Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Bab 22


__ADS_3

Hari semakin pagi, namun Elle belum menemukan keberadaan Marcelino. Sudah ia cari ke sana kemari namun tak kunjung menemukannya. Penyamaran yang di lakukan Marcelino menjadi wanita sungguh membuatnya kaget bukan kepalang. Untuk pertama kalinya dia melihat suaminya memakai pakaian wanita.


"Kemana lagi kita harus mencari keberadaan Daddy? Ini sudah sangat lama dan semakin siang saja. Tidak ada satupun yang tahu keberadaan Daddy, mom?" Amanda mondar-mandir mengkhawatirkan ayahnya yang tak kalah kunjung di ketahui oleh mereka. Sudah menghubungi rekan kerja, sanak saudara namun tak kunjung kembali juga.


"Mommy juga tidak tahu, Amanda." Kebingungan serta ketidaktahuannya membuat Elle pusing sendiri. Tidak ada yang mengetahui Marcelino di mana?


Elle bertolak pinggang memikirkan siapa lagi orang yang belum mereka hubungi. "Ayo, siapa lagi rekan Marcelino?" gumam nya bingung.


"Hmmm uncle Cleo dan Arfan. Mereka adalah rekan Daddy yang belum kita hubungi." Amanda langsung saja teringat kepada mereka berdua atas ketidakadaan Daddy nya.


"Ah, kau benar, Manda. Cleo dan Arfan." Elle pun mencari ponsel dari dalam tas kemudian menghubungi Arfan. Namun, panggilan Elle tidak di jawab.


Sekali lagi Elle menghubungi Arfan berharap lelaki tua itu mau mengangkat panggilan darinya. "Ayolah angkat! Kami butuh penjelasan kalian atas keberadaan Marcelino."


Lagi-lagi tidak di angkat. Padahal no nya masih berdering tapi tidak di angkat juga. "Sial, kemana dia? Sulit sekali di hubungi nya."


"Bagaimana, Mom? Apa kau berhasil menghubungi uncle Arfan?" Amanda penasaran. Dia melihat intens wajah ibunya untuk mengetahui jawaban apa yang akan di keluarkan oleh Elle.


"Dia tidak mengangkat panggilan Mommy." Elle melirik Amanda sebentar lalu menunduk menatap ponselnya lagi.


"Hubungi uncle Cleo. Siapa tahu di angkat." Amanda memberikan usul lagi. Hanya pria itu harapan satu-satunya. Mereka berharap dari Cleo bisa mengetahui keberadaan Marcelino.


Elle mengangguk kemudian menghubungi Cleo, berharap dapat informasi mengenai suaminya dan siapa tahu mereka mengetahui dimana Marcelino beranda.


Tuutt... tuutt... tuutt...


*******


Arfan dan Cleo masih terlelap dalam mimpi indah bersama para wanitanya. Mereka sama-sama tidak mendengar suara panggilan karena ponsel mereka di silent.

__ADS_1


Habis pertempuran tadi malam sampai membuat kedua orang itu terkapar lemah tak sadar kehabisan tenaga setelah menikmati hawa panas antara dia dan wanita sewaannya.


Namun, telinga dari wanita yang ada di samping Cleo terganggu oleh kebisingan dari ponsel Cleo. Wanita itu merasa ada getaran di kasur lalu mencarinya.


"Siapa yang sudah mengganggu aktivitas kita? Sedari tadi berisik terus." omelnya tidak terima kebersamaan mereka dengan para bos orang kaya di ganggu begitu saja.


"Sayang, ponselmu berdering terus." wanita malam itu membangunkan Cleo dengan cara meraba setiap dada nya.


Cleo terganggu mendesis geli saat tangan nakal itu menyentuh bagian sensitifnya. "Apa sih? Ganggu waktu tidur saja." Cleo mengumpat kesal waktu tidurnya di ganggu oleh orang lain.


"Ini ponselmu berdering terus." Cleo mengambil ponselnya lalu bersuara.


"Siapa?"


"Saya Ellen, kau tahu dimana keberadaan Marcelino? Dia menghilang begitu saja?"


Dan Cleo langsung melebarkan matanya menyadari sesuatu. Dia baru ingat jika semalam ingin langsung datang menghampiri tempat dimana Marcelino tiba.


Setelah membersihkan diri, Cleo langsung berpakaian. Dia mengambil cek kemudian menuliskan nominal uang.


