Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Kematian salah aatu


__ADS_3

Amanda beserta ibunya sedang terburu-buru ingin segera menemui pria yang mereka sayangi di rumah sakit. Keduanya ingin menemani Marcelino saat sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Amanda memang pulang tetapi hanya untuk berganti pakaian dan memanggil ibunya saja untuk mau menemani dirinya menginap di rumah sakit.


"Mommy, Manda tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Daddy mendapatkan serangan dadakan seperti ini. Setahu Manda Daddy tidak memiliki musuh selain dari rekan kerja yang ingin menjatuhkan usaha milik kita." Manda tidak mengerti satu hal. Kenapa bisa ayahnya ditusuk oleh orang tidak dikenal dalam keadaan kehidupan baik-baik saja, aman, tentram dan damai? Dia juga tidak mengerti musuh seperti apa yang ayahnya hadapi sampai harus berurusan dengan menghilangkan nyawa begini.


Amanda beserta ibunya beriringan tergesa beri jalan melewati setiap lorong rumah sakit didampingi ibunya.


"Mommy juga tidak tahu, Manda. Ini pertama kalinya ayahmu mengalami tindakan kriminal seperti ini." Istri Marcelino pun tidak mengerti karena setahunnya sang suami tidak pernah menyakiti orang lain dan tidak pernah memiliki musuh besar sampai melibatkan penusukan begini.


Ia hanya tahu jika suaminya bekerja sebagai anak buah Cleo sedari Manda berumur 13 tahun. Apa yang Marcelino kerjakan tidak pernah diketahui oleh istri dan anaknya. keduanya hanya memikirkan kekayaan bisa hidup enak dan memiliki harta berlimpah.


"Kita harus mencari siapa orang itu, Mom. Kita harus melaporkan tindakan ini ke polisi untuk ditindaklanjuti." Amanda khawatir jika kejadian ini akan kembali terulang lagi di saat mereka tengah lengah.


Amanda bersiap membuka pintu masuk ruangan inap yang ditempati oleh Marcelino.


"Kau benar, Manda. Kita harus melaporkannya dan..." amun seketika ucapan istrinya Marcelino menggantung begitu saja dikala ruangan tersebut kosong tidak ada penghuninya setelah Amanda membuka pintu dan mereka masuk.


Begitupun dengan Manda terbelalak tidak melihat Daddy nya di sana. "Kemana Daddy? Kenapa ruangannya kosong begini?" mata Amanda celingukan mengitari sekeliling ruangan tersebut untuk mengetahui di mana ayahnya berada.


"Kau yakin ini ruangannya ayahmu?" istri Marcelino mengira jika Manda sedang lupa ruangan.


"Tidak, Mom. Ini benar ruangan Dedi tapi sekarang ke mana dia?" Amanda mencoba mencari ke toilet tetapi tidak ada juga. "Tidak ada, Mom."

__ADS_1


"Kalau tidak ada ke mana? Seharusnya Marcelino diam terbaring di sini dan tidak melakukan pergerakan bodoh yang membuat lukanya kembali terbuka lebar." Rasa panik menghampiri kedua wanita tersebut. Ini tidak seperti yang mereka bayangkan jika dalam keadaan terluka pria di sayangi mereka hilang begitu saja.


"Kita harus cari Daddy kamu, kita tanyakan kepada suster atau dokter. Dan kalau perlu cek cctv rumah sakit ini buat memastikan pergerakan Marcelino."


"Iya, Mom. Ayo." Manda dan ibunya kembali tergesa berlari ke luar ruangan mencari dokter ataupun suster. Keduanya sangat panik dan takut terjadi sesuatu kepada orang yang mereka sayangi.


*****


Byuuuur...


Alice menyiram kasar wajah Marcelino menggunakan air comberan. "Bangun kau, Tuan Marcelino! Dasar bau busuk," umpat Alice menendang kaki pria tua di hadapannya. Rasa hormatnya tidak ada lagi saat sedang berhadapan dengan Marcelino. Yang ada rasa benci, amarah dan ingin membunuh hadir merasuk ke dalam jiwanya Alice di saat dia bertemu dengan pria tua itu.


