Alby "Dia Milikku"

Alby "Dia Milikku"
5. Rooftop


__ADS_3

Mendung tampaknya sudah menghilang dari pengelihatan mata, kini tersisa matahari yang mulai kembali ke tempat persembunyiannya. Gemilir angin dikala senja, membuat Kaila berhenti memikirkan hal yang dilakukan Dave di cafe tadi. Saat ini berganti Reynand, duduk diam didalam jok mobil, menikmati senja dibarengi macet yang belum juga menemukan titik terang.


Rambut Kaila sudah kering semenjak kehujanan tadi, bajunya pun tidak ada yang basah. Tak ada perbincangan apapun sejak kejadian tadi, diantara Reynand bahkan Kaila, tidak ada yang berani memulainya. Keduanya sama-sama ragu untuk mengucap satu kata pun.


"Thank's Rey, lo mau anterin gua." Ucap Kaila memulai perbincangan.


"Oke." Jawab singkat Reynand.


"Mampir cafe depan yuk, gua mau lihat senja di rooftop." Ajak Kaila, sebagai tanda terimakasih pada Reynand.


"Lo ga dicariin nyokap?"


"Gua udah bilang, mau pulang telat." 


Reynand menuruti permintaan Kaila untuk berhenti di sebuah cafe, yang memiliki rooftop. Meskipun rooftop itu belum dibangun dengan sempurna, namun menurut Kaila itu sudah cukup untuk memandang indahnya kota, juga indahnya senja.


Setelah memesan minuman tanpa makanan, mereka berjalan menaiki tangga, hingga sampai di rooftop. Hanya tersedia satu kursi panjang dengan meja bundar. Kaila duduk, begitu juga Reynand.


Sembari menatap senja dan indahnya lampu-lampu gemerlap dari atas, Kaila membuka mulutnya. "Gimana kabar nyokap?"


"Baik."


Mereka terdiam setelah pertanyaan itu dijawab hanya dengan satu kata, perbincangan mereka terhenti sampai seorang pelayan membawakan dua gelas minuman yang sudah dipesan.


"Makasih Mba." Ucap Kaila.


Kaila dan Reynand meminum minuman mereka sendiri, mulai bercerita dan bersenda gurau disaksikan oleh senja.


"Dulu, gua selalu berharap, kalo perpisahan itu ga akan pernah ada." Kata Kaila, mengingat kejadian pagi tadi. Dulu harapannya hanya satu, dia tidak ingin berpisah dengan Dave, karena disaat itu adalah titik kebahagiaannya.


"Semua orang juga pernah berharap gitu." Sahut Reynand. Dirinya juga pernah berharap demikian, berharap bahwa sosok Papanya tidak akan pernah pergi dari kehidupannya.


"Tapi lama kelamaan gua sadar, kalo dunia ini bukan punya gue. Bukan gue yang bisa mengendalikan orang-orang disekeliling gua." Kaila mengucapkannya dengan senyuman palsu, senyuman yang menjadi ciri khas bahwa dia tengah bersedih.


"Setiap orang bisa aja hilang kapan aja dan dimana aja, kita ga bakal tahu rencana Tuhan kedepannya. Kaya Bokap gua."


"Dave juga." Ucap Kaila lirih, dia berharap bahwa Reynand tidak mendengar apa yang barusan dia ucapkan.


"Dave? Dave Anggara?" Tebak Reynand, dia hanya mengenal satu teman bernama Dave, yaitu Dave Anggara.


Kaila menengok kearah Reynand, ia bingung harus menjawab apa setelah Reynand mengetahui siapa Dave yang dia sebutkan.


"Ehmm— iya. Dia mantan gua." Akhirnya Kaila mengaku.


Reynand mengerutkan dahinya bingung, tidak percaya bahwa seorang Kaila pernah menjalin hubungan dengan Dave yang selalu menjadi musuhnya di olimpiade. Tak disangka juga, cewek seperti Kaila pernah berpacaran dengan anak sepintar Dave. Selang beberapa detik, Reynand tertawa renyah.


"Hahahahaha.."


