
"Ok, saya panggilkan dulu yah," ucap Bu Astrid lalu menuju ke atas lantai 2.
"Apa nih? Jangan bilang yang di jodohin sama gue itu Kak Fadel, atau si songong Hendrik itu, adduh," batin Maya merasa resah.
Maya merasa sangat resah, dan terlihat Fadel dan Hendrik turun mengikuti Bu Astrid. Dengan setelan jas yang sangat cocok dengan mereka berdua. Sama seperti Sinta, Amran, Astrid dan Pak Aryo, Fadel dan Hendrik juga sama terpesonanya dengan kecantikan Maya.
"Yaudah kita ke meja makan dulu yuk ini sudah masuk waktu makan malam," ajak Bu Astrid membuat Fadel dan Hendrik mengalihkan pandangannya dari Maya.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang makan dan makan malam dengan nyaman, hanya ada kecanggungan di antara Maya dan Fadel serta Hendrik, dan canda tawa antara kedua orang tua mereka.
"May kamu kok bisa di sini," bisik Fadel kepada Maya yang membuat Hendrik terlihat cemburu.
"Nah itu juga yang aku bingungin kak, aku kesini karena di ajaka sama Mama dan Papa," jawab Maya mengecilkan suaranya.
"Jangan-jangan kamu yang di ceritain Mama mau di jodohin lagi," bisik Fadel lalu melirik ke arah Hendrik yang terlihat sangat masam. Fadel hanya tertawa kecil melihat adiknya yang cemburu kepadanya.
Makan malam utama sudah selesai waktunya ngobrol santai dan ngemil-ngemil enak. Di meja sudah banyak sekali aneka makanan manis dan minuman teh yang tersedia di atas meja persegi panjang tersebut.
"Oke baik, mari kita bicakan perjodohan Maya dan Hendrik," ucap Pak Aryo sambil melirik ke arah Hendrik dan Maya secara bergantian.
Tentu saja Maya dan Hendrik yang mendengar itu tidak percaya dan sangat-sangat kaget, Maya melihat ke arah Pak Aryo dan melihat ke arah Hendrik. Begitu juga Hendrik dia melihat ke arah Papanya lalu melirik ke arah Maya. Wajah Hendrik sangat kaget tetapi di dalam hatinya dia sangat bahagia.
Maya dan Hendrik saling bertatapan dan saling mengerutkan dahinya. Fadel yang melihat itu hanya tertawa melihat mereka berdua. "Sepertinya mereka memang sangat cocok," ucap Fadel tertawa kecil. Maya yang mendengar iti melirik ke arah Fadel dan melototinya sehingga membuat tawa Fadel terhenti.
"Ini beneran Om?" tanya Maya tak percaya kepada Pak Aryo.
"Iyya beneran lah May," ucap Pak Aryo yakin.
Maya kembali melirik ke arah Hendrik dengan ekspresi cemberut, "masa iyya harus sama dia," batin Maya tak suka.
__ADS_1
"Emang ini kali yah di bilang jodoh, orang yang gue suka datang sendiri tanpa harus gue kejar," batin Hendrik sangat bahagia.
Maya mulai tersenyum tetapi terpaksa, sampai acara selesai. Keluarga Hendrik mengantar keluarga Maya sampai keluar pintu, "Drik besok kamu jemput Maya di rumahnya yah, kalian ke sekolahnya sama-sama," ucap Bu Astrid sambil memegang tangan Hendrik. Hendrik hanya tersenyum tanda setuju.
"Ngga usah kok Tan, ngga perlu Maya bisa sendiri," tolak Maya sambil memberi kode kepada Hendrik untuk menolaknya.
"Loh kenapa May? Ini kan cara supaya kalian lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain," ucap Sinta memberi penjelasan.
Maya hanya pasrah mendengar ke-kekehan dari Mamanya dan segera pamit kepada keluarga Hendrik. Hendrik hanya teesenyum melihat kepasraan Maya dan terus menatap mobil Maya yang perlahan hilang dari balik gerbang rumahnya.
"Gimana lo suka ngga sama peejodohannya," ucap Fadel sambil ikut-ikutan melihat ke arah mata Hendrik tertuju.
