Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Persahabatan Maya


__ADS_3

"Ma Pa, aku keluar dulu yah bareng teman-teman," pamit Maya seraya duduk di samping Sinta dan Amran yang sedang duduk berdua sambil menonton tv di ruang keluarga.


"Yaudah hati-hati, pulangnya jangan sore yah, nanti malam ada acara," ucap Sinta.


"Iyah ma," ucap Maya seraya meraih tangan Sinta dan Amran lalu menciumnya.


Maya keluar dari rumahnya menuju ke tempat mobilnya terparkir. Maya melajukan mobilnya menuju Cafe Gaul tempat yang di sepakati olehnya dan para sahabatnya untul berkumpul.


Maya masuk ke dalam Cafe yang sudah lebih dulu di datangi oleh sahabat-sahabatnya.


"Halo May," sapa Intan yang melihat Maya sedang berjalan ke arah mereka.


"Halo guys, maaf yah telat, kalian udah lama nunggu?" tanya Maya yang tidak enak dirinya terlambat.


"Ngga kok May, kita juga baru datang," ucap Amel menolak maaf Maya.


"Yaudah mau cerita apa May? Tumben ngajak keluar, biasanya juga kalau mau curhat kita di suruh ke rumah lo," ucap Ratih penasaran.


"Jadi gue tuh mau di jodohin," jawab Maya to the point. Tentu saja sahabat-sahabatnya Maya terkejut mendengarnya, bagaimana tidak umur Maya yang masih terbilang masih muda dan masih anak SMA sudah di jodohkan.


"Sama siapa?" tanya Intan yang masih kaget mendengar ucapan Maya.


"Gue juga ngga tau, tapi nanti malam bakalan ada pertemuan keluarga," ucap Maya bersender ke kursi.


"Udah tenang dulu, gue pesenin minum dulu oke," ucap Amel lalu memesankan Maya jus jeruk sesuai kesukaan Maya. Setelah pesann datang mereka pun langaung melanjutkan perbincangan mereka lagi.


"Terus sekolah lo gimana?" tanya Intan seraya menyeruput minumannya.


"Kita ngga bakal nikah sekarang," ucap Maya singkat.


"Terus kapan?" tanya Intan lagi.

__ADS_1


"Lulus SMA," jawab Maya yang semakin membuat sahabat-sahabatnya sangat terkejut. "Jadi untuk saat ini kita cuman tunangan doang, dan nanti pas Lulus baru nikah," lanjut Maya yang di akhiri dengan membuang nafas kasar.


"Jadi lo ngga bakalan kuliah May?" tanya Amel sambil memegangi dahinya karena merasa sangat terkejut.


"Kuliah sih, tapi sambil ngurus rumah tangga," ucap Maya lesu.


"Lo ngga lagi nga-prank kan May?" tanya Ratih menyipitkan matanya memandang Maya.


"Ya kali urusan kayak gini gue nge-prank," jawab Maya kesal.


"Yah kan mana tau, apa lagi sekarang lagi viral-viralnya prank," jawab Ratih merasa bersalah.


"Gue bukan youtuber, mana mungkin gue Prank," jawab Maya dingin.


"Iyya juga yah, tapi mungkin memang ini yang terbaik buat lo May, sampai-sampai orang tua lo mau jodohin lo di umur yang masih muda," ucap Ratih menenangkan Maya.


"Dan mungkin juga orang tua lo tuh ngga mau kalau sampai pilih pasangan ataupun di sakiti oleh orang lain, gara-gara pacaran," ucap Intan menghibur Maya.


"Tapi pas gue udah nikah, kalian masih mau sahabatan sama gue kan?" tanya Maya dengan mata berkaca-kaca.


"Ya iyyalah May, kita itu udah kenal dari kecil, ya kali cuman gara-gara udah punya keluarga baru, kita tega ninggalin sahabat yang udah temenin kita sejak lama," ucap Amel merangkul pundak Maya.


