Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Detik-detik Kematian Marcelino


__ADS_3

Gedung tua bertingkat, jika di perhitungkan ada sekitar 8 lantai sudah terbengkalai tidak berpenghuni. Bangunan tua terlihat menyeramkan yang akan menjadi tempat pertemuan Marcelino dan Alice.


Marcelino memperhatikan bangunan sekitar yang menjulang tinggi mengelilingi tubuh dirinya. "Hei, keluarlah. Saya datang sesuai arahan yang kau berikan. Tunjukkan wajahmu wahai pelayanan? Saya ingin tahu siapa orang yang sudah menusukku." Marcelino berteriak memanggil sang pengirim pesan.


Sedangkan Alice memperhatikannya seraya menatap dalam penuh dendam dari jarak cukup jauh. Lalu dia keluar dari tempat persembunyian nya dan berdiri tepat di belakang Marcelino dalam jarak sekitar 3 meter lebih.


Alice : "Saya di belakangmu, Marcelino."


Satu pesan kembali masuk ke dalam ponsel Marcelino membuatnya langsung saja membuka. Matanya terbelalak mengetahui orang yang akan memberitahukan bahwa penusuk dirinya ada di belakangnya.


Yang ia lihat seorang gadis cantik sedang berdiri dengan tatapan membunuh serta sorot mata terlihat memerah dengan tangan terkepal kuat.


"Kau, kau pasti pelayan itu. Cepat beritahukan saya dimana wanita yang kau maksud?" Marcelino tidak ingin lagi banyak bicara. Dia memang sedang sakit tapi tidak akan di rasa setelah mengetahui musuhnya ada di sekitarnya.


Marcelino berdiri tegak mempersiapkan pisau yang akan ia gunakan untuk menghabisi musuhnya.


"Kau akan mati...!" Alice mendekati pria yang sedang berdiri dalam jarak 3 meter dari hadapannya. Matanya masih terpaku menatap pria yang ia benci sedari dulu.


Bayangan kelam yang menimpa seluruh keluarganya tergambar jelas di benaknya. Kematian adiknya yang di habisi oleh Marcelino, penusukan yang ia alami akibat Marcelino, kematian orangtuanya serta kebakaran yang di sebabkan oleh Marcelino juga membuat Alice begitu membenci pria di hadapannya.


Deg...


Perkataan Alice membuat Marcelino bertanya-tanya. "Anak kecil, kau berjaya apa? Bukankah kau bilang lewat pesan jika wanita yang menusukku sedang berada di sekitarku? Lalu di mana dia?"


Senyum simpul penuh misteri tersemat di bibir gadis cantik tersebut. "He, kau mencari dia tuan Marcelino?"


"Iya, dimana dia?" Marcelino mulai mencurigai adanya ketidak beresan dalam hal ini. Rasa janggal kian terasa di benaknya dan berpikir jika ada hal berbahaya yang akan terjadi.


"Dia ada di hadapanmu, Tuan. Wanita pencabut nyawa." Perkataan Alice begitu bengis layaknya seorang pembunuh yang akan membunuhnya.

__ADS_1


Deg...


Perkataan Alice membuat Marcelino diam mematung menatap tajam serius wanita muda di hadapannya. Kini jarak mereka tinggal saru meter saja.


"Hahaha pencabut nyawa kau bilang? Anak kecil lemah sepertimu tidak akan mampu membunuhku." Marcelino menganggap remeh wanita di hadapannya. Dia meyakini jika anak kecil di hadapannya ini bukanlah tandingannya.


Namun...


Bugh ...


Dugaan Marcelino salah, anak kecil yang ia remehkan mampu memukul keras tepat mengenai hidungnya sampai pria tersebut mengeluarkan darah di hidung.


"Bagaimana, Tuan? Apakah ini sakit? Apakah saya bukan tandingan mu?" Alice tersenyum simpul sembari melipatkan kedua tangannya di dada dan berjalan mengitari tubuh Marcelino.


Pria itu keleyengan merasakan pusing teramat dalam, telinganya terasa berdengung hebat, hidungnya mancungnya pun mengeluarkan darah segar mengalir cukup banyak akibat tonjokkan yang ia terima dari gadis kecil yang di anggap remeh olehnya. Sungguh Marcelino tidak menyangka wanita kecil bertenaga besar.


Bughh...