Marcelino perlahan membuka mata. Kepalanya masih terasa pusing bahkan darah dari hidung pun masih mengalir menetes ke baju. Dengan pandangan buram, Marcelino bisa melihat Alice berdiri tegak bertolak pinggang menatap nyalang penuh benci dan dendam.


"To-tilong lepaskan saya. Apa kau tidak kasihan kepada pria tua ini, Nona?" suara lirih menahan sakit di perut, kaki, serta kepala membuat Marcelino lemah hanya sekedar bicara.


"Melepaskanmu? Hahaha Tidak akan." Tawa itu begitu menyeramkan seakan mampu membuat bulu roma Marcelino merinding berdiri tegak.


Alice menjambak keras rambut Marcelino sampai pria itu mendongak. "Saya tidak kan pernah melepaskanmu seperti kau yang tidak melepaskan anak kecil serta orang-orang yang kau bunuh," sentaknya melepaskan kasar rambut Marcelino sampai kepala itu bergerak ke belakang.


"Sa-saya minta maaf." hanya ini yang Marcelino bisa lakukan di saat dirinya tidak berdaya. Dia lupa mana saja orang yang pernah ia bunuh di masa lalu saking banyak dan tidak menyikapi jelas wajah setiap orang.


"Maaf? Maaf setelah kau membunuh seluruh keluargaku? Maaf setelah semua keluargaku di habisi oleh kau dan sekutu mu? Maaf mu tiada guna, Tuan Marcelino. Apa kau mendengarkan kata ampun seorang gadis remaja? Apa kau mendengar kata jangan di saat kau menembak ayahku? Apa kau memiliki rasa kasihan di saat kau tega menggoreskan pisau ke leher adik laki-laki ku?" teriak Alice menembak lagi kaki Marcelino. Kini kedua kaki tersebut sudah terkena tembakan.

__ADS_1


Dor...


"Itu untuk ibuku." Alice meniup pelatuknya.


"Akkkhhh..." Marcelino menjerit sakit. Untuk pertama kalinya dia bisa merasakan sakitnya terkena tembakan timah panas. "Ampun... ampuni saya. Saya minta maaf. Saya Maia punya keluarga yang harus saya urus." Marcelino menghiba berharap gadis di hadapannya mengampuni setiap kesalahannya.


"Diam kau pencuri biadaab...!" pekik Alice melemparkan pisau kecil tepat mengenai perut Marcelino saking marahnya kepada pria itu.


"Aakkh..." Marcelino semakin kesakitan menerima serangan dari Alice. Rasanya begitu sakit melebihi luka tusuk pertama kali. "Ampuni saya," pintanya mendesis kesakitan.


"Oh Tuan, saya minta maaf sudah menyakiti Anda. Baiklah, saya akan melepaskan Anda." Alice menunjukan rasa sedih dan bersalah atas apa yang di lakukannya. Lalu ia melepaskan ikatan rantai yang ada di tangan Marcelino dari kursi. Tetapi kembali menguncinya di depan menggunakan borgol.


"Tapi saya tidak akan membiarkan kau hidup tuan." ucapnya murka menatap bengis. "Ini untuk adikku, Jayden." Lalu Alice menggoreskan benda tajam ke leher Marcelino seperti dia membunuh adiknya.


Street....


"Heekkhh..." Marcelino melotot di kala benda tajam itu menggores lehernya.


"Heh, satu sudah tiada." Alice melepaskan setiap rantai yang mengikat tubuh Marcelino. Dia menyimpan benda tajam serta senjata apinya di lengan Marcelino mengambil sidik jari nya agar Alice tidak meninggalkan jejak.


Tak sampai di situ, Alice mengambil ponselnya lalu menuliskan pesan kepada seseorang.


Alice : "Saya tidak sanggup lagi hidup dalam kesalahan yang saya perbuat. Selamat tinggal semuanya."

__ADS_1


Alice tersenyum puas bisa membalaskan satu dendam kepada salah satu orang yang sudah membunuh keluarganya.


"Satu sudah mati."


__ADS_2