
Hendrik yang melihat Maya yang terlihat sangat bahagia juga ikut bahagia, dia merasa berhasil membuat Maya ceria dengan caranya sendiri. Mereka berdua duduk di pinggir pantai beralaskan tikar layaknya sebuah pasangan yang lagi wangi-wanginya, mereka berdua terlihat sangat menikmati suasan pantai di malam hari berdua sambil memakan kembang gula. Maya teringat saat di mana dia juga pernah di ajak ke pantai oleh Fadel dan sering sekali membeli kembang gula kesukaan Maya.
Mereka tidak hanya menikmati suasana pantai tetapi juga kembang api yang tampak berhamburan di langit. Maya melihat ke arlojinya dan sudah menunjukkan pukul 22.40, "Drik ayo pulang, ini udah jam 10," ajak Maya menepuk baju Hendrik. Hendrik melihat ke arah Maya dn tersenyum.
"Loh kok senyum? Ayo pulang," rengek Maya yang sudah berdiri. Hendrik menarik tangan Maya hingga Maya kembali duduk di posisinya.
"Nanti aja May, kembang apinya belum habis," ucap Hendrik yang sedang menatap ke langit yang dipenuhi kembang api.
"Tapi gimana kalau mamaku nyariin?" tanya Maya serius.
"Aku udah bilangin Mama," ucap Hendrik santai tanpa melihat ke arah Maya. "Mama? Sejak kapan Mama gue jadi mama lo," batin Maya.
"Tapi besok itu sekolah, lo sih gue bilangin malam minggu ngga mau," ucap Maya menggoyangkan badan Hendrik.
"Oke kita pulang, nanti malam minggu kita kembali lagi," ucap Hendrik lalu berdiri.
"Yah ngga gitu juga maksudnya," ucap Maya ikutan berdiri.
"Udah ayok pulang," ucap Hendrik menarik tangan Maya mengikuti langkahnya menuju mobil.
Maya sampai di rumahnya dengan penuh kebingungan, disatu sisi dia bahagia, di sisi lain dia tidak mengerti mengapa dia bisa sebahagia ini. Maya melangkah ke kamarnya dan terhenti saat mendengar suara Mamanya, "dari mana May?" tanya Sinta sembari berjalan menuju Maya sambil membawa secangkir teh di tangannya.
"Dari keluar mah sama Hendrik," jawab Maya santai.
"Baguslah, selamat malam sayang," ucap Sinta mengelus pucuk kepala Maya lalu berlalu pergi.
Maya hanya menatap aneh ke Sinta dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Maya membersihkan badannya dan mengganti pakaian, Maya membaringkan dirinya di kasur miliknya dan bersiap untuk tidur tetapi entah kenapa dia mulai senyum-senyum sendiri saat mengingat moment Indahnya bersama Hendrik. "Ih apasih," ucap Maya setelah sadar dengan apa yang sedang di pikirkan lalu menutup wajahnya dengan selimut.
3 bulan telah berlalu dan yang selalu di lakukan Hendrik adalah menjemput Maya ke sekolah, dan itu tidak membuat Maya merasa keberatan karena dia sudah terbiasa dengan itu semua. Maya juga sudah memiliki perasaan dengan Hendrik, perasaan itu muncul selama tiga bulan kebersamaan mereka.
__ADS_1
Hari ini merupakan semester pertama Maya di sekolah SMA, dan tentu saja pagi ini Maya sangat sibuk dengan buku pelajarannya, sampai-sampai Maya mengabaikan Hendrik di dalam mobil, tetapi Hendrik mengerti dan tidak mengganggu Maya yang sedang sibuk membaca bukunya di dalam mobil.
Sesampai di sekolah Maya yang ingin keluar tetapi di tahan oleh Hendrik dan kembali terduduk. Maya menatap heran ke Hendrik, Hendrik menatap Maya lama.
"Lo kenapa?" tanya Maya bingung.
"Lo udah makan?" tanya Hendrik masih menatap Maya.
"Hmm," Maya menatap Hendrik lama lalu menggelengkan kepalanya sambil cengar-cengir.
"Yaudah kita sarapan dulu," ucap Hendrik menarik Maya keluar dari mobil dan menuju ke kantin.
