
Saat Maya sibuk melihat-lihat barang-barang yang dia berikan ke Nicko ada satu buku harian yang sangat asing di mata Maya, "gue ngga pernah lihat ini, dan juga ini bukan hadiah yang gue beliin untuk kak Nicko," gumam Maya seraya mengambil buku tersebut.
Maya membuka buku tersebut dan melihat tulisan tangan Nicko, "beneran ini punya kak Nicko, ini tulisan tangannya tapi apa ini?" ucap Maya heran setelah melihat foto anak kecil bersama kedua orang dewasa, layaknya foto keluarga. "Ini foto kak Nicko tapi mereka berdua siapa? Mereka bukan Mama dan Papa," tanya Maya heran.
Maya menutup menutup lemari dan langsung berlari keluar dari kamar Nicko menuju kamarnya, Maya membuka lemarinya dan mengambil sebuah album dari dalam laci lemari, Maya duduk di kasur sambil membuka album yang barusan di ambilnya, dia mengamati semua foto dari album tersebut dan mendapati foto dengan 4 orang dewasa serta 3 anak kecil yang tidak lain adalah Maya, Nicko, Mama dan Papa Maya, 2 orang dewasa yang ada di foto milik Nicko serta seorang anak lelaki yang asing baginya. Maya bingung dengan apa yang di lihatnya, Maya membuka buku harian milik Nicko kembali dan mendapati satu halaman yang isinya 'Ada apa dengan keluargaku?' Maya yang membaca tulisan tersebut lantas semakin bingung. "Ada apa dengan keluarga? Semua baik-baik saja, tapi kenapa Kak Nicko menulis ini?" gumam Maya masih tidak mengerti.
Di sisi lain Hendrik masih memikirkan gelagat Maya yang aneh tadi pagi saat di kantin bersama Fadel, "apa yang sebenarnya terjadi kenapa tuh anak kaku banget sama Fadel," batin Hendrik bertanya-tanya sambil merendamkan kakinya ke dalam kolam renang.
"Woy ngapain luh bengong disini? Ntar kesambet baru tau rasa loh," ucap seseorang membuyarkan lamunan Hendrik seraya duduk di samping Hendrik.
"Ahk elo ngagetin aja, gue ngga ngelamun kali," ucap Hendrik berbohong, "kalau ngga ngelamun terus ngapain bengong? Lo lagi mikirin apa sih? Cerita lah sama gue," tanya Fadel kepada Hendrik yang sedari tadi melamun di pinggir kolam renang.
Hendrik dan Fadel serumah, mereka berdua bersaudara walaupun saat masih berusia 4 tahun Fadel ke Jerman di bawa oleh kakeknya. "Gue cuma bingung aja sama sikap cewek yang lo ajak kenalan itu," ucap Hendrik sambil meminum jusnya.
'Bingung kenapa? Lo kenal sama dia? Atau jangan-jangan gebetan lo makanya lo cemburu sama gue? Yah maaf deh mana gue tau kalau dia gebetan lo," ucap Fadel seraya memukul lengan atas Hendrik.
"Ogah banget gue ngegebetin dia, cantik aja kagak," jawaban Hendrik yang membuat Fadel tertawa.
"Napa lo? kesambet setan?" tanya Hendrik sambil mengangkat alisnya.
"Kalau gue liat-liat yah Maya tuh cantik tau ngga, manis, baik, lembut, terus orangnya sederhana juga," ucap Fadel sambil menyeruput kopi di tangannya.
"Cantik apanya? Galak tau ngga, ihh amit-amit deh kalau dia yang jadi pacar gue bisa babak belur tiap hari," ucap Hendrik sambil membayangkan Maya memukulinya.
"Cewek mah gitu galak di awal doang tapi aslinya tuh manja," jelas Fadel seperti ahli wanita.
