Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Fakta terungkap 4


__ADS_3

"Ibu Astrid kan? Loh kok Ibu bisa tau nama saya yah?" tanya Maya yang bingung mendengar Bu Astrid menyebut namanya.


"Iyah saya, yah pastilah tau kamu kan anaknya bu Sinta dan Pak Amran sahabatnya tante, masa kamu ngga ingat!" ucap Astrid yang semakin membuat Maya dan ketiga sahabatnya kaget sekaligus bingung.


"Tante? Sahabat Mama Papa?" tanya Maya bingung.


"Udah lama ngga ketemu May, masuk dulu kita ngobrol," ucap Astrid mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


Saat mereka memasuki ruang tamu alangkah kagetnya Maya dan ketiga sahabatnya melihat foto-foto yang terpajang di ruang tamu, disitu banyak sekali foto-foto kecil milik Bu Astrid dan Pak Aryo, foto-foto Fadel, foto-foto Hendrik dan yang lebih mengejutkannya lagi foto yang Maya temukan di buku diary Nicko dan album keluarga miliknya.


"Tante ini foto siapa?" tanya Maya sambil menunjuk foto yang Maya temukan di album keluarga miliknya, yang terdiri dari Maya, Mama dan Papa Maya, Nicko, Anak kecil yang Maya tak kenal dan orang yang Maya yakini adalah Bu Astrid dan Pak Aryo.


"Masa kamu ngga tau sih May, anak perempuan itu adalah Kamu, yang ini Mama dan Papamu, Ini Tante dan Om, dan yang ini adalah Hendrik dan Fadel," jelas Astrid


Sontak itu membuat Maya dan ketiga sahabatnya kaget sejadi-jadinya ternyata yang mereka curigai selama ini benar adanya.


"Kalau boleh tau Fadel ini sekolah di mana yah dulu Tante?" tanya Maya lembut.


"Dia di bawa ke Jerman sama Kakeknya," jawab Astrid sambil tersenyum tetapi juga seperti menahan tangis di matanya.


"Kenapa tan?" tanya Ratih menggantikan Maya setelah melihat Bu Astrid terlihat sedih saat Maya bertanya itu.


"Sebenarnya tante tidak mau Fadel ke luar negeri, tetapi karena pada saat itu Tante lagi sakit keras makanya Tante menitipkannya kepada kakeknya, agar tante bisa fokus ke pengobatan tante," jelas Astrid yang berusaha menahan tangisnya. "Tapi tante lihat-lihat kalian kayaknya satu sekolah, seragam kalian sama, kalian ngga pernah ketemu di sekolah?" lanjut Astrid setelah melihat seragam sekolah batik yang mereka kenakan.


"Hmm mungkin karena beda jurusan jadinya ngga pernah ketemu Tan," alasan Amel membantu Maya yang terlihat kebingungan dan tidak fokus.


Setelah lama berbincang sudah tiba masanya untuk keempat sahabat itu pamit.


"Ini kita langsung ke sekolah aja?" tanya Ratih sambil menyetir.


"Iyah deh, soalnya 30 menit lagi jam pelajaran kedua masuk," ucap Intan mengingatkan


Mereka semua mengikuti pelajaran kedua seperti biasanya dan waktu istirahatpun tiba.

__ADS_1


"Ke kantin yuk, jadi lapar gue mikirin masalah tadi," ucap Maya mengajak.


"Yuk," ucap Amel, dan mereka langsung menuju kantin.


Ditengah-tengah mereka lagi asik makan tiba-tiba Fadel dan Hendrik beserta Reno datang ke kantin dan duduk tepat di bangku kosong di samping Maya.


Maya melirik sebentar ke Fadel dan langsung memalingkan wajah saat Fadel sadar ada yang mengamatinya. "Kok Maya kayak orang yang lagi menyelidiki sesuatu yah? Atau jangan-jangan dia udah tau tentang gue," batin Fadel mengandai-andai.


Saat Intan ingin ke perpus dia melewati kelas Fadel dan tak sengaja melihat Fadel dan Hendrik sedang berbincang serius di balik pintu kelas. Dan tak sengaja Intan mendengar perbincangan mereka yang membuat Intan terkejut bukan main.


Intan bergegas kembali ke kelas untuk memberitahukan sahabat-sahabatnya. Maya berlari dengan kencang mamasuki kelas dan membuat sahabat-sahabatnya bingung sekaligus kaget melihat Intan. "Ada apa Tan?" tanya Amel sambil menuntun Intan duduk di kursinya.


"Gue..udah..tau..yang sebenarnya...hah..hah," ucap Intan sambil mengatur nafasnya.


"Tau apa Tan?" tanya Maya bingung.


"Gue tadi dengar kalau Fadel itu sebenarnya Nicko, tapi Fadel pura-pura jadi orang lain saat kembali sama orang tuanya buat menghilang dari Maya, karena takut Maya akan sedih kalau tau kalian berdua bukan saudara kandung," jelas Intan memandang lekat ke Maya. Mendengar itu semua orang bisu tak bergeming, mereka kaget dengan apa yang baru saja Intan ucapkan.


