
"Nona, dimana rumah mu?" tanya Arfan yang sedang mengendarai mobil. Ia dan beberapa orang polisi memberikan perlindungan terhadap Alice. Mereka juga berjaga-jaga untuk menangkap orang yang hendak membunuh Cleo maupun Arfan.
"Rumah saya cukup jauh, tuan. Di belakang mall itu." Alice menunjuk mall besar yang ada di sekitar sana.
"Oh, ok," balas Arfan mengangguk sambil terus menjalankan kendaraannya.
"Tapi Tuan, saya ingin berbelanja ke mall dulu. Jika Anda tidak keberatan berhenti dulu di sana." Pinta Alice kepada Arfan, ia berharap orang itu menuruti keinginannya dan juga ikut turun.
"Baiklah, sesuai yang kau inginkan. Walau bagaimanapun kau sekarang harus kami jaga. Hanya kau saksi mata pembunuhan itu dan kau harus selamat dari pembunuhan itu." Seperti yang diperintahkan oleh Cleo, maka Arfan akan menjada gadis remaja itu.
Lalu Arfan memarkirkan mobilnya di area parkiran bawah tanah. Parkiran yang cukup gelap karena berada di paling bawah.
Dua orang polisi yang ikut mengawal pun turun lebih dulu. Di susul oleh Alice dan kemudian di susul oleh Arfan.
Karena tempat itu cukup gelap dan cahaya hanya tersorot lewat lampu LED berukuran kecil, sebagian orang maupun kendaraan cukup kelihatan gelap.
"Tuan, maafkan saya harus merepotkan Anda. Tapi saya perlu berbelanja duku untuk keperluan saya di rumah. Dan juga saya harus menyiapkan beberapa baju untuk pindahan. Niat saya akan pindah dari rumah itu ke rumah yang lebih aman lagi," ujar Alice seraya melangkah dengan mata ia edarkan mencari sosok yang bersedia membantunya.
"Tidak masalah, ini sudah menjadi perintah bos. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah."
Alice mengangguk. Diam-diam, seseorang mengintai mereka dari belakang. Orang itu mencari celah untuk menyingkirkan satu-satu diantara dua polisi yang mengikuti.
Alice tahu orang itu, dan ia tetap santai berjalan di antara mereka. Berhubung dua polisi itu berada di bagian belakang, masa satu diantara keduanya di bekap seseorang saat rekannya lengah.
Grep ....
"Hmmm ... hmmm ...." polisi itu memberontak hingga perlahan tak sadarkan diri.
Sedangkan polisi satunya tetap mengikuti Alice dan Arfan. Tetapi, tak lama kemudian giliran dirinya yang kena.
Grep ....
"A ..." dia ingin teriak tetapi sudah lebih dulu di bekap oleh saputangan milik seseorang, hingga perlahan matanya mulai tertutup rapat dan tak sadarkan diri.
Orang itu membawa kedua polisinya ke tempat paling aman. Lalu dia mengikat keduanya agar tidak bisa kabur ataupun membantu Arfan. Ikatan itu begitu kuat dan tidak akan mudah lepas begitu saja. Karena, ikatannya menggunakan borgol dan kaki di ikat rantai.
"Tidurlah di sini, kawan. Sekalipun kalian mengikuti langkah mereka, kalian pasti akan kena juga." Dan orang itu pun berdiri meninggalkan kedua orang itu.
Tinggal Alice dan Arfan. yang masih berjalan memasuki area mall.
"Tuan, sedari tadi aku tidak mendengar suara dua polisi?" tanya Alice mulai menanyakan kedua orang polisi yang selalu mengikuti.
__ADS_1
"Kau benar. Hei, ka ..." Arfan menoleh tetapi ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Arfan mengerutkan keningnya baru menyadari jika kedua orang itu sudah tidak ada di dekatnya. "Kemana mereka? Kenapa tidak ada di sini?" Arfan celingukan mencari dua orang itu.
"Tuan, bagaimana ini? Ini tidak mungkin terjadi jika kita tidak di ikuti. Tuan, apa mereka mengikuti kemana kita pergi?" ujar Alice panik dan sangat khawatir. Diapun ikut pura-pura celingukan dengan raut wajah terlihat panik.
