Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Fakta Terungkap 1


__ADS_3

Saat Maya membuka media sosial Fadel, Maya terkejut melihat foto-foto Fadel yang sangat familiar. "Ini gayanya kok sama persis sama Kak Nicko yah, tanggalnya juga sama persis pas kita sekeluarga pergi ke Korea," batin Maya menemukan keganjalan di foto Fadel.


Di sekolah Maya sedang berbincang dengan para sahabatnya mengenai apa yang Maya lihat kemarin. Posisi mereka sedang berada di dalam kelas.


"Beneran May? Wah ada yang ngga beres nih," ucap Ratih tak percaya.


"Gue kasih lihat fotonya," ucap Maya sambil menyodorkan hpnya ke arah sahabat-sahabatnya. "Nih lihat, tanggalnya sama persis dengan tanggal waktu gue dengan keluarga pergi ke Korea waktu itu, gayanya juga Kak Nicko banget kan?" lanjut Maya.


"Wah ada peristiwa apa nih? Kok kepala gue dapat suatu bayangan yah," ucap Amel sambil memegang kepalanya.


"Sok jadi Rio Koyoko luh," ucap Intan dengan nada meledek.


"Rio Kiyosyi dong, Rio Koyoko siapa?" ucap Maya sambil ketawa.


"Masih sempat buat bercanda, tapi Rio Kiyosi siapa? Yang gue tau cuma Roy Kiyosi anak Indigo itu," ucap Ratih bingung.


"Oh iyah Roy bukan Rio," ucap Maya, Amel dan Intan bersamaan.


"Jadi gimana nih rencana selanjutnya, kita mau ngapain?" tanya Ratih.


"Gimana kalau kita cari tau dulu latar belakang Fadel dan kita harus cari tau juga tentang dia dulu itu orangnya gimana, sekokahnya dimana, dan lain-lain," ucap Amel memberi Ide.


"Jadi harus jadi detektif nih ceritanya?" tanya Intan


"Padahal pas masih kecil lo main detektif-detektifan mulu," ucap Maya mengingatkan.


"Oh iyah yah," ucap Intan


"Adduh, **** di pelihara, yaudah nanti sore jam 4 kita ketemuan di cafe biasa terus kita cari tau deh tentang Fadel," saran Amel.

__ADS_1


"Ehk guru datang," ucap salah satu murid dalam kelas. Pelajaran pun di mulai, saat di pertengahan pelajaran Maya izin ke toilet.


"Bu izin ke toilet," ucap Maya sambil mengangkat tangannya, "ya sudah, jangan lama-lama," ucap Guru.


Maya pun berjalan keluar dan pada saat Maya lewat di depan kelas Fadel, Maya tak sengaja melihat Fadel dan Hendrik duduk bersama mereka terlihat sangat akrab. "Loh kok mereka kelihatan akrab banget yah, mereka punya hubungan apa? Ehk mereka kan teman sekelas yah wajib lah," batin Maya sambil terus berjalan menuju toilet.


Saat Maya sedang mencuci tangannya, Maya tak sengaja mendengar percakapan siswa perempuan yang sedang berbincang, "Jadi Fadel itu sekolah di luar negeri selama ini?" kata salah satu siswa dari 3 siswa lainnya.


"Wah pantesan ganteng, pubernya di luar negeri sih," ucap salah satu siswa lagi.


"Apa hubungannya ganteng sama tempat dia besar?" tanya salah satu siswa tidak mengerti dengan ucapan temannya.


"Btw lo dapat dari mana ni info?" tanya salah satu dari mereka.


"Gue ngga sengaja dengar dari Kak Fina," jawab salah satu dari mereka.


"Kak Fina yang narsisnya kayak Hendrik?" tanya siswa itu kembali.


"Dasar lo telinga gaja," ledek lainnya.


Maya keluar dari dalam toilet dan segera berjalan menuju kelas dengan pikiran yang melayang sehingga tak sengaja menabrak seseorang 'brakkkk', "ehk maaf ngga sengaja," ucap Maya sambil terus menunduk.


"Gapapa, gue juga minta maaf," jawab Fadel sambil menunduk juga.


"Kok kayak kenal yah suaranya," batin Maya seraya mengadah ke atas untuk melihat wajah orang yang dia tabrak. "Astaga, kebetulan banget baru juga gue mikirin dia udah nongol aja," batin Maya setelah menyadari orang yang dia tabrak adalah Fadel.


Fadel menatap Maya sambil mengangkat alisnya, "ada apa? Kok kayak orang terkejut gitu?" tanya Fadel membuyarkan lamunan Maya.


