
Dring dring dring bunyi alarm yang terdengar dari dalam kamar seorang siswa SMA," Maya, cepat bangun ini sudah jam 6 nanti kamu terlambat," suara teriakan seorang wanita dari bawah lantai 1, Maya pun langsung bangun dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Ahk kenapa harus kesiangan sekarang sih, " gerutu Maya sambil berlari ke kamar mandi.
"Untung tadi malam udah siap-siap Jadinya ngga ribet deh," ucap Maya Sambil menuruni anak tangga menuju dapur.
"Itu serapannya dimakan dulu sebelum berangkat ke sekolah Mama pagi ini ada meeting jadi ngga bisa sarapan sama kamu gapapa yah, Papa juga dari tadi subuh udah berangkat ke kantor," ucap Sinta sembari mencium kening Maya dan berjalan keluar.
Maya terus melihat ke arah Sinta hingga bahu wanita tersebut hilang dari pandangannya, "Huft Sarapan Sendiri lagi, Mama Papa sibuk mulu sama urusan kantor Andai aja Kak Nicko masih hidup pasti Gue ngga bakal sunyi kayak gini," ucap Maya sedih. Maya berdiri dari duduknya setelah selesai sarapan, "duh bisa telat nih, terpaksa deh ngegas dikit." lanjut Maya sambil memakai tasnya dan berjalan keluar.
Maya pun berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor miliknya. Meskipun dia termasuk anak yang serba berkecukupan tetapi Maya hidup dalam kesederhanaan, dia tidak ingin dipandang tinggi oleh orang-orang karena usaha orang tuanya, dia ingin diakui dengan usahanya sendiri.
Saat motor Maya memasuki gerbang sekolah tiba-tiba BRAKKK, Maya terjatuh kehilangan keseimbangan akibat dari mobil mewah milik seorang siswa lelaki yang menyalakan klakson kepada Maya, al hasil Maya jadi kehilangan keseimbangan akibat terkejut. Melihat itu para sahabat - sahabat Maya yang baru saja memarkirkan mobilnya dan melihat Maya, langsung berlari menuju Maya, "Ya ampun, May lo gapapakan?" tanya Ratih sambil membantu Maya berdiri.
"Gapapa kok Rat," jawab Maya tersenyum sambil membersihkan tangannya.
"Kalau naik motor lihat-lihat dong, untung ngga ketabrak," teriak Hendrik setelah keluar dari mobil mewahnya. Hendrik merupakan anak orang kaya di sekolah itu dan orang yang paling Sombong.
"Udah dia yang salah malah marah-marah lagi, dasar beban ortu," ketus Intan sambil melempar batu kecil ke arah Hendrik tapi meleset.
"Lo dari pada ngomel ngga jelas, mending bantu gue markirin motornya Maya," ucap Amel yang dari tadi bantuin Maya bersihin seragam sekolahnya. "Iya, bawel banget sih," ucap Intan sembari menaiki motor Maya dan memarkirkannya.
__ADS_1
Di UKS Ratih tengah sibuk mengobati luka Maya, "udah Rat ini gapapa kok nanti juga sembuh sendiri," ucap Maya menolak lukanya di balur obat merah.
"Ngga May, ini keluar darah loh, dan lukanya juga ngga cuman di tangan lo tapi di kaki lo jg tuh," ucap Ratih sambil menunjuk luka di kaki Maya. Maya hanya bisa pasrah dipaksa oleh Ratih, apa lagi sahabatnya ini memang keras kepala. Sementara itu di Kantin Intan dan Amel sedang membeli minum untuk diberikan kepada Maya dan Ratih.
"Ehk itu si bocah songong tadi, kita kasih pelajaran aja dia, gara-gara dia Maya jadi jatuh," ucap Intan sambil menunjuk ke arah Hendrik.
"Bu titip minumnya dulu yah," ucap Amel ke Ibu Kantin dan langsung menuju ke tempat Hendrik.
"Hmm," deheman Amel membuat Hendrik berhenti bicara dan langsung menatap tajam ke Amel.
