Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
PDKT


__ADS_3

Berbeda dengan Maya yang sedih, Hendrik tampak sangat bahagia, orang yang dia suka ditakdirkan untuk menjadi jodohnya. Sebelumnya Hendrik sempat menolak untuk di jodohkan tetapi karena bujukan Fadel yang mengatakan bahwa dia bisa menolak perjodohan jika wanita itu tidak sesuai kriteria akhirnya Hendrik mau demi membuat hati Bunda dan Ayahnya bahagia.


Hendrik masih sibuk berlatih tinju, sudah speeti kebiasaan Hendrik pasti selalu meluapakan baik itu kekesalan atau kebahagiaannya melalui samsak kesayangannya itu. Hampir setiap hari samsak tersebut dipukuli oleh Hendrik, rasanya ada yang kurang jika tidak melakukan itu dalam satu hari.


Fadel yang melihat Hendrik yang sedang meninju samsaknya sambil tersenyum itupun langsung mengahmpiri Hendrik.


"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih," ucap Fadel yang membuat Hendrik berhenti dari aktifitasnya dan melepas sarung tinjunya. "Nih minum dulu," ucap Fadel sambil menyuguhkan kopi yang sedari tadi ia bawa untuk Hendrik.


"Widih..makasih kak," ucap Hendrik meraih secangkir kopi dari tangan Fadel.


"Sama-sama," ucap Fadel dan mengajak Hendrik untuk duduk bersamanya di pinggir kolam renang.


"Lo bahagia?" tanya Fadel seraya menyeruput kopi miliknya


"Yah gitu," jawab Hendrik tersenyum.


"Tanpa lo kasih tau juga gue udah tau jawaban lo apa," ucap Fadel ikut tersenyum.


"Kalau lo tau ngapain lo tanya?" kesal Hendrik sambil memegang pundak Fadel.


"Cuma mau mastiin aja," ucap Fadel diikuti suara tawa kecil yang membuat Hendrik juga tertawa. "Gue bahagia kalau lo bahagia, gue harap lo bisa jaga Maya," lanjut Fadel menatap langit berbintang lalu memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Pasti kak, tapi lo..." ucapan Hendrik terpotong karena Fadel mengisyaratkan untuk diam dengan kode meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya.


"Udah lo ngga usah bahas yang lain, intinya sekarang lo wajib jagain Maya, gue serahin semuanya sama lo, gue percaya sama lo," ucap Fadel lalu menepuk bahu Hendrik lembut. Hendrik hanya membalas dengan senyum dan nggukan kepala, lalu kembali menyeruput kopi miliknya.


Maya sudah selesai dengan drama koreanya dan sekarang sudah menunjukkan pukul 22.38. Waktunya Maya untuk tidur karena besok harus mempersiapkan dirinya terbiasa dekat dengan Hendrik.


Maya sudh bersiap dan turun untuk sarapan. "Ma Pa, hari ini ngga kerja?" tanya Maya berjalan menuju meja makan yang di mana orang tuanya masih memakai baju tidur.


"Kerja, tapi nanti," jawab Sinta yang sedang sibuk menyiapkan roti untuk sarapan Amran dan Maya. Maya hanya mengangguk mengerti dan melahap sarapannya. Pas setelah Maya selesai makan Hendrik datang menjemput Maya. "Itu Hendrik sudah datang," ucap Sinta yang mendengar suara mobil di depan rumah Keluarga Maya. Maya hanya mengangguk dan segera pamit untuk berangkat sekolah.


Sinta dan Amran mengantar Maya sampai di depan pintu, Hendrik yang melihat orang tua Maya langsung menyalimnya, dan pamit untuk berangkat, tentu saja Sinta dan Amran mengizinkan, itu merupakan suatu kebahagian mereka melihat anaknya bisa bersama dengan calon menantu pilihannya.


Hendrik mengantar Maya sampai ke depan kelasnya dan sudah pasti sahabat-sahabat Maya sudah menunggu Maya dari tadi di dalam kelas. Maya memasuki kelas dan terus mendapati banyak pasang mata yang menatap kepadanya, baik yang bertanya, ataupun tatapan iri. Maya mempercepat langkahnya menuju ke tampat duduknya.


