
"Brian...!" Alice baru ngeh jika orang yang ada di motor itu adalah Brian. Dia tidak mengenali motornya dan helm yang di kenakannya. Semuanya seperti baru bukan motor yang tadi siang di kendarai.
Atensinya Alice teralihkan oleh suara wanita yang berucap berterima kasih kepadanya atas bantuan pertolongan dari Alice.
"Nona, saya berterima kasih karena Anda sudah menolong saya. Apa jadinya jika Anda tidak datang membantu saya. Mungkin saat ini saya sudah..." ujar wanita yang di tolong Alice begitu tulus serta masih terdengar isak tangis kecil serta derai air mata di wajah wanita itu.
"Sama-sama. Lain kali jika Anda ingin keluar jangan malam hari, apalagi berjalan sendirian di tempat sepi bisa membuat orang yang ingin berbuat jahat mengambil kesempatan itu. Sebaiknya Anda keluar bersama saudara atau bisa menyewa bodyguard untuk membantu Anda di saat genting begini." Alice kasihan melihat wajah wanita itu. Ada beberapa luka memar di wajah dan juga bajunya sudah sebagian robek.
Alice melirik Brian yang mengenakan jaket. Seketika sebuah ide muncul di benaknya. "Kau tunggu di sini." Alice mendekati Brian yang masih setia duduk di atas motor memperhatikan interaksi keduanya.
"Boleh ku minta jaket mu?" pinta Alice menatap dalam penuh harap agar Brian memberikan jaketnya.
"Untuk apa kamu minta jaket ku?" Brian tidak langsung memberikan jaketnya. Dia ingin tahu terlebih dulu alasan Alice meminta baju yang ia kenakan.
"Apa kau tidak lihat keadaan wanita itu begitu mengiris hati. Bajunya sudah dalam keadaan sebagian robek. Setidaknya kau meminjamkan jaketmu ini untuk dia wanita yang saat ini lebih membutuhkan." Alice melirik wanita itu, begitupun dengan Brian yang juga memperhatikan penampilannya.
Keadaannya memang terlihat cukup berantakan dan tidak layak dipandang serta kalau berjalan pun pasti memalukan. Brian kembali melirik Alice menatapnya. Dalam pikirannya yang mengkhawatirkan wanita yang sedang ia pandangi.
Alice juga pasti membutuhkan jaketnya dikarenakan gadis itu hanya mengenakan kaos hitam saja. Namun, wanita korban pelecehan itu juga jauh lebih membutuhkan. Dan Brian pun melepaskan jaketnya.
"Berhubung ini kau yang minta jadi saya memberikannya. Kalau bukan kamu Mana mau saya memberikan jaket kesayangan saya kepada orang lain," ujar Brian sambil memberikan jaket jeans kepada Alice.
Alice tersenyum sembari menerima pakaian tersebut dan berkata, "Thank you, Brian. Dia jauh lebih membutuhkan daripada kamu. Setidaknya pakaian ini mampu menutupi pakaian dia yang terkoyak akibat para pria brengsek itu."
__ADS_1
Alice pun kembali berjalan ke arah wanita yang ia tolong. "Pakailah jaket ini untuk menutupi bagian bajumu yang sobek. Dan cepatlah kembali ke rumahmu secepatnya tanpa berkeluyuran dulu ke sana kemari. Ini sudah malam dan tidak baik kau keluar malam begini," papar Alice menasehati panjang lebar wanita yang mungkin usianya berada di atas dia.
"Terima kasih, nona. Saya berhutang budi kepada Anda." wanita itu pun mengambil jaket pemberian Alice lalu mengenakannya.
"Rumah mu dimana?" Alice khawatir padanya dan berniat untuk mengantarkan dia sampai ke depan rumahnya.
"Rumah saya jauh. Saya datang kesini ingin menemui kekasih saya tapi saya malah terjebak diantara ketiga orang tersebut. Dan mereka malah membawa saya ke sini."
Alice menghelakan nafas. "Kalau gitu kau hubungi saudaramu suruh dia ke sini biar saya menemani Anda di sini." daripada membiarkan wanita itu sendirian Alice lebih baik menemaninya menunggu sampai jemputan itu datang.
