Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Bab 27


__ADS_3

Satu orang wanita sedang dikerumuni polisi dan Cleo serta Arfan. Alice menunduk penuh ketakutan serta kerisauan. Dia menyempurnakan aktingnya demi membuat mereka percaya jika dirinya sedang dilanda gelisah.


"Apa yang sebenarnya terjadi di saat kejadian itu?" tanya pria berseragam polisi bernama JOSHEP. Cleo maupun Arfa serius menatap Alice dan penasaran tentang kejadian itu.


"Pa-pada saat itu, saya sedang lewat dan hendak pulang. Saya melihat mobil masuk ke area bangunan kampus tua tidak berpenghuni. Awalnya saya tidak curiga apapun, tapi setelah mendengar suara tembakan, saya menjadi penasaran dan mengendap masuk kesana. Di sana saya melihat dua orang sedang berkelahi. Satu perempuan dan satu pria," tutur Alice dengan gugup menceritakan kejadian itu secara penuh dramatis. Ia menundukan raut ketakutan dengan tubuh gemetar.


"Perempuan?!" ujar ketiga pria itu penuh keterkejutan. Mereka pikir yang menyerang Marcelino adalah seorang pria, tetapi ternyata seorang perempuan.


"Ini sulit di percaya, seorang wanita berhasil melenyapkan pria yang cukup sulit di habisi," ujar Joshep, polisi yang bekerjasama dengan Cleo.


"Lalu selanjutnya bagaimana?" tanya Cleo menatap intens wajah Alice yang sedang menunduk gelisah. Tetapi dalam hati tersenyum menyeringai.


"Di-dia juga menggiring pria itu ke atas gedung. Di sana kembali terjadi perkelahian hingga pria itu tewas di tembak, di setrum, sama lehernya di gores senjata tajam."


"Sial, jadi dia beneran di bunuh," umpat Cleo.


"Tapi kenapa bisa kau begitu detail menceritakan ini semua?" tanya Arfan seakan merasa ada keanehan.


"Karena saya ada di sana pas kejadian perkara. Saya hendak kabur dan melaporkannya ke polisi, tapi saya kepergok wanita itu dan dia mengancam saya." Lalu Alice mendongak dan menunjukkan luka memar di tangannya.


"Ini bekas pukulan pria itu, pak. Dia mengancam saya untuk tidak melaporkannya ke polisi. Kalau saya melapor, saya akan di bunuh, Pak. Tolong saya, dia sedang mengincar saya juga, Pak. Karena hanya saya saksi mata satu-satunya, saya mohon tolong saya. Saya takut sekali dia datang dan membunuh saya," ujar Alice memohon penuh ketakutan dan terlihat sekali jiga sandiwara yang Alice lakukan membuat ketiga pria itu percaya.

__ADS_1


"Jadi dia sedang mengincarmu?" tanya polisi.


"Iya, Pak. Ta-tadi, di-dia ada di luar." Tunjuk Alice dengan mata melihat ke luar dengan tangan dan tubuh gemetar.


"Apa?! Arfan kau cari dia di luar. Apa benar orang itu sedang mengincar? Kemungkinan dia mengincar kita juga. Cepetan Arfan!" titah Cleo meminta Arfan ke luar kantor polisi.


Arfan mengangguk dan segera beranjak begitu tergesa ke luar rungan. Alice tersenyum tipis rencana berhasil. "Kita akan kembali bermain-main."


"Pak, lalu nasib saya bagaimana? Saya takut jika orang itu terus mengikuti ku kemanapun saya pergi. Ku mohon beri aku perlindungan, Pak." pinta Alice memohon kepada polisi itu agar melindungi dirinya, sekaligus untuk menjalankan aksi.


"Tenang, tenang, kau diam di sini dulu sebentar!" ujar Cleo lalu menatap Joshep, "kau beri dia perlindungan dan pastikan dirinya selamat. Jangan sampai orang itu membunuhnya. Hanya dia saksi mata yang akan membantu kita mengungkap tabir misteri pembunuhan ini."


Sedangkan Arfan, pria itu celingukan mencari sosok misterius yang di maksud wanita tadi. Dia mengedarkan pandangannya dan berjalan ke beberapa tempat guna memastikan apakah ucapan wanita tadi benar atau tidak.


"Katanya dia di ikuti orang misterius itu, tapi tidak ada siapapun di luaran sini. Hanya ada beberapa orang polisi yang sedang berjaga." Namun, mata Arfan tak sengaja melihat sekelebat bayangan hitam berlari ke arah pakar yang ada di belakang.


"Siapa itu?!" pekiknya berlari mengejar.


Orang itu berpakaian serba hitam, wajah memakai masker, kepala di kupluk dan berlari meloncati semak-semak.


"Mau kemana kau? Jangan lari, hei!" pekik Arfan tetapi orang itu segera kabur menggunakan motor metik.

__ADS_1


"Akkh, sialan, dia melarikan diri." Umpat Arfan dan kembali ke dalam.


Setibanya di dalam, "Bos, ternyata wanita itu benar. Ada orang yang mengintai."


"Tuan, pasti orang itu yang akan melenyapkan saya. Dia tadi mengikuti saya dari rumah. Saya sungguh takut Tuan. Pak, saya takut," ujar Alice menangis ketakutan.


Cleo dan polisi itu saling pandang.


"Kau jaga dia kemanapun dia pergi, Joshep!"


"Saya? Kenapa harus saya? Ada Arfan yang bisa menjaganya bukan. Dia tidak memiliki istri jadi dia bisa lah dua puluh empat jam menjaga wanita ini."


Lalu Cleo melirik Arfan, "Bagaimana? Kau bersedia?"


"Baiklah, dia akan aman bersamaku dan juga saya minta beberapa orang polisi ikut melindunginya." Arfan mengiakan karena penasaran dengan irang tadi. Ia berpikir, jika dirinya berada di sekitar gadis ini besar kemungkinan orang itu akan muncul, dan di saat itu pula dirinya akan menyerang.


"Sesuai yang ku inginkan. Arfan, kali ini dirimu yang akan menjadi sasaran. Tunggu saja waktunya. Sebentar lagi kau akan mati menyusul Marcelino," gumam Alice dalam hati tersenyum tipis penuh misteri dengan rencana yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


.......


__ADS_1


__ADS_2