Baru kali ini Kaila melihat Reynand tertawa, Kaila berpikir bahwa sosok yang terkenal dingin seperti Reynand ternyata bisa tertawa.  Kaila melihat Reynand bingung, dibarengi senyuman.


"Apa sih kok lo ketawa?" Tanyanya.


"Lu ngaku-ngaku ape begimane? Masa sih mantannya Dave Anggara?"


Mendengar ungkapan Reynand, Kaila menatapnya sinis.


"Apa untungnya gua bohong? Ga mungkin juga gua ngaku-ngaku."

__ADS_1


Reynand berhenti tertawa, tapi raut mukanya masih terlihat senang dengan candaan itu.


"Yang ngejar-ngejar dia aja, puluhan anak, masa lo pernah jadi mantannya?"


"Gua pacarannya waktu masih SMP, jadi dia belum terlalu terkenal. Tapi di SMP juga udah banyak yang suka dia sih." Cerita Kaila.


Hari ini, tepatnya sore ini, mereka saling bercerita mengeluarkan semua keluh kesah dari diri mereka masing-masing.


"Terus kenapa tadi siang lo nangis-nangis? Jangan-jangan nangisin Dave ya?" Tebak Reynand, seraya tertawa kecil.


"Dia ngajak balikan."


Mendengar ucapan Kaila, Reynand tertawa semakin renyah. Menurutnya itu adalah hal yang lucu, dia juga menganggap Kaila masih berbohong mengenai Dave. Ia tak mempercayai cerita Kaila karenga Dave adalah cowok terfavorit disekolah, sedangkan Kaila hanyalah perempuan biasa saja.


"Ngape lu ketawa-tawa mulu?" Tanya Kaila, dia heran apa yang lucu dari ceritanya.


"Anj— lo ngayalnya ketinggian." Sahut Reynand.


"Gue tampol ye, diem lo."


Reynand tertawa lagi, hari ini dia bahagia bisa duduk bersama Kaila. Setelah kepergian Papanya, baru kali ini dirinya bisa tertawa lepas.


Berbincang dan bercerita rupanya membuat mereka lupa akan waktu, senja yang sudah hilang, dan hanya tersisa pemandangan kota yang indah ketika malam.


"Udah malam, pulang yuk." Ajak Kaila.


Reynand melihat jam tangan hitam berlatar putih yang melingkar di tangan kirinya. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.


"Yuk."


Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar dari rooftop, namun ternyata pintunya terkunci. Tak ada orang lain selain mereka di rooftop ini.


Kaila melihatnya bingung, dirinya mencoba membuka pintu itu. Dengan tenaga yang sudah mentok, pintu itu belum terbuka juga.


"Eh gua coba telepon teman deh, siapa tahu dia bisa nolongin." Usul Kaila, lalu dia membuka layar ponsel dan menelpon seseorang.


Tujuh telepon dari Fifi dan Dani ternyata sudah terlewatkan sejak siang tadi, Kaila tidak sadar bahwa handphone nya bergetar. Apalagi dirinya sangat malas membuka handphone ketika badmood.


Perlahan Kaila menekan tombol telepon pada satu kontak yaitu Fifi. Teman yang dia harapkan bisa menolongnya saat ini.


'Maaf nomor yang anda tuju, sedang sibuk.'


Berkali-kali wanita itu mengumumkan hal yang Kaila benci, dia tidak ingin terjebak hingga nanti malam di rooftop ini.


"Fifi ga aktif." Ucapnya pada Reynand.


"Eh bentar gua telepon Dani."


^^^"Halo Dan." ^^^


"Halo Kai, gimana?"


^^^"Lo bisa tolongin gua ga?"^^^


"Tolongin apa?"


^^^"Gue kejebak dirooftop nih, tolongin gua."^^^

__ADS_1


"Aduh kalo itu gua ga bisa nolongin Kai, gua lagi ada di arisan Mami." 


^^^"Ya udah gapapa, Makasih ya Dan." ^^^


"Sorry banget ya Kai."


^^^"Iya gapapa." ^^^


Kaila berdecih, dia sebal dengan situasi ini.


"Lo telepon teman lo deh Rey." Pinta Kaila.


"Hp gua lowbat."


