
Maya mengetuk pintu dan mendapat sautan perintah masuk dari Fadel dan langsung membuka pintu. Fadel yang awalnya mengira itu adalah asiten Papanya sangat terkejut melihat Maya yang datang dengan wajah datarnya, tidak biasanya Maya tampil garang apa lagi di depannya, Fadel mempersilahkan Maya duduk di sofa dan dia juga ikut duduk.
"Ada apa May? Sampai ke sini segala," tanya Fadel menatap Maya.
"Kak Fadel kenapa bisa sakit kepala semalam?" tanya Maya to the poin.
"Mungkin karena kecapean," ucap Fadel santai.
"Kak Fadel ngga sakit kan?" tanya Maya khawatir.
"Ngga kok May, Kakak sehat," ucap Fadel menenangkan Maya.
"Pertanyaan kedua, kenapa Kak Fadel ada di depan kamar Maya tadi pagi tapi ngga nyapa Maya?" tanya Maya cemberut. Fadel tertawa kecil melihat ekspresi wajah Maya.
"Cuma kebetulan lewat, lagi pula Kakak buru-buru jadi ngga sempat nyapa," jawab Fadel sekenanya, Maya yang mendengar jawaban Fadel merasa aneh, kalau memang sedang buru-buru kenapa Fadel sempat singgah berdiri dan sepertinya sudah lama sebelum Maya menyadari.
"Oke yang ketiga, harus jawab jujur yah," ucap Maya sambil menyipitkan matanya melihat ke arah Fadel.
"Iyya, kayak lagi ujian aja," ucap Fadel tertawa kecil.
"Kak Fadel tadi malam kan ketiduran gara-gara efek obat, nah yang bukain sepatu sama jas Kakak itu Maya, tapi kok Kak Fadel ngingo nyebut nama Maya suruh jangan pergi? Memangnya Kak Fadel merasa Maya tingalin?" tanya Maya dengan tatapan nanar ke arah Fadel. Fadel terdiam sebentar memikirkan apa yang akan menjadi alasannya kali ini.
"Kan malam itu Maya mau pergi dari kamar Kak Fadel kan, nah itu Kakak tahan Maya, soalnya Kakak ngga mau sendirian," jawab Fadel beralasan.
Maya hanya mengangguk dan menerima jawaban Fadel, dia percaya dan merasa itu masuk akal, dan tidak ingin berpikir aneh-aneh lagi tentang Fadel. Maya mengajak Fadel untuk makan siang bersamanya sebagai tanda ingin mengingat masa-masa dulu, karena jam masih menunjukkan pukul 10.23 pagi Maya memutuskan untuk menunggu Fadel bekerja dengan menunggunya di sofa sambil memainkan ponselnya, Maya memasuki grup chatnya bersama sahabat-sahabatnya dan mengirim foto Hendrik bersama wanita tadi.
"Menurut kalian ini apa?" chat Maya bertanya.
__ADS_1
"Itu Hendrik kan? Tapi sama siapa tuh?" balas Ratih.
"Kok kayak mesra gitu yah?" balas Amel.
"Gue kenal tuh cewek, dia tetangga gue dulu, namanya Mira," balas Intan.
"Tetangga lo Ntan? Tapi kok gue ngga pernah liat padahal kita kan selalu ke rumah lo," chat Ratih.
"Dia dari sd sekolah di asrama, tapi saat masuk SMA dia keluar negeri, karena Papanya di pindah tugaskan," balas Intan.
"Kok bisa kenal sama Hendrik yah?" chat Amel.
"Lo ketemu di mana May?" chat Intan.
"Gue ketemu di depan Mall milik Papa," balas Maya.
"Ngga, gue lagi dalam perjalanan menuju A.T Food," balas Maya.
"Duh kalau di chat rasanya ngga seru buat ngebahas, mending ketemu aja yuk," chat Ratih.
"Iyya ayuk," balas Intan
"Di Cafe gaul seperti biasa," balas Amel.
"Duh kalau sekarang gue ngga bisa, mau makan siang sama Kak Fadel, gimana kalau nanti malam aja di rumah gue, kan Mama dan Papa lagi keluar kota jadi kalian nginap lagi yah," balas Maya dan langsung di setujui oleh sahabat-sahabatnya.
