
Bug... Bug... Bug...
"Pukul yang keras! Keluarkan semua tenaga yang kau miliki! Jangan pernah sekalipun kau lengah dan membiarkan lawanmu berhasil menyerang mu." Dave tengah melatih keras Alice dengan cara menyerang Alice.
Sudah setahun Alice terus berlatih di bawah kepemimpinan Robert Stewart. Setiap hari latihan selalu berganti. Kali ini dirinya tengah ditantang oleh Dave, tangan kanan Robert untuk bisa mengalahkannya.
Alice kembali menyerang secara membabi buta. Amarah nya datang tiba-tiba namun itu justru malah membuatnya lelah dan terkena pukulan membuat gadis remaja itu tersungkur ke lantai dengan darah keluar dari sudut bibirnya.
Latihan yang dilakukan Alice bukanlah sembarang latihan. Mulai dari alat-alat berat sehingga pelatihnya sangat keras sampai mengakibatkan luka di bagian tubuhnya.
Tapi demi mencapai sebuah tujuan yang diinginkan Alice, Gadis remaja itu tak pantang menyerah terus maju pantang mundur hingga kini yang mampu bertahan selama 1 tahun belakangan di bawah latihan penuh kekerasan.
"Kau harus bisa mengontrol amarahmu di saat tengah berkelahi seperti ini. Amarah hanya akan membuatmu lengah dan tidak bisa berpikir jernih." Dave kembali memberikan nasihat sambil membantu Alice berdiri.
"Kau benar, Paman. Saat amarahku memuncak, justru tenagaku terkuras lemah." Alice menerima uluran tangan itu, lalu berdiri mengusap kasar darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Ck, pukulan mu sungguh sakit juga. Tapi ini tidak seberapa dengan peristiwa menyakitkan di mana Alice melihat dengan kepala mataku sendiri keluargaku dihabisi oleh mereka," ujarnya berubah dingin dengan sorot mata tajam menyala penuh dendam.
Dave menepuk-tepuk pundak Alice, "Kau harus mampu membuktikan jika kau mampu menjadi wanita kuat. Keadilan untuk keluargamu tengah menantimu. Sekarang kita latihan bermain samurai."
Alice menoleh, dia mengangguk. "Aku siap!" ujarnya penuh keyakinan.
Apa yang Alice tengah lakukan diperhatikan oleh Robert beserta Evelyn di ruangan yang berbeda.
"Aku merasa putriku kembali lagi. Kepribadian Alice sama dengan Alicia. Keduanya kalau sudah bertekad, apapun akan mereka lakukan demi mencapai sebuah tujuannya," tutur Evelyn sedang berdiri menatap layar yang menunjukkan Alice tengah bersiap mengambil pedang samurainya.
"Aku juga merasakan hal itu. Sejak melihat dia pertama kali di rumah sakit dalam keadaan luka terbakar, saya begitu tertarik untuk melatihnya, menjadikan dia wanita tangguh tak terkalahkan."
__ADS_1
"Tapi aku takut jika sewaktu-waktu musuhmu menyerang Alice. Aku sudah menyayanginya seperti putriku sendiri. Perilakunya, manjanya tutur katanya, semuanya sangat mirip dengan Alicia Putri kita."
"Itulah sebabnya saya melatih Alice sedemikian rupa agar kuat di saat dirinya mendapat serangan tidak terduga. Sebisanya dia mampu menjaga diri sendiri."
"Apa ini tidak akan membuat dirinya dalam bahaya?"
"Bahaya pasti ada, tetapi aku yakin kepada Alice jika dia mampu mengatasi macam marabahaya. Selama setahun ini saya memperhatikan dia yang terus giat berlatih. Dan kini, latihannya tidaklah sia-sia. Alice sudah jauh sangat lebih kuat dibandingkan Alice yang pertama. Jika dia mampu menandingiku, maka kita akan melepaskannya ke tempat di mana Dia berasal."
"Tapi..." ada rasa keraguan di dalam hati Evelyn melepaskan Alice di luaran sana. Dia yang sudah begitu menyayanginya seakan enggan berjauhan dari wanita remaja yang sudah ia anggap sebagai Putri kandungnya.
Seakan mengetahui kekhawatiran Evelyn, Robert berdiri merangkul sang istri memberikan keyakinan jika Alice akan baik-baik saja.