Reynand terdiam, dia tidak merasa takut ataupun gelisah, percaya bahwa akan ada pertolongan yang datang pada dirinya dan Kaila.


"Tunggu aja sampai ada yang bukain, lagian nanti juga ada waiters keliling." Pasrah Reynand, dia sudah paham bahkan hapal, sebelum pukul delapan, waiters akan berkeliking untuk mencari piring atau gelas kotor.


"Kalo ga ada gimana? Gua bisa disembeleh nih pulang-pulang." Gurau Kaila.


"Lo tenang aja, ga bakal sampe malam kok." Kata Reynand menenangkan.


Mereka berdua kembali duduk ditempat semula, menunggu pertolongan dari seseorang. Kaila merasa bahwa dirinya kedinginan hanya mengenakan kemeja berwarna biru laut yang ia kenakan. "Kalo kelamaan disini gua bisa masuk angin."


"Lagu lu kek anak TK."


Kaila tertawa, kedengarannya lucu ketika Reynand mengenakan bahasa betawi.


"Kenapa?" Reynand melirik.


"Lucu juga lu pakai bahasa betawi."


Hawa dingin benar-benar menerpa keduanya, dengan sayup-sayup melihat lambu-lampu dibawah sana. Rasanya sudah lelah, mengantuk dan ingin sekali merebahkan tububnya di ranjang.


Terdengar bunyi dari arah pintu, benar saja tebakan Reynand. Ada seorang pelayan yang datang dan membukakan pintunya.


"Mba kok pintunya dikunci sih?" Kaila bertanya dengan nada yang keras, lumayan kesal dengan perlakuan orang-orang di cafe ini.


"Maaf banget ya Mba, Mas. Saya juga ga tahu kalo pintu ini dikunci, kaya nya tadi ada OB yang ngunciin. Dikira ga ada orang." Jelas pelayan itu sembari menunduk dan merasa bersalah.


"Lain kali jangan sembarangan ngunciin orang di sini, kalo orang nya marah terus lapor ke manager gimana? Bisa berabe." Masih saja Kaila memberi nasehat pada pelayan itu.


"Udah Kai." Jeda Reynand sebelum Kaila melontarkan ucapan-ucapannya lagi.


Kaila berjalan menuruni tangga, tanpa mengajak Reynand ataupun berpamitan pada waiters itu. Dirinya kesal, sangat kesal dengan hari ini, hari buruk yang pernah dia jalani. Namun dia senang, sebab ia bisa bertemu dengan Reynand, sedikit dari bebannya terasa hilang setelah bercerita.


Kaila membuka pintu mobil, begitupun Reynand yang mengikutinya. Mobil itu berjalan menabrak angin malam ini, kemacetan sudah tidak tampak. Didalam mobil itu mereka kembali berbincang, tak seperti biasanya yang hanya terdiam tanpa obrolan.


"Gua tuh ga tau gimana ya, kalo nyokap izin keluar buat ke minimarket gitu, terus gua dikunciin dimobil. Serasa kek takut, panik, pokoknya takut banget dah gua kalo dikunciin dimobil." Cerita Kaila pada Reynand yang masih menyetir dengan kecepatan standar.


"Takut kenapa si? Bukannya malah aman ya kalo dikunciin? Kan ga bakal ada orang yang masuk." Reynand mengernyit.


"Ya lo bayangin deh, kalo ada Pak Satpam negur gue, abis itu gue ga bisa mindahin mobilnya gitu, gua kan bingung. Terus nih ya, kalo ada orang jahat terus pecahin kaca, gua kan ga bisa kabur."


Reynand tertawa kecil, "Lo nya aja yang overthinking. Kalo gue, masalah takut itu... Apa ya? Ga tahu gua. Gua takutnya sama Allah."


"Gue nih ya, mending ada di kegelapan, dari pada dikunciin dimobil. Udah ga bisa bayangin dah gua kalo dikunciin dimobil. Bisa nangis-nangis gua."

__ADS_1


Tidak terasa, obrolan itu berhenti ketika mereka telah sampai di depan pintu gerbang dari rumah Kaila. Sempat sedih karena berpisah, namun mereka tetap senang, bisa berbagi cerita.


__ADS_2