
Mereka berempat seperti biasa naik ke atas dan memasuki kamar Maya, setelah mengambil cemilan dan segala sesuatunya mereka berkumpul untuk siap begadang demi bisa berbagi cerita sebanyak-banyaknya, apa lagi besok adalah hari libur.
"Lanjutin yang tadi di chat May," ucap Ratih sembari meraih cemilan di depannya.
"Gue ketemu mereka berdua pas lagi dalam perjalanan ke kantor Papanya Kak Fadel," ucap Maya sembari memasukkan cemilan ke dalam mulutnya. "Dan masa tadi gue juga ngga sengaja ketemu sama mereka berdua lagi saat di mall waktu gue sama Kak Fadel lagi jalan-jalan, gue ngga sengaja nabrak si Mira," ucap Maya.
"Hendrik berarti liat lo dong," ucap Intan.
"Iyya, tapi dia agak jauhan dari posisi gue nabrak si cewe itu, dan kayaknya dia juga ngga tau kalau gue liat dia," ucap Maya.
"Lo pura-pura ngga tau apa-apa aja May, biar lo lebih leluasa buat nyari tau kebenarannya," ucap Amel.
"Gue juga kepikiran itu tadi," ucap Maya.
"Coba tanya ke Kak Fadel May, mana tau aja tau tentang mereka berdua," ucap Amel memberi ide.
"Ide bagus tuh Mel, tanya Kak Fadel aja May," ucap Ratih menyetujui.
"Masalahnya emang Kak Fadel bakalan jujur?" ucap Intan meragukan.
"Iyya juga yah," ucap Amel.
Mereka berempat terdiam, masing-masing memikirkan cara mengetahui tentang hubungan Hendrik dan Mira, senyap dalam kamar Maya pun sangat terasa hingga suara jam dinding Maya terdengar jelas di telinga, dan beberapa saat setelah kesenyapan itu terjadi akhirnya Maya mendapatkan ide.
"Ntan, lo kenal kan sama Mira?" tanya Intan dengan wajah sumringah.
"I-iya," jawab Intan terbata.
"Mira kenal lo juga kan?" tanya Maya lagi.
"Iyya," jawab Intan sambil Fe matanya dan dengan wajah kebingungan.
"Gue ada ide, gimana kalau lo nyari tau tentang mereka lewat Mira!" ucap Maya memberi ide.
__ADS_1
"Boleh juga tuh May, Lo tau kan rumahnya Ntan?" ucap Amel bertanya.
"Iyya di samping rumah gue persis rumah dia," ucap Intan.
"Ok, lo setuju ngga?" tanya Ratih.
"Demi sahabat, pasti setuju lah," jawab Intan sambil tersenyum dan membuat ketiga sahabatnya tersenyum lega.
Mereka berempat sibuk mengobrol dan bercanda tawa hingga jam 1 malam, dan tertidur pulas sampai pagi. Kring kring kring bunyi alarm dari jam wacker Maya dan membangunkan semua orang, Maya dan ketiga sahabatnya bergantian untuk memakai kamar mandi, setelah selesai mandi dan berganti pakaian mereka berempat turun untuk menikmati sarapan yang di buat oleh Bi Irma. Hari ini merela berempat siap untuk melakukan tugasnya, yaitu mencari tahu tentang hubungan Hendrik dan Mira.
Setelah selesai sarapan mereka berempat pergi ke cafe gaul tempat tongkrongan mereka, Maya, Ratih dan Amel berada di tempat duduk yang berbeda dengan Intan, semalam Intan telah menghubungi Mira jika dirinya ingin bertemu dengan Mira di 'Cafe Gaul' dan Mira menyutujuinya. Tidak lama menunggu Mira akhirnya datang dan menghampiri Intan mereka saling menanyai kabar dan memesan makanan bersama.
Dan tiba waktunya Intan masuk ke inti dari semuanya dia menunjukkan foto Hendrik yang berada di layar hpnya kepada Mira, "Lo kenal?" tanya Intan. Mira mengangguk tanda iyya tanpa berbicara sambil menyeruput coffe yang di pesannya tadi.
"Kenal dari mana?" tanya Intan.
"Kenal dari Kakak," jawab Mira tanpa curiga.
"Kakak sepupu," ucap Mira singkat.
"Namanya siapa? Kok gue ngga pernah liat?" tanya Intan menyelidiki.
