Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Makan malam bersama


__ADS_3

Hendrik yang menunggu balasan chat Maya merasa marah, bisa-bisanya Maya mengabaikan chatnya pikir Hendrik. Sepulang sekolah Hendrik menunggu Maya di luar kelas Maya sambil terus di perhatikan oleh gadis-gadis yang melewati Hendrik. Saat Maya keluar Hendrik langsung sigap memegang tangan Maya dan menariknya pergi. Maya yang terkejut tetapi hanya bisa pasrah, "gue deluan yah guys," pamit Maya kepada sahabat-sahabatnya sambil melambaikan tangan yang tidak di pegang oleh Hendrik.


Saat di parkiran Maya hanya menyipitkan matanya dan menatap tajam kepada Hendrik, Hendrik yang menhadarinya tak memperdulikan dan menyuruh Maya masuk ke dalam mobil. Fadel yang melihat dari kejauhan hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua lalu melajukan mobilnya.


Setelah keduanya berada dalam mobil, Maya lalu membuka suara, "Lo tuh kenapa sih, asal main tarik aja," kesal Maya sambil menatap tajam ke arah Hendrik. Hendrik tidak menjawab ataupun bersuara sedikitpun dia langsung memasangkan sabuk pengaman untuk Maya dan berakhir saling bertatapan. Mereka yang sadar dan merasa canggung langsung mengubah posisi, Maya yang menatap ke arah hpnya dan Hendrik yang langsung menyalakan mobilnya.


Di tengah perjalanan barulah Hendrik membuka suara, "kenapa ngga balas chat?" tanya Hendrik dingin yang tetap fokus ke arah depan.


"Ngga sempat," jawab Maya singkat dan sudah melihat ke arah depan.


"Ngga sempat kenapa?" tanya Hendrik dingin.


"Lo bayangin aja, ngirim pesan pas jam pelajaran, bisa di sita hp gue kalau ketahuan," jelas Maya sedikit kesal.


"Kan kalau ketahuan," ucap Hendrik dingin.


"Terserah lo deh," kesal Maya. Hendrik hanya tertawa kecil melihat Maya yang sedang cemberut.


"Jadi di terima ngga?" tanya Hendrik sesekali melihat ke arah Maya.


"Yaudah iyya, kapan?" tanya Maya pasrah.


"Nanti malam gimana?" tanya Hendrik senang.

__ADS_1


"Besok sekolah, malam minggu aja," ucap Maya menawar.


"Tadi tanya kapan, sekarang malah dia yang jawab, kalai begitu kenapa tanya," cibir Hendrik sambil melirik ke Maya sambil menahan tawa.


"Yaelah gitu aja ngambek," ucap Maya membujuk Hendrik yang berpura-pura ngambek.


"Ngga," ucap Hendrik singkat sambil memanyunkan bibirnya.


"Yaudah iyya, nanti malam," jawab Maya pasrah.


"Nah gitu dong, nanti malam jam 7, gue jemput," ucap Hendrik sambil tersenyum. Maya yang yang melihat Hendrik yang sedang bahagia hanya tersenyum dan tertawa kecil melihatnya.


Maya turun dari mobil saat mobil milik Hendrik telah berhenti pas di depan gerbang rumah Maya. Hendrik melajukan mobilnya menjauh dari rumah Maya, setelah mobil Hendrik telah hilang dari pandangan Maya pun akhirnya masuk ke dalam rumahnya, dan langung naik menuju kamarnya.


Maya bangun dari baringnya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Maya telah selesai mandi dan sudah duduk di depan laptopnya sambil bersender di kepala ranjangnya. Maya masuk ke instagram dan melihat pemberitahuan bahwa Hendrik baru saja menfollownya, Maya mengerutkan alisnya dan tanpa pikir panjang dia menfollow back Hendrik.


Hendrik yang mendapat notifikasi tersebut sangat bahagia bukan main, mungkin cara ini bisa membuatnya semakin dekat dengan Maya. Fadel yang melihat Hendrik melompat kegirangan di ruang keluarga menghampirinya dan Hendrik langsung berhenti dan pura-pura berolahraga saat menyadari Fadel menghampirinya. Fadel mengernyitkan dahinya dan berlalu meninggalkan Hendrik yang tengah berpura-pura berolahraga.


