutarakan isi hatinya pada Dara.


"Anaknya Sule punya lagu baru, kemarin gue ngga sengaja dengar waktu jalan di mall. Kayanya bagus, coba dengerin di youtub." Ucap Reynand, Kaila lalu membuka ponselnya dan mencari lagu yang dimaksud Reynand.


Lagu itu mulai di putar, keduanya memperhatikan videonya benar-benar.


...Putri Delina - Menahan Rasa Sakit...


...Ku akan s'lalu ada untukmu...


...Walau kau bersama dengannya...


...Aku 'kan menahan rasa sakit ini...


...Ku akan s'lalu ada untukmu...


...Walau kau bersama dengannya...


...Ku bahagia melihat kau bahagia...


Kaila memperhatikan liriknya benar-benar, lagu yang menunjukan dirinya. Mengilustrasikan kisahnya dengan kisah Reynand. Terjebak dalam friendzone memang sulit, selalu ada namun bukan siapa-siapa.


Kaila berjanji pada dirinya sendiri, bahwa setiap Reynand membutuhkannya dia akan selalu ada. Itu bentuk rasa cintanya, meski tak dapat diutarakan.


"Bagus lagunya." Ucap Kaila.


"Iya kan." Sahut Reynand.


Tak ada yang menyangka bahwa perasaan Kaila melukai dirinya sendiri, tak ada yang menyangka juga bahwa pertemuannya bersama Reynand membuat hidupnya semakin rumit.


Sampai pukul setengah dua belas malam, lampu rumah Kaila sudah menyala. Dani dan Fifi akan menginap di rumah Kaila karena mereka kasihan, Reynand dan teman-temannya pun pulang. Kini suasananya menjadi sepi, Kaila terbayang-bayang kata-kata Reynand yang hendak menembak Dara. Dirinya juga terbayang seberapa manis perlakukan Reynand padanya.


"Mikirin apa Kai? Reynand?" Tanya Fifi yang kini duduk di meja belajar Kaila.


"Engga Fi." Jawab Kaila.


"Kadang gue ga habis pikir sama Reynand, ada ya orang yang ngga sepeka itu. Kaila yang ngebantuin berdiri, tapi yang diajak jalan malah perempuan lain." Ucap Dani geram.


"Gapapa, namanya juga orang kan ga tahu perasaan orang lainnya." Kata Kaila menenangkan teman-temannya yang nampak emosi.


"Itu lo Kai, pasti selalu bisa cari sisi positif dari setiap masalah." Ujar Fifi sembari menunjuk Kaila dengan jari telunjuknya.


•••


Pagi hari rupanya sudah datang, Kaila dan teman-temannya masih bermalas-malasan meskipun jam sudah menunjukan pukul enam. Ketiganya sama, selalu membutuhkan sosok ibu untuk membangunkannya. Kaila membuka layar ponselnya, melihat jam lalu bagun dari posisi tidurnya.


Kaila berjalan menuju ke bawah, melihat apakah Kakaknya sudah kembali dari rumah sakit. Tapi nyatanya belum, maka dari itu Kaila membuat beberapa sarapan untuk teman-temannya. Tidak terlalu rumit, hanya roti tawar. Setelah itu, Kaila kembali ke kamarnya untuk mandi.


Selesai mandi, Kaila membangunkan kedua temannya. Dengan susah payah akhirnya Fifi dan Dani bangun lalu mandi. Tak lama mereka turun dan menikmati roti buatan Kaila tadi.


Pukul enam empat lima, ketiga anak itu berangkat ke sekolah. Untung saja sampai di sekolah pintu gerbang belum ditutup.


"Kok lo pucat si Kai? Ga pake lipbalm?" Tanya Fifi ketika sampai di kelas.

__ADS_1


"Pake, gue gapapa kok." Jawab Kaila, didirnya berbohong. Sejak pagi tadi kepalanya pusing, mungkin karena terlalu lama di luar ruangan semalam. Dari malam Kaila juga tidak makan nasi sama sekali, yah seperti itulah Kaila. Dia sadar bahwa dalam tubuhnya ada penyakit tifus dan magh, tapi sering sekali lalai dalam persoalan makan.


Sampai akhirnya pulang sekolah, Kaila berpisah dengan kedua sahabatnya. Amat banyak terima kasih yang Kaila ucapkan kepada mereka, kalau saja tidak ada mereka pasti Kaila sudah takut sendirian. Dia berjalan lemas menuju gerbang sekolah, wajahnya masih pucat, kepalanya pusing, dan perutnya mual. Problema Kaila pasti selalu ada di perut.


"Lemes banget si." Tegur Reynand yang menyusul Kaila. Kaila hanya tersenyum, tak ada respon sama sekali. Bukan berarti marah, hanya saja sedang malas angkat suara.


"Mau gue anterin?" Tanya Reynand.


"Engga, gapapa ga usah."