Hendrik menghentikan langkahnya tepat di depan kelas Maya, Maya yang kebingungan lantas bertanya. "Lo ngga mau nyimpen tas sama buku-buku lo dulu?" ucap Hendrik menunjuk tas dan buku Maya menggunakan bola matanya, Maya tersenyum lalu bergegas menyimpan tasnya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin.
Di kantin mereka berdua menjadi pusat perhatian para siswa, Maya yang kebingungan melihat itu lantas bertanya pada Hendrik dan tentu saja jawaban Hendrik membuat Maya lagi-lagi geleng-geleng kepala di buatnya "masih saja narsis," batin Maya mengoceh.
Hendrik yang melihat ekspresi manyun Maya lantas langsung menyuapinya dan membuat siswa semakin memperhatikan mereka. Maya yang tak nyaman dengan situasi seperti itupun mempercepat makannya sambil menunduk malu.
"May, lo belum pulang?" Tanya Fadel yang sedari tadi melihat ke arah Maya.
"Hendriknya belum datang kak," ucap Maya sambil cemberut.
"Ngga usah cemberut juga kali, telpon aja," ucap Fadel memberi ide.
"Udah kak, tapi ngga di angkat," ucap Maya kesal.
"Mungkin lagi ada kelas tambahan kali," ucap Fadel menenangkan.
"Kalau iya, masa ngga bilang sama Maya dulu, kan jadi nungguin lama," kesal Maya.
__ADS_1
"Yaudah gini aja, Kakak antar pulang, kamu chat Hendrik kalau pulangnya sama aku," ajak Fadel.
Maya hanya mengangguk tanda setuju, sungguh dia sangat lelah dan sudah lapar menunggu Hendrik di parkiran yang tak kunjung datang. Sesampainya di rumah Maya langsung menuju dapur tanpa menyimpan ataupun mengganti baju.
"Loh Non, kok ngga ganti baju dulu," ucap Bi Irma yang bingung dengan sikap tak biasa Maya.
"Nanti aja Bi, selesai Makan, Aku udah lapar banget," ucap Maya yang langsung bergegas ke meja makan dan melahap makan siang miliknya.
Setelah selesai makan Maya yang ingin bergegas naik ke kamarnya tiba-tiba terhenti dan menuju ke pintu utama rumah akibat dari suara klakson mobil. Maya membuka pintu dan terkejut mendapati Hendrik yang baru keluar dari mobil dan terlihat sedikit marah.
"Ada apa?" tanya Maya yang melihat Hendrik sudah berdiri di hadapannya.
"Lo kok ngga nungguin gue?" tanya Hendrik dingin.
"Yah gue kira lo ada pelajaran tambahan atau semacamnya, jadinya gue ikut Kak Fadel aja," ucap Maya.
"Ngga sabaran banget sih nungguinnya," ucap Hendrik sedikit kesal.
"Gue udah lapar bambang, makanya gue buru-buru mau pulang, lagian elo udah tau punya tumpangan masih aja ngga ngasih kabar dulu," jelas Maya sedikit berteriak.
"Oh, yaudah nanti malam ada acara makan malam di rumah," ucap Hendrik lalu pergi meninggalkan Maya.
Maya hanya menatap kepergian Hendrik hingga mobilnya hilang dari pandangannya, lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah masih kesal. Maya sampai di kamarnya dan langsung membersihkan dirinya, setelah membersihkan diri Maya langsung tertidur pulas sampai maghrib. Maya terbangun dari tidurnya dan melihat jam yang sudahenunjukkan pukul 18.27 malam dan saat melihat hpnya Maya tersentak bangun karena melihat miscall dari Hendrik yang mencapai 20 panggilan tak terjawab.
Maya langsung menelpon balik ke Hendrik dan langsung di jawab oleh Hendrik.
"Halo, lo dari mana aja sih? Ini gue udah nungguin," ucap Hendrik kesal.
"Maaf, gue ketiduran," ucap Maya sambil menguap.
__ADS_1
"Yaudah sekarang lo ganti baju, terus nanti gue jemput ke situ, ini orang tua lo udah di sini," ucap Hendrik dan langsung mematikan panggilan.
Maya kebingungan dan langsung berganti pakaian, Maya mengatur nafas dan membuka pintu rumah utama dan sudah mendapati Hendrik yang sedang berdiri di samping mobilnya, bergaya layaknya model majalah mobil yang membuat Maya sedikit tertawa kecil membayangkan.