
Maya hanya memperhatikan langkah Hendrik yang pergi dengan perasaan puas lalu mengajak Fadel untuk bisa berbicara dengannya hanya empat Mata. Fadel menyetujui dan membawa Maya ke ruang perpustakaan keluarganya, mereka memasuki ruangan tersebut dan Maya mengunci pintu, Hendrik yang melihat mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang sama hanya berdua merasa marah dan curiga.
"Mau ngomong apa May?" tanya Fadel yang sudah duduk di sofa perpustakaan.
"Tapi Kakak harus mau yah," ucap Maya.
"Iyya, tapi apa dulu," ucap Fadel.
Maya menceritakan semua yang di alami Maya dan informasi yang di dapatnya tadi kepada Fadel, Fadel yang mendengar penjelasan Maya jelas terkejut, dia bukan hanya terkejut tentang Maya yang mengetahui hubungan Mira dan Hendrik tetapi juga tentang status pacaran yang di katakan Mira. Yang Fadel tahu Mira dan Hendrik sudah putus sebelum Mira pergi ke London.
"Jadi kamu mau Kakak lakuin apa?" tanya Fadel setelah Maya selesai berbicara.
"Aku cuma mau Kakak bilangin Hendrik, buat milih antara kami berdua, dan kalau Hendrik milih Mira dia harus bicara dengan Mama dan Papaku serta Ayah dan Bunda untuk membatalkan perjodohan ini," ucap Maya yang membuat Fadel terkejut sekaligus bahagia, dia bahagia kalau dia memiliki kesempatan untuk memiliki Maya tanpa mengeluarkan usaha apapun, tapi di di satu sisi dia tidak tega dengan Maya, apa lagi dia tahu kalau Maya memiliki perasaan kepada Hendrik.
"Yaudah nanti kakak coba bantu bilang, tapi kenapa bukan kamu aja yang ngomong langsung? Kan bisa lebih jelas," ucap Fadel.
"Nanti aja Kak, Kakak wakilin aku dulu, kalau ngga berhasil baru aku," ucap Maya meyakinkan, Fadel hanya mengangguk tanda mengerti dan mereka berdua keluar dari ruangan perpustakaan dengan bersamaan dengan tambahan canda tawa karena Maya tidak sengaja terjatuh saat ingin membuka pintu.
Hendrik yang melihat canda tawa mereka merasa cemburu, bisa-bisanya Maya tunangannya sendiri bisa ketawa lepas dengan Kakak laki-lakinya, sedangkan dia yang jelas-jelas akan menjadi suaminya dicueki. Hendrik menghampiri Maya dan Fadel yang berada di luar rumah karena Maya sudah pamit mau pulang, Maya hanya menatap dingin ke Hendrik dan tersenyum kepada Fadel lalu memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Fadel yang ingin masuk ke dalam rumah setelah mobil Maya hilang dari pandangannya di cegat oleh Hendrik, Hendrik menatap tajam kepada Fadel dan Fadel hanya membalas senyuman lalu menepuk pundak Hendrik dan kembali melanjutkan langkahnya memasuki kediaman Aryo. Hendrik yang melihat Fadel bersikap seperti tidak terjadi apa-apa jelas marah, dia merasa seperti tidak dianggap oleh Fadel sebagai tunangan Maya.
Makan malam di rumah antara Fadel dan Hendrik terasa sangat dingin, diantara mereka tidak ada yang membuka suara, makan malam sangat sunyi hanya terdengar suara benturan sendok dan piring saja yang memenuhi ruang sekitar meja makan. Setelah makan malam selesai Fadel memasuki ruang kerja Ayahnya, sebagai pewaris perusahaan Ayahnya Fadel sudah belajar untuk mengolah perusahaan sejak dini, dan Fadel juga sudah memperlihatkan bakat dan minatnya dalam bidang bisnis saat masih kecil.
__ADS_1
Hendrik memasuki ruang kerja Aryo dan menemukan Fadel di dalam, "gue mau ngomong," ucap Hendrik yang berdiri di depan Fadel yang sibuk mengecek berkas dan fail yang ada di depannya.
"Mau ngomong apa?" tanya Fadel yang masih sibuk dengan kerjaannya.
"Habis ngomongin apa lo kemarin sama Maya?" tanya Hendrik dan membuat Fadel berhenti dari aktifitasnya dan menatap Hendrik.
