
Kring kring kring bel pertanda pulang sudah berbunyi, "guys gue pulang deluan yah, mau jemput sepupu dulu di Bandara," ucap Intan terburu-buru.
"Ya udah hati-hati, nanti malam ke rumah yah temenin gue lagi ok," ajak Maya sembari memakai tasnya.
"Boleh," ucap Ratih,Amel dan Intan bersamaan, "ya udah gue pamit yah, bye," lanjut Intan.
Saat di parkiran mereka bertiga bertemu dengan Hendrik dan Reno, "ehk ketemu lagi kak, minta maaf gih." pintah Amel ke Hendrik.
"Ngapain gue minta maaf? Gue ngga salah kok," ucap Hendrik dengan entengnya. Saat Amel melemparkan pukulan ke arah Hendrik, Maya menahan tangan Amel, "ngapain sih Mel ngabisin tenaga, sampah kayak dia mah ngga usah di ladenin, mending kita pulang," ucap Maya sambil menatap tajam ke arah Hendrik disertakan senyum paksa lalu berjalan munuju tempat motornya di parkirkan.
"Dasar cewek sialan," teriak Hendrik dengan kesal. Mendengar itu Maya berbalik ke arah Hendrik dan tertawa judes, "Fine," Maya berbalik kembali dan meninggalkan parkiran bersama dengan 2 sahabatnya.
"Udah kita pulang dulu, ayo pulang," ajak Reno menenangkan Hendrik yang penuh dengan emosi, mereka berdua berjalan masuk ke mobil Hendrik.
"Awas aja luh," geram Hendrik sambil memukul setir mobil, sontak itu membuat Reno kaget dan hanya bisa mengelus dada.
Saat di jalan pulang menuju rumah, Maya singgah sebentar di perpustakaan untuk membeli novel. Maya sangat menyukai novel sehingga dia membuat ruangan perpustakaan khusus novel di rumahnya. "Maaf, ini bolpennya jatuh," ucap sesorang di samping Maya saat Maya tengah sibuk memilih novel.
"Oh iyah teri..." ucapan Maya terpotong saat Maya melihat seseorang yang tengah mengulurkan bolpen kepadanya,
"Halo, kamu gapapa?", ucapan orang tersebut membuyarkan lamunan Maya, "tidak apa-apa terimah kasih," ucap Maya meraih bolpennya tanpa memutuskan pandangannya dari orang tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu," orang tersebut pun pergi meninggalkan Maya yang masih menatapnya tajam tak percaya.
"Ehk tunggu, sebentar, saya ingin biacara sama kam..." Maya mengejar orang tersebut sampai ke pintu keluar perpustakaan tetapi orang tersebut sudah menghilang saat Maya membuka pintu. "Hah..hah..hah.. Kemana...dia pergi...cepat sekali..menghilangnya," ucap Maya yang masih terengah engah karena kehabisan nafas saat mengejar orang tersebut.
Sesampainya Maya di rumah dia langsung masuk ke dalam kamar dan bersih-bersih, setalah bersih-bersih Maya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan matanya, saat Maya memejamkan matanya ia kembali mengingat orang yang di temuinya tadi di perpus, Maya kembali membuka matanya "Wah, itu beneran deh kayaknya, mirip banget, emangnya ada yah di dunia orang kembar tetapi tak memiliki hubungan darah? Wah ini bikin gue gila," oceh Maya pada dirinya sendiri. Maya masih tidak percaya dengan orang tadi, terasa mimpi bagi Maya. "Ahk nnti cerita sama Squad Loading aja deh, baik makan dulu," batin Maya sembari bangun dari tempat tidur dan turun ke dapur.
Seperi biasa suasana rumah sunyi hanya ada 2 pembantu dan 1 Sopir di rumah besar milik keluarga Maya. Maya berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia berbagai macam jenis makanan, kring 1 pesan masuk di ponsel milik Maya, Maya mengambil ponselnya lalu membuka pesan tersebut 'May malam ini Mama lembur yah, kamu makan malam sendiri aja dulu, kamu jangan tidur malam-malam besok kamu sekolah, Papamu juga lembur malam ini jadi ngga bisa pulang, gapapa yah, Mama sayang kamu' "Huft, untung udah ngajak tuh cat woman, jadi ngga sunyi-sunyi amatlah." ucap Maya melanjutkan makannya.
__ADS_1
Selesai makan Maya pun naik kembali ke dalam kamarnya, dia berbaring di atas tempat tidurnya sambil memainkan hpnya. Ding dong suara bel rumah berbunyi yang menandakan ada tamu, Maya langsung berdiri dari tempat tidur dan berlari ke bawah.
