Alice ( Aku Kembali )

Alice ( Aku Kembali )
Mencari


__ADS_3

Alice berdiri. "Ok, sekarang saya ingin mencari identitas dosen bernama Marcelino. Orang yang sudah membunuh adik saya." tangan Alice mengepal kuat menatap lurus penuh dengan amarah.


Brian mendongak lalu menggenggam tangan Alice yang mengepal. Hal itu membuat Alice menurunkan pandangannya ke Brian. Tatapan yang tadi tajam kian berubah menjadi tatapan lembut serta polos.


"Saya akan membantumu mencari alamat dia," ujar Brian yakin akan membantu. Lalu dia berdiri masih dalam keadaan memandangi mata Alice.


"Baik, saya harap kita menemukan alamat dia. Jika berhasil, maka kemungkinan yang lainnya pun akan berhasil juga di temukan."


Brian mengangguk kemudian melepaskan genggaman tangan nya dari Alice. Dan Dia bersama gadis cantik London ini berusaha mencari petunjuk mengenai alamat Marcelino salah satu dosen dimana mereka bersekolah.


"Kau cari datanya di setiap daftar para dosen yang ada di sebelah sana!" titah Alice pada Brian menunjuk salah satu deretan dokumen mengenai informasi penting dari dosen beserta muridnya.


"Dan saya akan mencarinya di laci yang di tempati Marcelo," lanjutnya mendekati meja tempat di mana Marcelino duduk.


Alice memperhatikan ruangan dosen sekitar untuk memastikan lagi jika tidak ada orang yang memergoki aksi dia dan Brian. matanya pun menelisik setiap sudut ruangan dari bawah hingga atas sampai di mana netral matanya melihat beberapa CCTV yang terpasang di ruangan dosen tersebut.


"Sial, rupanya ada Cctv di sini." gumam Alice menunduk menutupi wajahnya oleh rambut panjang yang tergerai indah. "Kau harus membuat Cctv itu rusak, Alice."


Alice pun kembali mendongak. dia memandang kamera yang mungkin sedang merekam aksi keduanya. Alice mendekati Cctv tersebut lalu mengambil kursi dan iapun mematikan saluran penghubung Cctv tersebut kemudian merusaknya.


"Alice, kau ngapain berdiri di ujung sana?" Brian mengernyit heran.


Alice menengok, "Saya sedang berusaha mematikan CCTV ini supaya aksi kita tidak diketahui mereka." paparnya menjelaskan alasan dia naik ke kursi.


"Cctv di sudah saya matikan. Jadi tidak akan ada orang yang tahu mengenai tindakan kita. tapi kalau kau ingin menghancurkannya hancurkan saja CCTV itu!" Brian tidak melarang Alice melakukan hal seperti keinginannya. Dan Alice mengangguk melanjutkan aksinya.


Brian pun kembali mencari dokumen penting milik dosen Marcelino. Setahunya dokumen itu di kumpulkan di jajaran map khusus dosen.

__ADS_1


Sedangkan Alice mencari ke meja yang di tempati pria itu. Dia membuka setiap buku, dokumen, serta membuka laci-laci yang ada di meja. Namun, setelah beberapa menit kemudian ia tidak menemukan apa yang di cari olehnya.


"Brian, apa kau menemukannya? Di sini tidak ada apapun." Alice bertanya sambil mendekati Brian yang sedang fokus mencari nama Marcelino Cristiano.


"Belum, tapi lagi di cari." tangan Brian bergerak meneliti setiap daftar nama di dokumen para dosen.


Alice memperhatikannya seraya mata tajamnya pun ikut mencari. Hingga netra matanya tertarik pada map bertuliskan Marcelino. "Apa itu milik dia?" tunjuk Alice ke jajaran map bagian atas.


Brian menengok ke Alice lalu mendongak ke atas. "Ah iya, itu dia. Pantas tidak ketemu karena ternyata ada di bagian ujung paling atas. Sebentar, saya ambilkan." Brian mengambil kursi karena posisinya sangat tinggi. Lalu dia menaiki kursi tersebut dan mengambilnya.