Arfan memikirkan perkataan Alice ada benarnya juga. "Kemungkinan apa yang kau katakan ada benarnya juga. Tapi dimana orang itu? Ini sangat ramai pengunjung dan tidak mungkin juga orang itu berani mendekati keramaian." Seketika Arfan pun menjadi panik. Dia juga celingukan mencari keberadaan orang yang telah membuat dua orang polisinya tidak ada.
Kedua orang itu berputar secara perlahan meneliti setiap sudut tempat. Hingga Alice menunjuk seseorang. "Tuan, itu orangnya mencurigakan!"
Arfan menoleh melihat arah tunjuk yang Alice berikan. Dan ternyata orang itu ada di lantai kedua. Memakai pakaian serba hitam, memakai masker, memakai kupluk dan sedang memperhatikan.
"Benarkah itu orangnya?" namun, seketika orang itu berlari menghindari.
"Tuan dia lari, berarti dialah orangnya."
"Brengsek, sepertinya memang dia. Ayo kita kejar dia!" dan Arfan terpancing untuk mengejar orang mencurigakan itu.
Keduanya berlari melewati setiap eskalator tanpa menunggu gerakan lambat. Arfan begitu kencang larinya berharap bisa menangkap orang itu. Alice memelankan langkahnya tersenyum menyeringai jika rencananya akan berhasil.
"Kejar dia agar kau masuk kedalam perangkap kita." Dan Alice kembali mengejarnya.
Orang itu ingin masuk ke dalam lift, dan Arfan segera mencegahnya dengan cara menarik kerah baju bagian belakang.
Orang itu tersenyum sinis di balik maskernya. Lalu masuk ke dalam lift dan Arfan pun ikut masuk. Kemudian lift tersebut menutup rapat. Kini tinggal mereka berdua di dalam lift.
"Saya tanya siapa kau!" sentak Arfan menarik kerah baju orang itu.
Orang itu menepis kasar tangannya dan balik menyerang menarik kerah baju Arfan. "Kau ingin tahu siapa saya? Saya adalah malaikat maut untukmu!" balasnya begitu terdengar mengerikan dengan sorot mata tajam.
"Brengsek!"
Bugh ... bugh ....
Perkelahian pun terjadi di dalam lift. Namun, pergerakan life itu terhenti di tengah-tengah tempat dan seakan terjadi kerusakan. Padahal, life itu di sengaja di berhentikan oleh Alice saat ia masuk menyusup ke ruangan pengaturannya.
"Kau harus mati di tanganku, Arfan!" sentak orang itu mengunci pergelangan tangan Arfan ke belakangan dan mengeluarkan senjata beracun.
"Saya tidak mengenalmu, siapa kau sebenarnya?" Arfan memberontak ingin melepaskan diri dari pria bermasker.
"Saya, anak dari keluarga yang kau bunuh dengan keji. Saya anak dari wanita yang kalian perkosa secara bergilir. Saya anak Gavin Fernandez!" sentak orang itu mengakui siapa dirinya dan di saat itu pula ia menggoreskan senjata ke leher Arfan.
Sreettt ....
__ADS_1
"A-apa? Ka-kau ..." Arfan mengenal nama itu, salah satu nama orang kaya yang mereka rampok dulu. Bisa di bilang salah satu rekan saat sekolah dulu.
Pria itu melepaskan tangan Arfan dan mendorongnya secara kasar hingga terbentur ke dinding.
Pria itu menatap benci dan mengeluarkan senjata api.
Door ....
Aakkhhh ... tembakan pertama kena di bagian dadanya.
"Ini untuk ayahku."
Door ....
Akhh ... tembakan kedua tertuju di bagian dada juga.
"Itu untuk Kakak ku."
Door ... door ... door ....
Dan tembakan terakhir ia arahkan tepat di kepalanya Arfan.
"Itu untuk ibuku."
Pria itu menghubungi Alice, "Halo, di hitungan ke tiga kau putuskan talinya!"
"Baik." Balas Alice di sebrang telpon.
Dan pria itu mulai menghitung sambil keluar dari lift yang memang cukup sepi pengunjung.
"Tiga ... putuskan!"
Srett ....
Wuuushhhh ... life itu meluncur begitu cepat ke lantai paling bawah dan ...
Bruk!!!
******
__ADS_1