Fadel yang sudah selesai bekerja akhirnya keluar bersama Maya untuk makan siang bersama, Maya yang sangat bahagia juga mengajak Fadel untuk menemaninya berjalan-jalan di mall setelah makan siang. Benar saja setelah makan siang Fadel setuju untuk menemani Maya berjalan-jalan sekalian shoping di mall milik Papa Maya, dan tanpa mereka sadari Hendrik yang sedang bersama dengan Mira melihat kebersamaan Maya dan Fadel yang membuatnya cemburu.
__ADS_1
Maya yang asik berbelanja baju dengan Fadel tidak sengaja menabrak Mira yang sedang asik juga berbelanja, Maya yang merasa bersalah meminta maaf, begitu juga juga dengan Mira dia merasa tidak enak dan meminta maaf. Hendrik dan Fadel yang melihat Maya dan Mira terkejut dengan apa yang mereka saksikan, dalam fikiran Fadel dia merasa was-was karena orang yang di tabrak oleh Maya adalah mantan pacar Hendrik, begitu juga Hendrik dia takut akan ketahuan oleh Maya dan Mira.
Setelah membayar belanjaan, Maya pulang dia di antar pulang oleh Fadel, sedangkan mobil Maya sudah lebih dulu berada di rumah Maya karena di bawa oleh Security kantor yang di minta oleh Fadel sebelum pergi untuk makan siang bersama. Maya keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah, Maya menuju dapur untuk minum, dan menyenderkan badannya di kursi untuk sekedar melepas lelah.
"Gue ngga nyangka bisa ketemu dan bicara langsung sama Mira, dan Hendrik masih temenin dia," kesal Maya lalu beranjak berdiri menuju kamarnya, dan membersihkan dirinya.
Fadel yang sudah berada di kamarnya, juga masih memikirkan Maya, dia memikirkan apakah Maya melihat Hendrik atau tidak. Fadel tau kalau Hendrik sedang bersama Mira, karena Mira baru saja tiba sepekan yang lalu dari London.
Seperti Fadel, Hendrik juga sedang merasa gelisa di dalam kamarnya, setelah mengantar Mira pulang ke rumahnya dia juga langsung pulang, Hendrik menghempaskan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. "Apa Maya liat gue tadi?" batin Hendrik bertanya-tanya, merasa takut jika ketahuan. Di satu sisi Hendrik sudah jatuh cinta dengan Maya, tapi di sisi lain dia tidak bisa melupakan Mira cinta pertamanya, sekarang ini ada 2 nama di hati Hendrik dan dia merasa dilema jika harus memilih.
Maya berpikir panjang dan memutuskan untuk tidak akan bertanya tentang Mira ke Hendrik, dia akan bersikap tidak tahu apa-apa tetapi diam-diam mencari tahu. Maya bangun dari baringnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, sudah waktunya makan malam dan sebentar lagi sahabat-sahabatnya pasti akan datang. Maya yang merasa tidak nafsu makan dan sedang melamun itu, ternyata di sadari oleh Bi Irma.
"Kenapa Non?" tanya Bi Irma berhenti dari aktifitasnya lalu menatap Maya.
"Gapapa Bi," ucap Maya setelah sebelumnya terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Hmm bohong, kalau baik-baik saja pasti Non lahap makannya, apa lagi yang bibi masak makanan kesukaan Non," ucap Bi Irma memicingkan matanya.
Maya menghela nafas kasar, "Bi kalau kita lihat pacar kita yang sudah menjadi calon suami pergi sama cewek lain, artinya apa yah Bi?" tanya Maya menatap serius ke Bi Irma.
Bi Irma yang terkejut mendengar ucapan Maya yang sama persis dengan apa yang di alaminya dulu dengan mantan pacarnya lalu menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, "mungkin saja temannya, atau sahabat, atau bisa jadi juga sepupunya, kan kita tidak tahu, jadi harus berfikir positif terus," ucap Bi Irma mengelus punggung tangan Maya.
Maya terdiam dan berfikir sejenak, mungkin yang dikatakan Bi Irma benar, dia seharusnya tidak curiga kepada Hendrik apa lagi dia dan Hendrik sudah bertunangan. Maya melanjutkan makan malamnya dan menunggu sahabat-sahabatnya di ruang tamu sambil menonton tv, setelah beberapa saat menunggu akhirnya sahabat-sahabatnya pun tiba dengan cepat Maya membuka pintu.
"Kalian naik pesawat apa ke sini?" ucap Maya bercanda.
"Garuda Indonesia," jawab Ratih lalu tertawa dan di ikuti oleh Maya, Amel dan Intan.
__ADS_1