
Alice menubruk bahu Marcelino dan...
Jleb...
Marcelino mendongak terkejut ada seseorang yang menusuk perutnya. Alice menunduk lalu mendorong tubuh Marcelino kemudian dia berlari menghindari kejaran pria itu.
"Hei... kau, siapa kau?" Marcelino memegangi perutnya yang terkena tusukan pisau kecil yang masih menancap di perutnya.
Sekuat tenaga dia mengejar Alice yang tidak di ketahui wajah aslinya karena terhalang kupluk dan topi.
Alice menengok ke belakang memperhatikan Marcelino. Dia tersenyum menyeringai, "Ini sebagai awal dari sebuah percobaan Tuan." lalu dia berlari ke luar kapal mendekati motornya kemudian memakai helm, menaiki motor dan pergi dari sana dalam kecepatan tinggi.
"Bos, Arfan," pekik Marcelino memegangi perutnya sembari sempoyongan menahan pusing di kepala.
Cleo dan Arfan menengok kebelakang. "Ada apa dengan Marcelino? Kenapa dia berteriak seperti itu?"
"Bos..." pekiknya lagi.
"Buruan ke belakang. Sepertinya Marcelino memekik kesakitan." Cleo segera berdiri tergesa-gesa menuju toilet. Begitupun dengan Arfan yang juga ikut berlari.
Setibanya di sana keduanya terbelalak melihat Marcelino terduduk lemas memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
"Marcelino...! Kau kenapa bisa begini?" Cleo dan Arfan mendekatinya.
"Siapa yang sudah melakukan ini kepada kau?" tanya Arfan memperhatikan luka di perut Marcelino.
"Saya tidak tahu siapa dia. Tapi tadi dia berlari ke luar lewat sana. Dia memakai jaket hitam berkupluk serta wajahnya menggunakan masker." papar Marcelino menjelaskan tentang orang yang menusuknya.
"Fan, kau kejar dia siapa tahu masih ada di di sekitar sini." Cleo memerintahkan Arfan buat mengejar Alice.
Arfan mengangguk lalu segera pergi dari sana berlari keluar kapal mencari keberadaan orang yang di maksud Marcelino.
"Apa kau tidak merasakan sakit? Pisaunya harus di cabut dulu." Cleo bersiap menarik pisau kecil yang masih tertancap di perut Marcelino.
__ADS_1
"Ini lumayan sakit Bos. Untuk pertama kalinya saya kena serangan dari orang tak di kenal." Marcelino mengumpat ucapan Cleo. Mana mungkin jika dirinya tidak merasakan sakit di saat pisau itu tiba-tiba menusuknya. Mana yang ia rasakan terasa lemas sulit sekali berlari mengejar orang tadi.
"Ini akibatnya kau sering membunuh orang. Mungkin dia merupakan salah satu musuh kita." Cleo berdiri mencari kotak luka di sekitar nya. Dia meninggalkan Marcelino sendirian di bagian belakang dekat toilet.
"Bis kau mau kemana?"
"Mencari kotak darurat buat luka kau." jawab Cleo masuk ke salah satu ruangan kesehatan. Bodohnya dia yang tidak membawa Marcelino malah meninggalkannya sendirian.
Arfan celingukan mencari orang yang sudah menusuk Marcelino. "Kemana orang itu pergi? Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaannya di sekitar sini?"
Dia berlari ke arah parkiran dan tidak menemukan siapapun di sana. Lalu berlari lagi mencari penjaga yang di tugaskan oleh Cleo agar tidak ada yang masuk ke dalam selain keluarga dan undangan dari dari Cleo.
"Ya, dua penjaga itu kemana? Mereka tidak kelihatan bertugas di depan." Arfan kembali lagi ke pintu masuk kapal mencari dua penjaga.
Dia tidak menemukannya keduanya. Namun Arfan tidak tinggal diam kembali mencari hingga dia menemukan penjaga tersebut tergeletak di belakang mobil milik Marcelino.
"Sial, ini di rencanakan. Woi bangun kalian!" Arfan memekik menendang-nendang kaki kedua penjaga tersebut berharap keduanya bangun.
