Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Memantau lagi


__ADS_3

Setelah selesai kuliah, Alice kembali menyusun rencana untuk melenyapkan lagi salah satu dari dua orang yang tersisa. Dia tengah duduk penuh keseriusan memperhatikan foto dua orang yang ada di atas meja.


"Tinggal Arfan dan Cleo. Siapa dulu diantara kalian yang akan ku habisi selanjutnya." Alice mengetuk-ngetuk meja.


"Cleo, si bos pencurian. Arfan, si anak buah yang paling setia. Hmmm, ok, sebaiknya Arfan terlebih dulu yang akan ku habisi."


Lalu Alice berdiri dari duduknya, dia mencari kontak ponsel Arfan.


*****


"Bos, apa sebaiknya kita laporkan ini ke polisi saja? Bisa saja orang itu akan terus mengincar kita hingga mendapatkan apa yang di inginkan nya."


Cleo menyeruput secangkir kopi, lalu pria itu menyimpannya ke atas meja. "Ini baru akan saya rencanakan. Pembunuhan ini harus segera terselesaikan dan kita harus tahu siapa dalang di balik itu semua. Sepertinya ini tidaklah main-main."


"Lalu begitu saya akan memanggilkan inspektur polisi kesini." Lalu Arfan menghubungi salah satu rekan polisi yang juga membantu kasus mereka. Itulah sebabnya di saat mereka mencuri sellau mendapatkan perlindungan dan tidak tertangkap. Karena itu semua memang ada bantuan dari pihak polisi.


"Cepat kau datang ke kediaman Bos Cleo sekarang juga! Kita tunggu kedatangan mu, inspektur."


"Siap laksanakan." Balasannya pun begitu tegas dan lugas. Tidak ada penolakan apalagi kata sedang sibuk terlontar di ucapannya.


Lalu Arfan mematikan sambungan teleponnya.


*****


"No nya sedang sibuk. Baiklah, sepertinya ku harus memantau lebih dekat lagi kedua orang-orang itu." Lalu Alice mengambil tas gendong, kamera, teropong, dan juga ponsel. Dia pun segera keluar dari apartemen.


Namun, baru saja luar, dirinya di kagetkan oleh kedatangan Brian yang sudah ada di depan pintu hendak mengetuk pintu.

__ADS_1


"Astaga Brian! Ngapain kau di depan pintu kamarku?"


Tangan Brian yang menggantung di udara ia turunkan ke bawah. "Mau menemui mu dan membantumu dalam melakukan misi yang sedang kau jalani," jawab Bastian tersenyum tampan.


Alice menatapnya, dan ia pun menutup pintu apartemen. "Memangnya tidak sibuk? Kau 'kan salah satu dosen tampan yang di gandrungi wanita." Alice mencebik sebal mengingat tadi di kampus.


Bagaimana kedatangan Brian di sambut histeris oleh para wanita kampus. Ketampanan di agungkan dan di puja-puji. "Aku kesal melihat mereka begitu kecentilan melihatmu," ujar Alice mendengus seraya melangkah duluan.


Brian tersenyum simpul, ia merasa jika Alice cemburu pada mereka yang tengah memuja dirinya. "Apa kau cemburu aku di dekati para wanita?" tanya Brian ingin sekali teriak girang kalau Alice cemburu.


Alice menengok, "Aku cemburu? Tidak, tapi tidak suka saja melihat mereka teriak histeris. Aaakhh, pak Brian ganteng sekali, dia itu calon pacarku, dia calon suamiku, dan masih banyak lagi lontaran kata mereka tujukan untukmu. Menyebalkan." Alice menggerutu kesal dan tanpa di sadarinya jika ia dilanda api cemburu.


Brian semakin melebarkan senyumnya, lalu ia menarik tangan Alice dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Brian!" Alice melotot terkejut kala tangan Brian melingkari pinggangnya.


"Tidak, aku tidak cemburu," ujar Alice memalingkan wajahnya enggan menatap wajah Brian yang terlihat sangat tampan di matanya. Apalagi secara dekat seperti ini sangat membuatnya semakin merasakan berdebar di dada.


"Yakin tidak cemburu? Ok, kalau begitu aku akan menerima salah satu cinta mereka." Brian ingin melihat reaksi Alice, dan sesuai dugaannya.


"Hei, enak sekali berkata seperti itu. Jangan harap ya! Awas kau!" ujar Alice memperingatinya dan mendorong tubuh Brian dengan raut wajah cemberut kesal.


Tetapi Brian semakin menarik pinggang Alice dan mencium bibir gadis itu. Alice terbelalak tetapi ia diam tak menolak ataupun tidak membalasnya.


"Aku hanya akan menjadi milikmu. Karena hanya kau yang aku inginkan dan aku cintai," ucap Brian menatap serius bola mata Alice.


*****

__ADS_1


"Kenapa kau malah membawaku ke atas gedung ini?" Alice merasa heran sebab Brian mengajaknya ke bangunan apartemen cukup tinggi dan kini keduanya berada di ujung apartemen.


"Kau ingin memantau pergerakan Cleo bukan?"


"Iya, tidak kenapa harus di sini?" Alice masih tidak mengerti.


"Mana teropong yang kau bawa?" pinta Brian.


"Sebentar, ada di dalam tas." Alice mengambil teropong nya dan memberikannya pada Brian, "ini."


Lalu Brian berdiri di belakang Alice, "Coba sekarang kamu gunakan teropong ini dan lihat arah depan!" Alice mengikutinya dan apa yang ia lihat.


"Brian, itu mereka."


"Iya, dari sini kita bisa melihat mereka," kata Brian sambil kedua tangannya berpegangan ke pagar besi dengan Alice merasa di depannya.


Alice begitu serius memperhatikan ketiga orang yang sedang duduk berbicara serius. "Apa yang sedang mereka rencanakan? Dan kenapa juga ada polisi? Apa mereka sedang melaporkan masalah kematian Marcelino ke polisi?" gumam Alice berpikir mengenai ketiga orang itu.


"Sepertinya begitu. Tapi di sini yang jadi masalah adalah, pria yang berseragam polisi itu salah satu komplotan dari mereka. Kemungkinan, setiap perbuatan yang mereka lakukan di lindungi oleh para inspektur."


"Apa?!" pekik Alice langsung menengok kesamping dan malah mengecup pipi Brian yang sedang berada tepat di sampingnya.


"Eh ...." Alice baru sadar jika mereka begitu sangat intim.


"Fokus lagi ke depan. Pastinya saat ini mereka sedang mencari pembunuh Marcelino." Brian tidak main-main, dia menatap serius ke arah yang ada tiga orang pria.


Alice mengangguk meski hatinya berdebar-debar berada di dekat Brian. Dan dia menghelakan nafas berat lalu kembali memperhatikannya.

__ADS_1


"Kita lihat apa yang akan mereka lakukan," gumam Alice serius. Dan ia siap melakukan apapun demi membalaskan kematian orang-orang yang ia sayangi.


__ADS_2