Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Cinta Amel


__ADS_3

"Hmm gue mau jujur nih," ucap Amel yang langsung membuat sahabat-sahabatnya terdiam dan menyimak serius ucapan Amel, "jadi jujur gue punya perasaan sama kak Fadel," lanjut Amel dengan sedikit mengecilkan suaranya.


Tentu saja mendengar pengakuan Amel, Maya sangat terkejut, apa lagi dia sempat menyukai Fadel tetapi terhentikan dengan munculnya perasaan barunya kepada Hendrik.


"Sejak kapan?" tanya Maya ragu.


"Udah lama, sejak Kak Fadel masih menjadi Kak Nicko," ucal Amel jujur.


Maya semakin terkejut mendengar pengakuan Amel, bagaimana tidak dia dan sahabatnya menyukai orang yang sama dalam waktu yang sama pula. Maya menarik nafas dalam lalu menghembusnya dengan halus.


"Kok ngga pernah cerita?" tanya Maya lagi semakin penasaran dengan cerita Amel selanjutnya.


"Gue malu, apa lagi yang gue suka saudara sahabat sendiri, ngga berani jujur lah," ucap Amel malu-malu.


"Ngga usah malu kali kalau sama kita-kita doang mah, santai aja, iyya ngga May?" ucap Intan menatap ke arah Maya.


"I-iya," ucap Maya terbata-bata sambil tersenyum kaku.


"Tapi kira-kira kak Fadel mana yah? Dari tadi ngga pernah keliatan," ucap Amel sambil mencari sekitar.


"Kak Fadel lagi ke Jepang, ada urusan," ucap Maya sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Kapan?" tanya Amel.


"Tadi malam, ngga lama cuma seminggu doang," ucap Maya.


"Yah," ucap Amel sambil cemberut.


Maya tersenyum melihat sikap Amel dan mencoba menghiburnya, "lo chat aja atau telepon kek basa basi biar makin dekat," ucap Maya.


"Malu may," ucap Amel.


"Jangan malu-malu kalau mau PDKT an, nanti kalau di embat sama cewe lain gimana?" ucap Maya menakut-nakuti.

__ADS_1


Amel berpikir sejenak, yang dikatakan tak ada salahnya, apa salahnya dia mencoba untuk mendekati Fadel, pikir Amel.


"Jangan kelamaan mikir Mel," ucap Ratih.


Amel segera mengambil hpnya dan menelpon Fadel. Dengan perasaan was-was dan modal nekat, Amel memberanikan diri menelepon Fadel berharap Fadel akan mengangkat panggilan darinya. Maya dan kedua sahabanya yang lain hanya tertawa kecil dan tersenyum puas melihat sikap berani Amel.


Tut tut tut...dan panggilanpun akhirnya dijawab oleh Fadel.


"Halo," ucap Fadel dari sebetang telepon.


"Halo kak, ini Amel," ucap Amel gugup.


"Iyya mel, ada apa?" tanya Fadel.


"Kak Fadel sibuk ngga, jangan sampai Amel ganggu," ucap Amel masih gugup.


"Ngga kok Mel, Kak Fadel lagi santai doang kok sekarang," ucap Fadel.


"Oh, hmm, Kak Fadel katanya di Jepang yah?" tanya Amel sedikit tenang.


"Kalai bergitu hati-hati di sana yah kak, yaudah Amel masuk kelas dulu," ucap Amel langsung mematikan panggilan.


Fadel hanya kebingungan dengan sikap Amel sambil masih melihat ke arah ponselnya, "ini anak aneh," ucap Fadel sambil tersenyum geli.


"Yah Mel, kok gitu doang," ucap Intan tidak puas.


"Gue ngga tau mau ngomong apa lagi," ucap Amel sambil cemberut dan menatap nanar ke arah sahabat-sahabatnya.


"Yaudah gapapa, nanti lo coba lagi," ucap Ratih.


"Apa perlu gue bantuin lo Mel?" ucap Maya menawarkan bantuan.


"Nah bisa juga tuh Mel, udah terimah aja tawaran Maya," ucap Intan.

__ADS_1


"Tapi, gapapa May, emang bakalan berhasil?" tanya Amel ragu.