"Kelamaan di jerman sih lo, jadinya segala jenis wanita lo tau, udah berapa kali pacaran lo?" tanya Hendrik di ikuti tawa ledeknya.
"Gue emang tau soal wanita, tapi gue ngga pernah pacaran," jawab Fadel begitu meyakinkan, "gue ngalahin lo dong," ucap Hendrik kemudian di ikuti tawa mereka.
Di sisi lain Maya masih bingung dengan isi buku harian Nicko, "apa maksudnya?" gumam Maya sambil masih mengamati tulisan tangan dan foto Nicko bersama 2 orang dewasa yang tidak dikenalnya secara bergantian. Tanpa berfikir panjang Maya meraih handponenya yang berada tepat di depannya lalu menghubungi ke 3 sahabatnya.
Dring dring dring suara handpone Ratih terus berdering sedangkan dirinya masih berada di dalam kamar mandi. "Adduh siapa yang nelpon sih?" gumam Ratih yang mukanya masih dipenuhi dengan busa sabun, Ratih bergegas membasuh mukanya lalu berlari keluar dan mendapati handponenya yang masih berdering di atas kasur miliknya. "Oh Maya kirain siapa, panggilan grup lagi? Malas gue kalau panggilan grup pasti ngga nyambung lagi," ucap Ratih sambil mengambil handponenya dan menyambutnya.
"Halo...lama banget sih Rat ngangkat teleponnya kita bertiga nungguin lo tau," ucap Intan dengan nada kesal.
"Yah maaf, gue tadi lagi di kamar mandi cuci muka,emangnya kenapa tumben nelpon sebelum makan malam?" tanya Ratih yang sedikit aneh dengan sahabatnya.
"Jadi gini gue tuh tadi nemu buku diary gitu di lemarinya Kak Nicko, karena penasaran makanya gue ambil, tapi pas gue buka astaga..isinya bikin gue kaget sekaligus bingung," jawab Maya menjelaskan.
"Emangnya apa isinya?" tanya Amel yang sedari tadi hanya mengamati.
"Isinya tuh foto kecilnya Kak Nicko sama 2 orang dewasa gitu, tapi gue ngga kenal sama orang tersebut, dan ada tulisan Kak Nicko yang isinya 'ada apa dengan keluargaku?' bikin gue bingung, emang keluarga gue kenapa? Perasaan aman-aman aja," jelas Maya to the point.
"Aneh juga yah sama isi diarynya, tapi yang gue penasaran itu, siapa yang bersama Kak Nicko di foto tersebut?" tanya Intan dengan ekspresi bingung.
"Selama ini orang tua lo atau Kak Nickonya langsubg pernah cerita sesuatu ngga sama lo May? Entah itu tentang keluarga atau tentang Kak Nicko sendiri?" tanya Ratih menyelidik.
__ADS_1
"Cerita sih ngga yah, tapi hmm gue pernah dengar kayak cerita aja gitu dari tetangga, kalau ngga salah pas SD, katanya gue sama Kak Nicko itu bukan saudara kandung, iyyah intinya gitulah," jelas Maya sambil mengingat-ngingat.
"Jangan-jangan bener lagi May kalau kalian bukan saudara kandung!" ucap Ratih mengambil kesimpulan.
"Bisa jadi juga May, dan foto yang lo temuin itu berarti fotonya Kak Nicko sama orang tua kandungnya," ucap Amel yakin.
"Masa sih? Kok mereka ngga pernah cerita sama gue?" tanya Maya tak percaya.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi antara orang tua lo May sama orang tuanya Kak Nicko, ataupun mungkin Kak Nicko anak yatim piatu terus di urus deh sama Mama Papa lo, kan dulu mereka pernah cerita kalau Mama lo tuh susah hami dan butuh 3 tahun setelah nikah baru bisa lahirin lo May," ucap Intan menebak-nebak.
