Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Memantau Pergerakan


__ADS_3

Alice mengikuti kemana mobil Marcelino itu pergi. Dia juga mengambil jarak cukup jauh agar apa yang ia lakukan tidak membuat aktivitasnya di ketahui oleh Marcelino.


Setelah menempuh jarak beberapa meter serta membutuhkan waktu beberapa menit, Alice memberhentikan motornya jauh dari mobil Marcelino.


Pria itu juga memarkirkan kendaraan beroda empat di salah satu dermaga yang ada di sana.


"Mau ngapain dia ke dermaga laut seperti ini? Apa dia beneran mau ketemu para baladnya di sini atau menemui orang lain?" gumam Alice mematikan mesin motornya masih berada duduk di atas motor sambil memperhatikan Marcelino keluar mobi di susul oleh Amanda.


"Oh, rupanya dengan wanita tulang bully itu."


Alice turun dari motor setelah Marcelino dan Amanda masuk ke salah satu kapal yang ada di sana. Gadis itu melepaskan helmnya, memakai masker kemudian mengenakan topi hitam serta kacamata hitam untuk menutupi wajah aslinya.


Alice pun mengikuti langkah pria yang ia ikuti masuk ke dalam kapal untuk memastikan lebih lanjut apa yang akan terjadi di dalam sana dan siapa saja yang akan di temui Marcelino.


Namun, pergerakannya di halangi oleh orang-orang berperawakan tinggi dengan postur tubuh besar-besar.


"Mau kemana kau nona? Tunjukan tiket masuk ke dalam kapal!" pintanya menghadang Alice masuk.


"Oh shiit... tempat ini rupanya mengenakan keamanan dan menggunakan tiket masuk. Rupanya tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam," gumam Alice dalam hati mencari cara supaya bisa masuk ke dalam kapal besar itu.


"Hmmm saya tamu undangan spesial di sini, tuan. Saya tidak di berikan syarat masuk karena saya kenal baik dengan pemilik dan para tamu undangan yang ada di dalam sana." Alice mencoba bernegosiasi agar bisa amsuk ke dalam. Meski dirinya tidak tahu pasti siapa pemilik kapal tersebut dan tidak tahu siapa saja orang-orang yang ada di dalam sana, namun Alice berusaha untuk tetap masuk ke dalam sana.


"Saya tidak percaya itu. Tunjukan tiket masuknya!" dua penjaga itu tidak mudah percaya karena mereka di perintahkan untuk memasukkan orang yang hanya memiliki undangan khusus saja.


Alice bingung harus berkata apa dan mencari cara untuk masuk. "Sepertinya saya harus menggunakan cara kasar agar bisa masuk ke dalam," batin Alice memperhatikan sekitar.


"Hanya ada saya dan kedua penjaga ini. Tidak ada Cctv jadi memudahkan saya untuk bertindak lebih pada kedua orang ini. Ok, cara baik tidak mempan maka terpaksa menggunakan cara kasar," lanjut batinnya.


"Hmmm sini deh, saya mau menunjukan kartu undangannya kepada kalian." Alice meminta kedua orang itu untuk melihat tangan kanannya yang hendak mengambil sesuatu di dalam gendongannya.

__ADS_1


Kedua orang itu begitu percaya saja dan langsung mendekati Alice. Di saat itu pula, Alice menggerakkan tangannya secepat kilat mengambil semprotan parfum lalu menyemprotkannya ke mata.


"Aaaakhh... mata saya perih banget." pekik kedua orang itu menutupi matanya dengan tangan.


Alice mengambil kesempatan itu dengan cara memukul bagian tengkuk keduanya sampai kedua pria bertubuh besar memakai pakaian serba hitam itu pingsan tak sadarkan diri.


Bug... bug... braakk...


"Akhirnya kalian terkapar lemah juga." Alice tersenyum sinis sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. "Hmmm apa yang harus ku lakukan pada kedua pria ini, ya?" Alice berpikir mengetuk-ketuk dagunya.


"Hmmm." Alice memperhatikan tempat untuk menyembunyikan keduanya. Hingga mata dia menemukan sebuah tempat aman. Lalu Alice bersusah payah menyembunyikan keduanya dengan cara menyeret tangan mereka satu-persatu ke belakang mobil agar tidak ketahuan orang lain.


