
Dengan langkah yang begitu tergesa, Alice terus berlari mendekati gerbang kampus berharap dirinya tidak telat mengikuti kegiatan ospek pertama di kampus yang akan ia tempati sebagai tempat menuntut ilmu sembari mencari orang-orang yang akan menjadi targetnya.
Dia yang mengenakan seragam sekolah putih abu-abu dengan rambut di kucir dua, memakai kacamata tebal dengan tas gendong ia sematkan di bahu sebelah kanan, terlihat seperti anak culun. Wajah polos tanpa make-up, serta softlens mata warna biru terlihat sangat cantik. Namun, masih terkesan culun di mata orang-orang yang memiliki hati buruk.
"Pak satpam, tunggu!" Alice mencegah satpam yang hendak menutup gerbangnya.
Pak satpam pun berhenti dan menoleh. Dia memperhatikan murid baru.
"Ya ampun, kau terlambat! Untung belum di tutup, kalau terlambat sedikit saja pasti kamu udah kena hukuman," omelnya. Tapi pak satpam itu mempersilahkan Alice masuk.
"Hehe maaf Pak, soalnya mobil Papi saya mogok di jalan." Ya, tadi kendaraan yang di gunakan sempat mogok di jalan, ternyata bensinnya habis.
"Buruan masuk! Pasti ospeknya akan di mulai," perintah Pak satpam mempersilahkan Alice masuk. Dia merasa kasihan dan tidak tega membiarkan murid baru itu terkena hukuman oleh senior-seniornya.
"Siap, Pak. Aku masuk dulu. Makasih, Pak." Alice merogoh saku nya kemudian memberikan satu lembar uang kepada Pak satpam itu. "Ini buat bapak beli makanan. Masih sudah membolehkan saya masuk."
Pak satpam itu terperangah. Untuk pertama kalinya satpam itu menerima tips uang dari seorang murid. Alice terlihat ramah dan juga sopan.
"Tapi..." Ada keraguan dari dalam diri pak satpam bernama lengkap Cristiano untuk menerima uang itu.
Alice menarik tangannya, dan secara lembut memberikannya. "Gak apa-apa. Doakan saja supaya saya tidak terkena hukuman. Itu jauh lebih berarti dari sekedar uang."
"Saya masuk dulu, Pak." Alice langsung berlari menuju tempat dimana para murid baru berkumpul. Dia yang sebelumnya di beritahu oleh Papinya mengenai setiap tempat yang ada di kampus, memudahkan Alice untuk menemukan dimana lapang itu berada.
"Hufhh, selamat, untung tidak terlambat." Alice mengelap keringat di keningnya, dia mengatur nafas yang masih ngos-ngosan.
Banyak pasang mata memperhatikannya termasuk
"Hei kau MABA. Maju ke depan!" suara bariton seseorang membuat Alice yang tengah menunduk mengatur nafas mendongak.
Dia memperhatikan mahasiswa baru yang lainnya yang tengah menatap ke arahnya.
"Kenapa melihat saya? Kan kalian juga mahasiswa baru?" Alice seolah tidak mengerti. Tampang polosnya ia gunakan sesuai tujuan utama. Supaya terlihat lemah.
__ADS_1
"Kau datang terlambat, jadi sekarang kau maju ke depan!" seorang wanita berperawakan tinggi semampai tengah menatap tajam pada Alice.
Alice melihat name tag nya. 'Amanda' "Oh, namanya Amanda," batin Alice yang tengah menilai seseorang dari raut wajah serta gesture tubuh seseorang.
"Buruan maju!" sentak salah satu pria diantara dua pria yang menjadi anggota BEM kampus nya.
Alice maju dengan wajah menunduk seakan takut. Tapi dalam hati ingin melihat hal apa yang akan ia alami selanjutnya. Sungguh, sekarang jiwa penasarannya semakin tinggi.
Dia sudah berdiri di hadapan keempat senior.
"Hei culun! Angkat kepalamu! Apa yang kau lihat di bawah? Tatap kami!" Perintah pria berperawakan tinggi dengan kulit putih, bermata coklat, dengan rambut gondrong nya.
Alice mengikuti saja. Dia mendongak memperhatikan keempatnya dengan tatapan yang sangat sulit terbaca oleh orang lain. Namun tatapan Alice terlihat seperti tatapan orang bodoh dan kebingungan.