"Jadi ini ada 2 kemungkinan, ok mari kita gali ini mulai sekarang, besok sepulang sekolah langsung ke rumah Maya, kita diskusi disana! setuju ngga?" ucap Amel penuh semangat.
"Setuju!" ucap Maya, Ratih dan Intan bersamaan.
Tuttuttutt..sambungan telepon terputus.
"Non waktunya makan malam Tuan dan Nyonya juga sudah menunggu di meja makan," suara bibi dari depan kamar Maya.
"Iyyah bi Maya akan turun," saut Maya dari dalam kamar, Maya segera membereskan buku diary Nicko beserta album foto dan langsung turun ke bawah.
"Hei sayang, udah lama banget Papa ngga ketemu kamu," ucap Amran menyapa Maya.
"Habisnya Papa sibuk sama kerjaan mulu, jadi mana sempat ketemu Maya," jawab Maya sambil cemberut. Maya pun langsung duduk dan menayantap makanannya.
"Gimana sekolah kamu May? Baik-baik ajakan," tanya Sinta di tengah-tengah kegiatan makan malam mereka.
"Boleh May, mau tanya apa sih?" jawab Sinta menatap Maya dengan penuh tanda tanya.
"Ini soal Kak Nicko," jawab Maya menatap balik Mamanya dengan penuh keseriusan.
Mendengar itu wajah Sinta berubah dan Amran langsung berhenti dari aktifitasnya. Mereka saling bertatapan seakan-akan telah terjadi sesuatu yang Maya tidak tahu atau bahkan tidak boleh tahu.
"Memangnya kenapa sama Kak Nicko, kamu serius banget," tanya Sinta pelan ingin tahu alasan anaknya.
"Hmm itu mah, tadikan aku ke kamar Kak Nicko sebentar, ehk ngga sengaja lihat foto Kak Nicko pas masih kecil tapi 2 orang dewasa dalam foto itu siapa yah mah?" ucap Maya sambil melihat ke arah Mama Papanya secara bergantian.
"Lebih baik ngga usah bahas buku diary deh, nanti mama ambil lagi, apa lagi dari ekspresi Mama Papa kayaknya ada sesuatu yang mereka sembunyiin," batin Maya membaca ekspresi Mama dan Papanya.
"Foto?" tanya Amran dengan ekspresi yang di buat-buat,.
"Apa kita kasih tau aja Pah? Aku ngga enak juga nyembunyiin ini terus dari Maya," bisik Sinta ke Amran.
"Mah Pah, kok diam?" tanya Maya membuyarkan bisik-bisik tetangga mereka.
"Ehk iya, hmm jadi gini May, tapi janji dulu yah jangan marah sama Mama Papa apa lagi sama Kak Nicko," ucap Sinta ingin Maya berjanji.
"Iya iya, Maya ngga bakalan marah, tapi Mama cerita dulu," ucap Maya sangat penasaran.
__ADS_1
Sinta melirik ke arah Amran, dan Amran hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju. "Jadi May kamu sama Kak Nicko itu bukan saudara kandung, Nicko itu adalah anaknya sahabat Mama dan Papa, tapi karena pada saat itu Mama dan Papa belum bisa hamil akhirnya Mama Papa setuju buat ngasuh Kak Nicko untuk sebagai pancingan, dan ternyata setelah 6 bulan Mama pun bisa mengandung Kamu," jelas Sinta sambil memegang tangan Maya.
"Jadi yang di bilang sama tetangga-tetangga itu benar mah?" tanya Maya tak percaya.
"Iyah May, tapi kamu jangan benci Kak Nicko yah, dia ngga salah," ucap Sinta meyakinkan Maya.
"Ngga kok mah, tapi Kak Nicko tau soal ini?" tanya Maya masih penasaran.
"Iyah Nicko udah lama tau soal ini, tapi dia ngga mau kalau kamu tau, karena dia berpikir kamu ngga akan anggap dia Kakak lagi kalau kamu tau kalian bukan saudara kandung," jelas Amran menggantikan Sinta.