"Lo yakin mau tau?" tanya Fadel menatap serius kepada Hendrik dan membuat Hendrik semakin penasaran.
"Iya," jawab Hendrik singkat.
"Maya udah tau tentang Mira," ucap Fadel dingin.
"Hah kok bisa?" tanya Hendrik terkejut.
Fadel akhirnya menceritakan semua kepada Hendrik tentang cara Maya bisa mengetahui tentang hubungan Mira dan Hendrik, serta pesan Maya kepada Hendrik yang menuyuruh Hendrik untuk nemilih antara Maya dan Mira.
"Lo tuh ngga boleh egois, lo harus milih antara mereka berdua," ucap Fadel tegas. "Maya mau lo milih, dan kalau lo milih Mira lo harua ngomong sama Orang tua kita dan orang tua Maya untuk membatalkan perjodohan ini," lanjut Fadel dengan nada pelan.
"Gue beneran udah putus, lo kan tau sendiri," ucap Hendrik membantah.
"Kalau lo beneran udah putus, lo jelasin ke Maya," ucap Fadel seraya melanjutkan pekerjaannya.
Hendrik keluar dari ruangan Fadel dia sangat marah terhadap Mira, bisa-bisanya dia mebohongi orang-orang tentang hubungannya dengan dirinya. Sekarang ini Hendrik sedang berdiri di balkon rimahnya sambil menatal langit berbintang, ia memikirkan cara agar Mira mau mengakui kesalahannya terhadap Maya dan tidak membuat Maya dan dirinya membatalkan perjodohan.
__ADS_1
Sedangkan Maya di rumahnya hanya bisa merasa sedih dan kecewa kepada Hendrik, dan Maya memutuskan untuk bertemu langsung dengan Hendrik dan membicarakannya karena sampai sekarang Fadel belum menghubunginya. "Kak Fadel kayaknya ngga berhasil deh," gumam Maya sambil terus memperhatikan ponselnya. Saat Maya masih sibuk dengan ponselnya tiba-tiba bel rumah berbunyi Bibi membukakan pintu dan langsung menyuruh sahabat-sahabat Maya untuk langsung naik ke kamar Maya seperti yang telah di mintanya tadi.
Sahabat-sahabat Maya memasuki kamar Maya dan menemukan Maya yang tampak lesu dan cemberut. Ratih memeluk Maya dari belakang dan di susul oleh Intan dan Amel, Maya memeluk mereka kembali dan berakhir saling berpelukan.
"Jangan sedih-sedih dong May," ucap Ratih setelah melepaskan pelukannya.
"Iyya May, kami juga jadi ikut sedih," ucap Intan menambah.
"Gimana kalau kita jalan-jalan keluar, menghirup udara malam hari di pantai biar yang namanya sedih-sedih itu hilang," ucap Amel menawari.
"Yuk May," ucap Ratih mengajak. Maya hanya mengangguk tanda setuju, tidak ada salahnya untuk saat ini menenangkan pikiran dan hatinya.
Mereka semua berangkat menuju Pantai dan sudah sampai di parkiran, mereka semua turun dari mobil dan menuju tempat tujuan mereka. Di bawah langit yang penuh bintang mereka berempat duduk beralaskan tikar anyaman, menikmati kembang api dan makanan laut serta air kelapa muda yang membuat mereka semakin rilexs dan bahagia. Mereka tampak bercanda tawa sambil mengobrol dengan asik.
"Gini dong May, smile don't cry," ucap Ratih sambil memperagakan ucapannya menggunakan tangannya. Maya hanya ketawa melihat tingkah sahabatnya yang begitu memperdulikan dirinya.
"Gimana dengan lo Mel?" tanya Maya kepada Amel yang sedang menyantap ikan bakar di depannya.
"Iyya Mel, apa kabar lo dengan Kak Fadel?" tanya Intan menggoda.
"Gue ngga bisa ngelanjutin," ucap Amel sambil menghentikan aktifitasnya.
"Loh kenapa? Jangan nyerah dong, cinta itu butuh perjuangan," ucap Ratih yang kecewa mendengar ucapan Amel.
__ADS_1
"Dan tidak semua pengorbanan melahirkan cinta, gue udah di tembak sama orang lain," ucap Amel yang membuat sahabat-sahabatnya terkejut.
"Hah siapa?" tanya Maya kaget.