"Kak Reno, anaknya Kakak Papaku," jawab Mira masih belum curiga.
"Oh jadi, karena Reno sama Hendrik sahabatan lo juga ikutan bersahabat sama Hendrik," ucap Intan pura-pura mengerti.
"Memangnya kenapa tanya kayak gitu?" tanya Mira mulai curiga.
"Hendrik itu kakak kelasnya gue, dan juga dia sepupunya sahabatnya gue, makanya gue kenal dia juga," ucap Intan mengarang.
"Jadi Hendrik itu kakak kelas lo, astaga dunia memang sempit yah," ucap Mira, "tapi dia udah bukan sahabat gue," lanjut Mira yang membuat Intan dan ketiga sahabatnya terkejut.
"Kok bisa?" tanya Intan mencari tahu.
__ADS_1
"Iyya, soalnya dia udah jadi pacar gue," jawab Mira yang semakin membuat Intan dan ketiga sahabatnya terkejut, apa lagi Maya dia bukan hanya terkejut tetapi sangat marah, bisa-bisanya dia mengungkapkan perasaannya tetapi masih memiliki pacar, dan menerima perjodohan.
"Sejak kapan pacarannya?" tanya Intan semakin penasaran.
"Udah lama, sekitar 2 tahunan," jawab Mira mengingat-ingat.
"Tapi belum putuskan?" tanya Intan lagi.
"Belum dong, kita masih jalan walaupun waktu aku di London kita LDR-an," jawab Mira sambil menyendokkan sedikit-sedikit makanan ke dalam mulutnya.
Setelah lama berbincang dengan Intan, Mira pamit pulang kepada Intan. Setelah merasa aman Maya, Ratih, dan Amel lalu duduk di tempat Intan tadi berada dan berkumpul kembali dengan Intan.
"Gila," ucap Ratih sambil memantau ke luar.
"Langkah lo selanjutnya apa May?" tanya Intan sambil menyeruput jusnya.
"Gue bakalan kirim pengakuan itu ke Kak Fadel, gue mau Kak Fadel yang urus ini sama Hendrik," ucap Maya dengan wajah yang masih kesal.
Sahabat-sahabat Maya mengangguk, mereka tidak ingin menambah emosi Maya, mereka tahu saat ini Maya sangat marah dan kesal karena di bohongi oleh Hendrik. Mereka menenangkan dan berusaha menghibur Maya dengan mengajaknya berjalan-jalan di mall milik Papanya. Maya sedikit merasa lebih baik dan tidak terlalu emosi lagi, dia sekarang sudah merasa lebih baik karena sahabat-sahabatnya.
Setelah puas berkeliling mereka semua mumutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, tetapi tidak dengan Maya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Hendrik tetapi tidak bermaksud untuk menemui Hendrik tetapi Fadel. Maya memasuki rumah megah milik keluarga Aryo tetapi tidak menemukan seseorang pun hanya ada Bi Sukma di sana.
"Bi Kak Fadelnya ada?" tanya Maya.
"Belum pulang Non, tapi sebentar lagi juga pulang," ucap Bi Sukma.
"Kalau Bunda dan Ayah?" tanya Maya lagi.
"Tuan dan Nyonya lagi lembur Non, jadi pulangnya bisa larut malam," jawab Bi Irma.
Maya duduk di sofa ruang keluarga dia memutuskan untuk menunggu Fadel sampai pulang, lagi pula tidak ada orang di rumah itu hanya ada pembantu dan Tukang kebun. Sambil memainkan hpnya Maya sibuk melihat-lihat isi beranda instagramnya, tak lama kemudian Hendrik datang dan melihat Maya yang sedang sibuk memainkan ponselnya, Hendrik menghampiri Maya dan menyapanya, tetapi Maya hanya melirik lalu kembali melihat ke arah ponselnya tanpa menyapa balik.
Hendrik yang melihat sikap Maya merasa heran, ada apa dengan Maya?. Maya menyueki Hendrik karena masih merasa marah dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Fadel datang dan memasuki ruang keluarga, Maya yang kegirangan langsung berdiri dan menghampiri Fadel lalu melingkarkan tangannya di lengan Fadel, Fadel bahagia melihat Maya kembali seperti dulu, menjadi adik perempuannya yang manja. Hendrik yang melihat kedekatan Maya dan Fadel tentu saja cemburu dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
__ADS_1