Dan kali ini terjangan Alice mampu membuat Marcelino muntah darah ambruk tersungkur ke tanah. "Bangun kau bi*adab! Hanya segini kemampuan mu? Mana Marcelino tukang bunuh orang yang tiada ampun menghabisi setiap orang di saat para perampok merampok seluruh harta orang, haha?" sentak Alice mengeluarkan rasa marah yang selama ini membendung menyesakkan dada.


Kehilangan keluarga adalah hal yang paling Alice takuti dan sakiti. Apalagi kehilangan kekuarga dalam keadaan mati mengenaskan akibat orang-orang tidak bertanggungjawab membuatnya ingin sekali memberikan pelajaran setimpal atas kematiannya


Marcelino mencoba berdiri dalam keadaan lemas serta perut terluka kembali. Dia membalas bengis tatapan Alice sampai gigi terdengar bergemeratuk berbunyi sangat kuat.


Di sisa tenaganya Marcelino mencoba menyerang Alice. "Brengsek, bede*bah sialan kau anak kecil. Siapa kau sampai berusaha membunuh ku, hah?" pekik Marcelino menggema di halaman gedung university kosong tanpa penghuni siapapun.


Alice menarik sesuatu dari pinggang yang ia sematkan secara sembunyi dan apik. Dan... "Aku anak yang kau habisi dan kau bakar, Tuan."


Dor...

__ADS_1


Tanpa ampun gadis manis itu menembak kaki bagian kiri Marcelino.


"Aakkh..." Marcelino menjerit kesakitan tertunduk dengan lutut terjatuh ke tanah. Posisinya saat ini sedang berlutut menahan sakit di bagian satu kaki tepat mengenai paha.


"Itu untuk ayahku yang kau tembak." Alice menendang bahu Marcelino namun kakinya di cekal oleh pria itu.


Tidak mudah bagi Marcelino mengalah begitu saja apalagi ini melawan anak kecil yang tidak ada apa-apanya.


Dia menarik kaki Alice kemudian menariknya hingga Alice terjatuh. Lalu Marcelino secepat kilat mengambil pisau lipat yang ia bawa sebagai penjagaan kemudian melemparkannya tepat ke hadapan Alice.


Alice melotot kemudian berguling ke samping menghindari pisau tersebut. Jika dia telat sedikit saja maka benda tajam itu akan menancap tepat di dadanya. Alice menggerakkan kakinya ke atas lalu bangun berdiri tegak.


"Wow rupanya kau masih kuat juga, Tuan. Ck, ternyata kau tidak selemah itu." Alice menggerakkan kepalanya ke samping sampai berbunyi seraya menatap bengis pria di hadapannya.


"Saya tidak mudah kau kalahkan anak kecil. Kau salah mencari lawan karena saya tidak sebodoh yang kau pikirkan. Cuiihh..." Marcelino meludah ke samping tak kalah bengis memandang wajah menyebalkan dari wanita muda di hadapannya.


Dengan kaki menahan sakit tak dirasa, Marcelino mencoba menghajar Alice. Dia pikir jika wanita di hadapannya bukanlah wanita lemah seperti awal dugaannya.


Bugh... bugh.. bugh..


Alice mundur menangkis pukulan serta tendangan Marcelino. Dia mengeluarkan jurus takis menakis lalu di saat ada kesempatan langsung menerjang Marcelino.


"Sialan kau bocah. Kau anak siapa hah? Saya tidak mengenalimu, nona." sentak Marcelino mencoba berdiri lagi. Namun, Alice tidak membiarkan kesempatan itu.


Dia kembali menonjok hidung Marcelino dalam kecepatan kilat menggunakan tangan kirinya. "Saya anak Antonio yang kau bunuh empat tahun lagu. Saya Alice Antonio datang kembali untuk membalaskan dendam atas kematian keluargaku, pembunuh." pekik Alice membabi buta meninju lagi bagian perut Marcelino yang terluka hingga membuat pria itu kembali merasakan pusing akibat pukulan Alice di hidungnya.


Bug... gubraakk...


Marcelino tersungkur kembali. Dia kalah tenaga oleh anak ingusan kemarin sore. Matanya berkunang-kunang tak bisa lagi menahan pusing sampai dia pingsan dalam keadaan hidung berdarah.

__ADS_1


"Cuiih... ini bekum seberapa, Marcelino." Lalu Alice menyeret tangannya membawanya ke suatu tempat.


__ADS_2