
"Daddy, hiks hiks." Amanda menangis di hadapan tubuh ayahnya yang terbaring di dalam peti jenazah. Dan istrinya Marcelino juga terduduk lesu dengan pandangan mata kosong tidak menyangka suaminya di temukan tidak sudah tidak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah.
"Ini sangat tidak masuk akal, aneh sekali," ujar istrinya Cleo berbicara di dekat Elle.
Elle menoleh, "Maksudmu?"
"Iya, kematian Marcelino sungguh mendadak. Banyak luka tembakan, banyak memar, dan juga goresan benda tajam di lehernya. Ini pasti ada dalang di balik kematiannya."
"Itu tidak mungkin, setahuku Marcelino tidak memiliki musuh. Suamiku begitu baik, dia sayang keluarga dan tidak terdengar macam-macam." Elle tidak tahu saja jika suaminya adalah salah satu perampok berkelas kakap yang berhasil membohongi publik dan polisi.
"Hmmm, kurang yakin sih. Atau bisa saja ada orang tidak suka dan merencanakan pembunuhan ini."
"Pembunuhan!"
*****
Beberapa Hari telah berlalu, kematian Marcelino sungguh menggemparkan keluarga dan rekan-rekannya Tidak ada yang menyangka jika pria yang dianggap malaikat ternyata meninggal begitu tragis.
Dan saat ini, dua rekannya Cleo dan Arfan sedang membicarakan hal itu.
"Kali ini kita harus lebih waspada lagi, Arfan. Saya yakin jika orang itu berkeliaran dan sedang mengincar kita. Kau tidak tahu saja jika dulu kita ini seorang perampok dan tanpa belas kasih sering membunuh, hingga melakukan hal yang tidak pernah orang lain lakukan. Kemungkinan saja ini ada sangkut pautnya dengan salah satu orang-orang di masa lalu." Cleo mulai was'was. Dia mulai meyakini adanya balas dendam yang sedang mengincar mereka.
"Kau benar, Cleo. Saya juga meyakini hal itu. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin diam saja saat bahaya mengintai kita. Sekarang Marcelino sudah tiada, kemungkinan diantara kita sedang ada yang di incar juga. Entah itu saya atau pun kau." Arfan memikirkan ini dari kemarin, sejak menemukan tubuh Marcelino sudah lemah tak berdaya.
__ADS_1
Kedua pria yang sudah tidak muda lagi itu sedang dilanda gelisah dan rasa panik yang tiba-tiba saja datang mengingat perbuatannya dulu. Dan keduanya berada di halaman belakang rumah Cleo tengah membicarakan serius masalah yang tiba-tiba saja terjadi.
"Kita harus memperketat penjagaan di sekitar kita. Pastikan siapa saja yang di curigai harus di bunuh tanpa ampun!" tutur Cleo akan menerapkan sistim penjagaan.
"Iya, itu ide yang bagus. Kalau begitu saya akan cari orang-orang yang memiliki ilmu bela diri yang handal." Arfan bersemangat mencari ponselnya, ia mencari kontak rekan terkuat dan meminta orang-orang melindungi mereka.
*****
Alice, gadis cantik yang sudah berpakaian cupu lagi tengah berdiri di depan tiga foto yang ia tempel di dinding.
"Marcelino, kau sudah tiada," ujarnya seraya memberikan tanda silang merah ke foto Marcelino dengan wajah tersenyum menyeringai.
"Satu, sudah selesai," gumamnya lagi menuliskan angka satu, "Sekarang no dua, Arfan. Kau adalah target selanjutnya."
"Sekarang pasti kalian sedang berduka."Lalu Alice pergi menuju kampus.
*****
Alice melangkah masuk ke area kampus, dia dengan santai berjalan riang tanpa beban. Namun, langkahnya terhenti di saat bola basket menggelinding ke bawah kakinya. Dia melihat bola itu kemudian mengambilnya.
"Kembalikan bolanya, cupu!" ujar seorang pria.
Alice menoleh, "Ini, Kak." tanpa aba-aba Alice melemparkannya dan bola itu di tangkap oleh pria tadi.
__ADS_1
"Kau anak baru 'kan. Kenari lah!" siapa lagi yang memanggil jika bukan Denis si ketua BEM yang menjadi salah satu mahasiswa yang paling terkenal ke kekejamannya.
"Iya, saya baru satu Minggu di sini. Apa apa, Kak?" Alice menjawab dengan nada polis dan lembut. Tangannya sesekali membenarkan kacamata bulat yang ia kenakan.
"Belikan saya minuman sekarang juga!"
"Sekalian, saya juga ingin," sahut rekan-rekan Denis yang sedang berada di lapangan basket. Dan Denis memberikan instruksi ok. Lalu dia menatap lagi Alice.
"Jadi kau harus membeli minuman untuk kami semua. Buruan dan gak pake lama!"
"Uangnya mana?" Alice menengadahkan telapak tangannya meminta sejumlah uang pada Denis.
Denis mengernyit memperhatikan tangan Alice dan beralih menatap mata Alice, "Kau minta uang pada saya?" Alice mengangguk, "Kan suruh minta di beliin, jadi aku minta uangnya."
"Pakai uang kau, cupu! Saya tidak akan beri uang dan kaulah yang membelikan kita semua!" pekik Denis seraya melemparkan bola basket ke arah lapangan.
Tak sedikitpun Alice kelihatan takut, justru dia malah tenang setenang air yang diam tanpa diusik seseorang.
"Kak, uangku tidak cukup untuk membayar minuman satu tim basket. Aku itu hanya dikasih uang jajan segini." Alice mengambil uang jajannya di saku dan menunjukkannya.
"Hanya dua puluh ribu? Hahaha kasihan sekali si cupu ini. Tapi saya tidak peduli!" sentak Denis menatap tajam bola mata Alice yang juga menatapnya lembut.
"Buruan beli!" pekiknya lagi sambil mendorong tubuh Alice.
__ADS_1
"Iya, Kak." Alice mengiakan saja, tetapi dalam hati sedang tersenyum menyeringai merencanakan sesuatu. "Akan ku kerjai kau, Denis, putra tunggal Cleo," gumamnya dalam hati.