Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Pembalasan Akan Di Mulai


__ADS_3

Setelah menyelesaikan hukumannya, Alice duduk di pinggir lapang dengan kaki selonjoran. Dia pura-pura terlihat lelah padahal lari segitu mah tidak ada apa-apanya.


"Kau pasti haus. Ini minuman untukmu." Seorang pria menyodorkan sebotol minuman tepat di hadapan Alice.


Alice yang tengah menunduk melihat botol minumannya, kemudian dia mendongak melihat Siapa yang sudah memberikan botol minuman kepadanya.


"Danish," batin Alice cukup terkejut mengetahui pria yang memberikan dia hukuman tapi juga memberikan dia minuman.


"Ayo ambil! Ini hadiah karena kau mampu menyelesaikan tugas hukuman dari kita secara luar biasa." Danish memaksa wanita cupu di hadapannya untuk mengambil minuman tersebut.


Alice membenarkan letak kacamatanya masih dalam keadaan menatap pria di hadapannya. Namun, tangan kanannya terulur ke depan ingin mengambil minuman tersebut tapi, Danish langsung menjatuhkannya.


"Upss... Jatuh, sorry, tidak sengaja, tapi bohong. Hahahaha." Pria itu tertawa bisa mengerjai Alice, wanita yang akan menjadi permainannya.


"Hahaha kau haus? Beli saja sendiri. Sekarang bangun!"


Danish memandangi setiap Mahasiswa baru, dia kembali memerintahkan mereka. "Lanjutkan tugas ospek kalian mencari tanda tangan setiap dosen minimal 10 orang dan para anggota BEM 10 orang dalam kurun waktu 30 menit."


Alice masih di posisi duduk mendongak. "Hmmm waktunya cukup tidak, Kak? Kampus ini kan luas. Anggota BEM juga banyak, dosen pun banyak. Takutnya nanti saya dan yang lainnya malah di hukum lagi."


Perkataan Alice mewakili mereka semuanya.


"Di mulai dari sekarang!"


Priiittt...


Amanda berteriak meminta anggota peserta untuk memulainya tanpa mendengarkan jawaban atas pertanyaan Alice.

__ADS_1


"Go..go.. buruan! Kalau kalian gagal mendapatkan tandanya, maka kalian akan di hukum berjoget menyerupai monyet di tengah lapangan selama 30 menit," timpal Danish.


Mau tidak mau mereka segera berlari mencari Dosen dan anggota BEM. Tapi tidak dengan Alice yang masih tetap di situ.


"Hei cupu, ngapain masih di situ?" seru Danish.


Alice mengambil buku dan bolpoin yang ada di dalam tasnya kemudian menyerahkannya ke Danish.


"Mau minta tanda tangan nya, Kak. Ini tugas saya atas suruhan para OSIS." Tampang polos Alice membuat Danish heran. Namun, dia cukup kagum sebab Alice mulai dari yang terdekat dulu.


"Saya tidak akan memberikan tanda tangan."


"Ayolah kak, bantu saya. Nanti saya di hukum sama ketua BEM." rengek Alice pada Danish.


Danish menepis buku nya. "Saya tidak mau. Mending kau cari yang lain saja!" sentak nya kemudian pergi dari sana.


"Tadi dia masuk kesana. Ok, Alice kau harus semangat."


"Hei, kamu mau kemana?" tanya salah satu mahasiswa baru yang juga yang sedang meminta tanda tangan.


"Mau keruangan para dosen. Ayo, kita barengan saja." Ajak Alice, gadis itu pun mengangguk.


Dan, kebetulan sekali Alice bertemu dengan Brian. "Itu dosen baru, ayo." Alice dan gadis bernama Naomi itu segera berlari.


"Pak, minta tandatangan nya dong?" Alice mengagetkan Brian yang tengah menunduk memeriksa buku pelajaran nya.


"Tandatangan apa?" Brian mendongak, dia sempat tertegun melihat gadis remaja yang ia sukai sejak kedatangannya ke tempat latihan. Sebisanya Brian bersikap biasa nan dingin.

__ADS_1


"Pak, kami mendapatkan tugas mengumpulkan tanda tangan para dosen serta anggota BEM. Ayolah, pak. Bantu kami." Alice memohon sambil menyerahkan buku.


"Hmmmm." Tanpa banyak kata, Brian menandatangani nya.


"Yes, dapat satu. Makasih, Pak. Your ia the best." Ujar Alice tersenyum manis. "Ayo Naomi, kita cari lagi."


Alice kembali berlari ke ruangan para dosen.


Brian menatap dalam Alice. "Semoga kamu berhasil, anak manis."


"Berapa lama lagi sisa waktunya?" tanya Alice.


"Dua puluh lima menit."


"Gila, tinggal sedikit lagi." Alice mengetuk-ketuk pintu saat tiba di ruangan para dosen. Namun, dia tertegun mematung saat bola matanya langsung tertuju pada salah satu pria diantara mereka.


Rahangnya mengeras dengan gigi menggertak bunyi. Tangannya terkepal memperlihatkan urat-urat. Kilat amarah terpancar jelas di matanya. Rasa marah kian datang dimana ia melihat orang yang sudah merampok rumahnya.


"Kau pembunuh Ayahku," batin Alice. "Saya menemukanmu." Alice menyeringai merencanakan sesuatu.


"Alice ayo?" Ajak Naomi.


"Ah, iya." Mereka berdua masuk.


"Permisi, pak, Bu. Maaf, mengganggu waktu kalian. Kami mendapatkan tugas dari para senior untuk mengumpulkan tandatangan para dosen. Jika berkenan mohon kesediaannya untuk membantu kami," tutur Alice sopan santun.


"Ah, tentu saja boleh. Kau sopan sekali, saya suka cara bicara mu itu." Balas pria yang Alice incar.

__ADS_1


"Ya, aku memang sopan. Tapi aku adalah seorang malaikat pencabut nyawamu. PEMBALASAN AKAN DI MULAI," batin Alice.


__ADS_2