
Saat jam pulang sekolah, keempat sahabat ini pulang bersama dengan menggunakan mobil milik Ratih, tiba-tiba Amel melihat Fadel dan Hendrik masuk ke dalam mobil Hendrik bersama-sama seakan-akan menandakan bahea mereka itu orang yang sudah kenal cukup lama. Maya yang melihat Amel sedang memperhatikan sesuatu menghampiri Amel, "ada apa Mel?" tanya Maya membuat Amel kaget.
"Lihat deh May," ucap Amel seraya menunjuk ke arah Fadel dan Hendrik. Maya memutar bola matanya menuju ke arah telunjuk Amel, betapa terkejutnya Maya melihat pemandangan tersebut. Ratih dan Intan yang sudah berada di dalam mobil keluar setelah menyadari Maya dan Amel belum masuk ke dalam mobil.
"Kalian kok belum masuk sih," ucap Intan seraya melihat ke arah mata Maya dan Amel tertuju, "ngga mungkin," lanjut Intan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Wah jalan kebenaran sebentar lagi akan terbuka," ucap Ratih sambil terus memandangi Fadel dan Hendrik, hingga mereka berdua hilang dari pandangan.
Mereka berempat segera masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang masih melayang dan tak ada seorangpun yang berbicara, hingga apada akhirnya Maya pun mulai berbicara, "jadi rencana kita selanjutnya adalah ngorek informasi dari Hendrik, salah satu dari kita akan dekatin Hendrik," ucap Maya dengan penuh keyakinan.
"Apa?" ucap Ratih, Intan dan Amel terkejut tak percaya dengan rencana Maya.
"Kira-kira siapa yang bisa?" tanya Maya. Semua orang terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan dari Maya.
"Kalian niat bantu ngga sih?" tanya Maya lagi.
"Kalau gue ngga bisa May, lo kan tau sendiri gue ngga ada bakat buat bisa akrab sama seseorang, dulu aja kita ketemu juga karena kalian selalu bujuk gue makanya gue bisa akrab sama kalian sampai sekarang," ucap Intan beralasan. Maya mengangguk dan menatap ke arah Amel dengan penuh harap.
"May, lo tau sendiri kan gue udah berantem sama dia, ngga bakalan berhasil lah kalau gue yang deketin, pasti dia bakalan curiga," ucap Amel juga beralasan. Maya kembali mengangguk mengerti dan beralih menatap Ratih, Ratih hanya nyengir tanda menolak, dan maya langsung mengerti tanda penolakan di mata Ratih, apa lagi Ratih orangnya sangat tak pandai merayu orang.
"Ok baiklah biar gue aja," ucap Maya menyerah.
"Lo yakin May? Kan lo juga udah pernah adu mulut sama dia?" tanya Ratih tak percaya dengan keputusan Maya.
"Ini semua demi fakta dan rasa ingin tahu kita, jadi gapapa lah, jangan khawatir gue bisa," ucap Maya meyakinkan sahabat-sahabatnya, Ratih, Intan dan Amel masih tidak percaya dengan yang barusan Maya ucapkan, "udah jalan, mau di sini terus sampai maghrib?" ucap Maya membuyarkan lamunan mereka.
Maya keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di atas tempat tidurnya sambil memejamkan mata, karena terlalu kelelahan Maya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
"May, mau jalan-jalan ngga?" tanya Nicko sambil duduk di samping Maya. Maya yang sedari tadi senyap sambil membaca novel di tangannya langsung sadar.
"Ehk Kak Nicko, mau jalan-jalan kemana kak?" tanya Maya kembali.
"Ke taman dekat rumah aja, yang biasa kita kunjungi," ucap Nicko sambil menatap Maya.
Maya tersenyum tanda setuju dengan usulan Nicko, mereka berjalan di bawah pohon yang rindang sambil bergandengan tangan, "Kak Nicko tau ngga kenapa aku ngga mau pacaran," tanya Maya saat telah duduk di tengah taman.
"Kenapa?" tanya Nicko sambil memejamkan matanya.
"Karena Maya ngga perlu laki-laki untuk hidup Maya lagi, Maya punya Kak Nicko yang selalu menjaga Maya, yang selalu menghibur Maya, yang selalu ada di setiap moment Maya, yang menguatkan Maya, yang bikin Maya tidak pernah merasa kesepian. Maya rasa tak akan mendapatkan itu semua dari laki-laki lain, hidup selamanya bersama Kak Nicko saja sudah bikin Maya bahagia," jelas Maya sambil tersenyum bahagia.