"Ahk ngga kok, gue cabut deluan yah, maaf tadi gue ngga hati-hati," ucap Maya seraya pergi meninggalkan Fadel.

__ADS_1


Fadel terus memandangi bahu Maya hingga hilang dari pandangannya dengan wajah yang masih bertanya-tanya, "itu orang kenapa sih? Setiap ngelihat gue pasti kayak orang yang terkejut gitu, apa muka gue seburuk itu yah," ucap Fadel memegang wajahnya seraya meninggalkan tempat tersebut.


Maya berlari-lari kecil menuju kelas dan saat Maya sudah tepat berada di depan kelasnya, Maya tak sengaja menabrak Hendrik, "ih sial banget sih gue hari ini," batin Maya dengan kesal.


"Ehk kalau jalan hati-hati dong, buruan minta maaf," ucap Hendrik sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


"Apa?" ucap Maya terkejut.


"Minta maaf, buruan, jadi orang kok ngga ada sopan santunnya banget," ucap Hendrik sambil menatap tajam ke arah Maya.


Maya ketawa dengan muka kesal, Hendrik yang melihat itu heran dengan ekspresi Maya. "Maaf yah kak, bukannya ngga sopan, tapi waktu gue jatuh dari motor gara-gara Kakak kan ngga ada yang minta maaf, katanya bukan salah gue, tapi sekarang gue tabrak ngga ada lecet aja malah di suruh minta maaf," ucap Maya penuh penekanan.


Hendrik yang mendengar itu sangat tidak percaya dengan sikap berani wanita yang ada di hadapannya sekarang, "wah lo berani sama gue? Lo mau gue ngeluarin loh dari sekolah ini?" ucap Hendrik dengan suara yang di tinggikan.


"Yaelah kak, dasar anak Mami lo, di giniin dikit aja udah bawa-bawa orang tua, ingat yah lo itu kaya karena orang tua lo kaya, andai bukan orang tua lo, lo itu bukan apa-apa, jadi jangan songong hanya karena pengaruh orang tua, ngga malu apa," ledek Maya seraya meninggalkan Hendrik yang masih mematung tak percaya, dia benar-benar sudah di permalukan di depan umum.


Maya masuk ke dalam kelas dengan wajah yang kaget dan penuh tanda tanya. Melihat itu tentu saja sahabat-sahabatnya bertanya-tanya ada apa?, "ada masalah May?" bisik Ratih yang berada tepat di samping Maya, "nanti gue ceritain pas jam istirahat," bisik Maya dengan tetap meluruskan pandangannnya ke depan.


Kring kring kring "oke anak-anak sekian dulu pelajaran hari ini, kalian boleh istirahat," ucap guru dalam kelas Maya sambil meninggalkan kelas. Para sahabat Maya langsung mengerumuni Maya. "Ada apa May?" tanya Ratih dengan penasarannya, "wah gilak sih tadi gue bener-bener ngga percaya," ucap maya tanpa menatap ke sahabat-sahabatnya, "ada apa sih May? Bikin penasaran aja," ucap Intan yang sudah tidak sabar mendengarkan cerita.


"Jadi tadi gue dengar anak-anak lagi ngegosip tentang Fadel di toilet, katanya Fadel itu selama ini tinggal di luar negeri," ucap Maya sambil manatap para sahabat-sahabatnya secara beegantian.


"What? Anak orang kaya dong," ucap Intan dengan nada yang tinggi. Amel langsung menutup mulut Intan sambil melihat ke arah siswa yang memandang ke arah mereka dengan wajah heran.


"Lo jangan teriak-teriak juga dong, bukan itu masalahnya, ini membuat kecurigaan kita tuh semakin meningkat terhadap si Fadel itu," ucap Amel mengambil kesimpulan seraya melepaskan tangannya dari Intan karena sedari tadi Intan terus memukuli tangannya.


"Jadi kita harus gimana nih?" tanya Intan yang bingung dengan solusi masalah yang di bincangkan para sahabat-sahabatnya.


"Kita harus cari tau tentang keluarganya Fadel," ucap Ratih memberi ide.

__ADS_1


"Caranya?" tanya Amel tak mengerti.


"Kita harus bertanya sama orang terdekat dengan Fadel atau semacam sahabatnya gitu, karena pasti dia tau semuanya tentang Fadel," ucap Maya sambil menjentikkan jarinya. Ratih, Intan dan Amel setuju dengan rencana Maya.


__ADS_2