"Ok, kalian tunggu di sini. Saya masuk dulu. Bye bye para penjaga." Alice pun pergi dari sana kemudian masuk ke dalam kapal mencari keberadaan Marcelino.


"Exel..." Amanda anak dari Marcelino memanggil nama Exel, kekasihnya. "Kalian juga di sini, Danish, Cristina?"


"Tentu saja. Kami juga ingin bergabung dengan para orangtua yang super berwibawa ini," balas Cristina menggandeng tangan Danish.


"Marcelino. Akhirnya kau datang juga." Cleo menyambut kedatangan Marcelino lalu memeluk pria itu.


"Tentunya saya akan datang. Ini adalah perkumpulan anggota CMA." Marcelino menyambut pelukan Cleo lalu beralih menyambut pelukan dari Arfan.


"Hahaha kau benar juga Marcel. CMA, Cleo, Marcelino dan Arfan. Ayo duduklah, kita bersulang." Cleo mengajak Marcelino dan yang lainnya untuk duduk di meja bundar dan di tengahnya sudah tersedia berbagai macam makanan serta minuman dari yang biasa sampai beralkohol.


"Exel, Manda, Danish, Cristina, mending kalian pergi ke atas kapal. Di sini kami mau berbincang-bincang setelah sekian lama tidak bertemu," titah Cleo pada anak-anak mereka.


"Ok, Om." Amanda dengan semangat menarik Exel lebih dulu, di ikuti oleh Danish dan Cristina.


Alice memperhatikan pergerakan ketiga orang yang selama ini ia cari. Tangannya terkepal kala bayangan orang-orang yang di sayangi nya tiada oleh mereka bertiga.

__ADS_1


Alice mencari tempat duduk yang cukup jauh dari mereka. Lalu menyiapkan kamera untuk memotret mereka semua.


"Dua." ucapnya setelah mendapatkan gambar Arfan. "Tiga," lanjutnya lagi setelah mendapatkan lagi gambar Cleo, sang bos yang memerintahkan kedua anak buahnya.


Alice memperhatikan pergerakan ketiga orang itu yang sedang main kartu remi di temani minuman keras.


"Kocok lagi kartunya dan bagikan kepada kita semua," pinta Cleo pada Arfan sambil meneguk minuman bersoda.


"Siap, bos." Arfan membagikan kartunya secara merata lalu menyisakan sebagiannya lagi di tengah-tengah.


"Sudah lama kita tidak melakukan perampokan lagi. Dan yang membuat heran para polisi tidak bisa menemukan kita," tutur Marcelino melemparkan kartu reminya lalu menyesap nikotin.


"Untuk sekarang kita berhenti dulu. Kalau harta kita sudah habis barulah kita beraksi kembali," balas Cleo sedang memperhatikan kartu yang di pegangnya dengan kartu yang ada di atas meja.


Alice mendengarkan setiap pembicaraan mereka bertiga. "Kalian salah, selama saya telah kembali maka kalian tidak akan mudah merampok lagi."


"Kenapa saya selalu kalah dalam bermain remi sih? Kalian sungguh terlalu luar biasa memainkannya." Marcelino melemparkan kartunya karena ia kalah oleh Cleo.


"Hahaha sedari dulu kau memang tidak becus bermain kartu. Tapi kalau soal bunuh membunuh kau memang ahlinya, Marcelino."


"Ya, kau benar Arfan. Siapa saja yang menghalangiku dan akan menjadi bahaya dalam hidupku akan ku singkirkan dia," balas Marcelino berdiri dengan kepala sempoyongan habis dua botol minuman.


"Ya terserah kau saja."


"Sudahlah, saya mau ke toilet. Kepala saya rasanya pusing." Marcelino pun meninggalkan tempat tersebut menuju toilet.


Alice berdiri mengikutinya dari belakang dengan kepala memakai kupluk dan topi serta kacamata hitam. Lalu ia mengambil sarung tangan dan memakainya. Tangannya pun ia masukan ke dalam jaket yang ada sakunya.


Matanya memperhatikan sekitar, setelah merasa aman. Alice segera bergerak mendekati Marcelino yang hendak masuk toilet dalam keadaan sempoyongan.

__ADS_1


Alice menubruk bahu Marcelino dan...


Jleb...


__ADS_2