"Ini bayaran atas pelayanan yang kau berikan malam tadi. Saya tidak butuh lagi jasa mu. Sekali pakai langsung ku buang." Cleo melemparkan cek tersebut tepat mengenai wajah wanita yang sudah menggangu tujuannya menghampiri Marcelino.


Lalu Cleo beranjak keluar dan mencari Arfan. Dia yang sudah tahu di ruangan mana Arfan berada langsung saja mendobrak pintunya. Namun, dia malah melihat aksi Arfan yang sedang memaju mundurkan pinggulnya wanita bayaran sambil mengerang di bawah kendali wanita.


"Ahh... faster baby, ouughh.. terus lebih cepat!" Arfan melenguh terus bersuara saat puncak tertinggi hampir ia dapatkan. Cleo berdiam diri sebentar karena dia tidak mungkin mengacaukan kegiatan Arfan di saat lagi ingin mencapai tujuan.


Sampai Arfan mengerang lalu membalikan wanita di atasnya menjadi di bawah kendalinya. Dan dia mendominasi permainan sambil terus mengerang nikmat sampai berhasil mengeluarkan laharnya hingga terasa senjatanya berdenyut.


Barulah Cleo bertindak setelah melihat Arfan terlihat lega bisa menuntaskan hasrat nya. Dan Cleo langsung menarik tangan Arfan.

__ADS_1


"Bos..." Arfan terkejut ada Cleo di sana. Dia segera melepaskan senjatanya dari wanita malam. Dan wanita itupun tanpa malu masih terlentang tak berdaya.


"Kita pergi dari sini. Kita harus melihat Marcelino. Ellen menanyakannya." dan perkataan Cleo pun menyadarkan Arfan. Pria itu juga segera mengenakan pakaiannya.


******


Beberapa waktu telah berlalu sampai Cleo dan Arfan kini berada di gedung university kosong. Mereka memperhatikan tempat itu.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Arfan merasa heran kenapa Marcelino bisa nekat bunuh diri di tempat ini.


"Sepertinya iya. Karena ini alamat yang tertera di pesan yang di kirimkan Marcelino. Sekarang kita cari dimana dia berada." Cleo menepuk pundak Arfan lalu berjalan sedikit berlarian mencari Marcelino kesana kemari. Arfan juga tak tinggal diam, dia pun ikut mencari.


"Bagaimana? Kau menemukannya?" napas Cleo sudah memburu ngos-ngosan saking lelah mencari namun hasilnya tak kunjung di ketahui.


"Belum, Bos. Saya juga tidak menemukannya. Coba kau lihat lagi tempatnya dimana?"


"Hanya ada pesan saja, Arfan. Mending kita cari lagi. Ke atas gedung." Cleo belum mencari sampai ujung bangunan. Dan seketika dia tersadar jika kemungkinan besar Marcelino berada di atas.


"Atas gedung. Kita belum kesana. Buruan cari!" Cleo dan Arfan kembali berlari memastikan lagi segalanya.


Sampai lah keduanya di gedung paling atas. Keduanya rupanya salah menaiki ujung gedung namun juga mampu melihat keberadaan Marcelino yang sedang duduk di kursi dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Bos itu..." ujar Arfan menunjuk arah barat.


"Di beneran mati? Kita kesana." mereka kembali lagi memutari gedung tersebut sampai kini keduanya berada di dekat Marcelino.


Mereka terdiam tidak percaya jika salah satu anggota nya tiada dalam keadaan ini. "Ini tidak mungkin terjadi. Marcelino pria yang enggan mati dan mengakui kesalahannya." ucap Cleo sambil memeriksa setiap luka e ada di tubuh Marcelino. Kemudian memperhatikan semuanya tanpa sedikitpun terlewatkan.


"Maksud kau ada seseorang yang sengaja melakukan ini semua?" Arfan pun memiliki pemikiran sama mengenai ini. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa Marcelino mati secepat ini.

__ADS_1


"Sepertinya ini di rencanakan. Dan kemungkinan yang merencanakannya adalah orang pertama yang menusuk Marcelino." Cleo meyakini akan hal itu. Kenapa iya bisa berpikir begitu? Karena sejak tragedi penusukan di kapal membuatnya yakin jika ada orang yang ingin membalas dendam. Namun pertanyaannya siapakah orang itu?"


"Jadi ini murni pembunuhan?"


__ADS_2