Mata mereka kini tertuju pada perempuan yang duduk menunggu jemputan, duduk sendirian dan tengah melihat keadaan sekitar. Reynand sontak semangat dengan adanya orang itu dipandangannya.


"Ada Dara, samperin gih." Ucap Kaila.


"Gapapa?" Tanya Reynand meyakinkan.


Kaila mengangguk.


"Lo yakin ga mau gue anterin?" Tanya Reynand lagi.


"Iya, lo anterin Dara aja." Jawab Kaila tenang.


"Oke Kai, duluan ya." Pamit Reynand, dijawab anggukan oleh Kaila.


Hari ini kembali merasakan kesedihan meakipun dia sudah mencoba untuk tetap senang. Kaila memang orang yang terlalu baik untuk disia-siakan.


Kaila melanjutkan jalannya dan menaiki angkot biru menuju rumah. Perutnya terasa sangat mual, ditambah orang-orang yang menaiki angkot sampai berdesak-desakan. Matanya sudah kunang-kunang, rasanya sudah tidak kuat untuk membuka mata.


Tiba-tiba tubuhnya terjatuh lemas dipangkuan ibu-ibu samping Kaila, sontak semua penumpang menengok kaget.


"Eh ini pingsan." Ucap Ibu-ibu itu, supir angkotnya berhenti dipinggir jalan.


"Bawa ke rumah sakit aja, mumpumg dekat dari sini." Saran dari pemuda yang duduk di pintu angkot. Rumah sakitnya memang tidak jauh dari sana, hanya berjarak sekitar dua ratus meter.


Tanpa pikir panjang, Supir angkot mengarahkan mobilnya ke arah rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, mereka langsung menggendong Kaila. Kaila lalu masuk ke dalam ruangan untuk diperiksa dokter.


"Itu bukannya adiknya Dokter Bintang?" Tanya salah seorang suster yang kebetulan satu tim dengan Bintang.


"Iya." Sahut suster lain.


Suster itu lalu menghubungi Bintang, memberitahukan bahwa adiknya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Baru saja Bintang bangun dari tidurnya karena semalaman berada dirumah sakit, kini dirinya harus kembali ke rumah sakit dengan rasa panik.


Perlahan mata Kaila terbuka, melihat sekeliling ruangan yang tak dia kenali. Di tangannya sudah ada infus yang tertempel, Ia juga melihat Kakaknya datang dengan raut wajah yang panik. Ia mencoba untuk duduk, tapi dicegah oleh Bintang.


"Udah rebahan aja." Cegah Bintang. Kini Ia berdiri di samping brangkas Kaila, melihat wajah Adiknya yang pucat sekali.


"Kenapa tifusnya bisa kambuh?" Tanya Bintang, wajahnya menyeramkan tak seperti biasanya.


"Gue emang belum makan nasi dari kemarin pagi." Jawab Kaila takut.


Bintang berdecak, lalu memijat dahinya beberapa kali. Hal-hal seperti inilah yang membuat Bintang kesal pada adiknya, bodoh sekali dengan kesehatannya sendiri.


"Pusing gue, jangan nambah-nambahin beban gue, lagi ga ada Ibu." Cerocos Bintang.


"Jangan bilang ke Ibu." Ucap Kaila.


Bintang tak menjawab, Dia keluar dari kamar Kaila untuk mencari bubur. Kaila memejamkan matanya sampai Kakaknya kembali.


"Makan." Pinta Bintang.


"Nanti Kak, gue belum lapar." Tolak Kaila.


"Makan sekarang, tambah sakit nanti elo." Ucap Bintang.


"Ya udah iya."


Kaila lalu memakan bubur yang sudah disiapkan Kakaknya, untung saja masih ada Bintang yang mau mengurusinya. Baru kali ini dirinya merasakan perpaduan rasa sakit antara hati dan fisik. Hatinya sudah lelah, namun kini fisiknya yang juga lelah. Baru kali ini juga Kaila sakit tanoa keberadaan Ibunya.


Kaila membuka layar ponsel, membuka story Dara sedang berselfi dengan Reynand. Kaila menarik napas panjang, berusaha untuk tersenyum dihadapan foto itu.


"Gue terlalu larut ke kehidupan Reynand yang menganggap gue bukan siapa-siapa." Ucapnya lirih. Kaila terus melihat handphone nya, sampai-sampai menemukan quotes yang sangat mirip dengan yang diucapkan Dani semalam.


'Aku yang membantumu berdiri, tapi orang lain yang diajakmu berjalan.'

__ADS_1


Benar-benar menusuk hati Kaila, seolah tembus ke ruang hati yang paling dalam. Terjebak friendzone ternyata tak semudah yang Kaila bayangkan, sebelum itu Dia menganggap bahwa zona teman terlalu lebay untuk ditangisi, namun saat ini Dia merasakan betapa sakit hatinya zona pertemanan.


__ADS_2