Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Ke London


__ADS_3

2 tahun telah berlalu, sekarang usia Alice sudah berumur 18 tahun. Selama dua tahun itu pula Alice terus saja berlatih tiada henti. Mengasah segala kemampuan yang telah Ia pelajari dari orang-orang yang sudah sangat baik serta menyayanginya.


Saat ini dirinya telah bertarung melawan Robert Stewart. Berbagai macam beladiri Alice keluarkan untuk terus menyerang Robert, pria yang sudah menjadi ayah angkatnya.


Laga aksinya terus diperhatikan dan ditonton oleh orang-orang yang ada di sana. Termasuk Evelyn yang juga setengah menyaksikannya.


"Lihatlah, anakmu sudah jago dalam segalanya. Tak sedikitpun Robert mampu mengalahkan Alice. Keduanya sama-sama imbang," ucap Dave jagung atas hasil kerja keras mereka mampu membuat Alice menjadi wanita tangguh.


"Iya, Alice begitu cekatan dalam menghindari serangan. Tangannya, pergerakannya, semuanya begitu lincah dan serangannya pun kian semakin luar biasa. Aku bangga menjadi Mami nya." Evelyn tidak kalah bangga.


Bug.. Bug.. Bug..


Alice terus menyerang hingga ia mampu menjungkir balikkan Robert. Alice bersiap meninju namun di stop kan oleh pria dewasa berperawakan tinggi itu.


"Stop..! Kau berhasil Alice." Robert berdiri. Alice pun melemahkan serangannya. Namun, Robert siap menyerang lagi. Tetapi tatapan alis mampu membaca serangan tersebut hingga dia kembali menerjang Robert menggunakan kakinya.


Prok.. prok.. prok...


Tepuk tangan orang-orang di sekitar tanda jika penampilan Alice sungguh luar biasa.


"Nice Alice. Your appearance is amazing," kata Robert mengakui kemampuan Alice sungguh luar biasa.


( Bagus, Alice. Penampilanmu sungguh luar biasa. )


"Kamu hebat sayang, kami bangga kepadamu," timpal Evelyn memeluk Alice.


Alice juga membalas pelukan Evelyn. Robert pun tak ingin kalah. Dia juga memeluk Evelyn dan Alice.


"Semua ini berkat kalian. Seandainya kalian tidak mengajariku pasti aku tidak akan menjadi Alice yang sekarang. Makasih Mami, Papi, sudah mau mengajarkanku."


Alice terisak dalam pelukan Evelyn. Baginya dokter Evelyn sudah menjadi ibu kedua semenjak dia mengenalnya. Semua perhatian Evelyn, kasih sayangnya ia rasakan sama seperti Mommy nya dulu.


Robert lebih dulu melepaskan pelukannya, kemudian disusul oleh Evelyn yang juga menjauhkan pelukannya. Wanita cantik yang terlihat masih muda itu tersenyum mengusap pipi Alice.


"Kami sebagai orang tuamu pasti akan mengajarkan banyak hal. Karena bagi kami, Kau adalah putri kami."

__ADS_1


"Alice, latihan yang selama ini kau tekuni sudah berhasil membuat mu menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh lagi. Kini saatnya kau kembali ke London menuntaskan apa yang dulu ingin kau tuntaskan. Memberikan sebuah keadilan untuk keluargamu. Mencari orang-orang yang sudah menyebabkan keluargamu tiada," ujar Robert mengusap bahu Alice.


"Maka dari itu, papi akan menyekolahkan mu di salah satu universitas terbaik di London," lanjut Robert berkata serius.


Alice tidak percaya jika dirinya akan kembali melanjutkan sekolahnya. Selama ini pula dirinya memang mengikuti kegiatan belajar tapi dengan cara online. Sekarang dia akan sekolah langsung bertatap muka dengan para pelajar lainnya.


Tapi, wajahnya mendadak murung di mana dirinya harus meninggalkan keluarga yang sudah merawatnya.


"Kamu tenang saja, Papi dan Mami akan selalu ada di belakangmu dan datang setiap akhir pekan untuk berkunjung menemuimu," timpal Evelyn."


Alice mengangguk, "Baik, Pih, Mih. Alice mau demi sebuah tujuan."


Namun, di balik itu semua ada hati yang sedang resah harus berpisah dengan gadis yang selama ini selalu menemaninya. Pria itu menatap dalam memperhatikan Alice dari jauh.