"Percaya sama gue, gue kan orang yang dekat udah kayak saudara dengan Kak Fadel, jadi bakalan lebih muda buat ngedeketin kalian berdua," ucap Maya penuh kepercayaan diri.


"Gue tunggu hasil kerja lo May," ucap Ratih sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Lo jangan nunggu doang dong, bantuin juga sahabat lo," ucap Maya sambil menyuapkan gorengan ke mulut Ratih.


"Iyya Iyya," ucap Ratih dengan mulut penuh makanan dan membuat ketiga sahabatnya tertawa keras.


Hendrik yang sedari tadi memperhatikan Maya dan ketiga sahabatnya yang sibuk mengobrol dengan asik, sampai-sampai tidak menyadari keberadaan dan melupakannya, hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan dan tawa lepas Maya.


2 minggu telah berlalu dan sudah tiba masanya untuk Hendrik dan Maya bertunangan, di halaman belakang rumah Hendrik merupakan tempat pesta kecil tetapo sangat mewah milik Hendrik dan Maya itu dilaksanakan. Di sana banyak sekali para tamu yang berdatangan dan berberkumpul sambil mengobrol bersama, tidak terkecuali para sahabat-sahabat Maya dan para sahabat-sahabat Hendrik yang ikut hadir di pesta tersebut.


Banyak juga para pejabat dan rekan kerja orang tua Hendrik dan Maya yang ikut hadir di pesta mereka, sekaligus mempererat tali silaturahmi antara mereka para pebisnis yang sedang bekerja sama.


Maya dan Hendrik yang terlihat sangat bahagia saling melempar senyum antar satu sama lain ataupun dengan para tamu undangan. Benar-benar pesta mereka bagaikan acara pernikahan, sangat meriah. Pak Aryo langsung berdiri di depan dan mengetuk gelas minum miliknya dengan sendok, yang membuat para hadirin memalingkan perhatian kepada Pak Aryo.


"Pertama-tama saya ucapkan terimah kasih sudah mau datang di pesta kami, pesta pertunangan anak saya, pesta dimana kita semua bisa merasakan kebahagiaan antara anak saya dan calon istrinya," ucap Pak Aryo yang di sambut dengan tepuk tangan para tamu undangan. "Baiklah mari kita mulai saja ke inti acaranya, yaitu pertunangan Hendrik dan Maya dengan pertukaran cincin," lanjut Pak Aryo dengan backsound tepuk tangan kemeriahan.


Hendrik dan Maya pun saling bertukar cincin dan membuat semua orang bertepuk tangan tidak terkecuali Fadel yang berada tepat di samping mereka berdua. Walaupun Fadel merasa sedikit cemburu dan sakit hati, tetapi dia tetap berusaha ikhlas dan berbahagia atas kebahagiaan adik dan orang yang disukainya.


Fadel yang hendak beranjak dari tempatnya tetapi langsung di cegat oleh Amel, "Kak Fadel mau kemana? Acarnya belum selesai loh," ucap Amel menatap Fadel.


"Gapapa Mel, Kak Fadel cuman ngerasa sakit kepala aja dikit," ucap Fadel sambil memijit kedua alisnya dengan kedua tangannya. Amel yang panik langsung membantu Fadel mencari tempat duduk yang jauh dari suara berisik pesta yang belum selesai.


"Kak Fadel tunggu di sini dulu yah, Amel mau ambilin obat dulu," ucal Amel lalu bergegas pergi mengambilkan obat untuk Fadel.


Setelah mendapatkan obat dan air putih Amel lalu bergegas menuju Fadel dan memberikannya obat untuk Fadel minum. Fadel yang sudah meminum obat tersebut akhirnya tertidur pulas akibat dari efek samping dari obatnya. Amel lalu bergegas membaringkan Fadel yang kebetulan berada di dalam ruang tamu lalu memberikannya selimut yang sudah di mintanya dari pembantu rumah Fadel dan Hendrik.


***Maaf jarang Up, banyak urusan rumah dan sekolah😂


tapi akan tetap usahakan di up kok😊

__ADS_1


terimah kasih sudah mau membaca, dan jangan lupa like and vote juga, terimah kasih🙏😊***


__ADS_2