Hendrik tidak berhenti memandang kepergian Fadel hingga hilang dari pandangannya, lalu segera berlari kecil menuju kamarnya.


Fadel keluar dari rumah dan langsung menuju mobilnya di perkirkan dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah kediaman Aryo. Sampailah Hendrik di sebuah cafe milik keluarganya tetapi dia yang sekarang bertugas untuk mengolahnya sendiri. Fadel memeriksa seluruh Cafe memastikan tidak ada yang kurang, dan kemudian duduk di kursi pelanggan sekedar untuk memantau para pelayannya bekerja.


Amel yang baru masuk ke dalam cafe segera duduk dan memesan minum, Fadel yang melihat sahabat Maya ada disini segera menghampiri Amel.

__ADS_1


"Lo ngapain disini," ucap Fadel sambil duduk di sebelah Amel. Amel yang menyadari ada Fadel tentu saja terkejut dengan kedatangan tib-tiba Fadel.


"Lagi nungguin teman-teman gue aja," ucap Amel santai.


"Maksudnya Maya,Ratih dan Intan?" tanya Fadel.


"Iyalah siapa lagi," ucap Amel sambil tertawa kecil. Fadel hanya mengangguk dan pamit untuk pergi.


Setelah kepergian Fadel, tidak lama kemuadian Maya dan kedua sahabatnya pun tiba, dengan wajah berseri-seri di muka Amel tentu saja membuat Maya dan yang lainnya ingin tahu apa yang sedang terjadi.


"Ada apa nih?" tanya Maya melirik ke Amel.


"Ada apanya? Udah mending pesan dulu," ucap Amel seraya memanggil pelayan.


Setelah memesan makanan dan minuman yang di inginkan akhirnya Maya mengulangi pertanyaannya tetapi lagi-lagi di elak oleh Amel. Maya dan Ratih serta Intan saling bertatapan melempar pertanyaan dari ekspresi wajah.


Pertemuan mereka berempat sudah selesai dan mereka pulang ke rumah masing-masing. Amel sudah sampai di rumahnya dan sudah selesai mandi, Amel berdiri tepat di balkon kamarnya menatap ke langit malam yang cerah lalu memejamkan matanya. "Gue sepertinya ngga bisa berhenti suka sama Kak Fadel yang dulu merupakan Kak Nicko," batin Amel. Amel lalu membuka matanya kembali, "Harusnya gue cerita sama yang lain atau ngga yah soal perasaan gue yang udah lama ini? Tapi belum siap juga," gumam Amel ragu.


Malam ini Maya dan Hendrik susah janjian, Hendrik sudah datang menjemput Maya dan Maya pun sudah menunggu di depan pintu rumahnya. "Mau berangkat sekarang tuan putri?" ucap Hendrik menggoda Maya.


"Ngga tahun depan aja berangkatnya," ucap Maya membalas lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Hendrik.


Maya dan Hendrik berhenti tepat di depan Cafe mewah dan Hendrik juga sudah menyewa tempat untuk mereka berdua. Hendrik menarikkan kursi untuk Maya duduki, Maya hanya tersenyum canggung melihat kelakuan Hendrik. Ternyata Hendrik juga bisa bersifat manis dan lembut, ternyata dia tidak selalu menjadi preman, pikir Maya.

__ADS_1


Maya dan Hendrik menikmati dinner romantis mereka. Setelah makan malam selesai Hendrik mengajak Maya berjalan-jalan di pinggir pantai, tampak dari wajah Maya kebahagiaan yang terpancar, kenapa tidak dia selama ini sangat ingin menikmati suasan pantai di malam hari, tetapi berani untuk keluar malam mengingat kejahatan di luar banyak dan beraneka ragam. Tetapi entah kenapa bersama Hendrik Maya merasa aman seperti halnya saat Maya bersama Fadel.


__ADS_2