Paman Dave merangkul pundak Brian. "Saya tahu kalau kau menyukai gadis itu. Tapi kau juga harus ingat jika dia harus ke London untuk membalaskan kematian keluarganya."


"Kau benar paman, bahkan hingga saat ini dia tidak mengetahui perasaanku padanya. Yang ia pikirkan hanyalah berlatih dan terus berlatih demi tujuan yang sebenarnya. Tapi saya senang jika dia sudah mampu menjadi wanita hebat. Saya yakin jika kelak dia akan menjadi pemimpin yang tak terkalahkan."


"Alice ratu di anggota kita. Dialah penerus Robert selanjutnya." Itulah sebabnya Robert begitu keras melatih Alice.


Setelah merundingkan rencananya ke London, Alice dan keluarga Robert kini sudah tiba di London menggunakan pesawat pribadi supaya sampai lebih cepat.


Mereka baru saja sampai di apartemen yang akan Alice tinggali.


Rambut dikuncir dua, berkacamata tebal, berpenampilan sederhana dengan celana jeans hitam dan kaos biasa di padukan jaket jean abu, serta sepatu putih, jauh dari kata cantik dan berkelas.


"Ingat pesan Papi, jangan pernah merasa tinggi dengan apa yang kamu miliki, teruslah menunduk ke bawah, jangan tunjukkan kemampuanmu di saat tidak ada yang sedang mengganggu. Kau harus bukti jati dirimu yang sebenarnya di dalam penampilan cupu. Jika kau ingin bergerak, tunjukkan dua wajah. Wajah polos serta tidak berdosa dan terlihat lemah untuk memanipulasi mereka. Wajah garang serta kejam di saat dirimu dihadapkan dalam situasi tertentu."


"Baik, Pih. Alice mengerti. Semua yang Papi dan Mami ajarkan akan Alice ingat semuanya." Alice mengangguk yakin. Saat ini, Alice terlihat seperti wanita biasa yang culun, polos, lemah lembut, dan mudah tertindas.


"Pesan Mami, kamu harus jaga kesehatan di sini. Brian akan melindungi mu dari jauh."


"Brian? Dia ikut kesini juga?" Alice senang jika dirinya memiliki teman yang ia kenal.


Evelyn mengangguk. "Tapi, di sini kalian akan seperti orang asing yang baru saja bertemu."

__ADS_1


"Kok gitu, Mih?"


"Papi yang memerintahkan nya. Papi juga yang mengatur semuanya. Karena kalian akan berada di dalam satu universitas yang sama dengan status yang berbeda, yaitu murid dan dosen."


"Wow.. Brian menjadi dosen! Sungguh luar biasa." Alice berbinar penuh Kagum. Setahunya, dosen itu berpendidikan tinggi dan berotak cerdas. Itu tandanya Brian juga memiliki kecerdasan yang luar biasa.


"Dia kan memang lulusan terbaik London 4 tahun lalu," ungkap Evelyn.


"Wow keren."


Mereka pun saling bertukar cerita membahas apa saja yang ingin mereka bahas. Robert dan Evelyn memberikan nasehat-nasehat untuk Alice selama tinggal di London.


********


Keesokan harinya, Alice sudah bersiap melakukan kegiatan sekolahnya. Dia sudah memakai pakai celana hitam serta kemeja putih dengan rambut masih dikucil dua serta kacamata bulatnya.


Hari ini dirinya menjalankan ospek pertama di tempat ia kuliah.


"Alice kamu sarapan dulu, sayang. Mami sudah membuatkan mu makanan," seru Evelyn.


"Nanti saja di sekolah, Mih. Aku sudah kesiangan ini." Jawab Alice sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


"Setidaknya makan satu roti saja dan habiskan susunya." Evelyn memberikan satu gelas susu beserta satu roti yang sudah ia siapkan.


Alice mengambil rotinya, lalu meminum susu sampai habis. "Makasih, Mih."


"Alice, ayo kita berangkat?" ajak Robert yang juga terlihat berbeda. Dan itu membuat Alice kebingungan.


Bagaimana tidak bingung, Robert malah mengenakan kumis dan jambang serta kacamata bulan.


"Papi menyamar?" Robert mengangguk.


"Hanya ingin merasakan saja bagaimana memiliki jambang dan kumis. Lihat laga aksi semalam membuat Papi berniat menggunakannya. Bagaimana, keren kan?"


"Keren Pih. Terlihat jauh lebih tua." Jawab Evelyn membuat Alice tertawa.

__ADS_1


__ADS_2