Wanita itu pun mengangguk dan tanpa banyak lama lagi dia menghubungi seseorang untuk menjemputnya di sana.
Sembari menunggu jemputan Alice serta dia bercengkrama duduk di pinggir jalan. Bryan masih setia menemani Alice di sana tapi masih di atas motor. Brian memperhatikan cara Alice bercengkrama yang menurutnya memiliki rasa kesopanan terhadap orang lain dan rasa peduli yang tinggi terhadap sesama. Meski terkadang gadis tersebut berubah menjadi menyeramkan di saat dia melihat musuh-musuhnya.
Sedangkan di rumah sakit, istrinya Marcelino dan Amanda sedang berusaha mencari keberadaan Marcelino kesana-kemari mengitari rumah sakit dan menanyakannya kepada setiap orang yang ada di sana.
Tidak ada satupun yang mengetahui Marcelino keluar dari ruangan rawatnya. Bahkan, para dokter dan suster pun tidak begitu tahu ke mana pria itu keluar.
"Ini gimana sih, masa rumah sakit besar dengan penjagaan yang ketat tidak tahu pasiennya kabur melarikan diri? Kalian ini kan di bayar, kalian ini kan ditugaskan menjaga setiap pasien tapi kenapa kalian malah kecolongan membiarkan suami saya pergi begitu saja dari ruangannya." Istrinya Marcelino bernama Elle itu mengumpat memarahi setiap penjaga bahkan berani memarahi dokter dan para suster.
"Maafkan kami, Nyonya. Kami kecolongan dalam hal ini."
"Mom, lebih baik mau menghubungi saja om kaya ataupun Om Arfan. Siapa tahu mereka mengetahui keberadaan Daddy di mana." Amanda bersuara. Percuma marah-marah kalau pada akhirnya semua orang tidak ada yang tahu mengenai kepergian Marcelino.
__ADS_1
"Tapi kita bisa memeriksa CCTV yang ada di lorong-lorong rumah sakit untuk memastikan benarkah Tuan Marcelino kabur melarikan diri atau ada orang lain yang membawanya?" ucap salah satu dokter yang menangani Marcelino memberikan usulan sekaligus mencurigai tentang adanya konfiransi antara orang dengan orang untuk membawa pasiennya.
"Kau benar. Cepat antarkan saya ke ruangan Cctv!" pinta Elle menyetujui ide ini. Dia sudah keramat panik sehingga tidak sampai kepikiran ke arah situ.
Lalu mereka bersama segera berjalan menuju ruangan tersebut karena tidak ingin terlalu lama menunggu. Setibanya di dalam ruangan pengecekan Cctv, Elle memerintahkan penjaganya untuk mengecek layar di hadapannya.
"Cepat buka rekaman ruangan Marcelino!"
Tanpa bantahan dan tanpa banyak kata, petugas itu membuka rekaman Cctv pukul 7 malam. Mereka semua memperhatikan pergerakan setiap orang yang ada di rekaman tersebut sampai mata Elle dan Amanda melihat seseorang keluar kamar mengenakan pakaian wanita.
"Stop! Siapa wanita itu? Mommy tidak mengenalinya? Apa kau mengenalinya, Amanda?" Elle menelisik setiap penampilan wanita dalam video tersebut.
"Tidak, Mommy."
"Lanjutkan Video!" Elle kembali memerintahkan orang tersebut memutar lagi rekaman Video yang memperlihatkan setiap pergerakan wanita itu.
Lalu Amanda memekik di saat gambar wanita yang keluar dari ruangan Daddy nya menunjukan sesuatu berbeda. Amanda tercengang saat tahu jika wanita itu adalah Daddy nya.
"Astaga, Mommy...! Wanita itu Daddy." Amanda menunjuk rekaman di bagian depan rumah sakit saat Marcelino membuka rambut palsunya.
Sedangkan Elle malah fokus ke ruangannya sehingga dia tidak tahu pergerakan itu ternyata adalah suaminya. Elle memandang Amanda dan Amanda pun menatap ibunya. Keduanya cukup tercengang atas tindakan Marcelino yang mengenakan pakaian wanita dan rambut palsu. Keduanya bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi?..."
__ADS_1