
Fadel yang melihat Hendrik memukul samsak dengan penuh emosi hanya tertawa lalu menghampiri Hendrik.
"Lo kenapa Drik?" tanya Fadel yang seakan-akan tidak tahu.
"Gapapa," jawab Hendrik dingin.
"Gue rasa lo suka deh sama Maya," kata Fadel sambil meminum kopi yang ada di tangannya.
Hendrik menatap tajam ke arah Fadel kemudian melepaskan sarung tinjunya dan duduk di samping Fadel.
"Lo kok bisa sih kenal sama Maya, perasaan lo baru di sini 3 bulan," tanya Hendrik dengan sedikit mengatur nafas.
"Ceritanya panjang, gue ngga yakin otak lo bisa mencerna dengan baik," ucap Fadel mengejek.
"Gue ngga sebodoh itu juga kali, otak sama muka gue itu sama tingakatan, jadi percaya aja," ucap Hendrik dengan sombongnya, "udah buruan cerita," lanjut Hendrik dengan wajah berharap. Fadel menarik nafas panjang dan menceritakan semuanya, apa yang terjadi dan mengapa bisa terjadi peristiwa yang membuat Maya dan Fadel memiliki ikatan.
"Oh jadi gitu, pantesan gue dulu rasa aneh setiap gue tanyain lo ke Mama, dan ternyata Maya itu anaknya Tante Sinta, tapi kok setelah kejadian itu Tante Sinta ngga pernah bawa Maya ke rumah ketemu sama gue atau Mama, padahal mereka berduakan Sahabat," ucap Hendrik menyimpulkan semua cerita Fadel. Dia baru ingat kalau dulu dia memiliki teman perempuan sekitar umur 3 tahun dan dia masih berusia 4 tahun.
"Gue jadi bingung harus gimana sama Maya besok," ucap Fadel sambil mengadahkan wajahnya menghadap ke langit malam.
"Gue yakin dia bakalan ngerti, pasti sekarang ini dia lagi merenungkan setiap kejadian yang bikin dia syok, lo tau sendirikan Maya itu gampang lupa sama kejadian yang ngga enak, dan mengubah suasana jadi ceria kembali," ucap Hendrik dengan bijak yang membuat Fadel bingung.
"Kok lo tau kalau Maya kayak gitu anaknya? Wah lo beneran suka yah sampai-sampai sifatnya aja lo tau," goda Fadel sambil tertawa melihat perubahan wajah malu Hendrik.
"Apa sih lu, gaje banget jadi kakak," ucap Hendrik berlalu meninggalkan Fadel.
"Gue kakak lo, jadi gue tau lo gimana anaknya," teriak Fadel ke Hendrik yang semakin menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
Di sisi lain Maya sudah tidak menangis lagi dia sudah mau manerima semua keadaan dan kenyataan, biar bagaimanaoun juga takdir harus di jalani tidak dapat kita ubah pikirnya. Maya berjalan menuju dapur untuk makan, akibat menangis tenaganya banyak yang terkuras walaupun sudah makan banyak tadi.
"Bi, Mama Papa belum pulang?" tanya Maya seraya duduk di meja makan.
"Belum Non, Non mau makan apa?" tanya bibi lembut seraya memotong sayuran.
"Nasi goreng aja bi, sama telur dadar plus bakso goreng yah bi," pinta Maya.
Bibi Irma langsung membuatkan pesanan Maya, dengan cekatan Bi Irma memotong sayuran dengan cepat. Maya yang melihat itu terkesima dan menghampiri Bi Irma yang sedang memasak.
"Bi, Maya bisa bantu apa?" tanya Maya sambil berdiri di samping Bi Irma.
"Bantu liatin dan tunggu di meja makan aja Non," jawab Bi Irma sambil tertawa.
"Ih Bibi mah gitu, meremehkan bakat masak aku," jawab Maya sambil tertawa juga.
"Siap 86 Bi, kalau ngga enak tenang aja Bi kan yang makan Maya heheh," jawab Maya cengengesan sambil mengambil telur dari dalam kulkas. Bi Irma hanya tertawa mendengar ucapan Maya.