"Dia akan tetap menjadi anak kita sampai kapanpun itu. Kita melepaskannya untuk bersekolah di universitas ternama di Inggris. Dengan tujuan yang di inginkan Alice mencari orang-orang yang sudah membunuh keluarganya. Percayalah, Alice akan baik-baik saja. Saya juga tidak akan lepas tangan begitu saja dan akan terus menjaganya dari jauh. Brian akan ikut mengawasinya."
"Aku harap begitu." Keduanya pun sedang memperhatikan Alice yang sedang berlatih menggunakan pedang.
Suara pedang saling bersentuhan begitu terasa di ruangan tersebut. Alice terus menyerang ingin mengalahkan Dave. Tubuhnya begitu lincah bergerak ke sana kemari menghindari hantaman pedang yang Dave arahkan kepadanya.
Namun karena satu kesalahan berhasil melumpuhkan Alice mengarahkan ujung pedang itu ke lehernya. Alice terbelalak.
"Kau masih kurang fokus Alice. Buang semua beban pikiranmu, fokuslah pada satu tujuanmu yaitu orang yang ada di hadapanmu. Cari kelemahan setiap musuhmu dan jangan pernah beri dia cela untuk terbebas." Dave menurunkan pedangnya ke bawah.
"Jangan mudah percaya terhadap orang sekalipun itu orang terdekatmu. Pandang matanya di saat orang itu bicara. Dari sorot mata lah kau akan mengetahui kebohongan serta kejujuran yang mereka sembunyikan. Sepintar dan sepandai mereka menyembunyikan, mata tidak akan mampu membohongi. Lanjutkan lagi latihannya!"
Alice mengangguk. Kali ini dia mulai serius menatap fokus. Hal pertama yang di lakukanlah mengatur nafas, lalu berpokus pada setiap gerakan yang di lakukan Dave agar dia mampu menghindari dan menyerang di bagian yang tepat.
Pertarungan sengit kembali terjadi. Kali ini Alice mampu menunjukan keberhasilannya sampai pedang yang di gunakan Dave terlepas dari genggamannya.
__ADS_1
Dave tersenyum puas. "Bagus. Kau sangat pintar dalam belajar. Sekarang kita lanjutkan latihan lagi menggunakan senjata api serta panah."
"Paman, bisakah kita istirahat dulu? Aku cukup lelah seharian ini terus berlatih. Aku juga lapar, paman."
Dave tersenyum mengajak rambut Alice. "Tentu saja, kita akan latihan 1 jam lagi."
"Yes... akhirnya bisa istirahat juga." Alice berlari mengambil ransel kecil berisi makanan pemberian dari Evelyn.
Di tengah keseriusannya membuka makanan tersebut, Brian menghampiri.
"Kau hebat Alice, kau mampu berlatih dan menunjukkan jika wanita itu tidaklah lemah. Aku salut akan perjuanganmu." Kata Brian terdengar tulus sambil memandangi wajah Alice.
"Segala sesuatu butuh perjuangan, apapun akan saya lakukan demi tujuan ku tercapai. Kau juga hebat sudah menjadi salah satu anggota paling muda di antara mereka. Umurmu saja baru 25 tahun," balas Alice sambil mengunyah.
"Ya, saya mengakui jika saya hebat bisa berada diantara mereka. Saya termasuk pria beruntung di pertemukan dengan Tuan Robert." Brian memandang lurus ke depan menatap hutan rindang yang mengelilingi tempat mereka latihan.
Alice mengangguk. Setelah menyelesaikan makanannya dan istirahat. Alice kembali berlatih.
Saat ini dirinya tengah berdiri memperhatikan beberapa objek yang akan ia tembak di depan dengan jarak yang cukup jauh.
"Seperti biasa, kau asah kefokusan mu menembak yang ada di sana. Setelah menggunakan senjata api, gunakan pemanah."
"Siap, Paman." Alice mengatur nafasnya. Dia pun mulai mengarahkan senapannya ke depan memfokuskan matanya pada botol yang ada di depan.
Dor... dor.. dor...
Tepat sasaran. Setiap hari, setiap saat, Alice berlatih apa saja hingga kini ia mampu menguasai berbagai macam senjata dan menguasai berbagai macam jenis bela diri.
__ADS_1