
Alice begitu ringan melangkah membawa semua pesanan anak-anak basket. Dia memesan minuman menggunakan plastik yang ada sedotan nya.
"Kak, ini minumannya." Alice memberikan semua minuman yang ia bawa oleh kedua tangannya.
Danish mengerutkan keningnya, dia memperhatikan minuman itu lalu beralih menatap Alice.
"Kau gila, minuman apaan ini?" sentak Danish menepis kasar tangan Alice dan membuat minuman itu terjatuh ke lapangan.
"Minuman yang Kakak pesan tadi," jawab Alice terlihat santai dan tidak merasa bersalah.
"Saya minta minuman yang ada di dalam cup, bukan dalam plastik begini. Dasar miskin," ujar Danish berdiri dan langsung mendorong tubuh Alice sampai gadis itu tersungkur.
Salah satu rekan Danish segera berdiri dan menghalangi Danish agar tidak melakukan tindakan bodoh.
"Kau jangan terlalu berbuat kasar pada perempuan, Danish. Apalagi anak baru di kampus kita." Pria itu mencegahnya sekaligus mengingatkan.
Alice mendongak memperhatikan wajah pria itu, "Exel, anak pertama perampok bernama Arfan." Eliza memperhatikan wajah pria itu, wajah yang begitu mirip dengan Arfan, salah satu perampok yang sudah menghabisi keluarganya.
"Jelaslah, anak cupu dan miskin seperti dia harus di kasari agar mereka tahu jika disini, Danish seorang anggota BEM yang berkuasa. Jadi dia harus patuh pada setiap peraturan yang senior yang berkuasa."
"Tapi tidak harus membuang minuman juga."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak." Alice berdiri dan menepuk-tepuk bagian belakang bokong yang terkena tanah, "Mungkin dia salah satu pria yang tidak bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan," ujarnya menyindir Danish yang menurutnya tidak bersyukur dalam segala hal.
"Kau, sok tahu sekali. Terserah saya bersyukur ataupun tidak itu bukan urusanmu. Saya tidak mau tahu, sekarang juga ganti semua minumannya dan pesan yang paling mahal! Sekarang!" Danish bertolak pinggang meminta Alice untuk kembali membelikan mereka minuman.
"Beli saja sendiri, saya bukan babu kau yang seenaknya kau suruh-suruh," ujar Alice pergi dari sana meninggalkan lapangan itu dan enggan menghadapi orang seperti mereka.
Tapi Danish mengejar Alice dan menarik rambutnya dari belakang, "Mau kemana kau, hah? Tidak akan ada orang yang berhasil pergi begitu saja dari Danish sebelum kau melaksanakan apa yang saya perintahkan."
Banyak pasang mata memperhatikan mereka, ada yang kasihan dan ada juga yang tersenyum sinis.
"Itulah akibatnya tidak menuruti keinginan Danish, pasti akan kena bully olehnya."
"Kasihan gadis cupu itu, pasti setelah ini hidupnya tidak akan tenang lagi. Pasti dia tidak akan betah dan berakhir keluar dari kampus."
"Susah, satu sisi tidak mau tapi di sisi lain harus mengikuti aturan ketua BEM itu."
Alice memejamkan mata menahan kesal karena Danish menarik rambutnya, "Kak, bisa tolong lepaskan tangannya dari rambutku?"
Alice meminta agar Danish melepaskannya, dia juga masih bernada lembut. Namun, Danish semakin menjadi.
"Melepaskan mu? Hahaha, tidak akan." Danish menariknya lagi ke belakang dan Alice menahan rambutnya.
__ADS_1
"Kau harus mengikuti perintahku, Buruan belikan lagi kita minuman yang mahal." Danish tersenyum sinis.
Alice membuka matanya, dia melirik Danish dengan tatapan memelas, "Tolong lepaskan!"
"Kenapa? Sakit, ah ini mah tidak, kok."
"Sudahlah Danish, kau jangan buat masalah dengan orang lagi!" Exel mencoba melerai Danish yang sudah mulai kembali membuat ulah.
"Kau itu selalu saja melarang ku, Exel. Mendingan kau diam saja bareng yang lain dan jangan ikut campur!" ujar Danish memperingati Exel.
"Danish, bisa kau lepaskan tanganmu dari rambutku?" pinta Alice lagi sudah mulai berkata dingin dengan sorot mata tajam pula.
"Rasakan ini, hahaha." Danish malah menarik lagi dan di saat itu Alice tidak bisa menahan diri untuk tidak melawannya.
Alice memutar tubuhnya dengan tangan mencekal pergelangan tangan Danish lalu gadis itu berbalik memutar tangan Danish hingga pria itu meringis kesakitan dan Alice mendorongnya.
Mereka yang melihatnya terbelalak penuh keterkejutan. Alice si wanita cupu itu begitu terlihat berani dan keren.
"Jangan pernah sekalipun kau memegang rambutku. Kau pikir saya tidak berani melawan mu? Ck, saya tidak lemah seperti yang kalian pikirkan," ujar Alice sambil menarik kuciran rambutnya hingga membuat rambut indahnya tergerai indah. Dan melepaskan kacamata bulatnya.
"Kau, bukan tandingan ku." Lalu Alice pergi dari sana tanpa mengenakan kacamata dan rambut tergerai indah tertiup angin.
__ADS_1
Danish, Exel, dan sebagian pria bengong menyaksikan perbedaan yang wanita cupu tunjukkan. Alice menoleh, ia tersenyum manis pada mereka yang sedang mematung.
"Dia cantik."