15 menit kemudian pesanan Maya sudah siap, Maya mencicipi buatan Bi Irma yang tentu saja enak, dan melanjutkan ke masakannya tiba-tiba mata Maya melebar yang membuat Bi Irma yang melihat ekspresi Maya mengernyitkan dahinya.
"Ada apa Non?" tanya Bi Irma sambil memasukkan makanan yang di masak oleh Maya ke mulutnya. Bi Irma juga terkejut makanan tersebut masuk ke dalam mulut Bi Irma dan tersenyum ke arah Maya.
"Bi, tumben aku masak dengan rasa yang enak seperti ini," ucap Maya dengan ekpresi tak menyangka. Bi Irma hanya tertawa mendengar Maya dan pamit ke belakang, sedangkan Maya melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Maya kembali ke kamarnya, dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur besar miliknya. Maya mengintip hpnya dan terkejut melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor yang tak di kenal.
"Siapa ini, nelpon sampai sebanyak ini," tanya Maya sambil menggeser layar hp miliknya, "labih baik gue telpon balik mana tau penting," lanjut Maya seraya bangun dari posisi baringnya menuju ke posisi duduk.
__ADS_1
"Halo," ucap seseorang dari seberang telepon.
"Halo, ini siapa yah?" tanya Maya to the poin.
"Ini gue May Fadel alias Nicko," ucap Fadel
"Oh Kak Nicko maksudkuBunyi alarm membuat Maya terbangun dengan terkejut, dia melihat jam dan langsung bergegas ke kamar mandi dengan tergesa-gesa, tampaknya Maya terlambat lagi.
"Gara terlalu asik mengobrol di hp dengan Kak Fadel sampai larut malam jadinya terlambat," gerutu Maya sambil menyusun rosternya. Maya segera bergegas turun ke bawah dan langsung mengampil selembar roti di tangannya lalu berlari keluar, "aku pergi yah," teriak Maya sambil berlari keluar.
"Anak itu, terlambat terus bisanya," ucap Sinta yang melihat Maya keluar dengan terburu-buru dari lantai 2. Fadel," ucap Maya dengan nada sedikit gugup.
"Kok ngga mau panggil Kak May? Maya masih marah yah?" tanya Fadel dengan nada sedikit merasa bersalah. Maya yang mendengar menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Bukan gitu, tapikan kita bukan saudara, jadi manggilnya seperti teman sebaya aja, kalau masalah marah Maya ngga berhak marah, lagi pula ini sudah takdir mau bagaimana pun harus tetap di jalani," ucap Maya menjelaskan.
"Memang yah Maya ngga pernah berubah tetap jadi orang dengan pikiran yang dewasa, dan soal nama panggilan terserah Maya aja mau panggil gimana, tapi Kakak harap Maya tetap mau yah akrab kayak dulu lagi," lirih Fadel yang jujur kecewa sekaligus merasa bersalah dengan ucapan Maya barusan.
Maya terdiam sejenak memikirkan ucapan Fadel, dia tak ingin kehilangan Fadel lagi, dia sudah sangat menyayangi Fadel seperti dulu saat Fadel masih menjadi Nicko.
"May, kok diam?" tanya Fadel yang seketika menyadarkan Maya yang tenggelam dalam pikirannya.
"Gapapa kok kak," ucap Maya ceplos.
"Kakak? Kakak pikir kamu ngga mau panggil kakak," ucap Fadel yang terkejut mendengar ucapan Maya. Maya menutup mulutnya sejenak dan melepaskan kembali. Maya menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan, lalu berbicara.
"Setelah Maya pikir-pikir, tidak ada salahnya kalau kita tetap menjadi saudara seperti dulu, tapi sekarang Maya ngga panggil Kak Nicko lagi tapi Kak Fadel, itukan nama asli Kakak," ucap Maya sambil tertawa kecil. Mendengar itu Fadel senang dan lega, yang di takutkannya selama ini tidak terjadi.
__ADS_1
Perbincangan mereka berlanjut sampai larut malam dan terus tersengar suara tawa mereka di dua tempat yang berbeda tetapi saling terhubung oleh suatu teknologi.