"Wah siswa baru berani banget sama kakak kelasnya," ucap Hendrik dengan nada kesal, mendengar itu sontak membuat Amel tertawa,
"Maaf yah kak tapi kami tuh ngga mengenal yang namanya Senior Junior," ucap Amel sambil duduk di depan Hendrik setelah sebelumnya mengusir Reno teman Hendrik yang tadi lagi duduk di depan Hendrik.
"Gue ngga peduli lo siapa, yang gue peduliin sekarang adalah lo minta maaf ke sahabat gue yang udah lo bikin jatuh dari motor tadi pagi," ucap Amel sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Mending lo semua pergi deh, sebelum habis lo di sini, ingat yah lo itu cewek jangan sok jago," tegas Reno sambil menarik lengan Amel.
Intan yang tidak terima langsung menarik tangan Reno dari lengan Amel dan mendorong bahu kanan Reno. "Memangnya kenapa kalau kita cewek? Emang cowok doang yang bisa berantem? Cewek juga bisa, jangan lo pikir karena kita cewek kita ngga berani sama lo. Ingat yah cewek juga punya harga diri dan bakalan marah kalau diinjek-injek sama orang lain.". Mendengar itu membuat Reno semakin emosi dan ingin memukul Intan, tetapi pada saat tangan Reno hampir mengenai pipi Intan, Intan memegang tangan Reno dan membantingnya ke bawah. Para siswa heboh dan mengerumuni mereka, "kalau lo emang cowok jantan, berdiri kita adu fisik di Lapangan," ucap Intan dengan tatapan yang tajam ke arah Reno dan Hendrik. "Udah Tan yang kayak gini mah kasih kucing aja, PAHITTT," ucap Amel sambil menuju ke arah Ibu Kantin dan mengambil minumannya kemudian meninggalkan Kantin. Intan berjalan ke arah Amel kemudian membalik badannya ke arah Reno dan Hendrik yang masih melongo tak percaya, Intan mengangkat jempolnya lalu membaliknya ke bawah, lalu Intan pergi mengejar Amel yang sudah lebih dulu meninggalkan kantin.
"Ren, lo gapapa?" tanya Hendrik seraya membantu Reno berdiri.
"Udah gapapa, gila bener tuh cewek lumayan juga tenaganya. Baru kali ini gue dibanting sama cewek Drik biasanya juga gue dilembut-lembutin," ucap Reno kagum sambil memegangi bahunya yang sakit akibat terbentur ke lantai.
"Itu cewek siapa sih sebenarnya, kok berani banget, atau mereka belum kenal sama gue makanya berani?," batin Hendrik bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ehk lo dari mana aja sih? Lama banget sampai kering ni tenggorokan," tanya Ratih kepada Amel dan Intan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Yah maaf, tadi ada urusan bentar," jawab Amel sambil menyodorkan minuman ke arah Maya dan Ratih.
"Urusan apa?" tanya Maya sembari meraih minuman dari tangan Amel,
"Biasa" jawab Intan sambil senyum.
"Kok gue curiga yah, jangan bilang kalau kalian berantem sama si bocah songong tadi!" tanya Ratih menyelidik.
"Yah habisnya mereka songong banget sih," jawab Amel sedikit kesal.
"Hah mereka?" tanya Maya dan Ratih bersamaan, "maksudnya gimana nih perasaan tadi cuman satu orang, kok mereka?" lanjut Ratih tak percaya,
"Sebenarnya sih kita cuma ngomong sama si bocah songong itu tapi ehk malah temannya ikut nimbrung, ya udah kita lawan tapi ujung-ujungnya kena banting Intan deh," jelas Amel.
"Beneran Tan lo banting tu bocah?" tanya Maya tak percaya, Intan mengangkat bahunya sambil tertawa, "ya abisnya songong sih belum tau aja kita siapa, apa lagi Maya.". Maya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, "husst jangan sampai ketahuan," bisik Maya,
"Siap boss," serentak Ratih,Amel,dan Intan di ikuti tawa mereka berempat.
Tak ada yang mengetahui identitas Maya kecuali sahabat-sahabatnya. Maya tidak ingin hidupnya terganggu akibat dari latar belakang keluarganya, dia lebih suka hidup tentram, damai, dan sederhana. Hidup seperti orang normal pada umumnya.
**Jangan lupa like dan Vote yah
salam dari Author😊**
__ADS_1