"Sekarang kau berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak 50 kali putaran sebagai hukuman atas keterlambatanmu masuk ke kampus!" titahnya tegas.
Yang lainnya melebarkan mata terkejut.
"Gila, 50 putaran? Lapangan ini luas banget." batin dari mereka berbicara.
Alice masih bergeming. Ia justru tengah menatap mereka. "50 putaran? are you serious?" tanya Alice polos.
"Jangan sok blaga bodoh, kami tidak akan tertipu tampang sok polos mu itu. Buruan lari sekarang juga!" sergah Amanda mendorong bahu Alice sampai membuat gadis itu tersungkur.
Teman-teman Amanda tertawa melihat itu semua. Sedangkan beberapa mahasiswa baru terlihat kasihan dan menatap iba Alice tengah diperlakukan seperti itu.
Pria bernama Danish salah satu sekian dari anggota BEM berjongkok memegangi dagu Alice. Dia menatap wajah Alice. "Kalau kau tidak melaksanakan apa yang kami perintahkan, hukumannya akan di tambahkan. Kau paham!" Dia melepaskan cekalannya membuat kepala Alice bergerak kebelakang saking kerasnya dorongan.
"Dasar tidak memiliki perasaan. Sok berkuasa mentang-mentang para senior," batin Alice mengumpat kesal.
"Ba-baik Kak. sa-saya akan melakukannya," Alice menjawab dengan suara terbata. Dia seakan takut.
Danish kembali berdiri. "Buruan lari. Kau harus menyelesaikannya dalam kurun waktu 20 menit."
__ADS_1
"Apa!" Alice memekik kaget. "Itu sih cetek, 100 putaran dengan berat beban di kaki pun aku mampu dalam kurun waktu 30 menit. Tapi aku harus pura-pura lemah," batin Alice merasa biasa saja.
"Anda gila, ya. 50 putaran dalam kurun waktu 20 menit untuk mengelilingi lapangan Segede ini mana mampu? Kau mau membunuh orang atau menghukum orang?" Alice menyuarakan pendapatnya dalam tatanan bahasa lembut.
Danish mencebik kesal karena ada orang yang melawannya. "Saya tambah menjadi 100 putaran!"
"What?!" Kali ini teman nya yang memekik kaget.
"Kau jangan keterlaluan Danish, dia itu wanita. Tidak seharusnya memberikan hukuman sebanyak itu. 50 saja pasti akan membuatnya kelelahan apalagi 100?" Alice melihat nama yang tersemat di name tag nya. 'Exel'
"Sayang, kenapa kau membelanya? Dia yang salah ya dia juga harus menanggung akibatnya," Amanda protes.
"Buruan lari sebelum saya tambah lagi hukumannya." Danish tidak memperdulikan yang lain.
Alice mengangguk. Dia bersiap berlari namun, Danish kemabli berkata, "Jangan lupa bicara 'SAYA SALAH' sampai hukuman kau selesai."
Alice hanya menengok sebentar. Kemudian berlari sambil berkata 'saya salah.'
Di tengah itu pula heboh para siswi yang melihat kedatangan seseorang bak sebagai pangeran tampan.
Pria berpostur tegap, tinggi, tampan rupawan, berkulit putih, bermata hazel kuning dengan sorot mata tajam, memiliki alis tebal dengan hidung mancung bak perosotan anak TK, berahang kokoh dengan bibir tebal.
"Aaah tampan sekali, siapa dia? Dosen baru kah?" banyak bisik-bisik terdengar dari kalangan siswi.
Kelompok Danish juga penasaran terutama kaum hawa.
"Pada rame, siapa pria tampan yang mampu mengalahkan ketampanan seorang Danish?"
"Man, kita lihat, yuk? saya jadi penasaran," ajak Cristina.
"Jangan ada yang melangkah, kita ini lagi mengadakan ospek. Kita harus profesional, paham?" seru Exel tegas.
Alice juga penasaran siapa pria yang sedang di teriaki para wanita. Dia berlari namun mata mencari. Sampai dimana netra matanya menatap sosok pria yang ia kenal. "Brian!"
__ADS_1
Brian menengok ke samping kanan tepat dimana ada lapangan. Keduanya saling berpandangan. Brian tersenyum tipis pada Alice. "Alice."