
Life berisi pria bernama Afan jatuh kebawah dengan kecepatan yang luar biasa. Suara keras yang dari lift terdengar begitu nyaring di sekitarnya. Bahkan, orang-orang yang ada di dekat lift pun terkejut mendengarnya.
"Suara apa itu? Suaranya nyaring sekali," kata salah satu pengunjung yang ada di dalam mall. Dan anehnya meskipun ada pengunjung mereka tidak mengetahui adanya tindakan kekerasan yang terjadi di sekitar sana.
"Iya, suaranya sangat keras sekali. Apa lift yang ada disana jatuh?"
"Bisa jadi, ayo kita ke sana." Beberapa orang berlari ke arah asal suara. Mereka semua penasaran dengan suara berisik yang terdengar nyaring di sekitar lift.
"Hei, ini lift nya tidak bisa di buka. Sepertinya liftnya jatuh," kata seseorang.
"Cepat panggil keamanan, siapa tahu ada orangnya di dalam!" kata pengunjung lain.
"Benar, bisa saja ada pengunjung yang terjebak di dalam sana."
__ADS_1
Mulailah orang-orang berkerumun di dekat lift. Mereka penasaran ingin melihat keadaan orang-orang yang ada di dalam lift. Seketika suasana ramai dikunjungi oleh para pengunjung lift.
Berbeda dengan Alice dan Brian yang sedang tersenyum puas bisa menuntaskan balas dendam mereka.
"Aku senang dua orang dari ketiga orang yang telah melenyapkan keluargaku kini telah tiada. Hanya ini yang bisa aku lakukan demi membalaskan kematian seluruh keluarga ku," ucap Alice berdiri menatap kerumunan orang-orang. Matanya menatap sedih teringat kembali pada ayah, ibu dan adiknya yang di habisi tanpa hati.
Brian yang berdiri di samping Alice tersenyum, ia merangkul pundak Alice. "Bukan hanya kamu saja, tapi juga aku. Aku pun senang bisa menghabisi dia. Dari dulu ingin sekali ku habisi orang-orang yang telah merampok rumahku dan menyakiti keluarga, tapi aku belum bisa karena belum memiliki ilmu apapun. Hingga kamu hadir dan membuatku menjadi lebih berani lagi menghadapi mereka. Niat kita sama, tujuan kita sama, aku dan kamu memiliki keinginan yang sama. Sama-sama melenyapkan mereka bertiga."
Alice menoleh. "Jadi ini alasan kamu membantuku Karen kamu juga sama sepertiku?" Brian mengangguk.
"Aku tidak peduli, akan ku pertaruhkan nyawa ku demi bisa membalaskan dendam atas kematian keluarga ku." Tangan Alice mengepal kuat, matanya berubah merah dengan amarah yang sangat besar terhadap para perampok itu.
"Aku akan selalu ada di belakangmu, Alice. Kita hadapi mereka bersama-sama."
__ADS_1
*****
( "Apa! Afan telah tewas! Siapa yang berani menghabisinya?" pekik Cleo mendengar kabar tewasnya anak buah dia dari salah satu polisi yang sedang bertugas menjaga Alice. )
( "Sepertinya orang yang ingin balas dendam pada kita, Bos. Ini tidak bisa di biarkan lagi, kita harus bergerak cepat sebelum dia menghabisi kita. Marcellino dan Affan sudah tiada, tinggal kau dan aku yang belum. Dan pastinya mereka sedang mengincar kita, Bos." )
( "Brengsek, lawan kita bukan sembarang lawan. Kita harus melakukan strategi untuk menjerat dia masuk ke dalam perangkap kita. Saya tidak mau tahu, kau kumpulkan anak buahmu dan temui saya di markas kita!" )
( "Baik, Bos." )
Cleo mematikan ponselnya. Ia mengepalkan tangannya dengan amarah yang luar biasa memuncak. "Bajingann, beraninya dia bermain-main denganku. Tidak akan ku biarkan kau menang, sialan."
Brak ...
__ADS_1
Cleo menendang meja yang ada di dekatnya. "Akkhh ... siapa dia? Siapa yang sudah berani mengusik seorang Cleo?"