"Akhirnya kalian datang juga," sambut Maya kegirangan setelah menunggu sahabat-sahabatnya yang akan menemani malamnya.
"Iya dong, kita kan udah janji ngga mungkin dong ngga di tepatin," ucap Ratih seraya merangkul bahu Maya.
"Ya udah naik yuk, gue pengen cerita banyak sama kalian!" ajak Maya dengan semangat.
"Perasaan kita baru 4 jam loh pisah, masa udah ada cerita baru aja," ucap Intan merasa aneh dengan Maya.
"Ini cerita baru tadi sore!" jawab Maya sangat bersemangat. Mereka manaiki tangga dan masuk ke dalam kamar megah Maya.
"Simpan tas kalian, aku mau nyuruh bibi ambil cemilan dulu" ucap Maya sembari meraih telepon rumah di atas nakas untuk menelpon bibi.
"Widih mantap nyemil lagi!" ucap Intan kegirangan, "gue kira lo diet Tan," tanya Amel menggoda Intan,
"Kalau udah di rumah Maya mana kuat buat diet," jawab Intan sambil ketawa.
"Ngapain sih diet-diet? nyiksa tau" ucap Ratih sembari menghempaskan badannya ke tempat tidur Maya.
"Gue juga heran sama ni badan kayak kayu ngga pernah berubah isinya," ucap Ratih sembari meraih guling di sampingnya. Tok tok suara ketukan pintu dari luar kamar Maya
"Masuk aja bi ngga di kunci kok" teriak Maya sambil duduk di bawah tempat tidur Intan dan Ratih sambil bersender di pinggir ranjang miliknya.
"Mari bi biar saya saja yang simpan" ucap Amel sembari meraih nampan berisi cemilan dan minuman yang akan menemani malam mereka yang panjang.
"makasih non,". Amel kembali duduk di samping Maya sedangkan Ratih turun ke bawah bersama Intan, mereka berkumpul saling berhadapan.
Jadi mau bertahan sampai jam berapa?" tanya Amel saat semua sudah berkumpul.
"Sampai pagi juga boleh," jawab Ratih sembari meraih cemilan di sampingnya.
__ADS_1
"Sampai jam 11 aja besok kan kita sekolah," ucap Intan mengingatkan.
"Iya, besok hari kedua kita sekolah loh, masa udah mau alpha aja," lanjut Maya mengingatkan.
"Ya udah deh, Maya mau cerita apa?" tanya Amel memulai pembahasan.
"Hmm jadi gini," jawab Maya sembari membenarkan posisi duduknya.
Maya menceritakan semua yang di alami Maya sore tadi saat bertemu dengan orang tersebut di perpustakaan.
"Lo yakin May kalau itu beneran mirip Kak Nicko?" tanya Ratih tak percaya dengan cerita Maya,
"Gue yakin seratus persen kalau orang itu benar-benar mirip Bang Nicko, dari hidung, mata, bibir, jidat, alis, bulu mata, bola mata, gigi, lidah, suara, sampai tahi lalat juga mirip banget sama punya Bang Nicko," jelas Maya meyakinkan sehabatnya,
"Emang Kak Nicko punya tahi lalat?, kok gue ngga pernah liat," tanya Intan heran.
"Ada kok," jawab Maya yakin.
"Di bagian mana?" tanya Amel serius.
"Di punggung," jawab Maya tanpa rasa bersalah.
"Astaga" serentak Ratih,Amel dan Intan seraya menepuk jidat mereka.
"Kalau di punggung mana bisa lo liat May May," ucap Amel tak percaya kalau Maya bisa-bisanya bercanda di tengah perbincangan serius mereka.
"Tapi May Kak Nicko ada tanda lahir ngga?" tanya Intan serius,
"Kayaknya ada deh, kalau ngga salah di dada bagian kanan, aku pernah liat soalnya," jawab Maya mengingat-ngingat.
"Lo pernah liat dadanya Bang Nicko May, lo ngintip yah? Bisa-bisanya saudara sendiri di mesumin," ucap Ratih kaget.
__ADS_1
"Yah ngga lah, gue ngga ngintip tapi kalau lagi berenang di belakang kan pasti buka baju yah makanya gue liat, lagi pula gue kan saudara apa salah cuman liat dada doang yang penting bukan dada gue," jelas Maya sambil cengengesan.
"Kayaknya kita perlu selidiki deh, sekarang udah jam 11 ayo tidur gue udah ngantuk, huaaa," ucap Intan seraya menutupi mulutnya dengan tangan akibat menguap.