Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Ungkapan Hati


__ADS_3

"Cantik."


"Hah... apa kau bilang?" Alice tidak terlalu mendengar gumaman Brian. Dia tadi sedang fokus mengeringkan rambutnya menggunakan handuk jadi tidak terlalu menyadari perkataan Brian.


"Hah, tidak. Saya tidak bilang apa-apa." Brian berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada Alice dan berusaha menyembunyikan kerisauan dalam hatinya saat melihat Alice terlihat begitu menggoda ketika rambut panjangnya tergerai indah dalam keadaan basah.


"Kau mau ngapain datang kesini? Ini sudah sore karena biasanya para dosen itu lagi sibuk mengurus masalah tugas sekolah." Alice kembali bertanya mengenai maksud kedatangan Brian ke apartemennya.


Dia pun melangkah masuk membiarkan Brian juga ikut masuk ke dalam. Tanpa rasa takut sedikitpun, Alice membiarkan Brian ke dalam apartemen. Toh, tidak akan terjadi sesuatu di antara keduanya karena mungkin Brian tidak se brengsek itu.


Brian mendudukkan bokongnya di kursi. "Saya hanya ingin memastikan rencana mu itu berhasil atau tidak."


Alice mengambil pakaian yang ada di dalam lemari. Ia sempat menoleh dan berkata, "Baru permulaan. Nanti malam adalah puncak tertinggi untuk menghabisi Marcelino." senyum devil tersemat di bibir indah Alice. Namun senyum indah itu terlihat menyeramkan di mata Brian namun juga terlihat menggemaskan.


"Kau sudah bertindak rupanya. Tapi kau harus hati-hati karena mereka mulai berjaga-jaga." Brian memperhatikan pergerakan Alice yang masuk ke kamar mandi sambil membawa pakaian ganti.


"Saya tahu itu, dan saya sudah menyiapkan segalanya agar mereka tidak mengetahui jika saya adalah dalang di balik penusukan yang Marcelino alami." Alice masih sempat membalas perkataan Brian di saat dirinya masuk kamar mandi. Barulah dia masuk sepenuhnya sesudah menjawab setiap kata yang tertutup rapi dari bibir tebal sang pria tampan.


Brian tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga orang lain tidak bisa melihatnya. "Kau memang pemberani Alice. Saya akan ada di belakang kamu sampai kapanpun itu. Izinkan saya menjadi pelindungmu di kala kau membutuhkan bantuanku. Saya siap menjadi perisai di saat keadaan genting tak terkendali. Karena saya tidak ingin kau terluka, Alice."


Tidak lama kemudian Alice keluar kamar mandi mengenakan celana selutut di padukan kaos oblong berwarna merah cabe.


"Brian, daripada kau di sini dengan cuma-cuma mending antar saya beli makanan keluar." Alice menghampiri Brian dan berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang.


Brian memandangi wajah cantik tanpa polesan make up itu secara intens penuh makna. "Apa hadiahnya kalau saya mengantarmu?" senyum usil terlihat jelas di wajahnya Brian.


"Ck, kau ini hanya perhitungan sekali. Sudahlah, daripada menunggu kesediaan mu mengantarku mending saya berangkat sendiri saja." Alice tidak akan memaksa Brian jika pria itu tidak mau mengantarkannya. Alice ingin pergi dari hadapan Brian namun pemuda itu menarik tangannya sampai membuatnya terjatuh ke dalam pangkuan Brian dan pemuda itu memeluk erat pinggang Alice.


Alice melototkan matanya terkejut atas tindakan yang Brian lakukan. "Brian...! Kau ini apa-apaan? Lepaskan saya!" Alice memberontak ingin turun dari dekapan pria ini. Dia merasa risih namun juga merasakan kegugupan yang begitu luar biasa.

__ADS_1


"Biarkan sejenak seperti ini, Alice. Saya menyukaimu," ucapnya menelusukan wajahnya ke ceruk leher gadis yang bum genap 19 tahun itu.


Deg...


Ini di luar dugaan gadis itu. Dia tidak bisa membayangkan jika Brian menyukainya. Padahal dirinya selalu menganggap pria yang sedang mendekapnya kakak. Tapi kalau kakak kenapa saat Brian menciumnya Alice Dian saja dan malah menikmatinya?