Nicko membuka matanya lalu menatap Maya dengan lekat, "Maya bagaimanapun juga kamu harus menikah dan hidup bahagia, begitu juga Kak Nicko akan menikah dan punya kehidupan baru, walaupun kita saudara tapi kita tak di takdirkan untuk selalu bersama karena yang di takdirkan selalu bersama Maya dan menjaga Maya adalah jodoh Maya, Kak Nicko hanyalah orang yang menjaga Maya di awal Maya mengenal dunia sehingga saat Maya bersama dengan kekasih Maya nanti Kak Nicko sudah lepas dari kewajiban Kak Nicko sebagai kakak untuk Maya, jadi dengan begitu Maya akan terus di jaga seluruh hidup Maya," ucap Nicko sambil menggenggan tangan Maya.
"Tapi Maya tak ingin berpisah dengan Kak Nicko," ucap Maya dengan mata berkaca-kaca. Nicko langsung memeluk Maya, "Maya pasti bisa menjalani ini semua, semangat terus adik kecilnya Kak Nicko, Kak Nickomu ini ingin melihat kau tumbuh dengan bahagia," ucap Nicko sambil mengusap lembut rambut Maya.
Maya terbangun dari mimpinya, "astaga, kenapa moment itu bisa jadi mimpi lagi sih," ucap Maya, Maya memijit-mijit pelipisnya sambil terus memikirkan mimpinya tadi, "moment terakhir dari Kak Nicko bikin sakit hati," batin Maya seraya turun dari kasurnya dan berjalan menuju dapur. "Mama Papa mana Bi? Kok ngga ada ini udah jam 7," tanya Maya kepada Bi Irma.
Maya mengehela nafas kasar lalu duduk untuk makan, "Bibi sekalian ikut makan aja bi temenin Maya," ucap Maya.
"Ngga bisa dong Non," ucap Bi Irma lembut.
"Kenapa ngga bisa Bi?" tanya Maya sambil menaikkan alisnya.
"Kan Bibi cuma pembantu Non," jawab Bi Irma sekenanya.
"Apa bedanya Bi? Kan kita sama-sama manusia, harta bukan alat pengukur untuk menentukan mana yang tinggi dan mana yang rendah, lagi pula Mama kan pernah bilang Bibi sudah di anggap keluarga," ucap Maya meyakinkan Bi Irma agar tidak merasa sungkan.
__ADS_1
Bi Irma menuruti kata-kata Maya, setelah makan malam Maya langsung mengingat sesuatu, "Bi, Maya boleh nanya sesuatu ngga?" tanya Maya kepada Bi Irma yang sedang sibuk membersihkan meja makan.
Seketika Bi Irma berhenti dari aktifitasnya dan manatap Maya dengan heran. "Mau tanya apa Non?" ucap Bi Irma melanjutkan pekerjaannya. "Bibi kan udah lama kerja di sini, bahkan sebelum aku lahir," ucap Maya sambil terus menatap Bi Irma. Bi Irma kembali berhenti dari aktifitasnya dan duduk di samping Maya. "Jadi Non?" tanya Bi Irma tak mengerti maksud Maya.
"Bibi tau ngga tentang Kak Nicko?" tanya Maya yang membuat Bi Irma terkejut.
"I..tuu itu hmm Non," ucap Bi Irma terbata-bata.
"Aku udah tau kok Bi kalau Kak Nicko itu bukan saudara kandung aku," ucap Maya yang lagi-lagi membuat Bi Irma terkejut.
"Kok Non bisa tau?" tanya Bi Irma penasaran.
"Udah di kasih tau sama Mama Bi, jadi sekarang Maya mau bibi jawab jujur pertanyaan Maya, ngga boleh ada rahasia," ucap Maya manatap dalam Bi Irma.
"Mau tanya apa Non?" tanya Bi Irma.
"Bibi, tau ngga orang tua kandung Kak Nicko?" tanya Maya.
"Bibi sih ngga yakin Non, tapi kalau ngga salah Bibi pernah lihat Mamanya Non kasih alamat orang tuanya Den Nicko kek Den Nickonya sendiri," jelas Bi Irma mengingat-ingat.
"Bibi dengar ngga alamatnya dimana? Atau mungkin petunjuk gitu bi," tanya Maya lagi.
"Kalau ngga salah sih kertas yang berisi alamat orang tuanya Den Nicko itu di simpan di buku yang selalu Den Nicko bawa deh Non," jawab Bi Irma dengan penuh keyakinan.
"Maksudnya buku Diarynya Kak Nicko Bi?" tanya Maya kembali.
"Iyah Non itu, buku diary!" jawab Bi Irma dengan antusias.
__ADS_1
Maya kembali ke kamarnya dan langsung mengambil buku diary milik Nicko di dalam laci lemarinya. Maya langsung membuka buku diary milik Nicko dan mendapatkan alamat yang dia cari, "ini dekat dengan sekolah," gumam Maya saat telah membaca kertas kecil berisi alamat orang tua Nicko.
Author minta maaf kalau banyak yang typo soalnya apa yang ada di pikiran Author itu yang langsung Author ketik, jadi kalau kurang nyaman maaf yah๐๐