"Ya udah, Maya udah ngertiko dan ngga mau nanya-nanya lagi, Mama dan Papa lanjutin makan yah, Maya mau ke kamar dulu bye, Mah Pah good night," ucap Maya seraya mencium pipi Sinta dan Amran. "Mungkin sebaiknya gue ngga kasih tau Mama Papa tentang Fadel yang mirip banget sama Kak Nicko," batin Maya.
Maya dengan cepat melangkah melalui tangga menuju kamarnya, dia sangat ingin menangis tadi saat Mamanya menceritakan semuanya tapi dia menahannya, sampai akhirnya tangisannya pecah saat berada di dalam kamar megah miliknya. "Hiks hiks, kenapa sih Kak Nicko bukan saudara kandung gue, tapi..." ucap Maya terhenti saat sesuatu muncul dalam otaknya. Maya berdiri menuju meja belajarnya dan langsung mengusap kasar air matanya.
Maya meraih Handponenya dan langsung menghubungi sahabat-sahabatnya.
"May, loh kenapa nangis? Ada apa?" tanya Intan saat berhasil mengangkat panggilan dari Maya dan mendapati mata Maya yang sembab.
"May lo gapapakan? Ceritalah May," ucap Ratih khawatir kepada sahabatnya.
"Jangan bikin khawatir dong May," ucap Amel yang dari tadi melihat Maya tidak merespon ucapan mereka.
"Gue udah tau semuanya soal Kak Nicko, tadi gue udah tanya sama Mama Papa," ucap Maya membuat sahabatnya itu terkejut.
"Terus gimana May?" tanya Intan pensaran.
Maya menceritakan semua yang di katakan Sinta dan Amran tadi ke sahabat-sahabatnya, mendengar itu sahabat-sahabat Maya sangat terkejut, "ya Ampun, pantesan kalian ngga begitu mirip yah," ceplos Amel dan langsung menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Ehk kalau ngomong mikir dulu dong Mel," ucap Ratih kesal dengan omongan Amel.
"Yah maaf, namanya juga kecoplosan, maaf yah May gue ngga sengaja," ucap Amel menyesal.
"Udah besok kita harus cari tau siapa Fadel sebenarnya! Dari awal ketemu itu gue ada feeling kalau dia itu Kak Nicko," ucap Intan penuh semangat.
"Gue juga feelingnya kayak gitu, oke mulai besok kita punya tugas negara!" ucap Amel penuh semangat.
"Tugas negara apaan, ini tugas pribadi kali, gaya lo sok banget," ucap Ratih risih mendengar perkataan Amel.
Maya tertawa lepas melihat tingkah konyol sahabat-sahabatnya. "Nah gitu dong May, smile," ucap Amel melihat Maya tertawa lepas.
"Iya iya, ya udah besok kita harus bisa melakukan yang terbaik, mari kita mulai!" ucap Maya dipenuhi semangat yang membara bara.
Maya yakin bahwa Nicko belum menginggal, "tapi kalau Kak Nicko belum meninggal yang di kuburin siapa? Kak Nicko dimana sekarang? Ahk ini bisa bikin gila lama-lama, mending main instagram dulu deh, yah walau pun cuma geser-geser beranda gara-gara ngga ada chat, nasib jomblo," gumam Maya pada dirinya sendiri.
Maya terus menggeser layar hpnya, "lama-lama bisa hilang nih jempol, ucap Maya sambil memijit jempolnya yang pegal. "Oh iya instagramnya Fadel, gue harus cari tau, biar tau siapa dia sebenarnya," Maya langsung mencari instagram milik Fadel dengan bertanya kepada teman sekelasnya.
"Akhirnya ketemu juga, ngga sia-sia juga gue punya teman kelas yang fans berat sama tuh Fadel," ucap Maya setelah berhasil menemukan media sosial milik Fadel.
__ADS_1