Sampai tindakannya membangunkan kedua orang tersebut. "Aduh pundak saya sakit sekali." gumam salah satu dari mereka mencoba dudu sambil memegangi pundaknya yang terasa sakit.
"Maaf, bos. Kami juga kecolongan sampai bisa terkapar di sini. Kami sudah berusaha mencegahnya sapi dia begitu cerdik sampai bisa masuk ke dalam."
"Halah, kalian saja yang tidak becus menjaga tempat ini. Sia-sia Bos Cleo membayar dan memperkerjakan kalian tapi kalian malah kalah hanya melawan satu orang saja. Dasar bodoh," umpatnya kesal menendang kembali kaki salah satu dari mereka yang masih selonjoran.
Lalu Arfan meninggalkan keduanya masuk lagi kedalam untuk melaporkan yang terjadi sekaligus ingin mengetahui keadaan Marcelino.
Di dalam, Cleo sedang melakukan tindakan pertama yaitu membersihkan luka tusuk menggunakan air alkohol. Kemudian Cleo membekukan kain perban ke luka tusuknya setelah luka tersebut di kasih obat luka.
"Kau harus segera ke rumah sakit memastikan lebih lanjut keadaan tusukan ini. Jangan di biarkan terlalu lama."
"Iya, kau benar. Rasanya ini sungguh buat saya lemas seketika dan tidak bisa mengejar orang itu."
"Bos, rupanya ini di rencanakan. Penjaga kita juga kalah oleh orang itu," ujar Arfan setelah tiba di antara Cleo dan Marcelino.
__ADS_1
"Di rencanakan? Berarti benar jikalau ada orang yang berniat membalaskan dendam kepada Marcelino. Tapi siapa dia?" ujar Cleo berpikir kira-kira siapa orangnya.
Setahunya musuhnya banyak, apalagi orang yang telah mereka rampok dan bunuh sudah terlalu banyak jadi tidak mengingat siapa saja orang-orang tersebut.
"Kalau begini caranya kita harus hati-hati terhadap sekitar. Bisa saja orang itu kembali datang untuk menyerang Marcelino," sambung Arfan berpikir jika orang itu pasti akan datang lagi.
"Kita harus waspada," gumam Marcelino berusaha berdiri namun anehnya tubuhnya terasa lemas tak berdaya membuatnya kembali terduduk lesu.
"Sial, obat apa yang di gunakan orang itu sampai membuatku lemas begini?" umpat Marcelino ingin sekali membunuh dia.
"Lebih baik kita periksa ke dokter," saran Arfan diangguki oleh Cleo.
"Panggil anak-anak!" titah Cleo.
********
Alice memberhentikan motornya di parkiran salah satu apartemen pemberian keluarga barunya. Dengan gagahnya Alice melangkah melepaskan kupluk yang ia kenakan, lalu melepaskan topinya dan menggerakkan kepalanya hingga rambut yang tergelung indah itu terurai indah.
Alice juga melepaskan kacamata hitamnya dan membuka sarung tangan yang di kenakannya. Dia tersenyum menyeringai sembari melangkah dengan sorot mata memerah penuh dendam.
"Ini baru di mulai. Akan ada lagi kejutan yang lainnya tuan Marcelino. Pertama kaulah sasaran ku. Tidak akan ku biarkan kau hidup tenang setelah apa yang kau lakukan terhadap keluargaku," batin Alice sambil tangan menekan kunci apartemen nya.
Lalu Alice menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil terlentang menatap langit-langit sambil memperhatikan kamera yang menangkap gambar mereka semua.
"Marcelino, Arfan, dan terakhir kau Tuan Cleo." Alice kembali duduk lalu menyimpan kameranya di atas kasur dan berjalan ke kamar mandi.
Ketika setelah selesai membersihkan diri dan masih mengenakan handuk kimono dengan rambut terurai basah, bel apartemen berbunyi.
Alice pun mengintip di balik pintu siapa yang bertamu. Dan ternyata itu adalah Brian. Lalu Alice membuka pintunya.
"Ada apa kau datang kemari, Brian?"
Brian yang sedang membelakangi pintu menoleh kebelakang di saat mendengar pintunya terbuka. Dia mematung melihat wajah segar Alice.
__ADS_1
"Cantik."
"Hah..."