"Good morning Maya," sapa Ratih, Intan dan Amel bersamaan.


"Good morning juga," balas Maya dengan gelisah.


"Kenapa May?" tanya Amel yang melihat Maya yabg tidak nyaman.


"Gue ngga ngerti sama anak-anak, kok ngeliatin gue terus yah?" tanya Maya tak mengerti.

__ADS_1


"Karena lo jalan sama Hendrik yah pastilah mereka iri," jawab Ratih.


"Baik anak-anak silahkan duduk di tempat masing-masing," ucap seorang guru sedaya berjalan masuk ke ruang kelas. "Oh iyya ketua kelas dan Maya tolong ambilkan buku pelaran Fisika di Meja saya," ucap Bu Nilam memerintahkan. "Baik buk," ucap Farel dan Maya bersamaan lalu berjalan menuju raung guru secara bersamaan.


Hendrik yang kebetulan menuju toilet tidak sengaja melihat Maya dan Farel berjalan beriringan dan membuat Hendrik cemburu. Setelah jam pelajaran akhirnya selesai dan di lanjutkan dengan jam istirahat. Maya menuju ke arah perpustakaan tetapi di cegat oleh Hendrik saat di perjalanan.


"Ada apa Drik?" ucap Maya santai sambil menatap Hendrik yang tepat berdiri di hadapannya dan sesekali melihat sekeliling dengan banyak sekali pasang mata yang sedang menyaksikan mereka berdua.


"Lo ngapain berduaan sama Farel tadi?" tanya Hendrik dingin. Maya hanya mengernyitkan dahinya dia tidak mengerti dengan sikap Hendrik. Dia seakan-akan cemburu tetapi Maya tidak tahu apakah Hendrik mencintainya atau tidak.


"Apa sih Drik? Udah ah aku mau lewat," ucap Maya. Hendrik dengan cepat memegang tangan Maya yang membuat Maya terkejut.


"Lo itu udah di jodohin sama gue, itu sama saja gue sama lo itu ada hubungan alias pacaran. Jadi jangan coba-coba dekat dengan yang lain," bisik Hendrik mendekatkan bibirnya di telinga Maya. Maya hanya terdiam karena terkejut sekaligus bingung. Hendrik melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan Maya yang masih mematung.


Maya menghela nafas kasar seakan-akan dia sedang menahan nafas lama setelah Hendrik pergi jauh. Maya melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan dan mendapati Fadel yang sedang membaca buku di sana. Maya mendekati Fadel dan langsung duduk di sebelahnya, "lagi ngapain kak?" ucap Maya sambil merangkul lengan Fadel. Fadel terkejut dengan kedatangan Maya yang secara tiba-tiba, "kamu itu ngagetin aja," ucap Fadel sambil mencubit hidung Maya. Maya kesakitan lalu membalas cubitan Fadel di pipinya.


Maya dan Fadel tertawa tetapi kemudian menahannya karena melihat sekeliling orang-orang yang berada dalam perpus sudah menatap mereka berdua. "Maya mengobrol banyak dengan Fadel di perpustakaan, sampai pada akhirnya jam istirahat telah berakhir dan Maya harus pamit ke Fadel untur menuju ke kelasnya.


Tanpa mereka sadari ternyata Reno sahabat Hendrik sedari tadi memperhatikan mereka. Mengetahui bahwa sahabatnya itu telah dijodohkan dengan Maya, Reno langsung memberi tahu Hendrik tentang apa yang dia lihat tadi di perpustakaan. Hendrik yang mendengarnya tentu saja marah akibat terbakar api cemburu tetapi dia tidak bisa menyalahkan keduanya, apa lagi Fadel sudah lebih dulu kenal dengan Maya dibandingkan dirinya.


Hendrik hanya bertekad untuk lebih bisa dekat dengan Maya dari pada Fadel, dan berencana mengajak Maya jalan-jalan berdua nanti malam. Maya yang mendapatkan chat ajakan jalan dari Hendrik hanya mengernyitkan dahinya, "kesambet apa ni anak," gumam Maya lalu meletakkan hpnya karena takut ketahuan guru.

__ADS_1


__ADS_2