"Alasannya apa gue harus bohong sama kalian?" kesal Intan karena di anggap bercanda oleh sahabat-sahabatnya.


"Buktinya mana?" ucap Maya.


"Oke, kalau kalian butuh bukti, pulang sekolah kita langsung tanyain aja tuh mereka berdua, pasti bakalan jujur kalau udah ketahuan," ucap Intan memberi ide.


Di saat pulang sekolah mereka berempat menunggu di parkiran sambil terus menyeruput minuman ice di genggaman. Fadel dan Hendrik pun akhirnya muncul, Fadel dan Hendrik melihat mereka berempat tampak ragu tetapi seperti ingin menyampaikan sesuatu. "Perlu bantuan?" tanya Fadel memastikan ekspresi wajah Maya dan ketiga sahabatnya.


Maya langsung tersentak mendengar perkataan Fadel dan melihat ke arah Sahabatnya seakan-akan bertanya apa yang akan dia lakukan selanjutnya, Ratih, Intan dan Amel mengangguk secara bersamaan sebagai tanda pertesejuan untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan.


"Hmm begini.." ucap Maya ragu.


"Ada apa?" tanya Fadel yang tampak heran dengan perilaku Maya. "Apa Maya sudah tau yang sebenarnya? Jika memang benar gue harus jujur," batin Fadel.


"Lo mau ngomong apa?" ucap Hendrik yang capek melihat sikap ragu-ragu Maya.

__ADS_1


"Lo Kak Nicko kan?" tanya Maya to the poin tetapi sangat gugup.


Fadel dan Hendrik terkejut mendengar itu, Fadel terkejut karena Maya telah mengetahui apa yang selama ini dia tutupi, sedangkan Hendrik terkejut karena Maya yang selalu di ceritakan oleh Fadel itu adalah Maya yang sekarang ada di hadapannya.


Melihat ekspresi kaget dari Fadel dan Hendrik membuat Maya dan para sahabatnya semakin yakin dengan apa yang mereka curigai.


"Iyya May itu benar tetapi...." ucapan Fadel terpotong karena Maya langsung berlari ke mobil di ikuti sahabatnya sambil menangis. Maya sedih karena merasa orang yang selama ini selalu ada untuknya ternyata tidak mempercayainya.


"May..May tunggu dulu Kak Nicko bisa jelasin May," teriak Fadel sambil menggedor-gedor mobil milik Ratih.


"Jalan Rat," ucap Maya sambil tersedu-sedu tanpa melirik sedikitpun ke arah 'Fadel alias Nicko'.


Fadel mengejar mobil Maya sampai ke luar gerbang sekolah dengan di ikuti Hendrik juga.


"Jadi itu cewek yang lo maksud?" tanya Hendrik sambil menepuk bahu Fadel. Fadel hanya mengangguk tanda iya tanpa menoleh ke arah Hendrik dan terus menatap Maya pergi.


Sesampainya di depan gerbang rumah Maya, Maya turun dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengajak sahabat-sahabatnya dan sambil menangis. Sepanjang perjalan pulang Maya terus menangis dan tak berbicara satu katapun.


Melihat Maya begitu sedih ketiga sahabat Maya memutuskan untuk memberi Maya waktu sendiri agar bisa menengkan hati dan fikirannya.


Di rumah, Ratih masih terus memikirkan Maya sambil duduk di balkon kamarnya, ini pertama kalinya Maya menangis setelah kepergian Nicko setelahnya Maya sangat sulit untuk menangis. "Gue khawatir dengan Maya," gumam Ratih kepada dirinya sendiri, "apa gue menanyakan kabarnya? Ngga usah deh paling dia lagi nangis, gue chat aja," lanjutnya.


'******May lo gapapakan,,Maaf ngga bisa nemenin lo karena gue pikir lo akan jauh lebih tenang jika punya waktu sendiri..'


'Kalau lo mau nangis, nangis aja May, terkadang dengan menangis bisa melepas segala emosi yang ada di hati dan otak lo..


Kabarin yah kalau udah mendingan****..'


Maya menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar setelah nge-chat Maya, beberapa menit kemudian Ratih mendapatkan balasan chat dari Maya yang berisi ucapan terima kasih, Ratih langsung tersenyum lebar melihat balasan Maya yang masih sempat membalas chatnya padahal lagi dalam suasan hati yang tidak baik.


"Jadi cewek itu Maya?" gumam Hendrik sambil memukul-mukuli jidatnya karena merasa sudah sangat dibohongi oleh Fadel. Hendrik terus menggerutu dan mengutuk dirinya sendiri "Dasar ****, masa lo mau aja sih di ****-begoin, ngapain juga coba gue muji-muji cewek itu di depan Fadel waktu itu padahal belum tau orangnya seperti apa," gerutu Hendrik sambil memukul samsak yang ada di depannya dengan penuh emosi.


jangan lupa vote dan like yah๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2