"Ini, kau bisa mencari alamatnya di sini." Brian memberikannya pada Alice. Dengan segera, Alice mengambil kemudian duduk dan membukanya.


Dia membaca setiap huruf di sana. Lalu senyum menyeringai terlihat jelas di wajah cantiknya. "Saya menemukanmu, Marcelino."


Lalu Alice menutup kembali Mao tersebut kemudian berdiri. "Hari ini juga saya akan memantau pergerakan dia."


Brian mengangguk mengerti. "Baiklah, ini urusanmu. Tapi saya kan ada di belakangmu jika suatu hari nanti kau membutuhkan bantuanku."


"Terima kasih, Brian." balas Alice tersenyum manis sekali sampai membuat jantung Brian berdebar-debar.


"Ohh ****... jantung sialan, saya menyukai dia," batinnya memandangi lekat wajah Alice.


******


Langkah tegap dengan sorot mata tajam setajam elang, wajah dingin, pandangan tertuju ke depan bak memancarkan sebuah bara api penuh dendam. Pertemuan dengan salah satu dari beberapa orang perampok membuat dendam itu semakin membara.


Rasa ingin segera membalaskan kematian orang-orang yang disayanginya membuat Alice kian mempercepat pergerakannya. Tangan mengepal, rahang mengeras dengan gigi bergelatuk berbunyi.

__ADS_1


Setiap perjalanan menuju tempat yang akan ia tuju bayangan sang adik yang di bunuh oleh Marcelino berseliweran di benaknya. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera memberikan pelajaran pada pria tua itu.


Dengan mengendarai motor besar berwarna merah, Alice membelah jalanan menuju titik keberadaan Marcelino. "Tunggu saya, kalian akan mati di tangan saya seperti kalian menghabisi keluarga saya."


Lalu Alice menarik gas motor sampai kendaraan tersebut melaju sangat kencang mengikuti petunjuk GPS yang ada di ponselnya.


Tibalah dia di sebuah rumah besar bernuansa klasik. Alice pun memberhentikan motornya lalu mematikan mesinnya dan memantau pergerakan rumah tersebut.


Tangan di lipatkan di dada, mulut mengunyah permen karet, wajah di tutupi helm. "Semoga saja benar jika ini rumahnya. Dari sinilah semua berawal."


"Daddy, hati ini saya puas sekali bisa mengerjai salah satu murid baru. Dia itu cupu, jelek, hitam, dan juga sangat tidak pantas menjadi mahasiswa."


"Wow, benarkah itu? Kau ini suka sekali ngebully orang. Daddy sudah tidak ingin mendengar kau menghakimi orang-orang miskin di luaran sana. Sekolah yang benar untuk menjadi penerus Daddy." Saran Marcelino pada putrinya.


"Ayolah Dad, ini itu menyenangkan. Mommy saja tidak akan protes, iya kan mommy?" gadis itu meminta pembelaan dari ibunya karena sang ibu lah yang sering mendukung setiap kegiatannya.


"Benar sayang. Mommy akan selalu mendukung keinginanmu."


"Kalian memang sama saja, sama-sama tidak bisa di atur. Sudahlah, Daddy mau bertemu Arfan dan Cleo."


"Daddy mau ke rumah om Cleo? Amanda ikut, ya?" dia girang sekali jika mendengar Cleo, sebab ada seseorang yang ia cintai.


"Terserah kau saja." Marcelino pun keluar di ikuti oleh Amanda, wanita yang menjadi anggota BEM.


Dari luar Alice memperhatikan pergerakan gerbang terbuka. Dan orang yang membuka gerbang tersebut Marcelino sendiri. Alice mengambil kamera dari dalam tas gendong. Lalu memotret wajah Marcelino.


"Satu..." gumamnya berhasil mengumpulkan satu gambar orang yang sedang ia incar.

__ADS_1


__ADS_2