"Kita selamanya akan tetap jadi sahabat," ucap Intan sambil memeluk Maya dan Amel yang diikuti juga oleh Ratih.


Mereka menghabiskan waktu bercanda selama beberapa jam di Cafe, persahabatan mereka semakin hangat karena rasa percaya yang kuat antara sesama yang tidak pernah pudar.


Jam sudah menunjukkan pukul 03.45 sudah waktunya mereka untuk pulang, sebelum di cari dan di telpon masing-masing oleh orang tua mereka.


Maya melajukan mobilnya menuju ke rumah, dan langsung masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap dengan acara pertemuan nanti malam. "Gue harus pakai baju apa nih?" batin Maya sambil melihat-lihat isi lemarinya.


Tok tok tok suara ketukan pintu kamar Maya, "May, buka pintu," teriak Sinta dari luar.

__ADS_1


"Iyah Ma," ucap Maya lalu berlari menuju pintu dan mendapati Mamanya sedang berdiri dengan memegang satu baju dress oranye yang sangat indah.


"Pakai ini," ucap Sinta seraya memberikan baju tersebut dan berlalu pergi.


Maya masuk ke dalam kamarnya sambil terus memandang baju tersebut, "memangnya harus pakai baju begini yah," gumam Maya seraya meletakkan bajunya ke atas kasur. Maya berfikir sejenak lalu melihat ke jam yang sudah menunjuk pukul 05.15.


"Udalah pake aja, dari pada harus terlambat gara-gara baju doang," ucap Maya langsung bersiap-siap. Setelah 30 menit bersiap Maya akhirnya selesai dan ting notifikasi datang ke hp Maya.


Maya membuka hpnya dan tersenyum melihat isi chat dari sahabat-sahabatnya. "Kayak gue mau pergi kemana aja, harus bilang good luck segala," ucap Maya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Dasar kucing," lanjut Maya lalu meletakkan kembali hpnya.


20 menit kemudian Sinta dan Amran memanggil Maya untuk turun kebawah. Maya segera turun dengan hatu-hati menuju ruang tamu. Saat Maya datang Sinta dan Amran terpesona melihat kecantikan Putri mereka yang begitu alami.


"Wah, Mama ngidam apa waktu hamilin Maya mah?" tanya Amran ke Sinta tetapi tatapan mata yang terus mengarah ke Maya.


"Kayaknya Mama ngga ngidam apa-apa deh, tapi rajin maskeran doang," ucap Sinta tertawa tetapi tatapan mata yang terus mengarah ke Maya.


"Ih apa sih Ma Pa," ucap Maya malu-malu lalu menarik kedua orang tuanya.


"Ya udah yuk berangkat," ucap Sinta menggandeng tangan Maya keluar.


Mereka semua masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah seseorang. Maya turun dari mobil dan melihat-lihat sekeliling, entah kenapa rasanya dia mengenal tempat itu dan pernah mengunjunginya.


"May, ayo masuk," ucap Sinta yang membuyarkan lamunan Maya.


"Ehk iyya Ma," ucap Maya tersenyum lalu mengikuti Sinta dari belakang.


Keluarga Maya memasuki rumah tersebut, dan betapa terkejutnya Maya melihat foto keluarga Bu Astrid berserta Pak Aryo dan Kedua anaknya yaitu Fadel dan Hendrik. "Jangan bilang..," batin Maya di tahan.


Maya berjalam menuju ruang tamu dan melihat Bu Astrid dan Pak Aryo sudah menyambut Sinta dan Amran, lalu melihat ke arah Maya. Lagi-lagi Bu Astrid dan Pak Aryo juga ikut terpana dengan kecantikan Maya.


"Astaga Maya, kenapa kau bisa cantik seperti ini," ucap Bu Astrid lalu memeluk Maya. Maya hanya tersenyum mendengar pujian dari Bu Astris.

__ADS_1


"Silahkan duduk," tawar Pak Aryo kepada keluarga Maya.


__ADS_2