"Kau... kau bilang apa barusan?" Alice ingin mendengar kembali ucapan Brian. Dia takut salah dengar jika pemuda itu menyukainya.


Brian mendongak menatap mata indah wanita di hadapannya. Tangannya mengusap lembut pipi gadis tersebut. "Saya menyukaimu, Alice. Sejak awal kita bertemu saya sudah jatuh hati padamu. Saya mencintaimu."


"Brian..." Alice tidak percaya ucapan Brian yang terkesan mengejutkan dirinya.


"Kau pasti terkejut saat mendengar ucapan ku. Tapi ini lah perasaan ku yang sebenarnya, Alice. Saya jatuh cinta padamu dan perasaan ini begitu menyiksa saya." Brian serius dalam berkata. dia tidak bisa lagi membendung segala cinta yang ia rasa dan tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang selama ini ia pendam dari beberapa tahun yang lalu.


"Brian, saya bingung dengan perasaan saya sendiri. Tapi..." Alice mengambil tangan Brian lalu menempelkannya di dada. "Jantung ini selalu berdebar kencang saat berada di dekatmu. Saya tidak tahu kenapa tapi dada ini selalu begini." Dengan polos Alice mengungkapkan selama ini ketika sedang berdekatan dengan Brian.


Brian tersenyum manis semanis madu membuat Alice terkesima terus memandangi wajah tampan Brian.


"Enggak tahu. Saya tidak tahu arti debaran ini." Karena memang Alice belum mengerti tentang perasaan yang di milikinya.


"Tidak mengapa. Yang penting kamu sudah memiliki rasa meski tidak menyadarinya." Brian memandangi wajah cantik Alice sembari tangan kirinya mengusap lembut bibir merah alami itu.


"Alice..."


"Iya..." keduanya sama-sama saling menatap satu sama lainnya mengunci tatapan mereka tanpa mau melepaskannya.


Brian mendekatkan wajahnya ke arah Alice bersiap untuk mengecup bibir yang sedari tadi ia inginkan. Namun Alice mencegahnya dengan menutupi telapak tangan sehingga Brian mengecup punggung tangan Alice.


"Saya lapar ingin makan bukan lapar ingin ciuman." Kejujuran Alice membuat Brian gemas dan dia tersenyum.

__ADS_1


"Ya udah saya antar kau beli makanan." Brian pun melepaskan pelukannya membiarkan Alice lepas dari pangkuannya.


"Ayo."


*******


"Kau mau makan apa?" Brian dan Alice sudah berada di luar menyusuri jalanan mencari tempat makan. Tapi Alice tidak menjawab karena matanya tertuju pada sebuah mobil yang ia kenali.


"Brian, kita ikuti mobil itu! Buruan!" Alice menepuk-nepuk pundak Brian memintanya berputar arah mengikuti mobil milik Marcelino.


"Mau ngapain? Katanya kau lapar."


"Itu mobil Marcelino dan saya ingin tahu kemana dia pergi? Ke rumah sakit atau bukan? Buruan Brian!"


"Ok, ok, saya akan mengikutinya." Brian pun memutar arah dan mengikuti mobilnya dari jarak jauh.


Mereka berdua terus mengikuti dari belakang dan benar saja jika mobilnya menuju rumah sakit.


"Wow, sepertinya obatnya mulai bereaksi." Alice menyeringai. "Kita berhenti di sini, Brian!" dan Brian pun mengikuti perintah Alice.


"Apa perlu anak buah saya membantu informasi mengenai dia?"


"Tidak perlu, saya hanya ingin mendapatkan no ponselnya dan akan saya gunakan rencana selanjutnya. Menghabisi seperti dia menghabisi nyawa adik dan orangtua saya Tampa ampun."


Brian diam seribu bahasa tidak ingin ikut campur mengenai dendam Alice. Tapi dia akan berada di belakangnya.


"Itu mah masalah kecil." Brian terlihat menghubungi seseorang. "Cari sekarang juga dan kirimkan kepada saya!"


Alice mendengarkan seraya menatap penasaran. "Apa?"

__ADS_1


"No pria yang ingin kau habisi."


__ADS_2