
Dua anak muda berbeda usia dan berjenis kelamin berbeda tengah menikmati angin malam di atas motor secara bersamaan. Pria tersebut menjalankan pelan kendaraannya berharap waktu tidak cepat berlalu menjelang pagi. Hal ini adalah hal yang sangat ia nantikan sedari dulu. Bisa jalan bareng berduaan bersama wanita yang ia inginkan dan tentunya wanita pertama yang sudah merasuk ke dalam relung hati.
Brian mengambil tangan Alice yang sedang mencekal bajunya lalu menarik lebih maju untuk memeluk pinggangnya. "Kalau mau pegang begini jauh lebih baik. Takutnya kau tertiup angin saat kendaraan ku melaju kencang. Tubuhmu kan kecil."
Plak...
Alice menggeplak pelan punggung pria di hadapannya. "Jadi kau pikir tubuh saya itu tipis sampai akan tertiup angin segala? Kau menghina tubuhku?" Alice mencebik kesal Brian mengatainya kecil.
Padahal di usianya yang menginjak 19 tahun tubuhnya termasuk ideal. Memiliki tinggi 160 cm dengan berat badan 51 kilo gram serta bentuk tubuh yang aduhai bahenol montok dan memiliki bentuk pa*yu*dara cukup berisi membuat Alice tidak sangat menarik dan tidak terlalu tipis juga.
Brian terkekeh mendengar kekesalan Alice. Dia menatap wajah cemberut Alice dari balik kaca spion. "Menggemaskan," gumamnya sangat gemas melihat wajah cemberutnya Alice.
Lalu dia kembali menarik tangan Alice membawanya ke pinggangnya dan mencekal tangan tersebut sambil sesekali mengusap tangan lembut milik gadis yang sedang ia bonceng.
"Saya tidak bilang begitu. Saya hanya khawatir kau terjatuh saat kita melaju kencang. Ini motornya kan tidak ada cekalan di bagian belakang." papar Brian mengkhawatirkan hal itu terjadi.
Alice hanya mengangguk sembari membiarkan tangannya di pegang Brian. Dia malah menyandarkan kepalanya di punggung pria yang kini ia peluk dari belakang.
"Bagaimana perasaanmu setelah menghabisi dia, Alice?"
"Senang tapi juga ada rasa menyesalinya." Alice merasakan hal itu. Dia menyesal karena menjadi seorang pembunuh. Tapi jika di biarkan maka Dendamnya dan rasa yang Alice alami akibat kehilangan keluarganya tidak akan tenang sampai orang-orang itu mendapatkan karmanya.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" Brian penasaran tentang alasan di balik 2 jawaban berbeda.
"Senang karena saya bisa membalaskan dendam atas kematian keluarga saya, namun saya juga menyesal menjadi seorang pembunuh untuk pertama kalinya." tak dipungkiri kedua hal tersebut yang Alice dirasakan saat ini. Wajahnya menjadi murung jika mengingat dirinya kini menjadi pembunuh wanita.
"Brian, apa saya terlalu jahat sampai harus menjadi seperti ini?" lirihnya merasa sedih dengan yang terjadi kepadanya.
"Tidak bagi mereka yang hanya menggunakan balas dendam tersebut demi keadilan. Tapi iya bagi mereka yang ingin balas dendam tanpa mengetahui kebenarannya." Kini wajah Brian yang murung. Tanpa di sadari Alice, Brian juga memiliki sisi kelam sebelum dirinya bergabung dengan tuan Ronald.
"Benarkah begitu? Lalu apakah akan ada lagi dendam baru di saat mereka tahu jika orang-orang di sekitarnya tiada karena di bunuh? Bukankah ini akan menjadi masalah baru ke depannya?" Alice mengubah kepalanya menjadi tegak lalu menyimpan dagunya di pundak Brian dengan mata menatap depan sambil tetap memeluk pria di hadapannya.
"Mungkin juga Iya. Tapi balik lagi kepada pemikiran mereka yang mengerti keadaannya bagaimana. Kadang, Dendam itu bukan hanya dari membunuh saja. Tapi ada juga dari tindakan lainnya." Brian menepikan motornya di salah satu tempat makan yang masih buka pada pukul sebelas malam.
Alice turun duluan barulah di susul oleh Brian. "Kita mau ngapain mampir di sini? Pulang saja lah," ujar Alice merasa lelah ingin istirahat.
Alice dibuat speechless, dia tidak menyangka jika pria yang ia anggap sebagai kakaknya begitu perhatian. Namun, lambat laun perasaan biasa yang ia rasakan kini mulai menunjukkan sebuah getaran berbeda di saat tatapan teduh dari pria itu mampu menggetarkan hati.
"Pulang saja, ya. Aku lelah seharian beraktivitas. Besok kan harus kuliah pagi. Mana lagi ada MOS." Alice mengeluh karena memang tubuhnya Allah ingin beristirahat.
"Ya sudah, kita pulang saja. "Brian mengalah dan kembali menaiki motornya. Lalu Alice pun kembali naik.
******
__ADS_1
Motor Brian sudah sampai di parkiran apartemen Alice. Namun, punggungnya terasa berat mengetahui jika wanita yang ada di belangnya tertidur sambil memeluk erat pinggangnya.
"Dia tidur." untuk beberapa saat, Brian menikmati pelukan tersebut sambil menggenggam tangan Alice yang ada di perutnya.
Hingga setelah cukup lama, barulah dirinya perlahan turun dari motor dengan tangan mencoba memegang tubuh Alice agar tidak terjatuh.
Bersusah payah Brian turun sambil mencoba menggendong gadis itu membawa masuk ke dalam. Untungnya apartemen Alice terletak di lantai 2 jadi tidak terlalu lama saat dia menggendongnya.
Hingga setelah membutuhkan waktu, tenaga, dan bersusah payah, Brian berhasil membuka pintu apartemen. Kemudian dia membaringkan tubuh Alice ke atas kasur.
Brian menghelakan nafas panjang cukup pegal. "Kau ini cukup berat rupanya." Brian berdiri menatap bingung harus berbuat apa. Dia merasa kasihan membiarkan Alice tidur dalam keadaan tubuh lengket bahkan ada bercak darah menodai bajunya.
"Masa saya harus mengganti pakaiannya dia?" Brian mondar-mandir kebingungan. "Tak apalah, toh Alice sedang tidur jadi tidak akan tahu jika aku mengganti pakaiannya."
Brian perlahan memperhatikan wajah Alice, tangannya pun membuka pakaiannya.
******
Pagi mulai menyinari bumi, Alice tersadar dari tidurnya menggeliat serta menguap. Namun, tangannya tak sengaja mengenai seseorang membuat Alice terbelalak.
"Ada orang...!" dia semakin dibuat terkejut saat merasakan ada beban di perutnya apalagi kalau bukan tangan kekar yang tengah memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Alice pun menoleh ke samping kiri melotot sempurna ada Brian begitu dekat dengan wajahnya. Alice meneliti pakaian yang ia kenakan sudah terganti dengan yang baru.
"Brian... apa yang kau lakukan..?!"