"Eh, kalai Maya suka yah gue juga suka," ucap Hendrik kaget dan berlalu meninggalkan Fadel.
Fadel hanya tertawa melihat kelakuan Hendrik, dia yakin bahwa ini memang yang terbaik buat Hendrik dan Maya. Lagi pula kalau pun Maya belum mencintai Hendrik saat tapi dengan adanya pengenalan ini dia yakin lama kelamaan akan luluh juga hatinya terhadap Hendrik.
Maya tiba di rumahnya dan sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Maya membuka laptopnya, dan tak lama dia melihat chat dari sahabat-sahabatnya di laptop miliknya. Maya ketawa dengan kekepoan sahabat-sahabatnya, yang daro tadi menanyakan siapa yang menjadi calonnya. Maya berhenti tertawa dan menatap kosong chat dari sahabat-sahabatnya yang ada di layar laptopnya, dia kembali memikirkan apa yang barusan terjadi di rumah kediaman Hendrik.
"Duh May, kok ngga di jawab?" tanya Ratih dengan wajah cemberut.
"Gue udah penasaran nih May," ucap Amel heboh.
"Gue juga penasaran, ganteng ngga May?" tanya Intan tak kalah heboh.
"Ngga tau deh, capek banget hari ini," ucap Maya seraya menghela nafas kasar.
Melihat kelakuan Maya sahabatnya bingung, apa mungkin calonnya Maya itu jelek, atau tua, tapi tidak mungkin Mama dan Papa Maha tega dengan Maya, pikir Ratih.
"Kenapa sih May? Ceritalah," bujuk Ratih.
__ADS_1
"Jadi...." ucap Maya memetong ucapannya untuk membuat kepo sahabatnya. Ratih, Intan dan Amel mengamati dengan seksama dan menunggu ucapan Maya.
"Jadi.. Yang jadi tunangan gue itu Hendrik," ucap Maya pasrah dengan ekspresi datar.
"Apa? Hendrik?" teriak Amel.
"Seriusan May?" tanya Intan tak percaya.
"Yah nyukur deh," ucap Ratih yang membuat semua sahabatnya terdiam dan heran dengan ucapan Ratih.
Maya melihat ekspresi heran sahabat-sahabatnya, "jadi tadi gue tuh berpikir kalau yang dijodohin sama Maya tuh jelek atau lebih tua jauh dar Maya soalnya ekpresi Maya yang kayak ngga suka gitu, jadi makanya gue bersyukur pas yang dijohin tuh Hendrik, kan Hendrik ganteng terus tajir ya walau sifatnya kayak dakjal," jelas Ratih mengecilkan kata terakhirnya.
Sahabatnya pun mengerti dengan penjelasan Ratih, "jadi kayak gitu," ucap Amel sambil mengangguk-ngangguk kan kepalanya.
"Jadi lo terima sama perjodohannya atau ngga May?" tanya Intan penasaran dengan ekspresi datar Maya.
"Yah gue terima aja sih, lagi pula kalau gue tolak, gue ngga enak sama keluarga Hendrik nya juga," jelas Maya kembali pasrah.
"Lo ngga suka sama Hendrik May?" tanya Amel karena melihat kepasraan Maya.
"Kalau rasa suka sih ngga tau, tapi ngga tau deh nanti," ucap Maya sambil meletakkan dagunya di atas telapak tangan kanannya.
"Gue yakin, lama kelamaan lo bakalan suka, jadi lo harus sering-sering ngabisin waktu sama Hendrik biar bisa tumbuh cinta," ucap Ratih serius.
"Yah ngga usah serius banget juga kali Rat," ucap Maya menggoda.
"Yaudah deh, ceritanya lanjut besok yah, sampai ketemu di sekolah," ucap Ratih dan mengakhiri panggilan video.
"Yaudah deh gue juga bye," ucap Amel dan mengakhiri panggilan video.
__ADS_1
Panggilan video berakhir dan Maya tetap memasang wajah datarnya. Entah kenapa suasana hatinya sangat tidak baik. Demi mengembalikan suasana hatinya Maya pun akhirnya melanjutkan untuk menonton drama korea favoritenya.