
Sepulang dari kampus, Alice menyempatkan diri untuk mampir ke toilet kampus. Ada misi yang akan ia lakukan demi menjalankan aksinya untuk pertama kalinya.
Dia mengubah penampilan. Melepaskan kacamata bulat tebalnya, melepaskan sofline mata, melepaskan kucir rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai indah, menghapus tompel di dagunya, lalu mengganti pakaiannya menjadi serba hitam dengan kacamata hitamnya bertengger rapi di pangkal hidung bangirnya.
Langkahnya tegap, salah satu tangannya di masukan ke dalam saku celana berjalan bak model profesional. Wajahnya tegap berwibawa. Siapa saja yang melihatnya akan kagum padanya. Dan orang lain tidak akan tahu jika wanita itu ialah Alice, si cupu berkucir dua.
Sebagian orang yang masih memiliki jam kelas nampak terpesona pada sosok wanita muda berwibawa namun mampu menghipnotis mata para pria. Mereka terkagum-kagum melihat kecantikan Alice.
"Hei lihat, ada wanita cantik sekali. Apa dia mahasiswi baru?"
"Tidak mungkin, sepertinya dia dosen."
"Itu jauh lebih tidak mungkin. Wajahnya saja masih muda. Saya yakin jika dia memang Murib baru sini."
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari setiap orang yang ada di kampus. Sedangkan wanita yang di bicarakan tidak memperdulikan ucapan mereka. Alice, dia tetap melangkah mencari pria yang sedari tadi ingin ia temui, siapa lagi kalau bukan, Brian.
Alice mencari keberadaan Brian ke ruangan dosen. Berhubung sudah tidak ada lagi dosen yang mengajar membuat Alice leluasa masuk tanpa harus bertegur sapa dulu dengan lainnya.
Brian, pria tampan itu tengah membereskan beberapa buku di atas meja. Fokusnya tetap pada apa yang sedang ia kerjakan. Dia dalam posisi berdiri membelakangi Alice sebab sedang memasukan buku ke dalam rak buku.
Alice perlahan duduk di atas meja dengan kaki menyilang dan tangan bertumpu di atas meja. Dia memperhatikan Brian yang terlihat tampan saat sedang serius seperti itu. Untuk sesaat dirinya terhipnotis oleh wajah tampan itu.
Alice turun mendekati Brian, dia berdiri di belakangnya seraya memperhatikan pria yang sedang menyusun beberapa buku ke rak. Matanya tak bisa lepas dari wajah tampan serius Brian.
__ADS_1
"Aku baru sadar pria ini ternyata tampan juga. Aku juga baru tahu ternyata Brian sangatlah mempesona. Tapi sayang, tujuanku saat ini bukanlah pria melainkan membunuh para pembunuh itu," batin Alice termenung menatap dalam Brian.
Pria itu menunduk kemudian berbalik. Tanpa sengaja tubuhnya menubruk Alice membuat gadis itu tersenggol ingin jatuh. Brian terbelalak mengetahui ada orang lain di belakangnya. Dan dia segera menarik pinggang Alice supaya Gadis itu tidak terjatuh. Tetapi, Alice menarik baju Brian ke depan di saat dirinya ingin jatuh alhasil keduanya terjatuh ke lantai.
Mata mereka berdua melotot kaget karena bibir keduanya saling menempel dan mata mereka saling menatap. Namun, perlahan mata tersebut menjadi biasa dan malah semakin dalam saling memandangi satu sama lain.
Deg... deg... deg...
Jantung keduanya berdebar-debar. Brian yang memang menyukai gadis di bawah kungkungannya merasakan hal yang sangat luar biasa bahagia bisa menjadi pria pertama yang berhasil mengambil ciuman pertama Alice.
Brian, pria itu perlahan-lahan menggerakkan bibirnya di saat tidak ada penolakan dari Alice. Lembut, sangat berhati-hati penuh kelembutan ia lakukan supaya tidak menyakiti bibir wanita di bawahnya.
Alice, gadis itu malah menikmati sesuatu pertama yang ia rasakan. Dia justru memejamkan matanya membuka pelan bibirnya membiarkan Brian menyusuri setiap bibir serta lidah dia.
Berhubung Brian tidak ingin kelewatan batas, iapun melepaskan tautan bibir keduanya. Nafas mereka memburu menghirup udara secara dalam. Brian menpelkan keningnya ke kening Alice.
"Pasti ini ciuman pertama kamu?" Alice menganggukkan kepalanya. Brian tersenyum senang. Lalu dia menarik tubuhnya dari tubuh Alice beralih duduk.
Alice pun mengikut seperti yang dilakukan Brian. Wajahnya bersemu merah menunduk seraya bangkit duduk. Untuk pertama kalinya dia berdebar seperti ini di saat dekat dengan seorang pria.
Keduanya terduduk di lantai di dekat bawah meja. Brian menyenderkan punggungnya ke rak buku sedangkan Alice masih duduk di tempat.
"Ini juga ciuman pertamaku. Kita sama-sama mendapatkan ciuman pertama kita. Manis juga," kata Brian memandangi wajah cantik Alice. Wajah hasil operasi plastik namun terlihat seperti aslinya.
__ADS_1
Alice menoleh mendelik sebal. "Isshh... ngapain harus bahas ini sih? Dan kenapa juga ada insiden seperti tadi?" balas Alice memberenggut kesal menyenderkan tubuhnya ke rak buku. Kini keduanya duduk bersebelahan.
"Salah kau sendiri hadir di belakang ku tanpa permisi. Jadi kita terjatuh jadinya."
"Mana saya tahu kejadiannya akan seperti ini? Tapi, ada hal yang lebih penting dibandingkan masalah ciuman kita." Alice mengingat tujuannya saat ke ruangan.
Bria menoleh ke samping. "Apa?"
"Menyelidiki siapa saja dan dimana saja mereka tinggal. Aku sudah menemukan satu diantara mereka," ucap Alice serius.
"Dimana kau menemukannya?" tanya Brian serius. Alice menatap mata Brian.
"Di kampus ini. Aku menemukan dia mengajar menjadi salah satu dosen di sini."
"What?! Are you sure?"
"Ya, saya sangat yakin jiga apa yang saya lihat adalah dia." Alice mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam memerah.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Memantau pergerakan para musuh di mulai dari hari ini." Ucap Alice yakin sudah merencanakan sesuatu.
Senyum devil mengerikan terpancar dari bibir Alice.
__ADS_1